
Jovita seakan -akan tidak puas sekedar menembak ia juga belajar
memanah dan beberapa tehnik-tehnik bela diri, walau hanya sekedar gerakan awal atau gerakan pertahanan diri, tetapi ia senang karena ia bisa melakukannya.
Tubuhnya biru-biru karena ia ingin pukulan sungguhan dari Sam.
“Tapi ini nanti akan menyakiti tubuhmu, Non,” ujar Sam merasa tidak enak.
“Tidak apa-apa Kak, ajarin saya teknik pentingnya saja, sebenarnya saya juga sudah pernah masuk sanggar wutshu, tetapi hanya sebentar, tapi tehnik awalnya saya sudah bisa"
“Baiklah” ujar Nik.
Jika Sam ahli menembak, maka Nik rekanya, seorang yang ahli Wutshu dan bela diri, ia jago dalam, tehnik tangan kosong.
Dari siang sampai sore, hingga langit mulai gelap mereka berlatih dengan serius, akhirnya gadis cantik itu, berhasil Menyingkirkan rasa takut di dadanya.
Dendam yang memuncak di dalam hatinya, mampu memberinya kekuatan.
Kini, gadis cantik itu berubah.
Dari takut, hinga ia benar-benar bisa menembak dengan pistol dengan baik bahkan dengan mata tertutup. Sam dan Nik seorang mentor yang hebat dari Jovita ketakutan memegang senjata. Namun, saat ini, ia seolah-olah sudah berteman dengan benda berbahaya itu.
“Non apa semua baik-baik saja?” Sam menatap wajahnya yang meneteskan air mata.
“Saya baik-baik saja. Tapi tolong jangan beritahukan siapapun tentang ini ”
“Baiklah saya janji, tapi boleh kita pulang? Ini sudah malam. Bos mengadakan pesta di mansion hari ini sudah pasti meriah”
“Baiklah.”
Latihan hari ini sudah selesai.
Mentari sudah meninggalkan singgasananya dan hanya menyisakan goretan warna jingga di langit, cakrawala siap menyambut malam. Tetapi kegelapan itu, seakan-akan berteman baik dengan Jovita, memintanya agar tidak pulang. Ia malas pulang
"Tidak Non, kita harus pulang," ujar Sam tegas.
Jovita mengangguk,ia masuk kembali ke dalam mobil, dalam mobil ia merasakan tubuh sangat sakit terutama tangan.
‘Bertahanlah Jovita jangan pernah mengeluh. Ingat! Kamu sendirian di dunia ini’ucapnya tegas pada dirinya sendiri.
Mobil Sam pulang menuju mansion Leon.
Ia kembali dalam mode diam wajahnya terlihat seakan-akan di tutupi awan gelap. Hatinya di penuhi rasa sakit.
‘Ini bukanlah hanya tentang diriku dan deritaku lagi, tetapi ini, tentang sebuah rasa yang tak bisa terucap dengan kata-kata dan tak bisa ditulis dengan coretan pena. Ini rasa sakit yang tak berujung'. Jovita menutup mata dan menyandarkan kepala di jok.
Sementara ia menangis pilu menahan rasa sakit. Tetapi di sisi lain justru hal yang berbeda.
Di Mansion.
__ADS_1
Lampu kerlap-kelip menghiasi kolam renang dan ada kolam renang tambahan di samping mansion dan di depan.
Mansion itu, di keliling beberapa kolam renang akan di pakai untuk pesta bikini. Suasana meriah sudah terlihat sangat jelas di istana Leon.
Satu panggung live musik sudah di ara di depan rumah. Wanita-wanita cantik memakai bikini sudah memadati seluruh area rumah Leon malam itu.
Leon sudah duduk di tengah halaman bersama dayang-dayangnya.
Menit kemudian mobil berwarna kuning yang di kenderai Sam berhenti di di parkiran samping. Mata semua tertuju pada tamu yang baru tiba.
Jovita keluar tetapi jangankan untuk mengagumi pesta malam itu, menoleh saja ia tidak. Ia terlalu lelah untuk menikmati pesta meriah yang di lakukan Leon.
Sam dan Nik keluar dari mobil dengan wajah sumbringah. Tetapi gadis cantik itu, hanya berjalan lurus menuju kamar, ia tidak perduli tentang semua tatapan semua lelaki itu padanya, dalam otaknya saat itu hanya ingin tidur, Leon yang menatapnya dengan dengusan kecil.
Leon menatap sinis.
“Apa pekerjaan hari ini membuatnya lelah?” gumam Leon. Matanya masih menoleh Jovita mata itu mengikuti sampai ke depan kamar Jovita.
Ia berdiri dan menghampiri Sam dan Nik.
“Ada apa, Apa ada masalah di proyek?” tanya Leon.
