Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Mawar Cantik Untuk Istri


__ADS_3

Banyak orang berkata kalau lelaki sudah mendapatkan wanita yang dicintai, sikapnya akan berubah delapan puluh persen,  akan lebih cuek pada istrinya,  pemikiran itu  sepertinya tidak bagi Bos Mafia yang satu ini. Setelah ia menikahi Hara tingkat kecemasan akan  ditinggalkan semakin besar, bahkan ia rela berubah demi istrinya. Ia  selalu merasa kalau mereka berdua masih pacaran.


Hara masih di rumah di rumah  keluarganya. Sementara Leon pulang  kembali ke rumah. Tetapi sedikitpun tidak bisa tenang, tidak ada anak buahnya di rumah dan tidak ada Hara,  ia merasa sangat jenuh. Bahkan ia menelepon Kaila  kalau hari itu ia tidak masuk kantor lagi. Berkas yang akan ia tanda tangani  diminta di bawa kerumahnya saja. Tentu saja sekretarisnya akan cemberut, tetapi Leon tidak akan terpengaruh yang bisa mempengaruhi moodnya hanya istrinya.


“Aku  tidak bisa kalau begini,” ujar Leon menutup laptop di ruang kerjanya, lalu ia keluar ke taman, duduk melihat tanaman yang di bongkar Hara . Taman itu kembali pulih seperti sedia kala, Leon hanya tersenyum  melihat tanaman itu.


Saat malam tiba.


Lagi-lagi Leon tidak bisa memejamkan  matanya sepanjang malam, baginya waktu malam itu  terlalu panjang, ia ingin cepat berlalu menjadi pagi,  agar ia bisa menjemput Hara pulang membawanya  kerumah.


Leon merasa tidak tenang, ia berpikir kalau Hara akan meninggalkan.


“Kalau kamu tidak bisa melahirkan anak tidak apa-apa Hara. Aku tidak akan menuntut, karena itu bukan salah kamu  itu salahku,” ujar Leon.


Pikiran  ke ponsel miliknya, ia berharap Hara menelepon, tetapi panggilan yang masuk  kebanyakan dari kantor.


Untuk menghabiskan waktu, Leon masuk ke ruangan  bioskop miliknya dan menonton  film action kesukaannya


Saat malam lagi-lagi ia tidak bisa tidur, karena Hara tidak ada bersamanya.


Leon duduk sendirian memandang langit, padahal malam sudah mulai larut. Namun, matanya seakan enggan untuk diajak  tidur, ada  banyak ketakutan dalam benaknya, takut hari esok ia tidak bisa melihat  senyuman Hara. Ia takut istrinya pergi darinya karena tidak bisa punya anak .


Itulah ketakutan terbesar Leon, karena tidak bisa tidur Leon mengeluarkan mobil membawa  memutar-mutar tanpa arah, hingga berakhir di depan hotel miliknya.


“Lah, kenapa aku malah berakhir di sini?”  tanya Leon menatap bangunan hotelnya.


Karena sudah tiba di sana, Leon memutuskan turun dan naik ke kamar yang biasa ia tempati, mencoba merebahkan tubuhnya dan berbaring di sana,  sudah lelah karena berputar-putar mengendarai mobil,  Leon barulah bisa memejamkan mata, ia tertidur dalam ranjang  hotel.


Padahal dalam rumah Bu Atin dan Maman sempat panik mencari Leon karena tiba-tiba menghilang.


 Untungnya penjaga keamanan masih berjaga sepanjang malam, melihat Leon keluar membawa mobilnya,  melapor pada bu Atin kalau Leon keluar malam itu,  ia  ingin menjemput Hara pagi-pagi.


Ia terbangun tidak ada yang lebih indah ia rasakan  selain mendapat telepon dari Hara saat ini. Leon menetralkan suaranya agar terdengar normal.


“Halo  Sayang, selamat pagi.”


Terdengar suara tawa lembut di ujung telepon, Hara tertawa.


“Selamat siang , apa kamu  baru bangun. Apakah nanti ada pekerjaan?”


“Tidak, aku tidak sibuk, satu malam tidak bisa tidur jadi paginya baru tidur”


“Kenapa seperti itu?”


“Aku takut  kamu meninggalkanku,” ujar Leon, apa yang dikatakan semuanya apa adanya.

