Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Bayanganmu Selalu Ada Bersamaku


__ADS_3

Leon masih  berada disalah satu rumah sakit, karena salah satu dokter  kenalan Billy menahannya di sana atas permintaan Billy.


“Pak Wardana tadi dokter Billy meminta kami melakukan mengecek darah.”


“Ok silahkan lakukan,” ujar Leon, meletakkan iPad di tangannya.


“Jadi bapak diminta istirahat  menunggu hasilnya keluar”


“Baiklah.” Leon tidak membantah.


“ Pak Leon malam ini, bapak harus istirahat di sini dulu, bapak jangan banyak mengerakkan lengan, agar jahitannya cepat kering, mungkin beberapa hari ini akan menginap di sini,” ucap Dokter muda itu pada Leon.


Dokter dan perawat meninggalkan kamar Leon, tetapi beberapa jam kemudian mereka datang lagi membawa hasil pemeriksaan darah milik Leon.


“Maaf Pak Wardana, sepertinya bapak harus istirahat di rumah sakit beberapa hari lagi, kami sudah mengirim hasilnya ke  dr. Billy dan beliau menyarankan kami untuk melakukan pemeriksaan rutin dengan bapak, karena penyakit lama bapak sepertinya muncul lagi.”


“Baik Dok,” jawabnya dengan patuh.


Ia patuh,  kalau biasanya ia paling benci masuk rumah sakit,  lebih sering memanggil dokter ke rumahnya  jika butuh pengobatan, tetapi kali ini Leon masih bertekad keras ingin mengubah kebiasaan lamanya dan mengganti dengan yang baru.


Diminta menginap terpaksa ia membutuhkan asistennya  untuk mengurus pekerjaan,  sebelum mata benar-benar tertutup, karena efek minum obat, ia menekan nomor Bram bodyguardnya.


Saat ia berusaha keras untuk melupakan masa lalu di dunia nyata, namun di dunia mimpi ia seolah-olah diingatkan kembali.


Dimana seorang wanita cantik tertawa bercanda padanya, sikapnya yang ceria dan hangat membuat Leon  berada di dunia lain dan ikut  menikmati suana haru itu, suara tawa nyaring dari Jovita membuatnya ikut tertawa. Dalam mimpi Leon;


“Apa yang kamu lakukan?” Jovita semakin tertawa riang bermain busa sabun dalam bak mandi, ia juga menarik Leon masuk dalam bak mandi dan memaksa ikut merendam.


Mulutnya terbuka lebar memperlihatkan deretan gigi putih dan  bibirnya yang kecil dan mata bulat dengan bulu mata panjang lentik, ia terlihat seperti boneka hidup.


“Jovita Hara…!” Leon tersenyum.


Leon memegang pipi Jovita dengan  kedua telapak tangannya, mendekatkan bibirnya ke bibir Jovita dan menciumnya


   *


“Pak apa sudah bangun!” Bram membangunkan.


Leon terdiam, matanya terbuka perlahan lalu mengerjap matanya,  melihat kanan  ada Kaila, ia melirik kiri ada Bram juga, lelaki ber otot itu menatapnya penuh tanya.


“Apa bapak sudah bangun?”Tanya Kaila kemudian.


Leon mengangguk pelan, matanya masih sibuk mencari tahu keberadaan tubuhnya  saat ini.


“Pak kami memindahkan bapak keruangan VVIP,” ucap Kaila sang sekretaris.


“Iya baiklah.’ Kaila selalu  berusaha menarik perhatian Bos sejak mulai ia dijadikan sekretaris dua tahun lalu, secantik apapun  semenarik apapun wanita itu, Leon tidak pernah meliriknya, jangankan mengajaknya kencan, mengajak mengobrol  berdua juga  tidak pernah.  Sikap Leon  bahkan lebih dingin dari sebelum ia bertemu Jovita Hara.

__ADS_1


‘Hanya mimpi ....Ternyata aku pernah tertawa dan pernah merasakan  bahagia’ ujar Leon dalam benaknya.


“Bos, apa ada yang perlu saya kerjakan? Luka itu-“


“Jangan hiraukan luka ini, bukan apa-apa, saya hanya bertemu dengan berandalan kecil tadi malam,  aku ngin kamu melakukan pekerjaan yang lain, tidak ada sangkut pautnya dengan luka kecil ini” Potong Leon.


“Baik Bos”


“Kaila, tolong kamu batalkan jadwal rapatku hari ini dan atur ulang lagi skedul untukku beberapa hari ini, kamu  ke kantor saja, biar saya sama Bram di sini,” perintah Leon.


“Baik Pak” jawab sekretarisnya dengan patuh, wanita cantik, bak model profesional dengan  tinggi badan semampai, hampir sama dengan Leon.


Kaila meninggalkan Leon dan Bram, ia akan masuk kantor seperti biasa,  walau tanpa Bosnya.


                          *


“Bram aku ingin kamu mencari tahu keberadaan  wanita ini untukku, jangan bertanya dia siapa dan untuk apa.” pinta Leon dengan tegas.


