
Jarum jam sudah bertengger di angka 12: 00 waktu makan siang bagi karyawan.
Leon duduk di depan laptopnya dengan wajah muram, tidak bersemangat karena ia gagal bicara berdua dengan Hara, saat ia turun Hara sudah mulai menghindar kembali darinya.
“Baiklah kita coba lagi,” ujar Leon lalu menelepon Bu Nina atasan Hara meminta Hara membawa berkas data semua karyawan hotel ke ruangannya. Leon berniat mengajak Hara menemani makan siang, Leon sudah mempersiapkan alasan yang masuk akal untuk mengajak Hara makan siang. Tetapi saat Ia menelepon Nina ….
“Maaf pak, tadi Mbak Hara, minta izin kira-kira satu jam yang lalu, dia bilang tunangannya datang dari luar Negeri dan ia ingin menjemputnya ke Bandara.”
Mendengar kata tunangan, tiba-tiba jantung Leon seakan disiram dengan air mendidih. Ia diam dengan wajah mengeras.
‘Tidak! Tidak ada tunangan, jangan harap aku diam dan mengalah Piter’
“Pak Leon, apa bapak masih mendengarku,” suara Nina terdengar di ujung telepon.
“Iya, jam berapa dia pergi?”
“Sekitar satu jam yang lalu pak.” Nina diam.
“Telepon Hara suruh balik, hotel saya bukan tempat main-main, bila perlu beri SP. Dia baru satu hari masuk sudah izin lagi, katakan padanya kalau dalam satu jam dia belum kembali ke hotel akan dapat peringatan keras dariku,” ujar Leon, dia marah , marah sekali.
“Ba-baik pak Leon,” suara Nina bergetar mendengar Leon marah, bukan marah sebenarnya, tetapi jealous.
Padahal baru saja Nina memesan semangkuk soto betawi dan baru dua suap masuk kedalam mulutnya, mendengar Leon marah dengan suara meninggi seperti itu, membuatnya tidak berselera lagi, hilang sudah rasa lapar yang dari tadi menderanya .
“Nasib jadi babu,” ujar Nina mengusap mulutnya dengan tissu.
“Kenapa Mbak?” tanya Milea, manager keuangan di Hotel Leon
“Bos marah besar,”
“Lah kenapa?” tanya kedua wanita rekanya lagi.
“Gue beri izin pada Jovita Hara untuk menjemput kekasihnya ke Bandara.”
“Terus masalahnya apa?” tanya Milea.
“Masalahnya dia baru masuk hari ini, setelah tidak masuk 4 hari dan sekarang minta izin lagi, gue takut nih,” ucap Nina ia berdiri ingin kembali ke ruangannya, tujuannya untuk menelepon Hara untuk pulang.
“Nin makan dulu, nanti kalau sudah makan kalau mau di omelin atau sudah kuat berhadapan dengan pak Leon,” ujar Milea
“Gue, takut tidak punya tenaga lagi untuk makan , gue duluan,” ucap Nina kabur meninggalkan mereka bertiga.
Jovita Hara dan Leon jadi perbincangan hangat di hotel, karena seorang pegawai melihat Leon menggendong Hara dari ruangan kantor, direkam dan disebarkan group pegawai hotel.
Dalam ruangannya, Nina terlihat berjalan mondar-mandir seperti setrikaan, ia menempelkan benda persegi empat berwarna pink, dengan sampul hello kitty ke kupingnya.
“Hara, kamu balik lagi Hotel iya secepatnya Bos marah besar, karena ada masalah di disini dan itu tanggung jawab kamu,” ucap Nina.
“Apa Pak Leon tahu saya ke bandara, Bu?”
“Iya, saya yang bilang kamu menjemput tunanganmu ke Bandara,” ujar Nina.
__ADS_1
‘Ah, paling ini modus aku sudah tahu itu’ Hara membatin.
“Aduh tidak kedengaran Bu tapi apa?” Teriak Hara, ia terpaksa berpura-pura tidak mendengar.
“Kamu kembali ke hotel!”Teriak Nina.
“Tidak kedengaran tidak ada sinyal,” ujar Hara mematikan ponselnya.
“Ada apa?” Piter menatap Hara.
