
Lama berkutat di layar laptop mencari dan menelpon kesana kemari.
Hingga akhirnya ia menemukan sesuatu yang membuatnya dadanya terasa sesak. Jovita menemukan adanya penghianatan dalam kematian keluarganya. Ia terdiam sesaat, menatap dengan nanar layar laptop, air matanya menetes tanpa permisi, tangannya menekan dadanya yang terasa sangat perih.
Bagaimana mungkin? Lelaki yang jadi tunangannya saat itu ternyata Mengkhianatinya, ia selingkuh dengan sahabatnya Lestari, wanita yang berkerja sebagai sekretaris ayahnya.
Bukan hanya itu, bahkan menusuk ayahnya dari belakang.
Jovita mengusap air matanya dengan kasar.
la menelepon team forensik yang memeriksa jasat orang tuanya saat itu, ia terpaksa menggunakan identitas pamannya yang saat ini tinggal di luar negeri.
Jovita menemukan Fakta yang lain, membuat hatinya kian perih, team dokter mengatakan ... menemukan ada obat tidur dalam kandungan darah kedua orang tuanya.
Itu artinya malam itu, kedua orang tuanya sengaja di beri obat penenang dalam makanan, di buat tidur lebih cepat sebelum di habisi. Karena ia tahu ayahnya tidak akan pernah tidur di bawah jam dua belas, apalagi kalau ia belum pulang ke rumah, karena malam malam naas itu, keluarganya tidur dengan cepat, ia yakin kalau ada penghianat juga di rumahnya.
Setelah beberapa jam berkutat di dalam ruangan, ia tidak bisa menahan guncangan hebat di dadanya, wajahnya memerah dan mengepal tangannya dengan kuat. Ia berjalan menuju kamar mandi.
“Beny … aku akan membunuh kalian berdua. Aku berjanji akan menghabisi kalian semua yang mengkhianati ayahku, kalian semua brengsek,” ucapnya menangis di kamar mandi.
“Kalian semua sangat jahat. Ayahku sudah membantu kalian semua mengangkat kamu sebagai anak, membiayai sekolah kamu, tetapi kalian menikam ayahku dari belakang. Aku berjanji akan membunuh kalian semua dengan tangan ini,” ujar Jovita di kamar mandi, ia membasuh muka dengan air.
Ia membereskan semua dan menghapus riwayatnya dalam pencarian di laptop Pak Banas dan menggantinya dengan model pakaian dengan begitu, jika suatu saat Leon mengetahuinya dan pasti akan mengetahuinya, ia hanya menemukan model pakaian dalam.
Jovita akhirnya menemukan seseorang yang akan membantunya di Kalimantan.
Maka, ia akan melakukan tindakan nekat lainnya juga kali ini. Ia tidak perduli lagi dengan nyawa sendiri, ia menganti pakaiannya lagi di kamar mandi dan ia mengenakan jaket hitam itu juga.
Setelah merayu mandor dan berhasil, kini ia punya rencana yang lain.
Saat ia keluar dari ruangan, seorang bagian perbelanjaan barang akan berangkat ke kota untuk mengambil material, Jovita kembali merayu bagian logistic, agar ia bisa ikut.
'Ini bukan tentang harga diri lagi Jovita, lakukanlah ....'
Merayu dengan pesona kecantikannya ia berhasil.
“Kalian mau ikut saya atau di sini?”
“Non mau kemana?” kedua pengawal itu saling menatap
“Saya ingin menemani bagian pembelian barang menunjukkan jenis bahan yang bagus yang akan di pakai di proyek ini”
“Tapi Non .…”
“Saya tidak akan kabur, percaya sama saya “
“Maaf Non, kami ikut dari belakang, kami tidak mau ada masalah sama bos nanti,” ujar salah seorang. Jovita tahu anak-anak Buah Leon orang -orang yang profesional , rayuan apapun mereka tidak akan berani.
“Oh, baiklah,” ujar Jovita ia mengalah, tetapi otaknya berpikir keras bagaimana caranya agar ia bisa lepas sebentar dengan kedua orang itu.
__ADS_1
Jovita sengaja naik mobil track proyek dan anak buah Leon mengikuti dari belakang.
Saat di dalam mobil.
“Abang Punya ponselnya tidak? Ponsel saya lagi gak ada,” ucap Jovita pada supir.
“Ada Mbak, ini.” Supir meminjamkan ponselnya jovita merasa sangat beruntung lagi, ia mengeluarkan kertas dari sakunya yang ia print di kantor mandor tadi, ia mengirim banyak pesan pada Piter dan banyak informasi pada pria itu.
Ia yakin suatu saat pasti akan mengaktifkan ponsel dan melihat informasi yang ia kirim, untung ia menghapal nomor Piter.
“Bang kita mampir ke apotik bentar iya, kepalaku sakit ,” ujar Jovita membuat alasan, mampir ke apotik.
Ia membeli beberapa obat yang diracik jadi obat yang bias membuat orang tidur dan lupa ingatan sementara.
Saat Truk berhenti di toko bangunan Jovita memberikan keduanya minum kopi dan dia juga. Kopi yang sudah di beri obat. Ia tidak mau keduanya curiga.
“Ayo kita ke mobil saja, pulang naik mobil ini ,” ujar Jovita.
Ia tidak ingin meninggalkan kecurigaan.
