
Kota Oslo, Norwegia.
Hara Leon, Ken, Bram
Setelah istirahat satu malam, saat pagi hari Hara sengaja bangun lebih cepat.
Leon masih meringkuk di bawa selimut, dinginnya udara pagi di kota Olso membuat tubuhnya enggan untuk bangun.
“Sayang ayo bangun, kita jalan ayo,”ujar Hara menarik selimut tebal dari tubuh Leon.
“Aku malas bangun, dingin bangat, tidak bisa kita tidur saja di sini?” ujar Leon tidur telungkup.
“Ngapain kita ke sini kalau hanya numpang tidur? ayo bangun.” Hara menarik tangan Leon, bukannya bangun, tetapi malah menarik badan Hara sampai jatuh ke dadanya.
Leon memeluknya dengan erat.
“Biarkan seperti ini lima menit saja,” bujuk Leon.
“Apa kamu ingin kopi panas? Aku membawa kopi kesukaanmu dari Jakarta.”
“Boleh, kopi buatan mu akan membuat hariku bersemangat.”
Leon melepaskan tubuh istrinya membiarkannya menyeduh kopi panas untuknya, Hara tahu kalau Leon paling suka dengan kopi original, biji kopi yang ditumbuk manual.
Maka itu Hara sampai membawa toples kopi di dalam koper, menghirup wangi harum dari kopi buatan sang istri, Leon akhirnya bangun.
Leon tersenyum saat Hara membawa toples kopi, sama ikan teri dicampur kacang dalam toples.
“Apa kamu membawa itu juga? tanya Leon tertawa saat melihat ikan teri dalam toples.
“Iya, kata ibuku udara di sini sangat dingin makan pedas-pedas paling enak, aku ingin mencobanya,” ujar Hara.
“Kalau kita naik penerbangan umum mana bisa bawa itu di periksa,, untung Pak Bayu baik tidak dilarang membawa itu,” ujar Leon tertawa kecil melihat barang-barang bawaan istrinya, pantas saja koper mereka sampai lima Hara membawa banyak peralatan.
“Pak Bayu kan pilot mu, kalau dia marah tinggal lapor padamu,” ujar Hara tertawa.
Perjalanan pertama Hara ingin melihat pemandangan indah dari negara itu.
Kota staindlasforssen Waterfall sebuah desa yang sangat sejuk, disuguhkan dengan beberapa air terjun, tadinya Leon malas untuk jalan karena dingin. Namun, melihat pemandangan yang indah tersebut, ia bersemangat walau sering kali jadi juru foto untuk sang istri.
“Sayang ayo kita foto di sini,” teriak Hara meminta Ken mengambil gambar mereka berdua. Kota itu di kelilingi dengan danau-danau alami yang sangat indah dan Hara melihat bagaimana ikan-ikan salmon dijala semuanya masih sangat segar.
“Kamu tahu minyak ikan salmon sangat bagus untuk otak anak,” ujar Hara.
__ADS_1
Mereka berdua bahkan mendapat kesempatan melihat ikan-ikan mahal itu di olah, bahkan ada juga yang membudidayakan ikan mahal tersebut. Norwegia salah satu penghasil ikan salmon terbaik di dunia dan penghasil susu sapi terbaik, mereka juga terkenal sangat ramah dan baik hati.
Saat Leon jalan ke sebuah desa yang sangat indah, saat seorang warga desa tahu Leon dan Hara belum memliki keturunan, seorang Ibu bahkan memberikan satu botol minyak ikan salmon untuk Hara. Hara dan Leon fasih berbahasa Inggris dan warga Norwegia juga mengerti apa yang mereka ucapkan, walau mereka berwisata ke desa.
“Kamu lihat kan ... mereka sangat ramah sayang,” ujar Hara memamerkan botol minyak ikan salmon.
“Iya, karena mereka lihat kamu cantik dan baik hati, lihat … samaku mereka mana yang ramah,” ujar Leon.