__ADS_1


Hara tertawa kecil mendengar penuturan Leon. “ Aku ingin mengadakan makan malam di rumah , tetapi sebelumnya aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun sayang, panjang umur sehat selalu.”


Leon diam, ia baru menyadari kalau ia  berulang tahun hari ini, tetapi ia melupakannya, karena ia terlalu sibuk dengan pikirannya.


“Mau kado apa dariku?”


“Kamu sehat dan pulang ke rumah.”


“Baiklah aku akan pulang,” ujar Hara.


“Baiklah aku  tunggu,” ujar Leon tersenyum.  Menyadari dirinya ulang tahun, ia hanya berdiri dan melihat patung kayu di sudut ruangannya.


“Apa kamu melupakan ulang tahunmu?” Tanya Hara.


“Dari dulu aku tidak pernah mengingatnya Hara, bukan hanya kali ini.”


“Oh.” Hara mengangguk.


“Tidak ada yang spesial dari ulang tahunku , Hara.


“Aku ingin merayakan,” ujar Hara


“Perayaan  ulang tahunku?”


“Tidak ada acara spesial kok Leon,  hanya ingin makan biasa saja.


“Baik.”


“Iya sayang.” Leon juga  mematikan teleponnya.


Saat Hara menelepon, ia benar-benar mulai  merasa tenang lagi. Pikirannya sudah menuju rumah,  membayangkan Hara mempersiapkan makan malam untuknya sebagai ganti makan malam yang pernah di lewatkan Leon  beberapa minggu lalu.


Karena Jovita Hara pernah  mengalami cidera di bagian ke pala, mereka yakin rasa pusing yang dirasakan istrinya efek  luka tersebut, itulah yang membuat Leon khawatir.


Leon tidur hotel dan hari itu ia langsung kerja.


Saat sore tiba,   Leon sudah bolak –balik melirik jam yang melingkar di lengannya.


Pada saat tepat jam lima sore,  ia  meninggalkan  hotel dan pergi ke toko bunga,  hal yang jarang ia lakukan dan hampir tidak pernah, padahal biasanya,  Ken yang selalu mengingatkan hal yang seperti itu.


 Tetapi kali ini Ia berjalan melihat-lihat bunga yang paling indah yang akan ia berikan untuk  Hara untuk makan malam mereka. Lelaki yang dulunya seperti balok es sudah mulai banyak berubah, bahkan hampir seratus delapan puluh derajat.


‘Bunga yang cantik untuk orang yang paling cantik’ Leon masih memilih bunga yang paling menarik


Akhirnya,  ia berdiri di depan  kelopak-kelopak bunga rose  berwarna merah dan putih.

__ADS_1


“Apa ada yang bis saya bantu pak?” Penjaga toko wanita,  menghampiri Leon.


“Saya ingin memberi hadiah bunga untuk istri saya.”


“Bagaimana dengan bunga Call lily, Pak?”


“Ah … apa bedanya.”


“Bunga ini lambang istri yang elegan dan anggun, sebaiknya pilihlah dengan karakter dan warna kesukaan  istri Bapak jika memberi  hadiah bunga,” ujar wanita cantik itu memberi masukan untuk Leon.


“Oh, begitu? saya baru tahu , tadinya saya ingin kasih bunga rose  ungu  ini saja,” ujar Leon mendapat pengalaman baru.


“Saya perlu bantu memilihkan? Katakan karakter istri Bapak?”


“Ceria,  berani dan aku selalu  merasa bahagia jika bersamanya dan terkadang juga anggun.”


“Bunga Biru melambangkan ketenangan, Merah  melambangkan kuat, energi yang terbantahkan dalam keinginannya, putih melambangkan ketulusan, Merah Muda melambangkan, keanggunan, kelembutan dan kebahagian, Ungu  melambangkan Martabat, kebanggaan dan kesuksesan”


Leon mengangguk,  ia baru tahu tentang arti warna bunga tadinya ia pikir,  kalau cantik akan di beli, ternyata,   ada makna di setiap warna bunga.


“Kalau begitu saya pilih bunga mawar warna merah  di campur,  merah mudah,” ujar Leon.


“Baik Pak.”


Tidak lama kemudian Leon keluar dari toko bunga menenteng  buket bunga yang cantik dan harum. Leon yang ulang tahun tetapi ia yang ingin memberikan bunga untuk  istrinya.


 Bersambung.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2