Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Pura-pura ikut bahagia


__ADS_3

 TERIMAKASIH UNTUK KAKAK SEMUA  YANG TELAH MEMBERIKAN  TIPS IYA BERUPA KOIN. AKU BERTAMBA  SEMANGAT LAGI UNTUK  MENULIS CERITANYA  TERIMAKASIH UNTUK;


@ leksi anastasia


@Ana bona


@ Jihan ina


@Syalala


ILOVE ALL


Jangan Lupa habis baca babnya, tekan tanda like iya.


Beberapa bulan kemudian.


Jakarta  pagi itu sangat mendung , semendung hati Leon yang terasa begitu kosong.


Leon  menatap jalanan  ibukota yang padat merayap akibat diguyur hujan, tatapan matanya menatap dengan nanar.


‘Aku pikir aku kuat, ternyata aku lemah dan kamu kelemahanku Hara, aku pikir setelah aku tidak melihatmu aku bisa melupakanmu. Tetapi  nyatanya saat tidak melihatmu aku sangat merindukanmu. Hara …aku berharap kamu sehat dan baik- baik saja’ Leon  bermonolog dalam hati.


Tiba-tiba ketukan  pintu mengalihkan perhatiannya.


Zidan dan Ken  datang dengan wajah ragu.


“Ada apa?” tanya Leon menatap keduanya.


“Ini Bos kami mendapatkan kabar tentang  Non Hara,” ujar Ken, mata Leon berubah , tangan yang sedari tadi berada di dalam kantong celana,  tiba-tiba di  keluarkan dan merentangkan telapak tangannya, meminta amplop yang di pegang Ken.


“Apa ini?”


“Itu foto  Bos, sepertinya … Non Hara sudah mau menikah, ini foto Prewedding mereka,” ujar Ken.


Tangan Leon  terjedah sebentar, ia ragu untuk membuka amplop di tangannya.


“Dari mana kamu mendapatkannya?” Leon menatap mere sekilas, tapi tangannya melanjutkan membuka amplop tersebut.


“Di kirim untuk Vikki. Omnya Non Hara di apartemen Lexa,  sudah dua hari tergeletak di depan pintu, kebetulan temanku  bertetangga dengan apartemen Vikki,” ujar Zidan.


Leon tertawa kecut melihat foto itu, Jovita terlihat sangat cantik saat bersanding dengan Maxell. Bibir Leon tertawa, tetapi percayalah … hatinya hancur, meleleh bagai coklat yang dipanaskan.


Tetapi di depan Ken dan Zidan ia akan berpura-pura ikut bahagia.


“Baguslah kalau dia sudah menikah, dia terlihat sangat bahagia dengan pernikahannya,” ucap Leon, tapi kata-kata itu hanya keluar begitu saja dari mulutnya,


Tapi semakin ia melihat foto itu, merasakan rasa sakit  di dadanya, apalagi saat ia melihat Maxell memeluk Hara dari belakang


 keduanya terlihat tersenyum sangat bahagia, masih banyak Foto yang membuat  rongga dadanya seperti terbakar.


Tetapi di depan Zidan dan Ken tentu saja ia tidak akan menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya.

__ADS_1


Ah … Pura-pura bahagia itu memang sangat menyakitkan.


“Kami tidak tahu tempatnya  mereka  ada di mana . Namun dari alamat yang di kirim, sepertinya dari China, Bos”


“Apa kami perlu mengecek kesana Bos?” Zidan tahu apa yang sesungguhnya Leon rasakan.


“Tidak apa-apa dia berhak untuk  bahagia”


“Apa Bos yakin?” Tanya  Ken penasaran.


“Melihat dia bahagia seperti  itu saya juga senang,”ujar Leon terlihat santai .


Zidan  dan Ken hanya bisa menarik napas panjang.


“Sepertinya Non Hara belum bisa melihat,” ujar Ken, mencoba mengusik perasaan Leon,  berharap lelaki balok es itu,  berubah pikiran dan meminta ia dan Zidan mencari Hara. Tetapi  Leon tidak melakukannya.


“Itu tidak jadi masalah Ken, kalau lelaki itu bisa mencintainya dengan baik,” balas Leon.


“Lalu bagaimana selanjutnya, Bos?”


“Selanjutnya ….? Kalian berdua mau balik kesana atau bagaimana?” Leon balik bertanya.


“Saya di sini saja Bos, China tidak membuatku nyaman, lebih nyaman di negara sendiri,” ujar Zidan mencari alasan, ia hanya tidak ingin meninggalkan Leon saat masa sulit seperti itu.