“Baru juga keduanya masuk ke dalam mobil, sudah merasa sangat mengantuk.
“Non saya sangat mengantuk tunggu sebentar iya, tidur dulu." Sam dan temannya, menidurkan kepala di jok.
“Iya sudah istirahat sebentar, saya mau lihat barangnya dulu," ujar Jovita, matanya mengawasi cctv yang ada di toko bangunan itu, ternyata di daerah itu hanya ada satu camera pengawas, milik sebuah bank.
Piter punya saudara di Kalimantan penjual bunga dan ia tadi sudah menghubunginya sebelum ia datang. Saat ia sedang mencari, dewi Fortuna seakan-akan berpihak padanya. Toko miliknya ada di sebrang jalan. Mengobrol sebentar Lelaki itu memeluk Jovita ia mengenal keluarganya.
Ia menyerahkan lembaran kertas yang ia print di dalam kantor tadi. Tidak sampai satu jam Jovita kembali ke depan toko, melihat arah cctv, ia masuk ke toko dari mana ia keluar tadi.
Ia membangunkan kedua lelaki itu, semua berjalan sesuai rencana.
Hidup di lingkungan mafia, Jovita bertrnformasi seperti seorang penjahat, keadaan terdesak ternyata, bisa mengubah siapa saja.
Sepanjang jalan pulang Jovita hanya diam dadanya terasa sakit, dendam dan sakit hati sudah merasuki jiwanya. Penghiatan bibit dari sakit hati dan menumbuhkan dendam yang siap meledak kapan saja. Itulah yang Jovita rasakan saat ini.
'Kamu benar Bos Naga .... Aku akan melakukan' ucapnya dalam hati.
Ia tahu, Beny dan pegawai yang lain bekerja sama ingin menjatuhkan ayahnya dari kursi direktur dan yang digantikan Beny. Ia yakin semua itu ada di balik kasus kematian keluarganya.
‘Kalian semua begitu tega sama ayah dia orang yang baik pada semua pegawai, ia tidak pernah bisa melihat karyawannya kesusahan. Tetapi apa ini .... Apa ini balasan untuk orang baik?” Tanya Jovita.
Mobil melaju perlahan menuju proyek, hari masih siang, tetapi ia tidak bersemangat untuk kerja lagi.
“Non, apa semua baik-baik saja?” Tanya pengawal padanya.
“Tidak, aku tidak baik. Tetapi aku akan baik, jika kamu mengajariku menembak,” ujar Jovita.
“Tapi Non saat itu diajarin Bos-”
__ADS_1
“Tidak, saya tidak akan takut lagi kalau kamu yang ajarin”
“Tapi kenapa tiba-tiba?”
“Bos marah belakangan ini padaku, karena saya tidak berani belajar menembak, dia bilang wanita yang ada di sisinya harus bisa menjaga diri sendiri, tolong ajarin saya, tidak ingin Bos marah pada saya lagi. Saya janji tidak akan memberi tahu kalau kalian yang mengajariku”
“Bos akan tahu segala apa yang kami lakukan Non”
“Saya pikir Bos akan senang dan berterimakasih karena kalian mengajari saya. Ia tidak menelepon kalian satu hari ini tentang kabarku kan?”
"Iya benar Non, tidak seperti biasanya"
‘Bagus .. aku berharap kamu menempati janjimu, tidak memperdulikan ku selamanya dengan begitulah hidupku akan bebas darimu’ ucap Jovita dalam hati.
Ketidak pedulian Leon padanya hari itu, sudah mengubah banyak hidup wanita itu dalam satu hari, Ia memanfaatkan keadaan saat itu. Ia tahu Leon tidak akan menanyakan kabarnya hari itu, makanya Jovita berani meminta keduanya mengajarinya bagaimana menembak dan bagaimana membela diri.
Samuel, lelaki berbadan kekar yang mengawalnya saat ini, anak buah Leon yang bertugas sebagai penembak jitu , jika Leon ada pertemuan di luar kota atau ada pertemuan besar dengan di satu gedung Sam akan ada di sana sebagai mata elang untuk sang bos.
“Baiklah,” ujar Same bersedia, ia berpikir Leon marah pada Jovita karena tidak bisa di ajarin menembak.
Jovita di ajarin pegang senjata.
Setelah dibujuk baik-baik dan dibohongi, kedua lelaki itu mengajari Jovita bagaimana menembak menggunakan pistol, bahkan diajarkan menggunakan senjata airsofgan.
Leon tidak tahu apa yang di lakukan Jovita satu hari itu, karena ia bersikap tidak perduli. Tetapi saat ia berniat tidak memperdulikan Jovita hari itu. Leon tidak menyadari kalau wanita itu sudah bertranformasi dari gadi penakut, jadi gadis muda yang ingin membalaskan dendam pada orang yang membunuh keluarganya yang tentunya membahayakan nyawanya.
Saat Leon bersenang-senang senang mengadakan pesta bikini di kolam renang di mansion miliknya. Ia tidak tahu, seorang gadis muda, baru saja ingin jadi pembunuh.
Jika ia merasakan rasa sakit seperti yang dialami Leon, lalu apakah ia akan menjadi pembunuh seperti Leon?
Apa Leon akan tahu apa yang di lakukan Jovita ? Apa yang ia lakukan setelah ia tahu Jovita mencari pelaku pembunuhan itu?
Bersambung ..
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1