“Aku salah, tadi pekerjaanku belum selesai, padahal sebentar lagi acaranya sudah mulai, anak-anak kerepotan,” ujar Hara terpaksa berbohong.
“Apa perlu aku meminta bantuan Hilda?” Piter mengeluarkan ponsel ingin menghubungi Hilda.
“Bu Hilda lagi ada meeting penting di hotel,” ujar Hara.
Tidak lama kemudian ponsel Piter berdering.
“Nina …? Kenapa dia menelepon ke ponselku” Alis Piter menyengit.
“Angkat saja Om, tadi ponselku sengaja aku matikan agar aku tidak di ganggu.
“Halo”
“Maaf Pak Piter karena saya menelepon ke hape Bapak.”
“Oh tidak apa-apa Bu, Tapi kenapa ibu menangis?” Tanya Piter bingung.
“Apa ada masalah besar?”
“Saya akan dipecat kalau Mbak Hara tidak kembali ke hotel Pak”
“Haaa? Siapa yang melakukannya?”
“Atasan saya Pak,” ujar Nina, ia takut mengatakan kalau Leon yang memarahinya.
“Baiklah, baik, aku akan meminta Hara kembali ke hotel,” ujar Piter kasihan melihat Nina yang menangis.
“Kamu pulang saja Hara, biar om yang akan menjemput, Maxell’
“Tapi aku ingin melihat Mexell, Om “
“ Nanti saja, kasihan Nina kena marah sama atasannya karena kamu’
“Ok Baiklah”
“Siapapun yang membuat kekacauan di Hotel tempat kerja Hara, aku sumpahin mencret dua hari dua malam, karena sudah menggagalkan rencanaku”ucap Piter merasa kesal.
Piter tahu kalau Leon ingin menggagalkan kedatangan Maxell datang ke Indonesia, karena hal itulah ia memberi informasi, kalau Maxell akan ke Jakarta minggu depan. Dengan begitu anak buah Leon tidak mengawasi lagi.
Hara terpaksa menggunakan jasa ojek online untuk kembali ke Hotel, mendengar Leon memarahi Nina ia merasa bersalah. Tiba di Hotel, ia masuk lewat belakang Hotel, tidak mau tertangkap basah sama Leon, ia berganti seragam kerja kembali dan ia berlari kecil kearah ruangan Nina.
__ADS_1
“Tok …Tok …”
“Masuk.” Mata Nina masih sembab.
“Bu… saya sudah kembali,” ucap Hara merasa bersalah.
“Iya ampun Hara, kamu bilang hanya dua jam tapi ini sudah lewat”
“Maaf Bu, saya salah melihat waktu penerbangannya.”
“Terus bagaimana, bertemu gak dengan tunanganmu?” kali ini wajahnya terlihat ramah, ia menatap Hara dengan tatapan penasaran, tentu saja ia penasaran , kabar yang beredar dalam Hotel, kalau bos mereka. Leon meninggalkan calon istrinya karena Hara.
Maka saat Hara izin ingin menjemput tunangannya, Nina memberinya izin, ingin melihat tunangan Hara dan ingin mendengar kabar selanjutnya, tapi Bos Leon mengacaukan semua.
“Oh Bu, pesawatnya belum tiba tadi”
“OH. Saya baru ingat, Bos menyuruh kamu keuangannya,” pintanya lagi.
“Untuk apa?”
“Karena kamu izin lagi”
‘Itu alasan Pak Leon saja’ Hara menggaruk kepala.
“Tidak Bu, saya tidak mau masuk ke ruangannya lagi yang ada saya bisa mati berdiri dengan tatapan matanya yang dingin,” ujar Hara.
“Kalau kamu tidak pergi, saya yang akan dapat masalah besar Mbak Hara, dapat masalah karena membela kamu , karena aku menginginkanmu pergi tadi, kamu pilih mana, saya yang di pecat atau kamu hanya dapat omelan.” Nina memelas.
“Tenang saja Bu, kalau Bos telepon, bilang saja aku tidak jadi menjemput ke bandara aku pulang dari tengah jalan,” ujar Hara.
Hara tersenyum karena Maxell mengirim pesan kalau ia sudah di bandara bersama Piter.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1