Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Baku tembak


__ADS_3


Jovita dan Damian terikat di kursi dengan posisi tubuh saling membelakangi, mereka duduk dalam diam. Jovita memilih pasrah.


‘Jika aku harus mati saat ini setidaknya aku tidak hidup sendirian lagi di dunia ini, aku pasrah’ ucapnya dalam hati.


Mereka berdua  tidak bisa saling bicara dan tidak bisa saling melihat, karena  mata dan mulut mereka di tutup. Tetapi tiba-tiba tangan Damian menggoyangkan tangannya di tangan Jovita. Tangan mereka di ikat arah ke belakang


Damian berusaha membuka ikatan tangan Jovita, saat ia tidak mendengar langkah kaki di sekitar mereka. Saat ia berusaha membuka ikatan, tiba- tiba, sebuah tangan membuka penutup mata Damian.



“Sttt …!” Toni tiba-tiba muncul dari plafon, ia terlihat seperti manusia kelelawar kepalanya kebawah."Sttt ...." Ia menunjuk penjahat penjaga yang sedang menerima telepon.


Saat ini, tangan Damian sudah terlepas dan Toni naik lagi keatas plafon, ia menunggu waktu yang tepat, lalu Damian melepaskan  ikatan tangan Jovita.


“Berpura-pura Lah  seperti sedang diikat ,” bisik Damian pada Jovita.


Saat penjahat  itu lengah sedikit, Toni turun lagi dengan  gerakan yang sama yakni kepala ke bawah, ia memberikan satu pistol  ke tangan Damian.


“Tunggu aba-aba dariku,” bisik Toni.


Damian mengangguk tanda mengerti, lalu Toni balik lagi ke plafon, ia menunggu Zidan datang, ia tidak ingin melakukan kesalahan yang membuat Jovita terluka, ia bahkan membiarkan mata wanita cantik itu tetap tertutup.


Saat mereka berdua menunggu Zidan dan Iwan datang. Hal yang menegangkan terjadi, seorang dari mereka mendekat ia menenteng pistol dan mengarahkan pada Jovita  ia memegang ponsel dan sedang bicara dengan seseorang.


“Buruan sudah ada dalam kandang Bos, mau diapain dulu ni …? Bisa di cicipi dulu sebelum di habisi?  buruannya bening bangat ni, sayang kalau di anggurin ...," ujar seorang penjahat.


“Terserah, nikmati saja sepuas mu, jangan lupa bersihkan, jangan ada jejak sesudah itu,” ujar seseorang di ujung telepon. Lalu lelaki  bertato itu menyentuh pipi mulus Jovita dengan punggung tangannya, melihat hal itu Damian terpancing emosi yang membuat semuanya diluar rencana.


“Singkirkan tangan busuk mu bajingan dari adikku,” ujar Damian menendang  perutnya dengan kuat hingga ia terpelanting beberapa langkah  mundur.


Damian emosi, saat penjahat itu ingin melecehkan Jovita, ia mengarahkan senjatanya ke arah penjahat.


Dor ....!


Damian menembak lelaki  bertato itu dan  mengenai perutnya, penjahat bertato itu tidak mau kehilangan buruannya ia mengarahkan senjatanya ke arah Jovita.


Dor ....!


Damian memeluknya dan membiarkan tubuhnya jadi tameng untuk melindungi Jovita.


Mendengar suara tembakan itu Iwan menerjang kaca jendela Villa dengan motornya, mereka menembak kawanan penjahat yang menculik Jovita dan Damian.


Suara tembakan terdengar riuh di sebuah  Villa yang jauh dari pemukiman itu . Sebuah Villa di daerah perkebunan teh, maka saat   suara tembakan di villa berlangsung, tidak ada yang tahu, karena jauh dari rumah warga, belum lagi  malam itu hujan deras.


Villa itu tempat peracikan barang setan dan milik seorang gerbong narkoba, maka tidak heran, setiap orang yang berjaga di fasilitasi dengan senjata di tangan mereka.


Karena  Villa itu dijadikan  tempat pembuatan narkoba juga.


Zidan akhir beraksi.


Dengan cekatan, ia mengarahkan senjata  model shotgun Tipe Saiga-12 ke arah puluhan penjahat itu

__ADS_1



 Truut .... Tuuttt …!


Suara fitur tembakannya beruntun terdengar riuh dari senjata buatan Rusia itu, salah satu senjata perang terbaik dunia, sebagai orang yang berkutat di bisnis senjata.


Leon memfasilitasi semua anak buahnya dengan senjata yang terbaik. Maka itulah. Leon salah satu mafia yang paling ditakuti, karena senjata yang dimiliki dan alat komunikasinya sangat canggih, tidak kaleng-kaleng. Bahkan belum di miliki orang lain.