“Itu karena kamu pelit untuk senyum. Coba senyum seperti ini.” Lagi-lagi Hara mengarahkan jari-jarinya ke bibir Leon menekan kedua ujung bibirnya dan memaksa untuk tersenyum.
“Baik, baiklah, begini Leon memaksa diri tersenyum, tetapi yang terlihat malah aneh seperti kera yang tersenyum, melihat hal itu Hara tertawa.
“Mafia memang susah tertawa, iya,” ujar Hara bercanda.
Leon menyentil jidat sang istri karena menyebutnya mafia lagi. “Suamimu Bukan mafia lagi sekarang, sudah tobat jadi bodyguardmu,” ujar Leon.
Leon hanya tersenyum kecil. Saat Hara yang menyebutnya mafia, ia tidak marah, malah tertawa, tetapi saat orang lain menyebut dirinya seperti itu, ia akan marah.
Benar kata Zidan, kalau Hara jimat yang paling ampuh untuk menjinakkan Leon. Saat berhadapan dengan Hara Leon seolah-olah memasuki dunia lain , hanya Pada Hara, Leon bisa menangis dan menunjukkan sisi manja dari dirinya, saat bersama Hara juga, ia mau tertawa dan tersenyum dan mau melakukan apapun untuk Hara.
Selama ini Leon tidak pernah mau liburan dan tidak pernah mau di suruh berfoto di depan kamera. Namun, saat bersama Jovita Hara, ia mengeluarkan sisi yang lain dari dirinya, ia mau di foto walau gayanya kaku seperti tiang beton.
Setelah menikmati sebuah desa yang sangat indah di kota tersebut, Hara istirahat.
“Kamu tidak capek?” tanya Leon sat melihat Hara masih energik mengarahkan kamera ke setiap arah.
“Benar iya …. jangan nanti malam kamu mengeluh kakinya pegal,” ujar Leon melihat wajah istrinya.
Hara hanya menahan senyum saat Leon memberi peringatan padanya, sebenarnya kakinya susah sangat sakit hanya ia terlalu jatuh cinta dengan pemandangan alam di desa tersebut, jadi ia menahan kakinya yang pegal.
“Aku tahu ... kakimu sudah pegal hanya kamu menahannya, kan? Aku saja dan Ken, sama Bram juga kakinya pegal,” ujar Leon.
Masuk ke salah satu di desa tersebut, warga setempat tidak di perbolehkan menaiki mobil atau kendaraan bermotor, demi menjaga kebersihan udara di di desa mereka. Penduduk setempat hanya menggunakan sepeda sebagai kendaraan untuk melakukan aktivitas dan perahu.
Karena itulah mereka juga berjalan kaki mengeliling desa.
“Aku capek sih, hanya jatuh cinta bangat sama alam dan pemandangan di desa ini, bersih bangat hijau bangat alamnya, nanti malam urut kakiku kalau pegal iya,” ujar Hara megedip-edipkan matanya pada Leon, Ia bercanda bersikap sok imut.
“Aku sudah menduga,” ujar Leon mendengus.
Hara layak disebut seorang traveling cantik, saat Leon , Ken dan Bram merasa kakinya gempor karena banyak jalan. Tetapi untuk Hara, ia masih penasaran dengan wisata alam yang ada dalam foto sang ibu.
“Sayang kamu yakin kita kesana? Menurut tourguide nya jalanan ke sana lumayan jauh.”Leon melihat Hara.
__ADS_1
Satu hari itu mereka sudah mengelilingi beberapa alam yang sangat menakjubkan, tinggal satu yang belum cahaya aurora.
“Yakin, masih kuat kok,” ujar Hara.
“Sayang bagaimana kalau kita besok saja ini sebentar lagi akan sore.”
Wajah Hara langsung terlihat sedih.
“Justru aurora itu terlihat di malam hari,” ujar Hara memelas di tangannya ada foto sang ibu yang berpose di depan sebuah cahaya hijau yang di sebut sebagai cahaya aurora.
