Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Aku berjanji menjaga bukan mencintai


__ADS_3

Leon masih duduk di samping ranjang Jovita, menunggunya buka mata,  tetapi ia sudah beberapa menit di sana Jovita  belum mau membuka mata, Leon memilih duduk si sofa,  matanya menatap pemandangan dari  jendela ruangan.


Jovita berpikir Leon sudah pergi, ia  membuka matanya, lehernya masih di pakai alat penyangga agar tidak gerakkan. Ia merasa sangat  kehausan.



Mmm … mmm ...”Suaranya sangat lemah, ia ingin memanggil dokter, tatapan matanya hanya bisa menatap ke depan.


Mendengar suara rintihan Jovita Leon mendekat.


“Ada apa? Apa kamu butuh sesuatu?”


Saat menatap ke depan ternyata Leon yang muncul , mau tidak mau ia harus  buka suara.


“Aku haus,” ucap Jovita dengan suara pelan , Leon sampai menundukkan kepalanya mendengar permintaan Jovita. “Aku haus  …”


Leon menatap kanan -kiri tidak ada botol minuman,  kalau botol minum, ada saat itu, ia akan memberikannya karena kasihan pada Jovita, padahal ia tidak tahu, wanita itu belum di kasih minum.


Karena tidak menemukan ada botol minuman. Leon menekan tombol dokter dan kebetulan Billy yang datang.


“Dia, kehausan tapi tidak ada botol minum di sini,” ujarnya dengan  nada ketus.


“Tenanglah Pak Leon, dokter sengaja tidak menyediakan botol minum  karena dia belum bisa minum”


“Ah, kenapa?” Raut wajah Leon kaget.


“Tapi dia bisa mati kehausan dokter Billy!”


“Dia tidak akan mati Pak Leon, selang infus itu menyalurkan asupan ke tubuhnya. Dia  tidak bisa minum sebelum dia buang angin”


“Apa?”


“IYa buang angin,” ujar dokter menjelaskan.


“Lalu tidak ada obat  buat dia buang angin, biar bisa minum?”


“Biasanya di lakukan dengan cara alami Pak Leon”


“Caranya?” tanya Leon wajahnya sangat gusar.


“Banyak cara .... bisa mengelus-elus perutnya dengan lembut atau balurin  dengan minyak angin,  elus-elus dengan lembut  kulit perutnya. Yakin dengan begitu, dia cepat … akan  buang angin,” ujar Billy tersenyum kecil, sebenarnya ia hanya bercanda.


“Sudah, saya serapan dulu, aku terlambat makan,” ucap Billy meninggalkan kamar Jovita lagi, setelah memastikan tidak apa-apa yang perlu dikhawatirkan.



Leon mendekati ranjang Jovita dan duduk si sana “A-itu, kata dokter kamu belum bisa minum,” ucapnya  dengan tatapan iba.


“Berikan aku sedikit saja Leon ... aku ingin mati rasanya,  kerongkonganku kering.  Rasanya sangat sakit,” bujuk Jovita ia tidak tahan  dengan rasa haus yang menderanya.


Tidak tahan melihat penderitaan Jovita karena kehausan, ia melakukan sesuatu ....


Ia menelepon anak buahnya meminta membawakan   minyak  angin.


“Ini  Bos,” ujar anak buahnya memberikan minyak angin.


Leon memegang botol  kecil itu berdiri mondar mandir di samping ranjang Jovita.

__ADS_1


“Berikan aku minum  Leon … sedikit saja … satu tetes tidak apa-apa,” bujuk Jovita dengan suara lemah.


Leon bukanya  menyahut atau menuruti permintaan Jovita, ia  benar-benar  melakukan  apa yang dikatakan dr. Billy.


“Leon, aku tidak sakit perut, tapi hauuus,” ucap Jovita dengan suara kecil.


Jovita  semakin merasa tersiksa saat Leon hanya diam dan mengolesi minyak angin ke bagian permukaan perutnya,.


“Aku hanya minta minum ….,” ujar Jovita meneteskan air mata, ia merasa sangat haus tenggorakannya terasa perih karena kering.


Melihat air mata yang  menetes di pipinya, Leon menghentikan tangannya, lalu ia menarik kursi  ke samping, dekat wajah Jovita dan ia berkata;


“Dokter belum mengijinkan mu, sebelum kamu buang angin,” ucap Leon berterus terang padanya.


“Aku tidak tahan lagi  rasanya sangat menyiksa bibirku kering sekali,” ucapnya dengan suara lemah dan wajahnya tidak berdaya.



Leon  tidak tahan melihatnya, ia beberapa kali menarik napas berat melihat penderitaan Jovita.


“Bertahanlah,” ucap Leon  beberapa kali mengusap ujung hidungnya dengan ragu- ragu .... ia   menekan perut Jovita, menyelipkan tangannya masuk ke pakaian Jovita, lalu  menyentuh perut.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Jovita  .


“Diam lah saya hanya membantumu “


“Jangan lakukan itu ….”  Jovita  menolak sentuhan yang di lakukan  Leon.


Ia tidak perduli dengan  penolakan yang di lakukan Jovita, ia mengusap perut Jovita dengan gerakan tangan  keatas dan kebawa, dengan sangat lembut sesekali ia menekankan, ia hanya bisa menelan savilanya dengan susah payah, saat tangannya, menyentuh kulit halus yang sangat lembut, dari perut rata Jovita.


