Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Hubungan anak-anak mereka menjadi renggang


__ADS_3

Leon dan Hara menuliskan sejarah  yang baik di perusahaan yang ia bangun, Leon dan istrinya akan di kenang para pegawainya sosok yang baik dan peduli pada orang  kecil. Leon mampu melakukan semua perubahan itu dengan ada Hara di sampingnya, benar kata orang bijak, di balik lelaki yang sukses ada dukungan seorang wanita  hebat di belakangnya.


Perlakukan tidak adil selama ini yang dirasakan karyawan di perusahaan Wardana group sudah mendapatkan keadilan.


Kini orang-orang yang kecil  yang dulu tidak anggap sudah mendapatkan upah yang layak. Semua itu tidak akan terjadi kalau tidak ada campur tangan dari Hara.


Setelah semua sederet acara  ulang tahun selesai, Hara dan Leon kembali ke ruangannya.


“Terimakasih,” ujar Leon, memeluk pinggang Hara, saat  mereka berdua di ruangan kerja.


“Untuk apa?” Hara membalikkan tubuhnya menatap mata Leon dengan sangat dalam, ada ketulusan di dalam mata bermata manik hitam itu.


“Karena kamu  istriku.” Leon mendaratkan bibirnya di kening Hara.


Tiba-tiba Hara merasa bagian di dalam dadanya berdetak lebih kencang, wajahnya bersemuh merah.


“Itu sudah kewajibanku sebagai istrimu,” ujar Hara.


“Kamu istri  dan ibu terbaik di dunia,” ujar Leon memuji istrinya.


“Semua istri juga akan melakukan hal yang sama,” ujar Hara ia tidak mau menerima pujian yang berlebihan.


“ Tidal semua istri seperti kamu Bu,” ujar Leon menggenggam telapak tangan Hara, tatapan penuh cinta rasa bangga terukir jelas  jelas di wajah Leon.


Hara menyambutnya dengan dengan senyuman mendaratkan bibirnya di pipi Leon.


“Terimakasih karena kamu berhasil melakukan tantangan dariku,” ujar hara.


 “Apa ini,  semacam hadiah dari kemenanganku?” tanya Leon menatapnya dengan senyuman hangat.


“Iya minta apa saja dariku, aku akan memberikan untukmu,” ujar Hara.


“Apa saja?” tanya Leon memastikan.


“Iya, apa saja.”


“Ok, baiklah, permintaanku apa, iya?” Leon memiringkan ujung bibirnya dan menggosok-gosok dagunya, tidak lama kemudian, wajahnya merekah,  seakan-akan ada bola lampu yang tiba-tiba menyala di atas kepalanya. “Ok, ayo kita makan malam romantis malam ini, hanya kita berdua.”


“Ha? Itu aja,” ujar Hara dengan suara yang terdengar mengecil.


Tadinya ia pikir Leon punya permintaan  besar padanya, permintaan yang selama ini ia inginkan, padahal ia sudah mempersiapkan diri. Ia pikir  Leon akan meminta punya anak lagi, seperti yang ia inginkan  selama ini, ternyata Leon meminta hanya hal yang kecil.


‘Apa Leon sudah melupakan keinginannya, untuk punya anak lagi?’ Hara membatin.


“Terus aku harus minta apa? Ah, ini saja aku sudah sangat senang,” ujar Leon.


Tiba-tiba ketukan di pintu mengalihkan perhatian mereka berdua, Leon melepaskan telapak tangan Hara yang ia genggam sedari tadi.


“Ya masuk!” Pungkas Leon.

__ADS_1


Pintu terbuka dan Bimo masuk.


“Ada apa Bim.” Leon berbatuk kecil untuk membangunkan Bimo.


“Oh, ini,  anak-anak ada di bawah, kata supir Nona Chelia ingin ke, apa boleh, Bos?”


“Mereka  uda di bawah?” Hara menyengitkan kedua alis  matanya karena tidal biasanya ke dua anak kembar itu datang ke hotel.


“Iya Bu.”


“Ya, sudah suruh saja naik sama, supir, kamu bantu untuk naik, baik, Bu.” Bimo bergegas  turun.


                        *


Saat Okan dan Chelia masuk,  Hara terkejut, menatap   wajah anak sulungnya.


“Apa yang terjadi?” Hara mendekat dan memegang wajah Okan yang  bengkak di bawah mata.


Okan hanya menunduk.


“Tidak apa-apa jagoan, kamu jelaskan apa yang terjadi,” ujar Leon dengan tenang.


Okan masih diam ia seakan-akan tidak ingin menceritakan apa yang telah dialami. Hara  menjadi marah lagi, karena belakangan ini Okan sudah berapa kali terlibat perkelahian.


