
Leo benar- benar marah, ia melenyapkan semua musuh-musuhnya yang mengusik rumah tangganya, ia semakin marah, saat Piter dan Zidan terluka.
“Aku tidak ingin ke depannya berurusan dengan mereka- mereka lagi, cari semuanya sampai ke akar-akarnya," ujar Leon malam itu.
Benar saja, saat mendengar Bunox tewas musuh-musuh Leon melarikan diri termasuk mantan pengacara Bokoy.
Sementara Piter mendapat penanganan dari Billy, ternyata ia juga mengajak Clara, setelah semua penjahat itu hilang, Zidan baru mengeluh karena luka di tangannya.
“Sudah sana naik ke kamar Bos, di sana ada dr. Billy,” ujar Ken, ia sengaja tidak memberitahukan kalau Clara ada di sana juga.
Sudah hampir subuh Zidan naik keruangan Leon untuk mendapatkan perawatan.
“Zidan apa kamu terluka juga?” Tanya dr. Billy, Clara keluar dari kamar mandi, matanya menatap Zidan dengan khawatir karena dirinyalah, Zidan terluka tadi.
“Mari aku lihat Pak Zidan,” ujar Clara ia memegang tangan Zidan.
“Kenapa kamu datang lagi?” Tanya Zidan pelan.
“Tadi dr. Billy memintaku menemaninya merawat kalian.”
“Apa kamu tidak takut di sini berbahaya,” ujar Zidan wajahnya datar tanpa ekspresi sakit bahkan saat di beri suntikan dia hanya diam.
“Takut sih, tapi kamu terluka karena aku,” ujar Clara, ia menatap wajah Zidan,wajah tampan tetapi terlihat sangat dingin dan kaku.
“Itu bukan karena menyelamatkanmu, itu karena tugas saya sebagai pengawal pak Leon,” ujarnya lagi.
“Baiklah.” Clara tidak ingin memperpanjang perdebatan yang sia-sia dengan Zidan.
Clara diam, wajahnya terlihat sedih atas sikap Zidan dingin Zidan, padahal ia hanya ingin berterima kasih pada lelaki tampan tersebut.
Billy hanya mengedikkan pundaknya saat melihat mereka berdua. Sementara Piter sudah tidur setelah sebutir peluruh di keluarkan dari tubuhnya.
Hilda tidak tahu kalau sang suami tertembak, ia masih setia di depan monitor memantau semua cctv kalau ada yang mencurigakan ia akan melaporkan pada Leon.
“Pak Leon apa semua baik-baik saja?” Tanya Hilda akhirnya ia merasa tidak tenang.
“Hilda …. aku minta maaf.”
“Kenapa Pak …?”
“Piter mendapat luka tembak, tetapi, jangan khawatir dr. Billy sudah menanganinya.”
Hilda ingin berteriak karena khawatir, tetapi karena itu di tempat kerja dan yang meneleponnya seorang Bos ia menahan diri.
“Jangan khawatir dia ada di ruangan saya di atas ada dr. Billy, dia bilang dia tidak apa-apa.”
“Baik Pak.”
Malam itu juga Leon membereskan semua musuh-musuh . Piter tidak mendapat luka yang serius paginya ia diantar pulang ke rumah.
Akhirnya musuh Leon lenyap semua.
*
Beberapa bulan kemudian.
“Apa kamu marah padaku?” tanya Leon, karena melihat Hara jadi sosok yang pendiam. “ Apa kamu sedih? wajahmu terlihat sangat sedih, aku tidak tahan melihatnya, aku benci melihat kamu bersedih Hara, jangan sedih lagi di depanku, katakan apapun yang kamu inginkan, yang penting kamu tidak merasa sedih lagi, jangan menyimpan rasa sedih mu sendirian, kamu boleh curahkan padaku, aku siap jadi pendengar yang baik. OK.”
__ADS_1
“Tidak , aku hanya ingin menurut apa yang kamu demi kebaikan kita.”
“Hara kamu bilang ingin merenovasi tempat senam ibu kamu dulu, apa kamu masih ingin melakukanya?”
“Apa boleh?” Hara menatap Leon dengan tatapan bersemangat , karena sudah sejak lama ia menginginkan hal itu.
“Boleh, agar kamu punya kesibukan di rumah, tapi dengar… dua hari ini, aku ada pekerjaan di luar kota, aku akan meninggalkanmu dengan ibu. Apakah boleh?”
“Baiklah.”
Hara sangat bersemangat melakukan pekerjaan mendesain bangunan senam milik ibunya, ia menelepon Piter memberitahukan rencana untuk renovasi gedung tersebut.
“Baiklah, aku akan menyiapkan team untuk mengerjainya Hara, tetaplah di rumah dengar kata dokter , nanti biar lewat ponsel kita bahas.”
“Apa om sama bibi sehat? "
“Sehat jangan khawatir."
Leon kerja di luar kota, sementara Hara menghabiskan waktunya dalam satu ruangan, mendesain bangunan gedung milik ibunya. Kalau Hara sudah mulai bekerja bahkan makan juga bisa lupa.