“Baiklah, kita akan kesana,” ujar Leon, ia bahkan menyewa sebuah mobil kemah demi mewujudkan impian Hara untuk bisa berpose seperti ibunya.
Hara sangat terharu saat impiannya tercapai, ia sampai menangis memeluk Leon saat mereka berfoto di depan cahaya indah berwarna hijau tersebut. Hara akhir melihat aurora dari Lofoten persis seperti ibunya.
“Hei … Sayang. Jangan menangis,” ujar Leon memegang pipi Hara.
“Terimakasih Leon ini mengobati rasa rinduku untuk ibuku … Terimakasih banyak karena kamu berusaha keras untuk mewujudkan impianku, aku tahu ... betapa susahnya tadi kamu mendapat mobil kemah itu, "ujar Hara sesenggukan.
“Sayang, aku sudah bilang padamu aku akan mewujudkan impianmu, apapun itu, selagi aku mampu. Tapi jangan menangis. Setiap kali kamu menangis di depanku, hatiku sangat sedih ,” ujar Leon, wajahnya sangat tulus.
“Aku mencintaimu Leon … sangat mencintaimu,” ucap Hara meraih lehernya suaminya dan menempelkan bibirnya di bibir sang suami, kiss hot penuh cinta. Mereka tidak perduli tatapan mata semua orang lagi.
Ken yang bisanya selalu bercanda dan humoris, terdiam dan terharu melihat besarnya cinta Leon untuk Hara, Ken tahu bagaimana dulu sifat bosnya sebelum mengenal cinta dari Hara .
“Aku berharap cinta mereka berdua abadi selamanya,” ujar Ken mengusap ujung matanya.
“Bos, sangat mencintai Nona Hara, aku baru lihat ada seorang rela melakukan apapun untuk istrinya,” ujar Bram.
“Kamu tidak tahu Bram, bagaimana perjalanan kisah cinta mereka berdua penuh rintangan, air mata, kematian, patah hati . Semua sudah mereka lalui. Kamu baru tiga tahun ikut Bos. Aku sama Zidan, Toni dan almarhum Iwan, Rikko sudah puluhan tahun ikut Bos sangat tahu orang seperti apa dulu dia, sebelum mengenal nona Hara. Ternyata cinta tulus bisa mengubah lelaki yang jahat menjadi baik,” ujar Ken, tiba-tiba ia sangat sedih saat mengingat Rikko dan Iwan.
“Aku harap kalian bertiga bahagia di sana,” bisik Ken menatap aurora.
“Sayang …. ada mitos mengatakan jika kita memanggil orang yang sudah meninggal di cahaya aurora mereka akan mendengar dan melihat, karena dulu kata ibuku suku viking di Norwegia selalu melakukannya …. Ayo kita melakukannya,,” ujar Hara.
Leon hanya mengangguk.
“Ibu, Ayah dan kedua adik kembarku …. Bantu aku bisikkan sama Tuhan, Aku ingin melahirkan anak-anakku,” ujar Hara.
Leon menatap kaget mendengar permintaan Hara, ia sangat terharu mendengar permintaan tulus tersebut. Mata Leon berkaca-kaca mendengar permintaan Hara.
‘Ibu, Ayah, Kakak tolong sampaikan permohonan pada para leluhur, aku ingin Hara tetap bersamaku selamanya sampai kami menua' bisik Leon dalam hati, permintaannya bukan meminta anak. Tetapi, ia justru ingin wanita yang ia cintai bersamanya selamanya, lalu ia membuka mata.
Wisata alam yang mereka jelajahi.
__ADS_1
“Aku berharap keinginanmu terkabul Non … orang baik sepertimu, aku yakin, doanya akan terkabul hanya butuh proses saja,’ ujar Ken tiba-tiba bersikap melankolis saat melihat cinta yang saling melengkapi dari Hara dan Leon.
Bersambung ….