Senjata milik Zidan mengeluarkan puluhan peluru dalam  hitungan perdetik dengan jarak tembak 500 Meter. Maka  ia membentengi tubuh Jovita dengan senjatanya, ia menjaganya agar tidak ada musuh yang  boleh mendekatinya.


Dor … Dor …


Toni menembakkan senjatanya dari atas ke orang yang ia lihat mendekati Jovita.


Sementara Iwan menjaga bagian pintu masuk dan Damian yang terluka parah, masih bertahan melindungi Jovita membawanya duduk di pojok ruangan, ia membiarkan mata dan mulut Jovita tertutup.


“Ummm … Ummm,” suara Jovita di balik  lakban yang menutup mulutnya.


“Tenang Hara tidak apa-apa,” ujar Damian memegang tangannya.


“Ummm …Ummm!” Jovita berusaha melepaskan tangannya, ia ingin melihat apa yang terjadi.


Ia tidak tahu, kalau Damian mendapat dua tembakan di  perut dan di lengan demi menyelamatkannya.


Sementara Leon dan Rikko terjebak macet karena hujan deras.



“Brengsek … Sial!” Leon mengamuk,  ia memukul samping mobil , wajahnya sangat khawatir.


“Menurut titik koordinat nya yang diberikan Kinan tidak lagi Bos, tidak ingin melihat Bosnya mengamuk Rikko turun menerjang hujan deras, ia berlari ke depan melihat apa yang menjadi penyebab kemacetan.


Ternyata ke arah perkebunan teh sengaja di tutup dengan sebuah pohon, para penjahat itu yang melakukannya untuk mengulur waktu.


Lalu ia kembali lagi  ke mobil, “Bos ada pohon yang dibentangkan”


Leon juga keluar menerjang hujan, ia dan  Rikko mengangkat pohon dan menyingkirkannya  barulah mobil bisa berjalan, Rikko harus berhati-hati karena jalanan sangat menanjak menuju ke villa. Jalanan itu semakin licin karena hujan semakin dera.


Di sisi lain.


Setelah  sekitar 20 menit saling baku tembak, suara tembakan  berhenti, melihat rekanan mereka tertembak, sebagian anak buah penjahat itu memilih melarikan dan meminta bantuan.


Zidan Iwan tidak mau lengang, Zidan bertugas menjadi mata elang,.ia mengambil posisi di balik lemari, sementara Iwan masih berjaga mengawasi pintu.  


Toni mendekati Damian yang terluka. Ia masih  memegang kedua tangan Jovita, ia tidak membiarkan wanita itu melihat keadaanya.


“Kita harus pergi di sini aku yakin  bos pemilik tempat ini akan datang”


'Toni dia ada ' Jovita membatin.


"Ummm ... ummm." Jovita meminta dibuka mulut dan tangannya.


"Tidak usah Hara, biar saja tetap begitu,"ujar Toni.

__ADS_1


“Cepatlah … cepat  kita tidak punya banyak waktu.” Iwan berteriak matanya penuh kewaspadaan.


Tidak lama kemudian …



Dor …!


Suara tembakan terdengar dari pintu masuk, beberapa orang datang mengendarai motor.


Toni mendorong tubuh Jovita berlindung di bawah sebuah meja dan Damian yang sekarat duduk di sampingnya memegang luka tembak di perutnya.


“Bertahanlah kawan,sebentar lagi Bos akan datang,” bisik Toni meminta telapak tangan Jovita menekan  luka tembak di perut Damian.


“Hara, tolong tekan di sini”


“Ummm … Ummm.” Jovita meminta untuk di buka ikat tangannya dan penutup mata dan mulutnya.


“Tidak usah membuka cukup tekan di sini,” ujar Toni.


Jovita menggeleng  bahkan tangannya yang terikat ke depan terlihat gemetar saat di minta menekan luka di perut Damian, tangannya berlumur darah Damian.


Tidak lama kemudian Leon  datang, ia mendekat yang pertama yang ia lihat Jovita memastikan wanita itu masih hidup.


Ia terdiam saat melihat Damian terluka dan sekarat, sementara Jovita dengan keadaan mata dan mulut tertutup , tubuhnya gemetaran dengan telapak tangan  berlumuran darah.


Saat Jovita diminta menekan perut Damian,  ia akhir tahu, kalau lelaki yang baru merayakan ulang tahun itu tertembak.


‘Kak Damian aku mohon … Jangan bilang kalau ini …’


“Ummm.” Jovita ingin berteriak dan menangis. Namun yang terdengar hanya suara itu.


Saat Leon berdiri dengan menatap Damian yang sekarat tiba-tiba  suara tembakan terdengar lagi.


Dor …



Toni yang saat itu menghalangi tubuh Jovita ikut tertembak, target utama penjahat itu, adalah Jovita.


Bersambung ....


JANGAN LUPA!!! …  VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA  AGAR AUTOR SEMANGAT


, Makasih, kakak semua”


DAN AUTHORNYA000


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2