Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Mendadak Jadi Pendiam


__ADS_3

Leo  benar- benar marah, ia melenyapkan semua musuh-musuhnya yang mengusik rumah tangganya, ia  semakin marah, saat Piter dan Zidan terluka.


“Aku tidak ingin ke depannya  berurusan dengan  mereka- mereka lagi, cari semuanya sampai ke akar-akarnya," ujar Leon malam itu.  


Benar saja, saat mendengar Bunox tewas  musuh-musuh Leon melarikan diri termasuk mantan pengacara Bokoy.


Sementara Piter  mendapat penanganan dari Billy, ternyata ia juga mengajak Clara, setelah semua penjahat itu  hilang, Zidan baru mengeluh karena luka di tangannya.


“Sudah sana naik ke kamar Bos, di sana ada dr. Billy,” ujar Ken, ia sengaja tidak memberitahukan kalau Clara ada di sana juga.


Sudah hampir subuh Zidan naik keruangan Leon untuk mendapatkan perawatan.


“Zidan apa kamu terluka juga?” Tanya dr. Billy,  Clara keluar dari kamar mandi, matanya menatap Zidan dengan khawatir karena dirinyalah, Zidan terluka tadi.



“Mari aku lihat Pak Zidan,” ujar Clara ia memegang tangan Zidan.


“Kenapa kamu datang lagi?” Tanya Zidan pelan.


“Tadi dr. Billy memintaku menemaninya merawat kalian.”


“Apa kamu tidak takut di sini berbahaya,” ujar Zidan wajahnya datar tanpa ekspresi sakit bahkan saat di beri suntikan dia hanya diam.


“Takut sih, tapi kamu terluka karena aku,” ujar Clara, ia menatap wajah Zidan,wajah tampan tetapi  terlihat sangat dingin dan kaku.


“Itu bukan karena menyelamatkanmu, itu karena tugas saya sebagai pengawal pak Leon,” ujarnya lagi.


“Baiklah.” Clara tidak ingin memperpanjang perdebatan yang sia-sia dengan Zidan.



  Clara diam, wajahnya terlihat sedih atas sikap Zidan dingin Zidan, padahal ia hanya ingin berterima kasih pada lelaki tampan tersebut.


Billy hanya mengedikkan pundaknya saat  melihat mereka berdua. Sementara Piter sudah tidur setelah sebutir peluruh di keluarkan dari tubuhnya.


Hilda tidak tahu kalau sang suami tertembak, ia masih setia di depan monitor memantau semua cctv kalau ada yang mencurigakan ia akan melaporkan pada Leon.


“Pak Leon apa semua baik-baik saja?” Tanya Hilda akhirnya ia merasa tidak tenang.


“Hilda …. aku minta maaf.”


“Kenapa Pak …?”


“Piter mendapat luka tembak, tetapi, jangan khawatir dr. Billy sudah menanganinya.”


Hilda  ingin berteriak  karena khawatir, tetapi karena  itu di tempat kerja dan yang meneleponnya seorang Bos ia menahan diri.


“Jangan khawatir dia ada di ruangan saya di atas ada dr. Billy, dia bilang dia tidak apa-apa.”


“Baik Pak.”


Malam itu juga Leon membereskan semua  musuh-musuh . Piter tidak mendapat luka yang serius paginya ia diantar pulang ke rumah.


Akhirnya musuh Leon lenyap semua.


                              *


Beberapa bulan kemudian.


“Apa kamu marah padaku?” tanya Leon,  karena melihat Hara jadi sosok yang pendiam. “ Apa kamu sedih? wajahmu terlihat  sangat sedih, aku tidak tahan melihatnya, aku benci melihat kamu bersedih Hara, jangan sedih lagi di depanku, katakan apapun yang kamu inginkan,  yang penting kamu tidak merasa sedih lagi, jangan menyimpan rasa sedih mu sendirian, kamu boleh curahkan padaku, aku siap jadi pendengar yang baik. OK.”

__ADS_1


“Tidak , aku hanya ingin menurut apa yang kamu  demi kebaikan kita.”


“Hara kamu bilang ingin merenovasi  tempat senam ibu kamu dulu,  apa kamu  masih ingin melakukanya?”


“Apa boleh?” Hara menatap Leon dengan tatapan  bersemangat , karena sudah sejak lama ia menginginkan hal itu.


“Boleh, agar kamu punya kesibukan di rumah, tapi dengar…  dua hari ini, aku ada pekerjaan di luar kota, aku akan meninggalkanmu dengan ibu. Apakah boleh?”


“Baiklah.”


Hara  sangat bersemangat melakukan pekerjaan mendesain bangunan senam milik ibunya, ia menelepon Piter  memberitahukan rencana untuk renovasi gedung tersebut.


“Baiklah, aku akan menyiapkan team untuk mengerjainya Hara, tetaplah di rumah dengar kata dokter , nanti biar lewat ponsel kita  bahas.”


“Apa om sama bibi sehat? "


“Sehat jangan khawatir."


Leon kerja di luar kota, sementara Hara menghabiskan waktunya dalam  satu ruangan,  mendesain bangunan gedung  milik ibunya. Kalau Hara sudah mulai bekerja bahkan makan juga bisa lupa.


