Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Mengharapakan Sebuah Kejujuran


__ADS_3

Saat Leon  memilih dirawat di rumah.  Kaila masih di ranjang rumah sakit, sesuai permintaan pengacara Leon, pengacara itu meminta tetap di sana.


Sebagai alat untuk menjerat kedua wanita yang hampir mencelakai Leon. Pengacara Bianca menawarkan  banyak uang agar Leon dan pengacaranya  menarik tuntutannya . Namun,  Leon bukanlah orang yang kekurangan uang bahkan bila di total seperempat  kekayaan milik Leon, tidak dimiliki keluarga Bianca walau ayahnya seorang pengusaha dan seorang pejabat negara sekalipun. Leon jauh lebih kaya dari ayah Bianca, demi  alasan kemanusian ia bahkan membiayai  rumah sakit ayah Lily dengan Cuma-Cuma, tetapi hukum tetaplah hukum. Leon tidak mau melepaskan Lily.


Bianca sampai memohon untuk bisa bertemu dan bicara pada Leon, karena sebelumnya mereka sudah saling kenal. Tetapi pengacaranya berdalih kalau Leon   masih dalam perawatan khusus karena lukanya belum sembuh.


Leon menolak berdamai dan menolak mencabut tuntutannya,  ia  ingin Bianca merasakan  dinginnya ruangan penjara selamanya, agar ia jerah dan  tidak mengulangi kejahatan la


                *


Sejak kepulangannya,  Hara belum bicara berdua dengannya , bahkan malamnya Hara memutuskan tidur di kamar bocah kembar itu, ia beralasan ia  tidur di sana atas permintaan si kembar.


Saat Hara  membacakan buku dongeng untuk mereka berdua,  Leon datang ia  duduk di dalam kamar Okan Dan Chelia.


“Apa Ayah juga mau bobo di sini sama kami?” tanya Chelia menatap ayahnya. Leon menatap Hara sekilas, Hara hanya diam memberikan waktu untuk Leon.


“Apa ibu mau, kalau Ayah ikut tidur di sini?” Tanya Leon.


“Ibu, apa Ayah boleh tidur di sini?” tanya Chelia memegang  telapak tangan Hara.


Tidak mau kedua bocah kembar itu sedih.


Hara  membalas dengan senyuman, lalu ia berkata;


“Boleh, sayang.”


“Ayah boleh kata Ibu,” ujar Chelia kembali  ceria.


Lalu Leon menggabungkan kedua ranjang  Okan dan Chelia bu, kalau biasanya pisah ranjang, walau mereka satu kamar  namun ranjang keduanya dipisah.


Leon merebahkan tubuhnya di ranjang Okan, ranjang bermotif  karakter manusia laba-laba, salah satu karakter kartun  tontonan kegemaran lelaki  berwajah tampan itu, Leon  tidur di samping Okan, ia memiringkan tubuhnya ikut mendengarkan cerita dongeng yang dibacakan Hara sebuah dongeng  dari tanah air’ Timun Emas’


Hara membacakan dengan penuh ekspresi, ia menghiraukan Leon yang terus menatap wajahnya.


“Ibu, apa ‘Timun Emas itu cantik seperti Ibu?” tanya Chelia menatap Hara.


“Dia cantik sepertimu, sayang,” balas Hara menyentuh hidung Chelia dengan gemas.


“Ibu lebih cantik dari dede Celia Bu,” timpal Okan, tiba-tiba ia buka mata

__ADS_1


Hara terkekeh, “Bukannya abang sudah bobo dari tadi?”


“Tidak, aku takut Ibu pergi lagi ninggalin aku sama dede Celia.”


“Tidak sayang, tidurlah, ibu tidak akan pergi lagi,” ujar Hara.


“Boleh, aku peluk Ibu sebelum bobo?” tanya Okan, saat Hara meninggalkan mereka berdua selama berhari-hari tanpa disadari,  telah menolehkan ketakutan   pada kedua bocah kembar itu.


“Ibu tidak akan meninggalkan kami lagi’ kan?” Celia  tiba-tiba duduk dan menangis lagi.


Hara sangat terkejut, ia pikir  kepergian nya meninggalkan anak-anaknya hanyalah  masalah kecil,  ia tidak tahu kalau ia telah membangun satu ketakutan pada kedua buah hatinya.


“Oh sayang, kenapa kamu berpikir seperti itu?”


