
Akhirnya Leon memutuskan Hara menginap di lantai atap demi keselamatan wanita hamil itu, ia menerima Maxell agar Hara tetap di tempat yang aman.
Empat orang pegawai hotel mengangkat satu ranjang satu telivisi ke atas, dan tidak lupa semua kebutuhan yang diperlukan Hara, ia sediakan semua.
“Hara, aku ingin mengajakmu untuk menginap di lantai atap anggap saja kita berkemah di sini,” ujar Leon.
Hara yang sibuk memetik tangkai bunga berbalik badan dan menatap Leon, “Memang boleh?”
“Iya boleh, kita akan memasang bunga yang di tanganmu di vas di atas meja itu” Leon menunjuk nakas kecil yang ikut di angkut ke lantai atap.
Kempat orang itu sudah sibuk mempersiapkan penginapan yang nyaman untuk bos mereka dan istrinya malam ini.
Leon benar-benar ingin Hara merasa nyaman, tidak perduli dengan barang milik hotelnya yang akan rusak andai, akan datang hujan malam ini.
“Apa kita bisa melihat bintang malam?” tanya Hara.
“Iya” jawab Leon, tetapi wajahnya tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran untuk keselamatan Hara .
Sementara Maxell masih sibuk mengarahkan posisi teropongnya, ia memberitahukan posisi penjahat tersebut pada pada Zidan dan Toni.
“Ini gunakan alat komunikasi ini, untuk mengobrol dengan mereka,” ujar Leon, ia meminta alat milik salah seorang pengawalnya.
“Baiklah, jangan hiraukan aku, temani saja istrimu jangan sampai dia tahu apa yang terjadi,” ujar Maxell.
Leon hanya mengangguk kecil lalu ia posisi yang tepat penembak itu, orang yang mengincar Hara, kini pemburu itu jadi buruan.
Zidan akhirnya mendapat tempat yang tepat untuk mendapatkan posisi yang bisa melumpuhkan lelaki penjahat tersebut.
“Aku hanya bisa mendapatkan bagian kepalanya karena terhalang tembok,” ucap Zidan, ia melapor pada yang mengarahkan saat itu.
“Jangan lakukan itu, dia akan tewas nantinya kalau kamu menembak kepalanya, cobalah cari tepat yang bisa mendapat bagian tubuh lain,” pinta Toni.
Zidan ingin berpindah tempat lagi dari tempat persembunyiannya, ingin menembak bagian tubuh yang lain tetapi ia tidak ingin membuat keputusan yang salah, ia menelepon Leon bagaimana baiknya tetapi sayang ponsel Leon sudah hancur.
Zidan mencoba meminta pendapat Bimo, ia tidak mau dia salah.
Bimo juga merasa ada yang kurang tepat, kalau anak buahnya mencari tempat yang lebih nyaman lagi itu, Bimo tidak mau buruannya terlepas saat ia tidak mengawasinya, Bimo ingin mendapatkan penjahat itu baik hidup ataupun mati.
Dengan cepat Bimo berlari naik kelantai atap dengan nafas terengah-engah dan keringat membasahi baju sapari yang ia kenakan. ‘Semua ini tidak akan terjadi kalau saja si Boos memiliki ponsel … ah susahlah, ucap Bimo dalam hatinya ia berlari dan tiba di atap tempat tertinggi di hotel Leon.
Lalu ia mendekati Leon yang jauh berada di ujung bersama Hara, jauh dari Maxell yang sedang mengarahkan teropongnya. Maxell meminta Zidan agar tidak membunuh pria penjahat tersebut, ia tidak mau Masalah semakin besar.
“Bos begini, jika dia mencari posisi yang tepat untuk membidiknya, akan makan waktu dan takutnya dia juga mengundang perhatian orang-orang sekitar. Bagaimana kalau dia menyelenyapkannya sekalian?”
__ADS_1
“Apa yang terjadi?”
“Tadi Maxell memintanya tidak membuatnya mati, tetapi menurutku itu sama saja buang-buang waktu.”
“Baik, habisi saja.”
Bimo turun, sengaja ia menghindar dari perhatian Maxell.
Lalu ia menghubungi Zidan dan Toni yang bertugas jadi penembak.