“Aku juga Bos, aku tidak bisa mengendalikan diri saat melihat gadis- gadis cantik saat di Bali,” ujar Ken ikut-ikutan membuat alasan. Mereka berdua  memutuskan kembali pada  Bos Leon. Walau sebenarnya  Zidan dan Ken sudah memiliki usaha sendiri- sendiri.


“Tapi masalahnya aku tidak akan mencari Hara lagi, aku membiarkannya bahagia, aku tidak bisa memberinya kebahagian selama ini … Jadi oklah, biarkan dia  bahagia. Bagaimana kalau kita  ke bar  untuk merayakan kebahagian Hara menjelang pernikahannya,” ujar Leon


Belum juga Ken menuntaskan kalimatnya Zidan sudah memotongnya.


‘Masa  minum- minum sepagi ini’? Ken membatin, tetapi melihat Zidan mengedipkan matanya padanya  ia mengerti kalau Leon sedang  ‘Broken heart’


“Baik ,” ujar  Zidan lelaki itu yang selalu mengerti isi hati Leon, mereka berdua seperti  adik kakak karena memiliki sikap yang sama.


“Ok, dingin -dingin begini enaknya hangatkan badan.” Ken ikut berdiri.


Mereka ber empat turun ke Bar hotel  dan minum- minum.


Zidan tahu kalau Leon sedang patah hati, walau bibirnya berkata tidak apa-apa, ia tahu kalau hatinya saat ini  sedang hancur, Leon tidak akan menunjukkan perasaan terluka  pada mereka, ia tahu  Leon mengajak mereka minum untuk menghilangkan perasaanya.


Leon menghabiskan  beberapa botol,  saat itu juga petaka baru datang,  dengan perut kosong  dan ditambah beban pikiran yang menggunung  penyakit pun muncul. Menghabiskan beberapa botol dengan perut keadaan kosong dan penyakit lamanya kambuh Leon merasa   jantungnya sakit.


“Kalian teruskan saja saya mau naik lagi ke atas,” ujar Leon meninggalkan Zidan dan Ken.


Saat Zidan  ingin mengikuti Leon.


“Biarkan saya saja Bang.” Bram yang mengikuti Leon .


Saat tiba di ruang Bos Bram masih berdiri di samping Leon.


“Apa yang kamu lakukan? Pergi sana  bersenang- senang.” Leon meminta Bram

__ADS_1


Bram seakan tahu bosnya akan mengalami hal yang buruk,  saat disuruh keluar dari ruangannya,  ia sempat melihat wajahnya bos yang terlihat  menghitam menahan rasa sakit.


Bram masih berdiri di depan meja Kaila menunggu apa yang akan terjadi, karena ia punya Firasat buruk.


“Kai … Jovita Hara itu siapa? “


“Jovita Hara  yang dulu bekerja di Hotel ini?”


“Memang kenapa? Aku dengar ia tidak manggung lagi kan karena sakit.” Kaila menatap Bram.


“Ah lupakan  saja”


Bram tidak ingin memperpanjang masalahnya, ia takut , Kaila ikut-ikutan mencari tahu nantinya, bisa gawat kalau sampai Leon tahu privasinya bocor ke karyawannya.


“Siapa?” Kaila memaksa.


“Tidak,  orang bagian, keamanan hotel bilang,  orangnya sangat cantik” Bram tepaksa mengarang cerita


“Ah, cantikan juga aku.” Kaila membanggakan diri.


Tapi suara barang jatuh dari ruangan Leon menghentikan obrolan keduanya, mereka berdua saling menatap satu sama lain.


Brama berlari ke pintu ruangan Leon dan mengetuk beberapa kali


“Pak Leon …!”panggil Bram dari pintu


Tetapi tidak ada sahutan, ia berpikir telah terjadi hal buruk. Karena sesibuk apapun Leon,  kalau di ketuk atau dipanggil. Bosnya pasti selalu menyahut.


Dengan cepat lelaki bertato itu membuka pintu, Leon terkapar di lantai dengan mulut berbusa. Kaila menjerit panik, melihat Leon tidak bergerak lagi mulutnya berbusa.


“Kaila dengar! berhenti berteriak, panggilkan ambulance,”pinta Bram menghentikan aksi teriakan histeris sekretaris yang terlihat memiliki trauma itu.


Wajah Kaila pucat bagai kapas, tangannya gemetaran, saat ini kepanikan terjadi , karena ada dua orang yang harus ia urus, satu pingsan dan satu lagi menggigil ketakutan.


Bram mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, menelepon ambulance dan menelepon Hilda dan Zidan,  Zidan dan Ken berlari dan membawa Leon ke rumah sakit terdekat.


Bersambung ….


KAKAK TERSAYAN JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing


__ADS_2