
Saat Leon memilih dirawat di rumah. Kaila masih di ranjang rumah sakit, sesuai permintaan pengacara Leon, pengacara itu meminta tetap di sana.
Sebagai alat untuk menjerat kedua wanita yang hampir mencelakai Leon. Pengacara Bianca menawarkan banyak uang agar Leon dan pengacaranya menarik tuntutannya . Namun, Leon bukanlah orang yang kekurangan uang bahkan bila di total seperempat kekayaan milik Leon, tidak dimiliki keluarga Bianca walau ayahnya seorang pengusaha dan seorang pejabat negara sekalipun. Leon jauh lebih kaya dari ayah Bianca, demi alasan kemanusian ia bahkan membiayai rumah sakit ayah Lily dengan Cuma-Cuma, tetapi hukum tetaplah hukum. Leon tidak mau melepaskan Lily.
Bianca sampai memohon untuk bisa bertemu dan bicara pada Leon, karena sebelumnya mereka sudah saling kenal. Tetapi pengacaranya berdalih kalau Leon masih dalam perawatan khusus karena lukanya belum sembuh.
Leon menolak berdamai dan menolak mencabut tuntutannya, ia ingin Bianca merasakan dinginnya ruangan penjara selamanya, agar ia jerah dan tidak mengulangi kejahatan la
*
Sejak kepulangannya, Hara belum bicara berdua dengannya , bahkan malamnya Hara memutuskan tidur di kamar bocah kembar itu, ia beralasan ia tidur di sana atas permintaan si kembar.
Saat Hara membacakan buku dongeng untuk mereka berdua, Leon datang ia duduk di dalam kamar Okan Dan Chelia.
“Apa Ayah juga mau bobo di sini sama kami?” tanya Chelia menatap ayahnya. Leon menatap Hara sekilas, Hara hanya diam memberikan waktu untuk Leon.
“Apa ibu mau, kalau Ayah ikut tidur di sini?” Tanya Leon.
“Ibu, apa Ayah boleh tidur di sini?” tanya Chelia memegang telapak tangan Hara.
Tidak mau kedua bocah kembar itu sedih.
Hara membalas dengan senyuman, lalu ia berkata;
“Boleh, sayang.”
“Ayah boleh kata Ibu,” ujar Chelia kembali ceria.
Lalu Leon menggabungkan kedua ranjang Okan dan Chelia bu, kalau biasanya pisah ranjang, walau mereka satu kamar namun ranjang keduanya dipisah.
Leon merebahkan tubuhnya di ranjang Okan, ranjang bermotif karakter manusia laba-laba, salah satu karakter kartun tontonan kegemaran lelaki berwajah tampan itu, Leon tidur di samping Okan, ia memiringkan tubuhnya ikut mendengarkan cerita dongeng yang dibacakan Hara sebuah dongeng dari tanah air’ Timun Emas’
Hara membacakan dengan penuh ekspresi, ia menghiraukan Leon yang terus menatap wajahnya.
“Ibu, apa ‘Timun Emas itu cantik seperti Ibu?” tanya Chelia menatap Hara.
“Dia cantik sepertimu, sayang,” balas Hara menyentuh hidung Chelia dengan gemas.
“Ibu lebih cantik dari dede Celia Bu,” timpal Okan, tiba-tiba ia buka mata
__ADS_1
Hara terkekeh, “Bukannya abang sudah bobo dari tadi?”
“Tidak, aku takut Ibu pergi lagi ninggalin aku sama dede Celia.”
“Tidak sayang, tidurlah, ibu tidak akan pergi lagi,” ujar Hara.
“Boleh, aku peluk Ibu sebelum bobo?” tanya Okan, saat Hara meninggalkan mereka berdua selama berhari-hari tanpa disadari, telah menolehkan ketakutan pada kedua bocah kembar itu.
“Ibu tidak akan meninggalkan kami lagi’ kan?” Celia tiba-tiba duduk dan menangis lagi.
Hara sangat terkejut, ia pikir kepergian nya meninggalkan anak-anaknya hanyalah masalah kecil, ia tidak tahu kalau ia telah membangun satu ketakutan pada kedua buah hatinya.
“Oh sayang, kenapa kamu berpikir seperti itu?”
