
“Buka pintunya!” teriak Bianca marah.
Dalam kamar Leon sudah menggila. Lalu Kaila membuat keputusan berat untuk menyelamatkan nyawa Leon, ia membuka pakaiannya lalu menyerahkan tubuhnya untuk dipakai Leon, hanya dengan itulah Leon selamat.
“Kai. Ja-ja-jangan lakukan itu,” ucap Leon dengan nafas tersengal-sengal.
“Ini jalan satu-satunya untuk menyelamatkanmu Pak, aku tidak apa-apa, kamu pilih mana, mati dengan sia-saia atau melakukannya padaku lalu bapak selamat dan bisa menangkap mereka? Lakukan dengan cepat sebelum pintu ini terbuka” Lalu Ia menarik meja mengganjal pintu.
Tidak perduli dengan penolakan yang dilakukan Leon Kaila mengarahkan bibirnya dan mengecapkan bibir milik bosnya, tetapi Leon menolak.
“Lebih baik aku mati Kaila dari pada mengkhianati Hara,” ujar Leon, ia melakukan caranya sendiri untuk mengatasi masalah yang ia hadapi, Leon memilih membuat dirinya pingsan, ia berharap dengan ia pingsan tubuhnya tidak perlu mencari pelampiasan.
Leon tidak ingin menyakiti hati istrinya, di dalam situasi mendesak seperti itu, bapak dua anak ini lebih mengutamakan perasaan istrinya ketimbang nyawanya sendiri. Leon sadar, kesetiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Leon tidak ingin Hara membenci karena menyentuh wanita lain, walau itu demi menyelamatkan nyawanya sendiri. Bagi Leon harga diri itu penting.
"Pak lakukan saja padaku," ujar Kaila memegang tangan sang Bos.
"Jangan lakukan itu Kaila," ujar Leon dengan suara terengah-engah, ia merasa tubuh ingin meledak dan bagian bawah mengeras dan tidak dijinakkan lagi.
'Sial .... Aku tidak tahan lagi' ujar Leon menahan bagian bawah dengan kuat.
Melihat Bos seperti itu, Kaila mendekat lagi.
Leon menepis tangan Kaila, Leon memilih menderita, ia membalikkan tubuhnya dan berjongkok di lantai. Leon ingin membuat dirinya pingsan.
Leon jongkok di sudut ruangan, lalu menekan telapak tangannya dilantai menundukkan kepalanya dan menahan napas sampai sepuluh detik di hitungan sepulu detik, ia memukul tulang rusuknya sendiri dengan gerakan tiba-tiba, detik kemudian, Leon pingsan gerakan itu biasanya disebut step to fly. Cara itu sebenarnya lumayan berbahaya, bisa menyebabkan kematian kalau ia tidak bangun, tetapi Leon lebih baik memilih cara mematikan tersebut daripada melampiaskannya pada sekretarisnya yang sudah dipercayai istrinya.
Leon pingsan dengan tubuh terlentang di lantai.
“Pak ..... "Kaila panik, ia merangkul tubuh Leon dengan panik, tetapi tiba-tiba Kaila diam dan menatap pintu. Pintu itu, masih tertutup tidak berhasil di buka.
Entah apa yang dipikirkan Kaila di saat genting seperti itu, matanya menatap sinis.
Lalu menatap dalam wajah Leon yang terlentang pingsan di lantai, Mata Kaila tiba-tiba menatap sangat tajam seperti orang yang sangat dendam.
Ia melepaskan celana Leon, lalu ia juga melepaskan celana yang ia pakai dan melepaskan pakaiannya, kemudian Kaila duduk di atas tubuh Leon.
“Maafkan aku Pak Leon,” ujar Kaila, kegilaan Bianca ternyata menular pada Kaila, ia tidak ingin kalah lagi dari Bianca. Dengan cepat Kaila melepaskan pengait celana Leon dan mengeluarkan junior yang terbungkus di balik kain pengaman itu.
__ADS_1
Kaila memang gila dan nekat, saat Leon memilih cara berbahaya demi menghindari cara itu, namun Kaila malah melakukannya.
Ia naik ke atas tubuh Leon dan memasukkan junior milik Leon ke lubang miliknya.
Kaila menjerit kaget, karena ia melakukannya dengan buru-buru dan terus memompanya hingga tubuh Kaila berguncang naik turun di atas tubuh Leon yang sedang pingsan.
