Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Tewas


__ADS_3

Akhirnya Leon memutuskan  Hara menginap di lantai atap  demi keselamatan wanita hamil itu, ia menerima Maxell  agar Hara tetap di tempat yang aman.


Empat orang pegawai hotel mengangkat satu  ranjang satu telivisi  ke atas, dan tidak lupa semua kebutuhan yang diperlukan Hara,  ia sediakan semua.


“Hara, aku ingin mengajakmu untuk menginap di lantai atap anggap saja kita berkemah di sini,” ujar Leon.


Hara yang sibuk memetik tangkai bunga berbalik badan dan menatap Leon, “Memang boleh?”


“Iya boleh, kita akan memasang bunga yang di tanganmu di vas di atas meja itu” Leon menunjuk  nakas kecil yang ikut di angkut ke lantai atap.


Kempat orang itu sudah sibuk mempersiapkan penginapan yang nyaman untuk bos mereka dan istrinya malam ini.


Leon benar-benar ingin  Hara merasa nyaman, tidak perduli dengan barang milik hotelnya yang akan  rusak andai,  akan datang hujan malam ini.


“Apa kita  bisa melihat bintang malam?” tanya Hara.


“Iya” jawab Leon, tetapi wajahnya tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran untuk keselamatan Hara .


Sementara Maxell masih sibuk mengarahkan posisi teropongnya, ia memberitahukan posisi penjahat tersebut pada  pada Zidan dan Toni.


“Ini gunakan alat komunikasi ini, untuk  mengobrol dengan mereka,” ujar Leon, ia meminta alat milik salah seorang pengawalnya.


“Baiklah, jangan hiraukan aku, temani saja istrimu jangan sampai dia tahu apa yang terjadi,” ujar Maxell.


Leon hanya mengangguk kecil lalu ia posisi yang tepat penembak itu,  orang yang mengincar Hara, kini pemburu itu jadi buruan.


Zidan akhirnya mendapat tempat yang tepat untuk mendapatkan posisi yang bisa melumpuhkan lelaki penjahat tersebut.


“Aku hanya bisa mendapatkan  bagian kepalanya karena terhalang tembok,” ucap Zidan, ia melapor pada yang mengarahkan saat itu.


“Jangan lakukan itu, dia akan tewas nantinya kalau kamu menembak kepalanya, cobalah cari tepat yang  bisa mendapat bagian tubuh lain,” pinta Toni.


Zidan ingin berpindah tempat lagi dari tempat persembunyiannya, ingin menembak bagian tubuh yang lain tetapi ia tidak ingin membuat keputusan yang salah, ia menelepon Leon bagaimana baiknya tetapi sayang ponsel Leon sudah hancur.


Zidan mencoba meminta pendapat Bimo, ia tidak mau dia salah.


Bimo juga merasa ada yang kurang tepat, kalau anak buahnya mencari tempat yang lebih  nyaman lagi itu, Bimo tidak mau buruannya terlepas saat ia tidak mengawasinya,  Bimo ingin mendapatkan penjahat itu baik hidup ataupun mati.


Dengan cepat Bimo berlari naik kelantai atap dengan nafas terengah-engah dan keringat membasahi baju sapari yang ia kenakan. ‘Semua ini tidak akan terjadi kalau saja si Boos memiliki ponsel … ah susahlah, ucap  Bimo dalam hatinya ia berlari dan tiba di atap tempat tertinggi di hotel Leon.


Lalu ia mendekati Leon yang jauh berada di ujung  bersama Hara, jauh dari Maxell yang sedang mengarahkan teropongnya. Maxell meminta Zidan agar tidak membunuh pria penjahat tersebut, ia tidak mau Masalah semakin besar.


“Bos begini, jika dia mencari posisi yang tepat untuk membidiknya, akan makan waktu dan takutnya dia juga mengundang  perhatian orang-orang sekitar. Bagaimana kalau dia menyelenyapkannya sekalian?”

__ADS_1


“Apa yang terjadi?”


“Tadi Maxell memintanya tidak membuatnya mati, tetapi menurutku itu sama saja buang-buang waktu.”


“Baik, habisi saja.”


Bimo turun, sengaja ia menghindar dari  perhatian Maxell.


Lalu ia  menghubungi Zidan dan Toni yang bertugas jadi penembak.


