Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Leon Marah-Marah I


__ADS_3

Jarum jam sudah bertengger di angka 12: 00 waktu makan siang bagi karyawan.


Leon duduk di depan laptopnya dengan wajah muram, tidak bersemangat karena ia gagal bicara berdua dengan Hara, saat ia turun Hara sudah  mulai menghindar kembali darinya.


“Baiklah kita coba lagi,” ujar Leon  lalu menelepon Bu Nina atasan Hara meminta Hara membawa berkas  data semua karyawan  hotel ke ruangannya. Leon berniat  mengajak Hara menemani makan siang, Leon sudah mempersiapkan  alasan yang  masuk akal untuk mengajak Hara makan siang. Tetapi saat Ia menelepon Nina ….


“Maaf pak, tadi Mbak Hara, minta izin kira-kira satu jam yang lalu, dia bilang tunangannya datang dari luar Negeri dan ia ingin menjemputnya ke Bandara.”


Mendengar kata tunangan, tiba-tiba jantung Leon seakan disiram dengan air mendidih. Ia diam dengan wajah mengeras.


‘Tidak! Tidak ada tunangan, jangan harap aku  diam dan mengalah Piter’


“Pak Leon, apa bapak masih mendengarku,” suara Nina terdengar di ujung telepon.


“Iya, jam berapa dia pergi?”


“Sekitar satu jam  yang lalu pak.” Nina diam.


“Telepon Hara  suruh balik, hotel saya bukan tempat main-main, bila perlu beri SP. Dia  baru satu hari masuk sudah izin lagi, katakan padanya kalau dalam satu jam dia belum  kembali ke hotel akan dapat peringatan keras dariku,” ujar Leon, dia marah , marah sekali.


“Ba-baik pak Leon,” suara Nina bergetar mendengar Leon marah, bukan marah sebenarnya, tetapi jealous.


Padahal baru saja Nina memesan semangkuk  soto betawi dan baru dua suap masuk  kedalam mulutnya, mendengar Leon marah dengan suara meninggi seperti itu, membuatnya tidak berselera lagi, hilang sudah rasa lapar yang dari tadi menderanya .


“Nasib jadi babu,” ujar Nina mengusap mulutnya dengan tissu.


“Kenapa Mbak?” tanya Milea, manager keuangan di Hotel Leon


“Bos marah besar,”


“Lah kenapa?” tanya kedua wanita rekanya lagi.


“Gue beri izin pada Jovita Hara untuk menjemput kekasihnya ke Bandara.”


“Terus masalahnya apa?” tanya Milea.


“Masalahnya dia baru masuk hari ini, setelah  tidak masuk 4 hari dan sekarang minta izin lagi, gue takut nih,” ucap Nina ia berdiri ingin kembali ke ruangannya, tujuannya untuk menelepon Hara untuk pulang.


“Nin makan dulu, nanti kalau sudah makan kalau mau di omelin  atau sudah kuat berhadapan dengan pak Leon,” ujar Milea


“Gue, takut tidak punya tenaga lagi untuk makan , gue duluan,” ucap Nina kabur meninggalkan mereka bertiga.


Jovita Hara  dan Leon jadi perbincangan hangat di hotel, karena seorang pegawai melihat Leon menggendong Hara dari ruangan kantor, direkam dan disebarkan  group pegawai hotel.


Dalam ruangannya, Nina terlihat berjalan mondar-mandir seperti  setrikaan, ia menempelkan benda persegi empat berwarna pink, dengan sampul  hello kitty ke kupingnya.


“Hara, kamu balik lagi Hotel iya secepatnya Bos marah besar, karena ada masalah di disini  dan itu tanggung jawab kamu,” ucap Nina.


“Apa Pak Leon tahu saya ke bandara, Bu?”


“Iya, saya yang bilang kamu menjemput tunanganmu ke Bandara,” ujar  Nina.

__ADS_1


‘Ah, paling ini modus aku sudah tahu itu’ Hara membatin.


“Aduh tidak kedengaran Bu tapi apa?” Teriak Hara, ia terpaksa berpura-pura tidak mendengar.


“Kamu kembali ke hotel!”Teriak Nina.


“Tidak  kedengaran tidak ada  sinyal,” ujar Hara mematikan ponselnya.


“Ada apa?” Piter menatap Hara.


