Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Kehujanan Berdua


__ADS_3

Bukan  hanya makan malam  yang akan Leon berikan untuk Hara malam ini, ia sudah mempersiapkan banyak kejutan untuk wanita yang ia cintai, Leon ingin menebus kesalahannya pada Hara.


Melihat kembali tawa renyah  dari Hara, Leon semakin bersemangat untuk berjuang kembali merebut Hara dari Maxell, ia bahkan melakukan hal-hal licik, mulai dari mencium bunga sayap bidadari atau bunga sayap peri lalu mematikan  telepon Hara  agar Maxell tidak bisa menghubungi Hara.


Leon sudah selesai, tapi Hara masih mengunyah makanannya.


“Jangan menatapku seperti itu Pak, apa aku rakus?” tanya Hara tersenyum manis pada Leon, Ia selalu bersikap apa adanya.


“Tidak Hara, aku hanya melihat saja”


“Baiklah” ucapnya lagi,   tangannya meraih gelas  wine dan meneguknya sampai habis.


“Tidak apa-apa makan saja dengan  santai aku akan menunggumu”


“Tapi kenapa Bapak mengajakku makan malam. Apa istri atau kekasih bapak tidak marah?”


“Tidak”


“Loh, kenapa?”


“Karena kamu istriku,” ujarnya pelan, lalu Leon berdiri menatap hamparan lampu-lampu  indah di area bangunan hotel.


“Apa Bapak Bilang?” Tanya Hara memperjelas  jawaban Leon.


 “Hara ... apa kamu pernah merasa sakit hati sejauh ini?” tanya Leon  menatapnya kembali.


“Tidak, untuk saat ini belum pernah, apa Bapak punya sakit hati pada orang lain?”


“Banyak orang yang tidak aku sukai Hara bahkan diriku sendiri, aku kadang membenci diriku, ucap Leon”


“Jangan membenci dirimu sendiri Pak, kalau bukan bapak yang mencintai diri sendiri, bagaimana orang mencintai, kalau kita sendiri tidak mencintai diri kita sediri” Leon hanya tertegun mendengar jawaban Hara.


Ia mengusap keningnya membenarkan kata- kata bijak yang diucapkan Hara,  saat lampu hias warna-warna di nyalakan menghiasi taman, di tambah pemandangan lampu Ibu Kota, sangat indah bila lihat karena berada di gedung tinggi di puncak hotel.


“Entahlah Nona Hara, terkadang teori  lebih mudah diucapkan daripada mempraktekkannya”


“Ada benarnya juga, tetapi kita setidaknya harus berusaha,” ujar Hara lagi.


“Baiklah. Bagaimana kalau aku menambah keindahan malam ini.” Leon menyalakan lilin cantik di setiap sudut taman itu lagi. Lihat juga lampu di bawah.” Leon menarik tangan Hara berdiri di dinding pembatas.

__ADS_1


“Waaah …!ini cantik bangat, aku belum pernah melihat lampu Ibu Kota dari tempat setinggi ini,   wah keren bangat, mana ponselku”  ucap Hara memutar badannya kanan-kiri dan belakang- depan, masih dengan tatapan takjub.


“Bapak beruntung sekali bisa menikmati pemandangan ini setiap malam.” Ucap Hara, masih mencari ponselnya. Namun tidak menemukan benda pipih tersebut, karena Leon sudah menyembunyikannya sementara waktu.


“Pakai ponselku saja.” Leon menyodorkan ponsel miliknya pada Hara.


Ia mengarahkan camera ponselnya dan merekamnya. “Jangan merekamku juga” kata Leon mengalihkan wajahnya , ia  tipe orang yang kaku, tidak mau di foto.


“Bapak juga termasuk pemandangan yang indah, karena bapak tampan, lebih tampan lagi kalau tersenyum”


Leon diam, ia ikut berdiri melihat kelakuan Hara yang sibuk mengarahkan kamera ponselnya ke segala arah.


“Tapi kalau seperti ini aku mau,” ucap Leon merangkul pundak Hara mengarahkan camera ponselnya, membuat foto selfie untuk mereka berdua.


Saat sedang asik Mamoto, tiba-tiba hujan turun deras. Mereka berdua  berada di ujung  taman gedung,  Leon menarik tangan Hara berlari kecil kearah pintu, keduanya basah kuyup. Karena hujannya  deras berjalan dari ujung taman melewati tanaman bunga membuat mereka melangkah hati-hati, hingga akhirnya basah kuyup.


Saat berada dalam ruangan Hotel Hara mengibaskan bajunya yang basah .” Hujan berkat, datang tidak di panggil” ucap Hara dengan bibir terlihat mulai membiru karena kedinginan.