Kaila mengigit bibir bawahnya dengan kuat untuk menahan rasa sakit dari bagian bawahnya, terasa seperti di hujam dengan benda besar dengan sangat keras.
“Aaaoo sakit” gumam Kaila pelan. Menahan keseimbangan tubuhnya, dan terus melakukan gerakan naik turun di atas tubuh Leon.
Menjadi orang baik ternyata tidaklah mudah untuk Leon, saat ia berusaha keras ingin keluar dari dunia durjana itu, ternyata saat ini .... Kaila melakukannya.
Ia memegang dada Leon untuk menahan keseimbangan tubuhnya, dunia Leon bagai terbalik. Saat dulu ia yang sering melakukan itu pada wanita, tetapi saat ini seorang wanita yang melakukan hal yang memalukan padanya.
Kaila wanita bertubuh ramping itu, menundukkan tubuhnya dengan leluasa menghentakkan tubuhnya dengan tempo yang cepat, sesekali Kaila mengerang nikmat, ia seperti seorang pemenang, karena merasa akhirnya bisa menikmati sensasi dari pria yang sudah bertahun-tahun ia kagumi, lelaki yang ia nikmati tubuhnya saat ini adalah bosnya sendiri.
“Bos maaf” ucap Kaila dengan napas memburu di tengah aktifitasnya.
Saat ia menghentakkan tubuhnya dan tubuh Leon bergoyang hebat, Leon terbangun dan matanya melotot kaget saat melihat Kaila tengah melakukan aktivitas di atas tubuhnya.
“Kaila?” Leon masih setengah sadar, tetapi ia bisa merasakan bagian bawahnya terasa sangat panas ingin menumpahkan sesuatu .
Akhirnya, erangan panjang keluar dari bibir Kaila ia merasakan milik Leon menumpahkan cairan di bagian inti nya. Kaila merasakan benda itu berdenyut dan akhirnya menumpahkan lahar hangat yang membanjiri gua miliknya.
Leon akhirnya tersadar, ia mendorong tubuh Kaila dengan kasar dari atas tubuhnya.
“Kaila kamu gila? Apa yang kamu lakukan?” Teriak Leon marah, Leon berdiri dan membelakangi Kaila ia mengancing celananya kembali.
Dengan langkah terseok-seok menjepit bagian intinya yang terasa masih berdenyut perih. Kaila bergegas, dengan buru-buru, ia memakai pakaiannya.
“Maaf Pak, aku hanya ingin menyelamatkanmu,” ucap Kaila menunduk.
"Kai...! Kamu diam," ujar Leon mengusap wajahnya dengan kasar.
"Oh .... Sial ini memalukan," ujar Leon.
Leon memegang kepalanya dengan panik, ia menyadari hal gila yang Kaila lakukan padanya .
__ADS_1
“Kaila, aku sudah bilang lebih baik kamu tadi membiarkan aku pingsan, "ujar Leon setengah berbisik.
“Aku tidak akan memberitahukan siapa-siapa Pak, ini rahasia kita, ayo kita balas Bianca,”ujar Kaila.
Pintu ruangan yang biasa digunakan Leon untuk istirahat memiliki pengamanan yang kuat, maka saat Kaila memuaskan tubuhnya, pintu belum berhasil di buka. Kaila dan Leon sudah berpakaian lengkap, ia tidak punya waktu untuk menyalahkan Kaila yang penting bukan Leon yang menginginkannya, tetapi Kaila lah yang berbuat gila padanya.
“Kai baiklah, ambilkan pisau di dalam laci.”
Leon menunjuk laci di samping ranjang, dengan cepat Kaila membuka laci dan mengambil pisau kecil yang sangat runcing sangat tajam, ia memberikannya ke tangan Leon.
“Apa yang ingin bapak lakukan?” tanya Kaila dengan wajah takut .
“Ikuti saja apa yang aku perintahkan, jangan takut.”
Tidak lama kemudian pintu itu berhasil di buka Bianca, dengan cara melepaskan beberapa tembakan.
Bianca menatap mereka berdua dengan heran, karena Leon masih selamat, masih dengan tubuh meringkuk dengan tangan gamang menyentuh miliknya sendiri.
'Mereka tidak melakukannya' tanya Bianca menatap mereka bergantian.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)