“Lakukan saja.”


“Apa Bos sudah setuju?”


“Jangan khawatir, aku sudah memberi tahunya.”


Lalu ia mengabaikan perintah Maxell dengan mematikan alat komunikasi yang berhubungan dengan lelaki berkulit putih itu.


“Baik aku laksanakan, tunggu. Dia duduk untuk merokok memperlihatkan punggungnya, mungkin ini kesempatan ….”


“Baik sekarang lumpuhkan dia”ujar Toni.


Saat lelaki  yang mengincar Hara duduk untuk sedang merokok dan ia juga terlihat menelepon seseorang yang memerintahnya mengincar Hara. Mungkin ia terlalu lelah  tiarap menunggu Leon  dan Hara pulang,  tetapi tidak  keluar-keluar dari hotel.


Saat sudah terluka ia berdiri tidak ingin ia melarikan diri sebuah peluruh menembak pangkal pahanya lagi,  Ken juga sudah ada di sana mereka bertiga mengepung . Ia masih ingin melarikan diri,  satu  tembakan tanpa suara  dari jarak dekat diarahkan ke kakinya yang satunya hingga ada tiga tembakan mengenai tubuhnya.


Dor ...


Dor ....


Ia tumbang tak berkutik, tetapi sesuatu mengejutkan terjadi;  lelaki itu mengeluarkan  sebilah pisau dari   balik kaos kakinya, bukan untuk melawan melainkan menghabiskan nyawanya sendiri.


“Gila! Orang seperti apa yang menyewa orang ini, sampai dia rela mati,” ujar Toni terkejut.


“ Maaf bos dia tidak selamat, ia melenyapkan dirinya sendiri,” ucap Bimo  menghubungi Leon, ia sengaja meninggalkan satu ponsel  untuk Leon tadi,  saat ia datang melapor pertama, agar ia bisa menghubunginya setiap


“Zidan, suruh anak buahmu menjauh dari pelaku,” perintah Leon.


“Ba-baik Boss.” Bimo ikut panik.


Bimo dengan cepat mengabari ketiga orang anak buah Leon untuk menghindar, benar saja; lelaki penjahat itu meledakkan dirinya  beserta senjata miliknya  dan ia juga  membuat asap beracun dalam ledakan. Tujuannya untuk menghabisi orang yang mendekati tubuhnya.


"Gila dia seperti *******," ujar Ken.

__ADS_1


“Bos, dia juga meledakkan tubuhnya dan meninggalkan gas beracun, kita tidak bisa mendapatkan apapun darinya, "ujar Toni.


'Orang itu memang gila, dia nekat menyewa seorang ******* untuk menghabisiku.'


Atas perintah Leon mereka menyingkirkan potongan tubuh yang  berserakan itu, untungnya sudah jam pulang kantor, jadi tidak menimbulkan kepanikan di lantai atap itu.


Tidak ingin polisi menyelidiki dan mendapatkan yang mengarah padanya, Leon melakukan alibi listrik yang meledak di gedung atas.


“Baiklah, jangan biarkan ada bukti yang tertinggal di tempat kejadian, singkirkan  potongan tubuhnya kuburkan saja,  jangan dibuang, saya tidak mau masalah ini panjang.”


“Baik Bos.”


Saat semua beres, dan tidak meninggalkan jejak beberapa pengaman  terlihat naik atap gedung bank untuk memeriksa suara ledakan dan penyebab lampu padam.


Bimo memerintahkan anak buahnya untuk merusak bagian listrik yang ada di gedung itu  gedung gelap memudahkan mereka bisa keluar tanpa terlihat.


Hara selamat dari penembak yang sudah tewas itu, tetapi Leon khawatir kalau ia tidak bekerja sendirian.


Dan masih ada yang bekerja sama dengannya atau orang yang menyuruhnya masih ada dalam hotel itu.


 Lelaki itu berani  tewas dengan mengorbankan dirinya, Leon yakin ia bukan orang biasa yang mengincar Hara dan dia, kali ini.


Penembak yang mengincar Hara sudah tewas dengan cara yang paling tragis,  ia tidak mau tertangkap menghilangkan bukti dengan cara meledakkan diri sendiri layaknya seorang *******.


Bersambung.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2