“Lakukan saja.”
“Apa Bos sudah setuju?”
“Jangan khawatir, aku sudah memberi tahunya.”
Lalu ia mengabaikan perintah Maxell dengan mematikan alat komunikasi yang berhubungan dengan lelaki berkulit putih itu.
“Baik aku laksanakan, tunggu. Dia duduk untuk merokok memperlihatkan punggungnya, mungkin ini kesempatan ….”
“Baik sekarang lumpuhkan dia”ujar Toni.
Saat lelaki yang mengincar Hara duduk untuk sedang merokok dan ia juga terlihat menelepon seseorang yang memerintahnya mengincar Hara. Mungkin ia terlalu lelah tiarap menunggu Leon dan Hara pulang, tetapi tidak keluar-keluar dari hotel.
Saat sudah terluka ia berdiri tidak ingin ia melarikan diri sebuah peluruh menembak pangkal pahanya lagi, Ken juga sudah ada di sana mereka bertiga mengepung . Ia masih ingin melarikan diri, satu tembakan tanpa suara dari jarak dekat diarahkan ke kakinya yang satunya hingga ada tiga tembakan mengenai tubuhnya.
Dor ...
Dor ....
Ia tumbang tak berkutik, tetapi sesuatu mengejutkan terjadi; lelaki itu mengeluarkan sebilah pisau dari balik kaos kakinya, bukan untuk melawan melainkan menghabiskan nyawanya sendiri.
“Gila! Orang seperti apa yang menyewa orang ini, sampai dia rela mati,” ujar Toni terkejut.
“ Maaf bos dia tidak selamat, ia melenyapkan dirinya sendiri,” ucap Bimo menghubungi Leon, ia sengaja meninggalkan satu ponsel untuk Leon tadi, saat ia datang melapor pertama, agar ia bisa menghubunginya setiap
“Zidan, suruh anak buahmu menjauh dari pelaku,” perintah Leon.
“Ba-baik Boss.” Bimo ikut panik.
Bimo dengan cepat mengabari ketiga orang anak buah Leon untuk menghindar, benar saja; lelaki penjahat itu meledakkan dirinya beserta senjata miliknya dan ia juga membuat asap beracun dalam ledakan. Tujuannya untuk menghabisi orang yang mendekati tubuhnya.
"Gila dia seperti *******," ujar Ken.
__ADS_1
“Bos, dia juga meledakkan tubuhnya dan meninggalkan gas beracun, kita tidak bisa mendapatkan apapun darinya, "ujar Toni.
'Orang itu memang gila, dia nekat menyewa seorang ******* untuk menghabisiku.'
Atas perintah Leon mereka menyingkirkan potongan tubuh yang berserakan itu, untungnya sudah jam pulang kantor, jadi tidak menimbulkan kepanikan di lantai atap itu.
Tidak ingin polisi menyelidiki dan mendapatkan yang mengarah padanya, Leon melakukan alibi listrik yang meledak di gedung atas.
“Baiklah, jangan biarkan ada bukti yang tertinggal di tempat kejadian, singkirkan potongan tubuhnya kuburkan saja, jangan dibuang, saya tidak mau masalah ini panjang.”
“Baik Bos.”
Saat semua beres, dan tidak meninggalkan jejak beberapa pengaman terlihat naik atap gedung bank untuk memeriksa suara ledakan dan penyebab lampu padam.
Bimo memerintahkan anak buahnya untuk merusak bagian listrik yang ada di gedung itu gedung gelap memudahkan mereka bisa keluar tanpa terlihat.
Hara selamat dari penembak yang sudah tewas itu, tetapi Leon khawatir kalau ia tidak bekerja sendirian.
Dan masih ada yang bekerja sama dengannya atau orang yang menyuruhnya masih ada dalam hotel itu.
Lelaki itu berani tewas dengan mengorbankan dirinya, Leon yakin ia bukan orang biasa yang mengincar Hara dan dia, kali ini.
Penembak yang mengincar Hara sudah tewas dengan cara yang paling tragis, ia tidak mau tertangkap menghilangkan bukti dengan cara meledakkan diri sendiri layaknya seorang *******.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)