"Huuuh ...." Leon membuang napas berat lagi.


Melihat jimatnya tidur, ternyata matanya ikut terpancing juga, ia merebahkan kepalanya di samping tubuh Jovita, ia akhirnya ikut tidur menyandarkan wajah tampannya di samping dan satu tangan masih  melekat di atas perut Jovita, mereka berdua tertidur pulas.


                              *



Saat Rikko ingin memberi laporan, ia terpaku di pintu dengan senyuman yang mempesona, melihat sang bos ikut tertidur, ia balik badan, tidak ingin membangunkan Leon.


Sekitar tiga puluh menit lagi dr.Blly  datang lagi, ingin melihat ke adaan Jovita, ini kedatanganya yang kedua kali saat Leon tertidur.


Bllly masih berdiri di depan pintu, menatap serius pada tangan Leon yang menempel di perut Jovita, apa yang di lakukan Leon membuat dokter  bermata sipit itu mengangkat satu alis matanya, terlihat terkejut.



dr.Billy menatap dalam pada Leon.


“Perhatian apa yang kamu berikan pada gadis mudah itu ....? apa benar hanya rasa simpati atau kamu memang mencintainya?” Tanya Billy dengan suara pelan.


Billy berjalan menuju ranjang, naluri kewaspadaan Leo sangat tinggi, saat ada suara kaki berjalan ke arahnya berjalan pelan, ia lansung membuka mata, sebelah tangannya ia arahkan ingin memegang gagang pistol, ia selalu bersikap waspada.


“Ini aku,  tenanglah Pak,” suara Billy membuatnya  menarik tangan dari pinggang itu lagi , melihat Jovita masih tidur, dengan perlahan ia menarik tangannya  dari atas perut.


“Pak Leon tidurnya puas," ujar Billy, ia duduk di sofa dekat jendela, menatap jauh dengan tatapan nanar.


“Jangan salah paham,  hanya membantu gadis muda itu, agar dia bisa membuang angin,” ujar Leon

__ADS_1


“Aku tidak bilang apa-apa Pak Leon hanya perhatianmu sangat manis pada gadis  muda itu. Apun masalahmu pada ayahnya, di masa lalu, aku harap dia tidak menerima kemarahan mu,  dia sebatang kara di dunia ini," Ucapnya.


“Tenanglah ...! saya akan menjaganya selamanya,” ujar Leon dengan wajah datar. Ia tidak senang dokter Billy mencampuri masalah pribadinya apalagi menyangkut Jovita.



“Aku berharap Pak Leon  tidak hanya sekedar menjaganya, tetapi memberinya  kehangatan dan  cinta”


Mendengar kata Cinta lagi .... wajah Leon sangat  kesal.


“Cinta …! cinta …! aku tidak memilikinya dokter! Bagaimana aku memberikan cinta padanya, aku tidak percaya cinta dan tidak mau membangun hubungan seperti itu dengan wanita manapun, baik dengan  nona muda yang kamu kasihi ini!" ujar Leon dengan suara meninggi dan Jovita mendengar semuanya.


“Aku sudah bilang Dokter! Aku akan menjaga seumur hidupku, apa itu belum cukup!?”


“Baik Pak Leon, lakukan yang terbaik,” ujar Billy ia memberi saran seperti itu karena ia juga  anak yatim piatu, ia tidak ingin melihat Jovita merasakan kemarahan Leon. Nasip mereka mereka sama-sama yatim-piatu, Billy Leon lah yang memberinya beasiswa makannya, ia bisa jadi dokter.


Leon menganggapnya sudah  seperti teman, maka dari itu, dr Billy berani memberinya masukan.


Billy  memilih meninggalkan ruangan  Jovita, setelah Leon mengamuk karena ia memintanya   jangan sekedar hanya menjaganya, tetapi memberinya tempat yang hangat dan Cinta


Leon masih berdiri menatap kosong ke arah luar, saat itulah suara  bunyi  gas dari perut Jovita terdengar.


‘Aduh sial’ umpat Jovita memilih menutup mata, pura-pura tidur lagi karena malu  pada Leon.


“Tidak apa-apa itu pertanda bagus Nona kecil dengan kamu buang gas, artinya kamu bisa minum, sudah buka matamu, Saya tahu kamu pura-pura tidur,” ujar Leon  berdiri di samping ranjangnya.


Jovita masih bertahan pura-pura tidur.


“Baiklah  itu artinya kamu tidak  ingin minum hari ini”


Mendengar hal itu Jovita membuka matanya. Leon tertawa miring.


“Sudah sekarat pun .... masih tetap membangkang,” ucap Leon sinis.


Ia  memangil dokter untuk memeriksa Jovita.


Bersambung ..


KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI


DAN AUTHORNYA


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


 Warning!


BEGINI KAKAK …. KALAU KALIAN HANYA  INGIN MELIHAT SI TOKO PRIA LANGSUNG BUCIN PADA TOKO WANITANYA. ITU TIDAK AKAN TERJADI  ,   BUTUH PROSES PANJANG UNTUKNYA


KARENA SEJATINYA BOS MAFIA KEJAM  INI,    TIDAK TAHU BAGAIMANA MENCINTAI DAN DIA TIDAK PERCAYA CINTA,

__ADS_1


__ADS_2