
Hara dan Leon akhirnya menginzinkan Okan untuk mengikuti beberapa kegiatan di luar sekolah, agar Okan bisa bergaul dengan banyak orang.
“Ibu … menginzinkanmu untuk mengikuti kegiatan grup musik, dengan cacatan ibu harus tahu semua kegiatan dan kamu tidak keberatan ibu awasi dan ibu pantau, Bagaimana?”
“Baik Bu”
“Itu artinya kalau Kak Ana datang ke tempatmu, kamu tidak marah?”
“Iya Bu”
“Baik … gitu donk,” ujar Har, menepuk pundak putranya.
“Aku bisa ikut klub basket juga?”
“Tentu,” balas sang ayah.
Wajah Okan langsung bahagia, kalau biasanya kedua orang tuanya membatasi, tetapi kali ini mereka mencoba memberi sedilit kebebesan pada Okan.
“Makasi ayah”
“Tapi dengan cacatan apa yang dikatan ibu tadi harus kamu lakukan”
“Baik”
Mereka sadar, aturan saat kecil dan peraturan saat menjelang dewasa tentu sangat berbeda.
“Chelia tidak minta apa-apa?” Tanya Leon pada anaka gadisnya yang sedang tiduran di pangkuannya.
“Gak usah yah, untuk saat ini di sekolah yang baru aku juga belum memikirkan kegiatan tambahan, masih fokus untuk pelajaran menjelag ujian kelulusan,” ujar Chelia tiduran santai di pangkuan ayahnya.
Ayah adalah cinta pertama untuk anak perempuan, hal itu sangat benar, itulah yang terlihat pada Chelia itu, ia lebih dekat pada ayahnya ketimbang ibunya, semua tentang sekolah barunya ia ceritakan pada Leon, tentang laki-laki di kelasnya yang selalu meliriknya ia ceritakan.
Jika di masa lalu Leon yang sangat kejam dan tidak berperasaan pada wanita. Namun, saat ini, ia lelaki yang berhati hello kitty jika bersama putri cantiknya, ia akan mendengarkan cerita Chelia dari a sampai z , Hara hanya bisa menggeleng jika sudah melihat Chelia memulai cerita.
“Tapi ngomong-ngomong bagaimana dengan Thiani, kok dia tidak pernah datang lagi ke rumah kita. Apa kalian bertengkar?” Tanya Hara melirik Chelia.
“Gak Bu”
“Lalu kenapa dia tidak pernah datang?” tanya Hara lagi.
Mereka berdua saling melihat seperti ada sesuatu yang di sembunyikan.
“Ada apa?” tanya Leon.
“Dia nakal sekarang,” ujar Okan.
“Nakal bagaimana?” Hara semakin penasaran.
“Dia berubah sejak orang tua berpisah Bu, dia sekarang pacaran sama lelaki dewasa,” ujar Chelia dengan polosnya.
“Sudah, sudah kita tidur saja sudah malam,” ujar Leon, hatinya sedih dan tidak tega mendengar nasip putri Ken yang jadi rusak karena perceraian.
Leon meninggalkan mereka, ia masuk ke kamarnya dan duduk si sofa membaca sebuah buku.
Tidak berapa lama Hara juga menyusul dan ia duduk si samping Leon.
“Kenapa, Bu?” Tanya Leon meletakkan buku yang ia baca.
“Ayah tidak pernah berpikir apa yang terjadi di rumah tangga mereka ada hubungannya dengan dukun jahat tersebut?” tanya Hara.
“Memang kenapa?”
__ADS_1
“ Aku berpikir … jika dia bisa mempengaruhi Okan, jangan- jangan dia juga yang mempegaruhi pikiran mereka bertiga,” ujar Hara.
“Aku sudah bertanya pada mereka waktu itu, mereka bilang bukan,” ujar Leon.
“Ayah orang yang dipengaruhi seperti itu, tidak akan menyadari kalau mereka sedang di pengaruhi”
“Kenapa bisa berpikir seperti itu?”
“Mereka kompak … menghancurkan rumah tangga mereka, tanpa memikirkan anak-anak ”
“Thiani dia tidak pernah lagi main ke rumah kita mungkin dia sibuk sekolah.” Leon menatap Hara.
Wanita berkulit putih itu, menghela napas panjang.
“Itu dia … kata Chelia, Thiani bergaul dengan orang yang salah”
“Terus? Apa Ken tidak tahu?” Leon sedih karena ia juga sayang pada Thiani.
