Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Mencintainya dari Dia Kecil


__ADS_3

Leon membawa Hara jalan-jalan ke tempat yang sanga berkesan untuk Leon.


“Apa kamu ingin melihat tempatku saat menjadi anak jalanan dulu?" Tanya Leon lagi.


“Dimana?”


“Tidak jauh dari sini,” ujar Leon.


“Baik, tapi apa kamu tidak ke kantor hari ini?” Tanya Hara.


“Tidak, aku ingin jalan-jalan dengan kamu saja, jenuh juga kerja terus menerus."


Saat mereka ingin pergi dari cafe sederhana itu, akhirnya pemilik cafe itu baru datang, Leon menunggunya dari tadi karena yang jaga pegawainya.


“Eh Pak Leon. Apa kabar Pak?” Ia mengulurkan tangannya ke Leon.


“Baik Ko, ini istri saya.”


“Oh wanita cantik.” Lelaki bermata sipit itu menyalami Hara juga.


Ia juga  manarik kursi dan duduk di samping  Leon terlihat seperti teman lama yang kembali bertemu. Hara masih diam melihat kedua lelaki tersebut.


“Kapan menikah? Anak sudah berapa?” Hara hanya diam  mendengar itu lagi membuatnya  merasa sedih lagi.


“Masih baru,” ujar Leon.


“Setengah tahun sayang,” balas Hara.’ Lumayan lama tadi belum hamil,” ujar Hara sedih.


“Leon memegang tangan Hara dari bawah meja   berusaha menenangkan hati sang istri.”


“Coba jalan-jalan berdua lupakan tentang pekerjaan,” ujar lelaki itu.


“Aku sudah istirahat di rumah Ko, aku tidak melakukan apa-apa,” balas Hara.


Seperti biasa  Leon irit bicara pada orang lain, ia hanya diam  justru Hara yang mengobrol sama pemilik cafe.


“Lelaki juga bisa jadi faktor penyebab hamil,” ujarnya lagi.


Leon langsung menoleh saat  mendengar hal tersebut.


“Maksudnya?” Akhirnya Leon penasaran juga.


“Bisa jadi suaminya terlalu lelah  bekerja banyak pikiran jadi cairan yang dia hasilkan tidak bagus, karena adikku  mengalaminya  setelah mereka  jalan-jalan beberapa bulan akhirnya istrinya hamil."


Hara langsung bersemangat  mendengarnya.


“Sayang …. kita juga sejak menikah tidak pernah jalan-jalan,” ujar Hara menatap Leon  dengan tatapan bersemangat.


“Nanti kita atur,"ujar Leon menatap Hara.

__ADS_1


"Ko kami pulang dulu, salam sama istrinya. Ini buat tambahan modal.” Leon menyerahkan satu lembar cek.


“Oh jangan Pak Leon yang waktu itu sudah banyak, Bapak sudah banyak membantu kami terlebih saat meninggalnya bapak” ujarnya menolak.


“Tidak apa-apa, aku sudah  lama ingin mampir Ko, tapi belum sempat-sempat ini saja tadi baru sempat,” ujar Leon.


“Terimakasih Pak Leon atas  semua bantuan bapak selama ini, Tapi tunggu sebentar ia masuk ke dalam  rumahnya di belakang cafe lalu ia membawa sebuah patung.


“Ini dewa keberuntungan di keluarga kami, bawalah agar kamu mendapatkan keberuntungan juga,” ujar Lelaki  itu memberikan sebuah patung kecil yang terbuat dari keramik.


Leon menerimanya dan mengucapkan terimakasih. Tenyata Leon membalas kebaikan pemilik cafe tersebut orang pernah menyelamatkan nyawanya.


Mereka berdua   naik ke motor lagi.


Leon membelokkan arah kendaraanya ke arah Senen Jakarta Pusat, berhenti tepat di bawah jembatan flyover di depan  bioskop lama.


“Kok kita ke sini?” Tanya Hara melihat kanan kiri.


“Hara, saat aku beranjak remaja  saat tiba di Jakarta, aku  pernah jadi gelandangan di sini juga , kalau malam aku dan beberapa teman tidur di kolong jembatan itu, kalau tidak di depan bioskop ini,” ujar Leon.


“Kamu tidur di kolam jembatan itu?” Tanya Hara melihat sebuah kolong jembatan.


“Kolong jembatan itu saat ini sudah bersih, kalau dulu …. daerah ini daerah paling kumuh dan sarang para penjahat,” ujar Leon.


