
Saat Leon menolak menjadi pengganti orang tua Kaila, ada yang berbeda dari sekretaris itu, setelah beberapa hari, ia banyak melamun dan murung.
Bahkan hari itu, tidak masuk kantor, untungnya, Leon punya pengganti Kaila, jadi pekerjaannya tidak terpengaruh karena ketidak hadirannya di kantor.
Saat Leon keluar dari ruang rapat, ia merogoh kantongnya dan memeriksa layar ponsel sengaja ia mensilent ponselnya saat rapat, agar tidak terganggu.
Tetapi saat ia melihat ke layar ponsel, ada panggilan tak terjawab dari Hara.
Saat kembali duduk di ruangan dengan cepat Leon menelepon balik istrinya, saat Hara hamil Leon sangat ketat dalam mengawasi Hara, ia sangat sensitif baik dalam hal kecil sekalipun, bahkan pengawasan di rumah sudah seperti penjagaan seorang putri, di setiap sudut rumah Leon diisi beberapa penjaga professional yang sudah berpengalaman di bidangnya.
Ia ingn Hara tetap aman dan ia juga banyak meluangkan waktunya bersama istri, ia tidak lagi sesibuk seperti dulu, kehamilan Hara kali ini banyak mengubah hidupnya.
“Kenapa sayang?”
“Apa aku menganggu?” tanya Hara dari ujung telepon.
“Tidak, ini baru keluar dari ruang rapat.”
“Oh.”
“Ada apa?”
“Apa Kaila tidak masuk kerja hari ini?”
“Iya, kenapa kamu bisa tahu?” tanya Leon menyengitkan kedua alis mata.
Terdengar Hara menghela nafas panjang, Leon tahu kalau Hara bersikap seperti itu pasti ada masalah yang menganggu pikirannya. Leon berpikir kalau ia akan protes akan ketatnya penjagaan di rumahnya, menyebabkan ia tidak bisa kemana-mana ternyata…
“Om Viky melakukan satu hal membuatnya tidak masuk kantor.”
“Maksudnya?” tanya Leon bingung.
“Om Viky membatalkan rencana pernikahan mereka dengan Kaila. Sayang! apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Hara
Leon terdiam sejenak, ia mengingat pertemuannya kemarin dengan Vikky, Lelaki itu bertanya pada Leon tentang Kaila dan ia menceritakan apa yang ia tahu, tetapi Leon tidak menduga perkataanya mengubah semuanya.
“Sayang …. Pak Leon Wardana! apa kamu masih di situ” panggil Hara membuyarkan lamunan Leon.
“Iya, aku pulang iya, nanti kita bicara di rumah, apa kamu butuh sesuatu?” tanya Leon.
“Tidak ada.”
“Hmmm apa iya. Oh… dari tadi aku ingin makan rujak tumbuk, dimana iya mendapatkannya?” Tanya Leon.
Terdengar tawa Hara di ujung telepon.
“Kok kamu tertawa?” Tanya Leon bingung.
“Yang hamil itu kan aku tetapi kenapa kamu yang ingin makan rujak tumbuk. Ha … ha …,” Tawa Hara mengekelar di ujung telepon.
__ADS_1
“Iya, lagi pengen aja,” ujar Leon.
“Baiklah aku tunggu di rumah, carilah sendiri iya,” ujar Hara menahan tawa, lalu ia menutup telepon.
“Benar juga, kenapa aku yang ingin makan rujak iya, perasaan Hara anteng-anteng aja. Ah, mungkin hanya ingin hanya,” ujar Leon ia menyangkal dirinya kalau ia yang mengidam.
Leon mencari bahan-bahan rujak tumbuk di ponselnya, hanya melihat dalam gambar saja, ia menelan air liurnya sendiri. Rasa ingin makan semakin kuat.
Lalu ia menelepon Bimo memintanya masu ke ruangannya.
“Iya Bos.”
“Bim, tolong beli mangga, pisang mangkal, bengkoang, kedondong, buah ganda ria, nanas gula aren.”
“Apa ini untuk bahan rujak Bos?” Tanya.
“Untuk bawa pulang Bos?”
“Bukan, untuk saya makan di sini.”
“Haaa …?” Ia menatap sang Bos dengan tatapan bingung.