“Ken … terlalu sibuk dengan wanita baru yang akan dia nikahnya, baru juga beberapa bulan mereka bercerai, lelaki kurang ajar mereka semua, hanya memikirkan kesenangan mereka sendiri, tidak mementingkan bagaimana keadaan anak mereka,” ujar Hara marah.
Situasi mulai memanas setiap kali membahas hal itu, Leon memilih diam.
“Kok … ayah diam?”
“Nanti kalau aku menjawab yanga ada kamu tambah marah dan ujung-ujunnya kita berdebat, lebih baik aku hanya mendengar”
“Coba ayah panggil mereka dan tanyakan baik-baik, aku takut kak Toni terkena guna-guna dari orang jahat itu”
“Baiklah aku akan melakukannya Bu, tenang saja,” balas Leon.
“Secepatnya Ayah … semakin cepat mereka tahu, semakin bagus, kasihan anak-anak itu, aku tidak ingin mereka jadi korban”
“Mereka sudah pergi … berarti itu pilihan hidup mereka”
“Baiklah kita akan bicarakan dengan mereka lagi jika ada waktu.” Leon memilih tidur agar pembahasan tentanbg rumah tangga mantan anak buahny bisa berhenti, kalau tidak begitu Hara akan terus mendesaknya sampai pusing.
Kikan pulang ke Manado bersama putra semata wayang mereka Juna, tetapi belum ketuk palu. Hal itulah yang ingin Hara perbaiki. Ia berpikir kekuatan jahat yang mengendalikan pikiran putranya bisa jadi mengendalikan pikiran ketiga lelaki tersebut.
“Ayah jangan tidur dulu, mari kita bicara tentang mereka”
“Bu … jika kita membahas mereka yang ada kamu darting”
“Itu karena aku prduli pada anak-anak pintar itu”
“Itulah takdir hidup,” ujar Leon, ia rebahan di tempat tidur tetapi ia memunggi istrinya yang terus mengajaknya mengobrol.
“Ayah …”
“Hmmm”
“Apa kamu mau tidur?”
“Iya”
“Jangan tidur dulu, kan, besok hari minggu”
“Lalu kita mau apa?”
“Malam mingguna,” ujar Hara.
“Haa? Tumben, biasanya belakangan malas.” Leon membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
“Tidak tahu … kali ini, pengen makan nasi goreng yang di pinggir jalan”
“Ayo … kalau Ibu mau”
Leon bangun ia membuka lemari dan mengambil satu jaket
“Ayah mau?”
“Untuk Ibu … semuanya harus mau,” ujar Leon.
Hara melihat ekpresi suaminya yang datar, Hara hanya tertawa.
“Kita mau naik apa?” tanya Leon menatap hara.
“Vesva jadul ayah saja”
“Kamu mau?”Leon bersemangat
“Ya, biar tambah romantis,” jawab Hara
Leon mengeluarkan Vesva klasik miliknya ingin membawa istrinya naik vesva menyusuri indahnya malam minggu.
Saat ingin pergi.
“Ayah mau kemana?”tanya Chelia dari jendela kamar yang ia tempati.
“Mau malam mingguan sama ayah dulu”
“Aku ikut!”
“Tidak muat Nak … besok hari libur, kita jalan-jalan ke pantai”
“Benar ya! Jangan sama ibu terus”
“Iya sayang"
“Dia berpikir kalau ayahnya hanya miliknya saja,” ujar Hara mendengus.
Leon hanya tersenyum kecil saat kedua wanita itu memperebutkannya
Setelah Chelia memberikan izin, Leon menghidupkan vesva dan mengendarainya, Hara memeluk tubuh Leon dari belakang menyadarkan kepalanya di punggung sang suami, merasa bahagia karena bisa berduaan.
Untuk seorang istri seperti Hara bahagia itu sederhana dan sesimpel itu. Berhenti di gerobak nasi goreng, duduk, makan menggobrol santai sembari menikmati keramaian jalanan ibu kota, lalu mereka berdua pulang.
Bersambung....
jangan lupa tetap dukung karya ini kasih like vote dam komentar. Kalau bisa bantu share di facebook kalian iya kakak agar makin banyak lagi yang menonton. Jangan lupa baca juga karyaku yang lain.
Terimakasihnya untuk semuanya
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
Bintang kecil untuk Faila (tamat