“Sayang … apa kamu tidak ingat , waktu  kamu kecil seorang anak remaja mengikuti mu? Itu aku yang selalu mengikuti dan pernah sekali kamu memberiku roti saat aku mendekati mobil ayahmu, niatku sebenarnya,  ingin melukaimu  tetapi kamu malah memberiku roti,” Leon menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


“Aku tidak mengingatnya, lalu apa yang kamu lakukan?’


“Apa benar kamu sudah  mengikuti sejak kecil?”


“Sebenarnya aku sudah jatuh cinta padamu sejak kamu masih di bangku SD,”ujar Leon menahan tawa.


“Sekolah Dasar?” Tanya Hara dengan mata melotot.


“Iya,” ujar Leon.


Ingatan Leon melintas lagi ke masa lalu,  Hara gadis kecil yang cantik  yang selalu mengepang rambutnya dengan pita merah.


Masih jelas dalam ingatannya saat Hara duduk di bangku kelas menengah memakai rok  putih biru, Leon menyelamatkannya dari orang yang mengganggunya, Leon memukul dua wanita yang membullinya.


Ternyata dari kecil Leon sudah jatuh cinta padanya,  walau ia membenci tetapi sejak kecil ia juga sudah mencintainya, bagi Leon gadis kecil berwajah cantik itu adalah miliknya, tidak ada yang boleh menyentuh.


 Namun, tiba-tiba ingatan Leon melintas lagi pada hari yang buruk itu.


“Kamu milikku dan tidak ada yang boleh memilikimu” ucap Leon saat pertama kali membawanya ke hutan, menyekap dan merenggut mahkotanya, menyakiti dengan kejam.


Ternyata Leon sampai detik itu masih menyimpan rasa bersalah atas apa yang ia lakukan di masa lalu, ia   terkadang masih mengingat kejadian itu.


“Sayang …. apa kamu masih marah padaku atas kejadian saat itu?” Tanya Leon wajahnya terlihat sangat tulus.

__ADS_1


“Tidak lagi, aku sudah lama melupakannya,” ujar Hara.


“Terimakasih, terkadang melihatmu tidur di samping aku sering  merasa bersalah, Maafkan aku  iya atas apa yang aku lakukan saat itu,” ujar Leon.


“Baiklah. Tapi apa benar kamu sudah mencintaiku dari aku kecil?” Tanya Hara lagi, ia penasaran menahan tawa.


“Iya, gak percaya?” Leon membuka dompetnya dan mengeluarkan foto lama . Foto Hara saat ia masih kecil dari mulai Sd, SMP, SMA, Kuliah.


“Oh ….Astaga ini fotoku dari SD sampai Kuliah. Kamu predator Pak Leon.” ujar Hara tertawa, ia sampai melotot  tidak percaya melihat fotonya dari kecil di dompet Leon. Leon tersenyum kecil saat Hara menyebutnya predator anak.


“Karena itulah aku berjuang mati-matian untukmu, karena aku  sudah memberimu tanda dari kecil,  kalau kamu akan jadi milikku,” ujar Leon.


“Ini simpan lagi, kalau kita nanti punya anak kamu harus menceritakan pada mereka kalau  kamu mencintai ibu mereka dari  kecil,” ujar Hara.


“Jadi sayang …. apapun  yang kamu rasakan, apapun masalahmu ceritakan padaku, jangan simpan sendiri. Itulah alasanku membawa kamu kesini. Hanya kamu dan ibu  milikku di dunia ini,’ ujar Leon. “Apa kamu ingin kita bulan madu?” Tanya Leon.


“Mau,” ujar Hara bersemangat.


“Baiklah, kita akan pergi.”


“I love you Leon,”  ujar Hara  mengecup pipi suaminya, ia tidak perduli tatapan orang yang  melihat mereka.


“ I Love you juga sayang,” balas Leon mengecup punggung tangan Hara. Leon tidak romantis tetapi perhatian yang   tulus dan sikap pengertian dari Leon,  itulah yang membuta Hara sangat tersentuh.


Akhirnya hati Hara meleleh juga atas perhatian suaminya. Leon menaiki motornya lagi dan membawa Hara jalan-jalan keliling Jakarta satu hari itu, perhatian kecil seperti itu  beban di pikiran Hara terbuang semuanya.


Mereka berdua berencana melakukan perjalanan bulan madu ke berbagai negara di Eropa agar Hara senang.


Bersambung ….


KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU IYA KAKAK


 Baca juga.


- Pariban Jadi rokkap( Baru)


-Aresya(Baru)


-Turun Ranjang(Baru)


-The Curet king( Baru)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing


__ADS_2