“Tidak ada Bos, semua baik- baik saja, material sudah masuk ke gudang penyimpanan”
Ia tidak bertanya tentang bagaimana kabar Jovita hari ini, kalau sebelumnya ia selalu bertanya dam memantau mereka. Tetapi kali ini Leon tidak melakukannya, karena ia sudah berjanji tidak perduli padanya.
Saat suasana pesta bikini sangat meriah di halaman di rumah Leon, di iringi musik dan tarian-tarian erotis dari wanita-wanita bertubuh seksi. Tetapi tidak untuk Jovita ia menangis meratapi kenyataan penghianatan pertama kali yang ia rasakan sangat menyakitkan untuknya, bahkan bisa mengubah hidupnya. Ia duduk di kamar mandi menyiram kepalanya yang terasa mengepul dan duduk di sana, bayangan Beny dan Lestari memenuhi ruangan hatinya.
“Apa sebuah kebaikan tidak artinya lagi? Ayahku begitu baik pada kalian tetapi kenapa kalian semua orang-orang kepercayaannya malah mengkhianatinya.
Ayah …. Aku tidak kuat lagi,” ujar Jovita dengan tangisan, suara volume musik yang keras menutupi tangisan darinya. Saat semua orang bergembira menikmati pesta ia menangis sedih di kamar.
Leon masih menatap pintu kamar jovita, berharap, wanita cantik itu, ikut dan menikmati pesta, tetapi sampai semua larut dalam pesta dan bergembira ia tak kunjung muncul.
‘Apa yang ia lakukan di kamarnya sampai makan juga tidak keluar ‘ Leon membatin.
.
Saat ia ingin berdiri menghampiri untuk melihat Jovita egonya kembali menghentikannya .
“Kenapa harus saya. Harusnya dia yang meminta maaf padaku,” ujarnya kembali mundur.
“Jangan biarkan saja,” gumam lagi dan Leon turun ke kolam renang dan menikmati pesta.
Di dalam kamar setelah lelah menangis Jovita merebahkan tubuhnya di ranjang, perut lapar dikalahkan rasa lelah dari tubuhnya. Ada banyak pekerjaan yang ia kerjakan hari ini, membuatnya kelelahan , ia mengunci kamar dan tertidur.
“Apa Non Hara tidak ikut pesta?” Iwan melirik Toni.
Bi Atin yang saat ini sudah ada di Mansion nyariin Jovita karena ia tidak makan malam.
__ADS_1
“Ia belum datang ke dapur untuk makan malam, apa dia baik-baik saja?” Tanya wanita itu dengan wajah khawatir. Leon bersenang-senang di kolam renang tetapi matanya mengawasi Bu Ati n yang menghawatirkan Jovita.
“Tunggu aku panggilkan Rikko menuju kamar Jovita,” setelah di ketuk beberapa lama ia tidak menyahut.
“Bi, biar saya saja ambilkan makan malamnya, Bi” Toni bergegas.
“Iya, kamu saja Nak, bangunkan kalau ia ketiduran,” ujar Bi Atin.
Toni datang membawa piring makan malam untuknya , mengetuk sampai ia benar-benar bangun.
“Ada apa Kak?” Tetapi tangannya hanya membuka sedikit kamar.
“Aku membawa kan mu makan malam, bukalah sebentar, aku ingin bicara dengan kamu. Ayo kita bicara di luar, aku tidak mau bos salah paham”
“Jovita tidak membantah, ia mengikuti Toni membawanya ke taman depan.
“Ini Makan biar ada tenaga mu.” Tetapi tatapan Toni terlihat marah. “Hara apapun yang kamu rencanakan hari ini! sebaiknya jangan di lanjutkan”
Jovita terdiam ia meletakkan sendok di atas piring, ia terlihat berbeda bukan gadis manis yang berhati lembut lagi.
“Kamu. Tahu apa?”
“Aku tahu Hara, Sam orang paling dekat denganku di sini, kamu memintanya mengajari menembak. Apa yang kamu rencanakan? Jangan sampai bos tahu dan kamu dalam kesulitan,"ucap Toni, ia melirik pengawasan malam itu.
“Aku ingin menghabisi mereka, aku ingin kabur dari sini”
Wajah Toni langsung menegang.
“Hara dengar! Kalau kamu ingin kabur jangan di mansion di sini , maka lakukan saat di Jakarta karena kamu tidak punya siapa-siapa di tempat ini, di sini hutan. Jika kamu kabur. Sama saja cari mati karena Bos Leon punya banyak mata-mata dan musuh di disi. Tolong jangan lakukan itu,” ujar Toni menatap dengan tatapan.memohon.
“Jangan urusi hidupku” Jovita berdiri.
Toni tiba-tiba kaget dengan perubahan sikap Jovita.
“Ada apa dengannya?” Apa dia ingin melakukan?”
Bersambung ..
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1