“Ayo ikut aku” Leon menarik tangannya membawanya ke kamarnya pribadinya, bukan ke ruangan kantornya.  Tempatnya di lantai paling atas, mereka nyaman karena Leon menggunakan lantai itu khusus kantor dan satu ruangan untuk ia tempati, pada saat malam seperti ini, tidak ada lagi orang, karena kantor tutup, kecuali kantor bagian pengolahan Hotel tempatnya di lantai paling dasar.


“Bapak tinggal di sini?”


 “Iya,” jawab Leon, wajahnya terlihat panik saat Hara kehujanan, tangannya dengan sikap buru-buru menempelkan card untuk membuka pintu kamar.


“Sini masuk pakai kemejaku saja, nanti kamu masuk angin”


“Tidak  usah pak, saya pulang saja,” ucap Hara tiba-tiba ia bersikap sungkan, wajahnya terlihat takut saat di bawa kekamar sama Leon.


“Hara …. aku tidak akan macam-macam percayalah” Leon melihat sikapnya berbeda saat di bawa dalam kamar, itu sangat alami, itu wajar, karena ia seorang wanita.


“Tidak usah pak Leon, saya pulang saja sudah malam juga ternyata,” ia melirik jam yang menggantung di ruangan Leon  sudah jam 21:30.


“Justru saat kamu pulang, keluargamu pasti akan curiga karena kamu  pulang dengan basah kuyup, aku minta maaf Hara, karena aku kamu basah”


Leon membuka lemarinya,  mencari pakaian yang buat untuk Hara, memberikan satu kemeja berwarna putih untuk ia pakai.


Hara masih berdiri di dengan pintu dengan air dari badannya mengenang di lantai.


“Ini pakailah, sebelum kamu bertambah sakit” ucap Leon baru di bilang seperti itu, ia menolak dengan sungkan ia ngin keluar dari kamar Leon, tapi ia bersin beberapa kali, Leon tidak ingin Hara sakit, ia menariknya sedikit memaksa memberikan kemeja  putih dan handuk baru, mendorongnya ke kamar mandi.

__ADS_1


Dalam kamar mandi,  alih-alih tidak ingin sakit hara malah mandi beneran, ia mencuci rambutnya dan membungkusnya dengan handuk yang di berikan Leon padanya, baju kemeja yang diberikan untuk ia pakai hanya mampu menutupi bagian panggulnya saja, memperlihatkan kaki bagian atas yang sangat mulus dan putih.


Wah bagaimana ini? Ini terlalu terbuka, ini tidak sopan” Ia mondar mandir sesekali melirik kearah kaca.


Leon menunggu dengan gelisah, ia juga basa kuyup ia menggosok –gosok hidungnya yang sudah mulai merasa flu, ia yakin kalau ia dan Hara tidak minum obat, keduanya akan mengalami flu karena hujan yang menerpa mereka malam ini hujan pertama yang turun di Ibu kota Jakarta, karena sebelum-sebelumnya panas terik yang selalu menerpa, kata orang, kalau terkena hujan pertama datang, akan mengakibatkan sakit, karena membawa kotoran.


“Hara apa kamu  masih lama? Aku juga basa ingin memakai kamar mandinya,” ucap Leon mulai merasa menggigil, karena pakainya basah.


Karena Hara lama keluar dari kamar mandi, pakainya sudah menetes di lantai, Leon akhirnya membuka bajunya  dan hanya menggunakan handuk, menunggu Hara di depan pintu.


“Hara…! Tolong cepat sedikit, aku ingin memakainya, rasa dingin itu membuat aku ingin membuka kran air milikku"


“Bisakah Bapak memberikan aku handuk satu lagi?”


“Kenapa?” Tanya Leon dari balik pintu.


“Pakaian yang Bapak berikan terlalu pendek hanya bisa menutup bagian tertentu tubuhku”


“Tidak apa-apa, aku akan menutup mata dan kamu bisa keluar”


Leon menempati janjinya, ia menutup matanya agar Hara bisa keluar, wanita keluar dengan menarik –narik ujung kemeja itu, barulah Leon masuk. Leon hanya tersenyum kecil melihat Hara.


Hara mandi menggunakan air dingin di kamar mandi,  bukan mengunakan air hangat, alhasil membuat tubuhnya semakin menggigil,  “Wah gawat aku mulai pusing” Tangannya membuka laci Leon, ada beberapa macam obat dalam laci di samping ranjang, “Banyak amat obat-obatannya,  apa lelaki ini punya penyakit yang parah? kenapa obat-obatnya sebanyak ini” ucap Hara mencari obat untuk meredakan flu


Leon terpaksa berada di kamar Leon malam itu karena tiba-tiba datang hujan, pakaian miliknya basah.  Beruntung kedua om Hara berada di luar kota dan Bi Ina sudah ditelepon Hilda jadi untuk malam ini Hara masih aman bersama Leon.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2