“Baik Pak, berikan informasi yang bisa membantuku”


“Namanya Jovita Hara, wanita  buta, ini alamat rumahnya, ia tinggal dengan pembantu dan satu paman dan satu lagi bodyguardnya.”


Leon memberikan alamat  dan mengirim foto Jovita ke ponselnya, Bram menatapnya.


“Bukankah, wanita ini bekerja di Hotel kita Pak?”


Leon tidak akan bisa  tenang sebelum  Jovita  bisa melihat kembali,  tidak bisa berpaling dari Jovita karena wanita itu masih buta, kalau Jovita sudah bisa melihat, mereka berdua akan menjalani kehidupan masing-masing itulah yang dipikirkan Leon.


Bram tidak banyak bertanya, ia tahu Bosnya saat ini, dirundung kesedihan, satu tahun mendampingi Leon ia juga tahu banyak sikap Leon.


Buat Bram, Leon lelaki pekerja keras, tegas dan  tidak banyak, bicara dan  bukan lelaki sembarangan,  lelaki yang tidak  begitu mengagumi kaum hawa, kalau Bram pecinta tangguh, maka Leon pekerja tangguh.


“Baik Pak,aku akan mencarinya”  Bram meninggalkan Leon sendirian dalam kamar rumah sakit.


Kini  hanya ia sendiri dalam kamar itu, mimpi yang menemaninya tadi malam masih terngiang jelas di ingatannya, wajah Jovita tiba-tiba terasa sangat jelas dalam pikirannya Bagaimana ia benyanyi sangat sedih malam itu.


‘Apa kamu baik-baik saja? Aku berharap kamu baik-baik saja, agar aku bisa membayar hutangku padamu, agar aku bisa mengucapkan selamat tinggal masa lalu padamu’


Tiba-tiba ponselnya berdering.


Bianca Calling ….!


Leon melemparkan ponselnya ke sisi ranjang, ia tidak mengangkat telepon dari wanita yang rencananya ia nikahi nanti.


Ia merasa sesak dalam kamar, leon ingin  turun dari ranjang tiba-tiba perawat yang diminta dr Blly mengawasinya datang.


“Ada apa Pak Leon, apa ada yang bisa saya bantu?”

__ADS_1


“Tolong bawa aku jalan-jalan keluar Sus, saya merasa sesak dalam kamar ini.”


“Baik Pak” Suster berwajah imut  terlihat tersenyum manis melihat Leon, dengan lincah tangannya mengeluarkan kursi roda dari pojok kamar, membantu Leon duduk dan mendorongnya keluar.


“Aku ingin duduk di taman  itu saja, nanti  saya panggil suster kalau saya sudah bosan,” ucap Leon.


Melihat aneka bunga-bunga Leon jadi tertarik belakangan ini, karena saat di Panti, Jovita selalu duduk di dekat aneka bunga, menutup mata dan menghirup wangi bunga.


Bukan hanya di Panti, di rumah Jovita di Depok juga ditanam aneka bunga, ia selalu duduk tiap sore, melakukan ritual yang sama.


Hari ini Leon melakukanya, ia menutup matanya memetik sekuntum bunga, tapi tiba-tiba matanya  terbelalak  menyadari ada orang lain di sebrang taman mini tersebut, tubuhnya terhalang tanaman bunga. Jovita juga duduk di depannya melakukan hal yang sama.


“Apa aku mimpi, apa ini Jovita ….?”


“Non Hara, kita pergi melakukan pemeriksaan lanjutan iya,”ujar seorang perawat mendorong kursi roda Jovita membawanya kedalam ruang pemeriksaan.


Leon buru-buru berdiri, selang infus membuatnya kerepotan, saat ia ingin melepas selang infus dari tangannya perawat yang  membantunya datang setengah berlari. karena tiba-tiba gerimis dan hujan turun.


Dengan cepat didudukkannya  tubuh Leon dan mendorongnya  kembali kekamarnya. Leon terlihat seperti orang kebingungan.


“Sus, aku ingin keluar sebentar,” ucapnya dengan sikap tergesa-gesa.


“Maaf pak Leon saya tidak bisa melakukanya, bapak harus segera berganti pakaian, luka  di lengan bapak basah. Susah keringnya, aduh…bagaimana ini,? kenapa tiba-tiba langsung deras bangat tadi hujannya,” ucap suster wajahnya terlihat panik dengan pakaian  basah. Dengan sikap buru-buru mengeluarkan handuk kering membantu Leon mengeringkan rambut dan mengganti pakaian.


“Sus nanti saja ok, aku harus pergi” Leon menarik paksa infus di tangannya dan  berlari keluar  melihat Hara  ke arah luar.


“Pak Leon tolong nanti, dokter melihat Bapak, saya akan dapat teguran lagi,” ujar perawat berwajah imut itu dengan wajah setengah memohon, melihat itu Leon tidak tega.


“Baiklah” Leon kembali ke kamar perawatannya


Karena  tidak diperbolehkan keluar dari kamar, Leon menelepon Bram menyuruhnya ke rumah sakit. Karena melihat Jovita di rumah sakit yang sama dengannya.


Bersambung


KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing


__ADS_2