“Aku salah, tadi pekerjaanku belum selesai, padahal sebentar lagi acaranya sudah  mulai, anak-anak kerepotan,” ujar Hara  terpaksa berbohong.


“Apa perlu aku meminta bantuan Hilda?” Piter mengeluarkan ponsel ingin menghubungi Hilda.


“Bu Hilda lagi ada meeting penting di  hotel,” ujar Hara.


Tidak lama kemudian ponsel Piter berdering.


“Nina …? Kenapa dia menelepon ke ponselku” Alis Piter menyengit.


“Angkat saja Om, tadi ponselku sengaja aku matikan agar aku tidak di ganggu.


“Halo”


“Maaf Pak Piter karena saya menelepon ke hape Bapak.”


“Oh tidak apa-apa Bu, Tapi kenapa ibu menangis?” Tanya Piter bingung.


“Apa ada masalah besar?”


“Saya akan  dipecat kalau Mbak Hara tidak kembali ke hotel Pak”


“Haaa? Siapa yang melakukannya?”


“Atasan saya Pak,” ujar Nina, ia takut  mengatakan kalau Leon yang memarahinya.


“Baiklah, baik, aku akan meminta Hara kembali ke hotel,”  ujar Piter kasihan melihat Nina yang  menangis.


“Kamu pulang saja Hara, biar om yang akan menjemput, Maxell’


“Tapi aku ingin melihat Mexell, Om “


“ Nanti saja, kasihan Nina kena marah sama atasannya karena kamu’


“Ok Baiklah”


“Siapapun yang membuat  kekacauan di Hotel tempat kerja Hara, aku sumpahin mencret dua hari dua malam, karena sudah menggagalkan rencanaku”ucap Piter merasa kesal.


Piter tahu kalau  Leon ingin menggagalkan kedatangan Maxell datang ke Indonesia, karena hal itulah ia memberi informasi, kalau Maxell akan ke Jakarta  minggu depan. Dengan begitu anak buah Leon tidak mengawasi lagi.


Hara terpaksa menggunakan jasa ojek online untuk kembali ke Hotel,  mendengar Leon memarahi Nina   ia merasa bersalah. Tiba di Hotel, ia  masuk lewat  belakang Hotel,  tidak mau tertangkap basah sama Leon, ia berganti seragam kerja kembali dan  ia  berlari kecil kearah ruangan Nina.

__ADS_1


“Tok …Tok …”


“Masuk.” Mata Nina masih sembab.


“Bu… saya sudah kembali,” ucap Hara  merasa bersalah.


“Iya ampun Hara, kamu bilang  hanya dua jam tapi ini sudah lewat”


“Maaf Bu, saya  salah melihat  waktu penerbangannya.”


“Terus bagaimana,  bertemu  gak dengan tunanganmu?” kali ini wajahnya terlihat ramah, ia menatap Hara dengan tatapan penasaran, tentu saja ia penasaran , kabar yang beredar dalam Hotel,  kalau bos mereka. Leon meninggalkan  calon istrinya karena Hara.


Maka saat Hara izin ingin menjemput tunangannya, Nina memberinya izin, ingin  melihat tunangan Hara dan  ingin mendengar kabar selanjutnya, tapi  Bos Leon mengacaukan semua.


“Oh Bu, pesawatnya belum tiba tadi”


“OH. Saya baru ingat, Bos menyuruh kamu keuangannya,” pintanya lagi.


“Untuk  apa?”


“Karena kamu  izin lagi”


‘Itu alasan Pak Leon saja’ Hara menggaruk kepala.


“Tidak Bu, saya tidak mau masuk ke ruangannya lagi yang ada  saya bisa  mati berdiri dengan tatapan matanya yang dingin,” ujar Hara.


“Kalau kamu tidak pergi, saya  yang akan dapat masalah besar Mbak Hara, dapat masalah karena membela kamu , karena aku menginginkanmu pergi tadi,  kamu pilih mana,  saya yang di pecat atau kamu hanya dapat omelan.” Nina memelas.


“Tenang saja Bu, kalau Bos telepon, bilang saja aku tidak jadi  menjemput ke bandara aku pulang dari tengah jalan,” ujar Hara.


Hara  tersenyum karena Maxell  mengirim pesan kalau ia sudah di bandara bersama Piter.


 Bersambung.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2