Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Bertemu guru Okan


__ADS_3

Saat tiba di ruang guru Hara di sambut baik kepala sekolah kedua  anaknya. Leon sangat di kenal di sekolah karena sering banyak berkontribusi pada sekolah.


Leon juga sering ikut kegiatan amal dari sekolah, maka itu ia sangat populer di kalangan guru-guru. Akan tetapi Leon tidak mau  orang tua murid di sana tahu, ia tidak mau sikap dermawannya di salah artikan para orang tua yang lain yang berujung pembulian pada putranya dan putrinya. Maka itu ia selalu memberinya dengan diam-diam dan tidak ingin di tulis pada daftar penyumbang dalam majalah tahunan sekolah. Jika  orang lain ingin namanya di catat  besar dalam majalah sekolah dengan huruf besar dan ingin nomor satu. Leon malah sebaliknya ia tidak ingin namanya di sebut bahkan di catat, ia memberinya dengan ikhlas tanpa ada embel-embel di sana.


Memberikan atau tidak memberikan sumbangan pada sekolah, tetap saja,  kedua anak kembarnya mendapat peringkat nomor satu di sekolahnya. Kerena hal itulah keluarga Leon di kenal di sekolah itu dermawan tanpa nama. Sekolah Okan dan Chelia, sebuah sekolah swasta bertaraf internasional.


“Selamat pagi, Ibu Tere,” sapa Hara dengan ramah saat tiba di ruangan kepala sekolah.


Seorang berpenampilan elegan  bertubuh tinggi langsing menyambut mereka bertiga termasuk Okan.


“Eh, selamat pagi Bu, Pak, mari masuk,” ucap wanita paruh baya itu dengan  sangat sopan.


Setelah duduk di sofa, Hara baru menjelaskan kedatangan mereka. Wajah wanita itu tampak terkejut.


“Gini Bu, Okan kemarin pulang ke rumah degan mata bengkak, katanya ia berantem dengan temanya  yang bernama Danis.”


“Oh, benarkah?” Wanita   berwajah cantik itu mendekat dan melihat wajah Okan yang masih terlihat biru“Maaf Bu, Pak, saya tidak tahu, kebetulan dua hari ini saya mengikuti seminar di luar kota dan baru tiba tadi malam, tapi sebentar.” Wanita itu menekan nomor di telepon dan menelepon wali kelas Okan.


Seorang wanita muda berkulit eksotis ala orang Indonesia timur datang ke ruangan kepala sekolah.


Saat tiba di ruangan kepala sekolah, ia juga terkejut sama terkejutnya dengan kepala sekolahnya tadi melihat keluarga Leon tiba-tiba sampai beberapa kali meminta maaf pada Leon dan Hara karena lalai menjaga anak muridnya.


“Jangan menyalahkan diri sendiri,  Ibu Monika,  kejadian nya juga katanya pulang sekolah di halaman sekolah  kemarin, saya tidak menyalahkan ibu tenang saja. Saya hanya tidak ingin masalahnya nanti makin panjang Bu, karena anak yang bernama Fano yang berantem sama Okan juga katanya matanya bengkak, pasti nanti orang tuanya   akan bertanya juga, saya ingin menjelaskan sendiri,” ujar Hara. “Kalau orang tua Danis saya sudah meneleponnya.”


“Danis atau Fando?” tanya Bu monika dengan mata menyelidiki.


“Iya Bu Fando dan Danis.” Okan menunduk saat wanita cantik wali kelasnya bertanya padanya.


“Wah kenapa sih kalian … ,” ujar Bu Monika menghela napas.


“Ada masalah  Ibu Monika?” tanya Hara.


“Dia murid yang bermasalah Bu, baru-baru ini dia juga mempengaruhi Danis jadi nakal. Fando sering sekali melakukan keributan,” ujar Bu Monika merasa cemas,  ia lelah bermasalah dengan anak  didiknya yang bernama Fano.


Di depan kepala sekolah dan wali kelasnya, Okan menceritakan semua kronologis kejadian, ia hanya tidak ingin adiknya bergaul dengan anak-anak bermasalah seperti Danis dan Fano. Monika seakan-akan sudah tahu siapa Danis dan siapa Fano, ia langsung membela Okan.


“Saya juga tidak membenarkan sikap Okan yang bertengkar di sekolah, saya juga tidak menyalahkan Bu Monika, hanya saya tidak mau nanti ada masalah yang berkepanjangan Bu, kalau misalkan orang tua yang bersangkutan datang juga, nanti Ibu sudah menjelaskan semua dan diselesaikan secara bai-baik saja,” ujar Hara.