Sampai bu Atin ikut khawatir dibuatnya, “Nak Hara, apa kamu mau makan bersama, Ibu?”


“Duluan saja iya ibu, aku belum lapar aku belum menyelesaikan pekerjaanku.”


Sudah dua hari sejak Leon  bekerja di luar kota, ibu Atin  hanya makan sendirian dalam meja makan itu, ia merasa sedih karena Hara tiba-tiba jadi sangat pendiam.


                          *


Pada hari yang kedua,  Leon akhirnya pulang, ia  tiba tepat saat waktu makan  malam.


“Aku mandi dulu  Bu, nanti  baru makan,” ucap Leon. “Apa Hara tidak turun?”


Wajah Bu Ati langsung kusut saat ia menyebut Hara. “Ada apa Bu, apa terjadi sesuatu?”


“Oh, ibu jangan marah, tolong maklumi, mungkin dia sibuk mengerjakan desain renovasi gedung  milik almarhum ibunya.”


“Dia makan di kamar?”


“Masih mending Leon, justru ibu takut  Hara sakit, kenapa kamu memperbolehkan dia memegang pekerjaan lagi, dia gila kerja sering melewatkan makan


Leon tidak ingin marah  atas pengaduan  ibunya, ia bersikap tenang dan naik ke ruangan yang disulap jadi ruangan kerja Hara


“Sayang,  aku pulang.”  Leon mendekat  dan memeluk  Hara dari belakang.


“Eh, uda pulang … “ Hara hanya melirik  sebentar lalu, ia berfokus lagi pada lembar kertas  yang di depannya.


Seakan-akan tidak perduli kalau yang datang itu adalah suaminya yang baru pulang dari luar kota.


“Apa kamu sangat sibuk?”  Tanya Leon setelah menunggunya beberapa menit.


“Iya, kamu makan saja duluan aku nanti akan menyusul  pekerjaanku tanggung bangat nanti kalau aku meninggalkannya takutnya aku lupa.”


“Baiklah, aku mau mandi dulu, nanti kita akan makan bersama.”


Leon sudah selesai mandi dan duduk di meja makan, menunggu Hara dengan sabar, tetapi sampai jam sudah menunjukkan jam Sembilan malam  ia belum juga turun.


“Sudah makan saja dulu, biarkan dia menyelesaikan pekerjaannya, jangan marah, lebih baik kamu makan dan langsung istirahat, besok baru kita bicara lagi.”


“Apa dia  begitu selama aku tidak ada?”


“Iya, tapi ibu memakluminya Nak, mungkin ia ingin mengalihkan pikirannya  dengan menyibukkan diri  dalam pekerjaan.”

__ADS_1


“Tapi tetap sama tidak bisa Bu, kesehatan yang lebih penting. Bagaimana dia bisa hamil kalau tidak sehat."



“Leon… belajarlah untuk mengerti istrimu Nak,  jangan tuntut dia untuk cepat hamil, tapi jadikan dirimu orang paling mengerti Hara, jangan memaksakan lagi, takutnya dia makin tertekan dan depresi, "ujar Bu Atin.


Leon  menuruti semua apa yang dikatakan Bu Atin,  ia tidak marah,  tidak menganggu Hara, ia biarkan wanita itu melakukan apa yang ia kerjakan malam itu.


Ia masuk ke kamarnya duluan merebahkan tubuhnya di ranjang.


Menempuh perjalanan  jauh membuat tubuhnya terasa lelah, Namun, pikirannya  teralih pada Hara yang melewatkan makan malam.


“Dia melewatkan makan malamnya lagi, apa pekerjaan itu lebih penting dari  kesehatan?”


Leon  masuk ke ruang kerja Hara, ia terhenti  matanya menatap Hara dengan diam, ternyata ia lagi menyuntik obat dari dokter ke perutnya, ia mengusap ujung matanya, ia menangis.


‘Apa karena  belum hamil membuatnya  jadi berubah jadi pendiam seperti itu, apa dia tertekan ?’


Leon mengetuk pintu  ruang kerja Hara.


“Iya masuk.”



“Hei kamu tidak apa-apa?” Tanya Leon memeluk sang istri dari belakang.


“Apa jika nanti aku tidak bisa hamil, apa kamu akan meninggalkanku?” Tanya Hara, ketakutan seorang istri dalam satu rumah  tangga salah satunya tidak bisa melahirkan anak itulah yang di rasakan Hara.


“Tidaka akan sayang, itu tidak akan terjadi, apa karena itu kamu  jadi diam beberapa hari ini?”


“Aku takut tidak bisa memberimu anak Leon.”


“Tidak apa-apa kalau kamu tidak bisa melahirkan anak, kita akan adopsi anak dari panti asuhan jangan khawatir, aku tidak akan meninggalkanmu sayang,’ ujar Leon meraih dagu istrinya mengecupnya dengan lembut.


“Apa  kamu berjanji tidak meninggalkanku?”


“Janji,” ujar Leon mengendong tubuh Hara ke ranjang usaha   mencetak anakpun dimulai....


Bersambung ….


KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU IYA KAKAK


 Baca juga.


- Pariban Jadi rokkap( Baru)


-Aresya(Baru)


-Turun Ranjang(Baru)


-The Curet king( Baru)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing


__ADS_2