“Bima, teman sekolah dede sama abang, dia menangis di depan kelas, saat ibu guru bertanya,  katanya maminya meninggalkan dia dan adiknya di rumah dan tidak mau kembali ke rumah ia pergi dengan seorang laki-laki dan ayahnya membawa ibu baru untuk mereka berdua.” Celia  bercerita dengan tangisan ketakutan dan Okan ikut duduk,  mereka berdua  duduk dan memeluk Hara.


‘Ya Tuhan apa yang telah aku lakukan , aku telah melukai hati mereka’ Hara terdiam, ia tidak tahu perbuatanya akan  menyakiti keduanya.


Leon ikut terdiam,  ia juga  merasa bersalah, cerita Chelia mengingatkan  pada sosok orang ketiga,    Leon juga merasa sangat bersalah, kalau saja ia punya keberanian untuk berterus terang pada Hara, tidak akan ada masalah seperti saat ini.


Ponsel Leon yang ia letakkan di samping lampu tidur di dekat Hara,  tiba-tiba berdering,  ada panggilan masuk dari Kaila ini petaka ada pertanda ….


“Ayah, kenapa teleponnya tidak diangkat?” tanya Chelia menatap ayah dengan tatapan mata setengah mengantuk.


“Oh itu tante Kaila,  pasti ia membahas tentang pekerjaan  biarkan saja,  besok saja,” ujar Leon  tiba-tiba grogi.


Hara hanya diam. membuat Leon  merasa sesak di dada. Hara tiba-tiba bersikap cuek dan acuh.  Padahal biasanya kalau ada panggilan ,  Hara akan bertanya;


“Itu siapa sayang?  Mau apa dia jam segini, aku angkat iya.”


Tetapi kali ini,  dari sejak ia tiba tadi sore,  sampai malam ini, ia diam dan tidak menyapa Leon.


“Sekarang  abang pindah  dan rebahkan tubuhnya,  kalian  berdua harus bobo,” pinta Hara meminta Okan tidur kembali


Namun, panggilan dari Kaila tidak kunjung  berhenti, Leon terlihat kesal.


“Angkat saja,  kasihan anak-anak terganggu,  kamu bisa bicara di luar, mungkin hal penting,” ujar Hara.


“Baiklah.” Leon berdiri wajahnya terlihat  mengeras,  garis  rahanngnya saling bertarikan  dan gigi saling bergertak.

__ADS_1


“Ada apa? kamu tidak tahu ini sudah jam berapa?”tanya Leon dengan suara tegas.


“Maaf Pak , saya hanya ingin bertanya, apa Bu Hara sudah pulang kat-“


“Kaila.  Jangan khawatir,   kamu fokus saja dalam persembunyian ,  jangan keluar  sampai persidangan selesai. Hara sudah pulang, kami berdua lagi sibuk menidurkan si kembar karena lagi sakit,” ujar Leon.


Kaila merasa  seperti orang bodoh,  ia terdiam dengan perasaan takut.


“Baik,  saya hanya-“


“Jangan khawatir Kaila,  aku dan istriku  baik- baik saja, kalau tidak ada hal penting harusnya kamu tidak usah meneleponku selarut ini.”


“Baik Pak.”


 Leon menutup panggilan telepon.


‘Dengar Kai,  kamu pikir dengan kamu melakukan hal memalukan itu   padaku,  kamu bisa menekan ku atau memperalat ku, jangan harap … kalau saja kamu sempat buka mulut pada Hara, maka  kamu akan menghilang  dari muka bumi ini’ Leon  membatin


 Hara menguping pembicaraan Leon, ia pura-pura mengambil minyak  gosok di lemari,  di dekat pintu. Daun pintu terbuka sedikit jadi pembicaraan Leon sangat jelas.


Lalu  Leon menekan nomor seseorang.


“Apa kamu sudah melakukan  yang aku perintahkan?”


“Baik awasi dia.”


Hara masih berdiri di balik pintu.


Bagi Leon Hara adalah segalanya, kalau Hara marah  maka gelap dunia yang dilihat Leon, tetapi sayang ia melupakan hal terpenting dalam satu hubungan rumah tangga’ Kejujuran’.


Ia meletakkan ponselnya lalu ikut berbaring di samping Okan.


Hara dan Leon masih dalam diam.


Hara juga merebahkan tubuhnya,  ia juga memiringkan tubuhnya memeluk kedua  buah hatinya,  Leon yang awalnya terlentang,  ia ikut  bergeser lalu membalikkan tubuhnya,  menatap wajah Hara yang pura-pura tidur


“Maaf, Maafkan aku karena aku membentak mu hari itu” ujar Leon penuh sesal.


"Baiklah," ujar Hara, ia menunggu Leon bicara terbuka padanya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2