__ADS_1


“Oh benar Bu,  baiklah kami akan mengingatnya dan melakukannya,” ujar Bu Monika.


Apa yang dijelaskan Hara  semuanya diterima guru Okan,


Ia tidak ingin memperpanjang masalahnya, hanya ia meminta walinya agar lebih memperhatikan Okan agar ia bisa bergaul dengan anak-anak yang lain.


Menurut gurunya Okan tidak mau bergaul dengan sembarangan orang ia milih-milih teman.


“Tolong lebih perhatikan iya Bu,” ujar Hara menitipkan anaknya pada  guru wali kelasnya.


“Baik Bu Hara, maaf sebelumnya kalau Okan pulang terluka karena bertengkar.”


“Tidak apa-apa Bu itu semua terjadi setelah sekolah sudah pulang ,” ujar Hara ramah.


Dalam ruangan guru.


Leon menepati janjinya ia tidak berkomentar sedikitpun, ia hanya duduk tenang memeriksa ponselnya sesekali memperhatikan Okan yang mengeluarkan bukunya dan membacanya saat guru dan orang tuanya sedang mengobrol. Okan akan menjawab pertanyaan kalau ia ditanya.


“Bu Guru saya tidak suka dia seperti itu,” ujar Hara berbisik pelan menunjuk Okan yang sedang serius membaca buku.


Saat semua guru memuji dan suka dengan Okan, tetapi Hara  tidak suka dengan kebiasaan putranya.


“Semua itu tidak penting Bu, untuk apa cerdas kalau tidak bijak dan tidak punya sikap perduli untuk sesama, saya hanya ingin dia bermain dengan temanya dengan anak-anak seumurnya,” ujar Hara.


“Bu Hara … Okan sebenarnya mau berteman  hanya belakangan ini. Danis berubah sangat nakal, dia bahkan menghasut satu kelasnya agar menjauhi Okan."


“Tetapi tidak harus bertengkar kan Bu.” Hara menatap  guru Olan dengan tatapan tegas.


“Baiklah Bu Hara kami akan memperbaiki semuanya.”


Mata Bu  Monika menatapnya dengan tatapan bingung.


“Padahal para orang tua  di sekolah ini berlomba-lomba memasukkan  anak-anak mereka mengikuti les agar pintar seperti Okan,” ujar Monika menatap Hara.


“Bu, saya ingin mendidik mereka berdua dengan pendidikan kemanusian dulu agar  tahu bagaimana menghadapi keadaan sekitar dan bagaimana sikap perduli pada orang lain.”


“Okan anak yang baik kok Bu Hara, hanya saja dia memilih-milih teman, itu justru hal yang baik,” bela  wali kelas Okan.

__ADS_1


“Saya tahu Bu, tetapi tolong didik anak saya agar tidak melakukan perkelahian lagi dengan temannya, jika terjadi hal itu lagi tolong beri dia teguran keras,” ujar Hara , ia tidak mau Okan bertengkar lagi di sekolahnya.


Mereka berdua pamit setelah memberi penjelasan


 pada guru Okan tentang keadaan putranya. Tetapi ia tidak puas sampai di sana juga. Ia ingin melihat Okan dan Celia secara langsung dalam proses belajar.


 Tetapi saat ingin berangkat ke kantor tiba-tiba ia berubah pikiran;


“Ayah, berangkat kantor duluan saja deh,  sama pak supir,” ujar Hara .


“Lah, kenapa, ada masalah lagi? Bukanya tadi sudah selesai dengan wali kelasnya, sekarang kenapa lagi?” tanya Leon menatap istrinya dengan bingung.


“Aku, ingin jadi mata-mata dulu untuk mereka hari ini,” ucap Hara terlihat bersemangat.


“Maksudnya  hanya kamu sendiri? Aku dan supir berangkat duluan ke kantor?” tanya Leon dengan keningnya berkedut  mendengar permintaan istrinya.


“Iya kalau Ayah di sini takutnya mereka mengetahuinya, jadinya tidak seru,” ujar Hara meminta Leon pulang dengan supir dan berangkat ke kantor melakukan aktivitas di kantor. Sedangkan  Hara ingin melihat putra dan putrinya saat belajar dan saat istirahat nanti.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Terimakasi untuk tips ya


Baca juga  karyaku yang lain


 -Aresya(TERBARU)


-Turun  Ranjang( on going)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)

__ADS_1


__ADS_2