“Bima, teman sekolah dede sama abang, dia menangis di depan kelas, saat ibu guru bertanya, katanya maminya meninggalkan dia dan adiknya di rumah dan tidak mau kembali ke rumah ia pergi dengan seorang laki-laki dan ayahnya membawa ibu baru untuk mereka berdua.” Celia bercerita dengan tangisan ketakutan dan Okan ikut duduk, mereka berdua duduk dan memeluk Hara.
‘Ya Tuhan apa yang telah aku lakukan , aku telah melukai hati mereka’ Hara terdiam, ia tidak tahu perbuatanya akan menyakiti keduanya.
Leon ikut terdiam, ia juga merasa bersalah, cerita Chelia mengingatkan pada sosok orang ketiga, Leon juga merasa sangat bersalah, kalau saja ia punya keberanian untuk berterus terang pada Hara, tidak akan ada masalah seperti saat ini.
Ponsel Leon yang ia letakkan di samping lampu tidur di dekat Hara, tiba-tiba berdering, ada panggilan masuk dari Kaila ini petaka ada pertanda ….
“Ayah, kenapa teleponnya tidak diangkat?” tanya Chelia menatap ayah dengan tatapan mata setengah mengantuk.
“Oh itu tante Kaila, pasti ia membahas tentang pekerjaan biarkan saja, besok saja,” ujar Leon tiba-tiba grogi.
Hara hanya diam. membuat Leon merasa sesak di dada. Hara tiba-tiba bersikap cuek dan acuh. Padahal biasanya kalau ada panggilan , Hara akan bertanya;
“Itu siapa sayang? Mau apa dia jam segini, aku angkat iya.”
Tetapi kali ini, dari sejak ia tiba tadi sore, sampai malam ini, ia diam dan tidak menyapa Leon.
“Sekarang abang pindah dan rebahkan tubuhnya, kalian berdua harus bobo,” pinta Hara meminta Okan tidur kembali
Namun, panggilan dari Kaila tidak kunjung berhenti, Leon terlihat kesal.
“Angkat saja, kasihan anak-anak terganggu, kamu bisa bicara di luar, mungkin hal penting,” ujar Hara.
“Baiklah.” Leon berdiri wajahnya terlihat mengeras, garis rahanngnya saling bertarikan dan gigi saling bergertak.
__ADS_1
“Ada apa? kamu tidak tahu ini sudah jam berapa?”tanya Leon dengan suara tegas.
“Maaf Pak , saya hanya ingin bertanya, apa Bu Hara sudah pulang kat-“
“Kaila. Jangan khawatir, kamu fokus saja dalam persembunyian , jangan keluar sampai persidangan selesai. Hara sudah pulang, kami berdua lagi sibuk menidurkan si kembar karena lagi sakit,” ujar Leon.
Kaila merasa seperti orang bodoh, ia terdiam dengan perasaan takut.
“Baik, saya hanya-“
“Jangan khawatir Kaila, aku dan istriku baik- baik saja, kalau tidak ada hal penting harusnya kamu tidak usah meneleponku selarut ini.”
“Baik Pak.”
Leon menutup panggilan telepon.
‘Dengar Kai, kamu pikir dengan kamu melakukan hal memalukan itu padaku, kamu bisa menekan ku atau memperalat ku, jangan harap … kalau saja kamu sempat buka mulut pada Hara, maka kamu akan menghilang dari muka bumi ini’ Leon membatin
Hara menguping pembicaraan Leon, ia pura-pura mengambil minyak gosok di lemari, di dekat pintu. Daun pintu terbuka sedikit jadi pembicaraan Leon sangat jelas.
Lalu Leon menekan nomor seseorang.
“Apa kamu sudah melakukan yang aku perintahkan?”
“Baik awasi dia.”
Hara masih berdiri di balik pintu.
Bagi Leon Hara adalah segalanya, kalau Hara marah maka gelap dunia yang dilihat Leon, tetapi sayang ia melupakan hal terpenting dalam satu hubungan rumah tangga’ Kejujuran’.
Ia meletakkan ponselnya lalu ikut berbaring di samping Okan.
Hara dan Leon masih dalam diam.
Hara juga merebahkan tubuhnya, ia juga memiringkan tubuhnya memeluk kedua buah hatinya, Leon yang awalnya terlentang, ia ikut bergeser lalu membalikkan tubuhnya, menatap wajah Hara yang pura-pura tidur
“Maaf, Maafkan aku karena aku membentak mu hari itu” ujar Leon penuh sesal.
"Baiklah," ujar Hara, ia menunggu Leon bicara terbuka padanya.
__ADS_1
Bersambung ...