“Iya baiklah untuk dibawa pulang,” ujar Leon, ia malu.
“Baik saya hapal semua bahannya, karena saya suka membuatnya.”
“Ha?apa wanita mu juga ngidam?” tanya Leon menatap dengan tatapan datar.
Mendengar nama buah asam itu saja Leon sampai beberapa kali menelan ludah.
“Ok, kamu temukan bahanya, kita akan bawa pulang.“
“Baik Bos.”
Bimo dengan mudah mendapatkan karena ia dan beberapa temanya baru-baru ini baru mengelola rujak tumbuk. Bimo memberikannya pada Frans koki Hotel.
Setelah semuanya beres dan sudah dikemas, leon pulang, niatnya tadi ingin makan di kantor, tetapi karena Bimo selalu menatapnya curiga, akhirnya membawa pulang.
Untuk kehamilan Hara kali ini, tidak merepotkan untuk Hara karena ia tidak mengalami mual. Tetapi Leon mengalami semuanya, Hara bukan wanita cengeng, ia bersikap apa adanya kalau Hilda selalu bersikap manja pada sang suami saat kehamilannya. Tetapi tidak untuk Hara, ia tidak mau di jaga berlebihan, walau Leon selalu ingin memanjakannya tetapi ia menolak dan memilih santai.
**
Leon berangkat dari hotel membawa rujak , ia hanya melihat dari kemasan box bening saja membuatnya harus menelan ludah beberapa kali.
“Bimo tolong tutupi benda yang satu ini, itu membuat air liurku hampir tumpah dari tadi,” ucap leon menyodorkannya pada Bimo yang duduk di jok depan.
Kedua lelaki yang duduk di jok depan itu, hanya tersenyum kecil melihat bosnya tidak bisa menahan godaan di si rujak tumbuk itu.
Dalam perjalanan pulang, Leon kembali mengingat pertemuannya dengan Viky.
‘Apa ucapan ku mematahkan pilihan Om Viky, aku berharap bukan karena aku, tetapi karena deal dari pemikiran panjang darinya, aku akan sangat bersalah kalau karena ucapkan ku memutuskan hubungan seseorang, walau sebenarnya aku tidak begitu setuju om Viky menikah dengan Kaila’ ucap Leon dalam hatinya.
__ADS_1
Beberapa lama kemudian, Leon sudah tiba di rumah, di teras Bu Atin dan Hara sedang duduk bersantai, menatapnya dengan senyuman tertahan.
“Apa lagi yang di kerjakan wanita itu untuk mengerjai,” ujar Leon karena Bu Atin dan Hara selalu mengerjainya dengan menunjukkan mangga yang mangkal.
“Apa sudah lama menunggu? Atau menunggu rujak ini?”
Hara tertawa karena melihat rujak di tangan sang suami.
“Sepertinya keduanya, berikan padaku aku sudah membasahi lantai karena air liurku tumpah dari tadi,” ucap Hara menggoda Leon.
“Ah, lebay,” ucap Leon. Ia meminta Santi memindahkannya ke dalam piring.
Belum juga Leon menganti pakaiannya ia duduk dengan Hara dan Bu Atin di tera. Lalu memakan rujak yang di bawa dengan santai.
“Ibu mau?” Bu atin mengangkat tangan tanda menyerah.
“Kamu yakin tidak mau?” Leon melirik Hara. Mereka berdua hanya bisa menahan tawa melihat kelakuan Leon belakangan ini, Bahkan Leon mengaku celananya sempit karena kebanyakan makan belakangan ini.
“Melihat saja aku sudah merasa kecut, apa lagi mencicipinya, bisa –bisa tubuhku meliuk-liuk seperti penari ular menahan rasa asam,” ujar Hara tertawa.
Layaknya orang ngidam Leon menghabiskannya dengan lahap, tidak ada terlihat wajah menahan kecut di wajahnya.
Menantu dan mertua, beberapa kali harus rela menelan ludah.
“Kalian dua baik sekali Nak, tidak mau merepotkan Ibu,” ujar Hara tertawa mengusap perut.
Leon hanya diam ia tidak menghiraukan ledekan Hara padanya, sudah nasip, ia mengalami ngidam.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1