“Okan …. Apa kamu tidak mau bilang apa yang telah terjadi kamu buat Ibu marah nanti,” ujar  Leon suara tenang tetapi terkesan tegas.


Hara terbawa emosi saat ia bertanya mereka berdua tidak ada yang berniat memberitahukannya apa yang telah terjadi , seorang ibu panik hal yang wajar karena Okan terluka, Hara menghela napas panjang, tadinya ia wanita yang lemah lembu tetapi setelah Okan semakin beranjak dewasa, ia mulai sering marah dan emosi karena sikap Okan.


“Biarkan saja dulu Bu, berikan dia waktu menenangkan diri.” Leon menarik tangan Okan untuk duduk di sofa memberinya waktu untuk tenang.


“Baiklah, boleh kasih tahu pada Ayah apa yang terjadi?” Tanya Leon setelah anak remaja itu tenang.


“Abang bertengkar dengan Danis,” ucap Chelia.


“Haaa Kenapa lagi?” Mata Hara melotot menatap putra sulungnya, dengan wajah panik.”Apa  kamu sudah berubah jadi preman  belakangan ini? Perasaan kamu senang bangat bertengkar,” ujar Hara.


“Sayang, sudah ….  tenang donk dengar dulu apa penyebabnya,” ujar Leon


“Maaf Ayah aku salah.” Okan menatap Leon dengan mata berkaca-kaca.


“Baiklah, Ayah tidak akan menyalahkan kamu, tapi bisa jelaskan apa penyebabnya?”


“Aku tidak tahu siapa yang salah, Danis hanya mengajakku makan,” ucap Chelia.


“Aku tidak ingin dia mendekatimu,” ujar Okan.


Hara dan Leon saling menatap, “Baik lah sekarang katakan apa masalahnya?” Hara duduk di samping Chelia.


“Saat kita mau pulang di halaman depan, Kak Danis mengajakku makan , abang marah dan pukul dia, Kak Danis juga membalas pukul, wajah abang bengkak, Danis  juga sama matanya bengkak.”

__ADS_1


“Oh, Tuhan, apa satupun ibu gurumu tidak ada yang melihat?” tanya Hara dengan satu telapak tangan menutup mulutnya ia terlihat terkejut, mendengar perkelahian Okan dengan putra Zidan lagi.


“Tidak ada, bapak supir yang melerai.”


“Kenapa? Tidak bisa ngomong baik-baikkah?” Hara berdecak pinggang.


“Dia, tidak boleh dekat-dekat dengan Chelia Bu, aku  sudah beberapa kali memperingatkan, ini sudah kedua kalinya  mencoba mengajak Chelia pergi dari sekolah karena itulah aku marah dan memukulnya”


“Dia hanya mengajakku makan Bang,” ujar Chelia.


‘Ada hubungan apa Chelia dan Danis lalu kenapa Okan jadi marah, bukannya selama ini mereka berteman baik seperti saudara ?’ Hara membatin.


“Hadeh, bagaimana kalau om Zidan tahu kalian bertengkar?”


“Jangan khawatir Bu, aku akan jelaskan semuanya dengan baik,” ujar Okan dengan tenang tidak ada raut rasa menyesal ataupun bersalah. ‘Sikapnya persis kayak bapakmu'ujar Hara dalam hatinya.


Hara menatapnya putranya dari bawah keatas.


“Kamu dan Danis dari dulu berteman baik Nak, kenapa belakangan ini jadi berubah?” Hara menatap dengan cemas.


“Bu, justru belakangan ini, dialah yang sangat berubah, jarang  masuk kelas dan … dia  berubah jadi berandalan sejak ada masalah di rumah mereka.”


“Tapi dia baik samaku Bang,” ujar Chelia,


“Aku tidak mau dia mempengaruhi kamu , aku tidak mau  kamu berteman dengan dia, Danis pembawa virus,” ujar Okan dengan marah.


Leon dan Hara diam mereka berdua daling melihat. Hara tidak tahu mau mengatakan apa, di satu sisi putranya benar tidak mau ikut-ikutan nakal, tetapi di satu sisi dia kasihan dengan hidup Danis sejak Clara tidak pulang lagi ke rumah , anak mereka berubah jadi  nakal.


‘Apa yang harus aku lakukan kalau seperti ini, harusnya Zidan memikirkan nasip putra mereka’ Hara hanya diam.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Terimakasi untuk tips ya


Baca juga  karyaku yang lain


 -Aresya(TERBARU)


-Turun  Ranjang( on going)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (tamat)


__ADS_2