Sampai bu Atin ikut khawatir dibuatnya, “Nak Hara, apa kamu mau makan bersama, Ibu?”
“Duluan saja iya ibu, aku belum lapar aku belum menyelesaikan pekerjaanku.”
Sudah dua hari sejak Leon bekerja di luar kota, ibu Atin hanya makan sendirian dalam meja makan itu, ia merasa sedih karena Hara tiba-tiba jadi sangat pendiam.
*
Pada hari yang kedua, Leon akhirnya pulang, ia tiba tepat saat waktu makan malam.
“Aku mandi dulu Bu, nanti baru makan,” ucap Leon. “Apa Hara tidak turun?”
Wajah Bu Ati langsung kusut saat ia menyebut Hara. “Ada apa Bu, apa terjadi sesuatu?”
“Oh, ibu jangan marah, tolong maklumi, mungkin dia sibuk mengerjakan desain renovasi gedung milik almarhum ibunya.”
“Dia makan di kamar?”
“Masih mending Leon, justru ibu takut Hara sakit, kenapa kamu memperbolehkan dia memegang pekerjaan lagi, dia gila kerja sering melewatkan makan
Leon tidak ingin marah atas pengaduan ibunya, ia bersikap tenang dan naik ke ruangan yang disulap jadi ruangan kerja Hara
“Sayang, aku pulang.” Leon mendekat dan memeluk Hara dari belakang.
“Eh, uda pulang … “ Hara hanya melirik sebentar lalu, ia berfokus lagi pada lembar kertas yang di depannya.
Seakan-akan tidak perduli kalau yang datang itu adalah suaminya yang baru pulang dari luar kota.
“Apa kamu sangat sibuk?” Tanya Leon setelah menunggunya beberapa menit.
“Iya, kamu makan saja duluan aku nanti akan menyusul pekerjaanku tanggung bangat nanti kalau aku meninggalkannya takutnya aku lupa.”
“Baiklah, aku mau mandi dulu, nanti kita akan makan bersama.”
Leon sudah selesai mandi dan duduk di meja makan, menunggu Hara dengan sabar, tetapi sampai jam sudah menunjukkan jam Sembilan malam ia belum juga turun.
“Sudah makan saja dulu, biarkan dia menyelesaikan pekerjaannya, jangan marah, lebih baik kamu makan dan langsung istirahat, besok baru kita bicara lagi.”
“Apa dia begitu selama aku tidak ada?”
“Iya, tapi ibu memakluminya Nak, mungkin ia ingin mengalihkan pikirannya dengan menyibukkan diri dalam pekerjaan.”
__ADS_1
“Tapi tetap sama tidak bisa Bu, kesehatan yang lebih penting. Bagaimana dia bisa hamil kalau tidak sehat."
“Leon… belajarlah untuk mengerti istrimu Nak, jangan tuntut dia untuk cepat hamil, tapi jadikan dirimu orang paling mengerti Hara, jangan memaksakan lagi, takutnya dia makin tertekan dan depresi, "ujar Bu Atin.
Leon menuruti semua apa yang dikatakan Bu Atin, ia tidak marah, tidak menganggu Hara, ia biarkan wanita itu melakukan apa yang ia kerjakan malam itu.
Ia masuk ke kamarnya duluan merebahkan tubuhnya di ranjang.
Menempuh perjalanan jauh membuat tubuhnya terasa lelah, Namun, pikirannya teralih pada Hara yang melewatkan makan malam.
“Dia melewatkan makan malamnya lagi, apa pekerjaan itu lebih penting dari kesehatan?”
Leon masuk ke ruang kerja Hara, ia terhenti matanya menatap Hara dengan diam, ternyata ia lagi menyuntik obat dari dokter ke perutnya, ia mengusap ujung matanya, ia menangis.
‘Apa karena belum hamil membuatnya jadi berubah jadi pendiam seperti itu, apa dia tertekan ?’
Leon mengetuk pintu ruang kerja Hara.
“Iya masuk.”
“Hei kamu tidak apa-apa?” Tanya Leon memeluk sang istri dari belakang.
“Apa jika nanti aku tidak bisa hamil, apa kamu akan meninggalkanku?” Tanya Hara, ketakutan seorang istri dalam satu rumah tangga salah satunya tidak bisa melahirkan anak itulah yang di rasakan Hara.
“Tidaka akan sayang, itu tidak akan terjadi, apa karena itu kamu jadi diam beberapa hari ini?”
“Aku takut tidak bisa memberimu anak Leon.”
“Tidak apa-apa kalau kamu tidak bisa melahirkan anak, kita akan adopsi anak dari panti asuhan jangan khawatir, aku tidak akan meninggalkanmu sayang,’ ujar Leon meraih dagu istrinya mengecupnya dengan lembut.
“Apa kamu berjanji tidak meninggalkanku?”
“Janji,” ujar Leon mengendong tubuh Hara ke ranjang usaha mencetak anakpun dimulai....
Bersambung ….
KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU IYA KAKAK
Baca juga.
- Pariban Jadi rokkap( Baru)
-Aresya(Baru)
-Turun Ranjang(Baru)
-The Curet king( Baru)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing