Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Takut Ditinggalkan


__ADS_3

Saat pagi  tiba, Hara terbangun  merasa ada yang  menibani tubuhnya, bahkan ia tidak  bisa bernapas karena ada tubuh seseorang di atas wajahnya. Hara berusaha mengeluarkan kepalan dari tubuh yang menibaninya.


Hara membuka mata, ternyata benar,  kedua bocah kembar itu berada di atas tubuhnya  . Okan tidur telungkup  di atas perutnya dan si cantik Chelia meletakkan tubuhnya di wajah Hara, membuat ibunya kesulitan bernapas.


“Sayang, Ibu tidak bisa napas,” ujar Hara dari bawah tubuh Chelia.


“Aku mau mandi sama ibu,  tidak mau sama suster.” Chelia merengek manja.


Okan masih tidur telungkup di atas perut Hara,  membuatnya kesulitan menggerakkan tubuhnya,  Hara menoleh ke samping . Leon sudah bangun dengan  tubuh dimiringkan  melihat kelakuan kedua anak yang tidak mau melepaskan ibu mereka,  keduanya tidak mau mandi sama suster, ada yang berbeda dari mereka pagi ini.


Leon melipat tangan di dada dan melihat kearah Hara, saat ia meminta Chelia turun dari  tubuh ibunya,  ia  menggeleng tidak mau, biasanya Chelia paling dekat dengannya.  Tetapi kali ini,  kedua bocah  seakan-akan ikut menghukumnya.


“Ayah! aku sama ibu.”


“Iya sayang, tetapi ibu tidak bisa bangun kalau kalian dua menimpanya seperti itu.” ujar Leon  membujuk putrinya.


Ia memutar bola matanya dan memainkan ujung baju tidur ibunya lalu menggeleng.


“Baiklah, ibu yang akan memandikan kalian berdua.”


Chelia  mundur,  melepaskan wajah  ibunya  yang sedari tadi ia kekap. Hara  menarik napas panjang .


Sekarang masih ada  Okan di nemplok di atas perutnya, bahkan ia menyisikan  pakaian Hara, lalu ia menenggelamkan wajahnya di kulit perut sang ibu.


“Abang , apa yang kamu lakukan ibu   geli.” Ucap Hara saat Okan menggerakkan dagunya di kulit perutnya .


“Abang mau masuk lagi ke dalam perut ibu, agar aku bisa ikut terus sama ibu.”


“Ha?” Hara menyengitkan kedua alis matanya tanda bingung.


Hara terdiam sejenak, ia pikir ketakutan  kedua bocah itu sudah berakhir .  Akan tetapi, sampai pagi itu keduanya masih takut kalau Hara pergi lagi. Mereka seolah-olah tahu ada masalah diantara kedua orang tuanya.


“Abang, baiklah bangun dulu,  bagaimana kalau kita habis mandi ibu akan mengajak kalian berdua ke tempat yang kalian mau.” Hara membujuk.


Chelia  melompat kegirangan,   saat Hara  ingin mengajak mereka jalan- jalan. Namun, Okan tidak menggubris,  anak lelaki itu memang sangat berbeda. “Aku tidak tertarik aku mau seperti ini saja ibu.”


“Tapi  Ibu mau ke kamar mandi,” ujar Hara, apapun yang ia katakan Okan kekeh ingin seperti itu, ia tidak boleh dimarahin apa lagi dibentak. Kalau dibentak bisa  berhari-hari tidak mau di ajak bicara.


Okan masih diam menemplok seperti cicak di perut Hara, Hara juga diam ,  mencoba memberikan ia waktu untuk berpikir, tetapi Hara merasakan  cairan hangat menetes ke kulit perutnya.


‘Apa dia menangis? Nak, apa yang kamu pikirkan, percayalah Ibu tidak akan meninggalkan kalian berdua demi apapun juga’ Hara membatin, ia sangat menyesal karena  telah membuat kedua anak itu sedih, ia tidak bermaksud meninggalkan mereka berdua ia hanya mencoba menyingkirkan duri-duri yang mencoba mengganggu ketenangan rumah tangga mereka.


Hara mengusap-usap  kepala Okan dengan lembut, ia bisa melihat  pundak bocah tampan itu terguncang, karena menangis tanpa suara, Leon juga melihatnya, Celia seakan-akan tahu,  kalau abangnya terlarut dalam kesedihan,  ia  berdiri ke sisi tubu Hara menatap wajah  abangnya. lalu  ia mengusap air mata Okan dengan  lembut, Hara juga mengusap kepala Okan dan berkata;

__ADS_1


“Maaf. Ibu minta maaf, ibu berjanji kalau ibu pergi akan mengajak kalian berdua.”


Suasana hening tidak ada jawaban, Hara seakan- akan bicara dengan orang dewasa.


“Abang,  aku rasa ibu tidak tahan lagi, ibu ingin pipis,” ujar Hara melihat ujung kepala Okan, berharap bocah lelaki itu percaya dengan janjinya dan membiarkannya ke kamar mandi.


Leon hanya diam, ia tidak  membela Hara, hanya melihat  anak lelaki  itu. Pagi ini ia  bertingkah sangat manja pada  Hara.


Tidak lama kemudian ia turun dari tubuh Hara dan menenggelamkan wajahnya di bantal.


Hara masuk ke dalam kamar mandi, sementara Okan masih telungkup di bantal Leon menggeser tubuhnya,  lalu berbaring di samping putranya yang masih terisak-isak.


“Hei jagoan! Ayah minta maaf iya, ini karena ayah , ayah janji  akan memperbaiki semuanya,” ujar Leon.


Okan  masih   tidur telungkup.  Mereka berdua,  baik Hara ataupun  Leon telah melukai hati kedua anak itu, Okan anak yang paling peka terhadap situasi, kesedihannya kali ini bukan karena semata Hara  pergi tanpa pamit. Namun perubahan sikap diam ayah pada Hara, bocah lelaki itu, berpikir ibunya  bertengkar dengan ayahnya.


Ia berpikir Hara akan berpisah dengan Leon karena mereka bertengkar. Okan tidak  menghiraukan ayahnya, walau apapun yang di katakan Leon ia tetap diam.  Leon sampai kehabisan kata-kata dan rayuan untuk menenangkan  hatinya. Namun,  tidak berhasil, Hara keluar dari mandi setelah ia mengeluarkan semua ampas dari tubuhnya.


“Bang Okan,  mau ikut ibu mandi sama dede?” Hara membujuk lagi.


Kalau biasanya ia mau, tetapi kali ini,  lagi-lagi   ia menggeleng menolak semua apa yang mereka tawarkan. Hara wanita yang bijak dalam mendidik kedua buah hatinya , kalau ada masalah atau ada kesalahan Hara akan ajak bicara berdua dan bertanya dengan lembut, tidak pernah membentak anaknya,   jika mereka melakukan kesalahan Hara tidak marah tetapi  memberitahukan kesalahannya dan mengajarinya agar tidak mengulangi.


Dengan begitu kedua bocah itu selalu bersikap lembut dan penurut. Tetapi pagi ini semua tampak berbeda.


Satu moment yang  kebetulan, karena satu  induk kelinci peliharaan Hara beranak dan  punya anak yang berbeda bulu.


Awalnya Okan tidak mau turun dari gendongan Hara, tetapi saat  melihat Celia melompat-lompat   gemas melihat bayi kelinci  kecil itu.


Hara mendudukkan   panggulnya dan mengajak Okan bicara, “ Bang Okan, katakan padaku apa yang terjadi.”


Okan, memainkan  ujung  baju Hara wajahnya sangat berat, Hara tahu ada sesuatu yang mengganjal  di dalam hatinya.” Okan, Ibu sudah pernah bilang, kan, berbagi masalah dengan orang yang  kita percaya,  kita tidak akan merasa sedih lagi.” Hara sampai memutar otak cantiknya  untuk mengajak anak pintar Itu bicara.


Kalau Chelia yang ngambek atau marah, sangat mudah menenangkan , hanya dijanjikan boneka kesukaannya atau di belikan Ace scream ia sudah diam dan tenang. Tetapi   untuk Okan  janji-janji manis seperti itu tidak   mempan.


Hara harus punya kesabaran dan butuh strategi untuk  menenangkannya, Okan tidak menghiraukannya,  ia semakin menekan wajahnya ke dada Hara.


‘Apa dulu begini gambaran Leon saat kecil? Sulit dipahami’ Hara membatin mengarahkan bibirnya  mendaratkan diujung kepala Okan.


Hara kehabisan kata-kata merayu si tampan Okan,  sementara Celia   sudah pulih, ia melompat saat anak –anak kelinci itu di keluarkan Hendro dari kandangnya  karena  teriakan-teriak keceriaan  dari bibir mungilnya. Bu Atin  keluar dari rumah dan ikut menonton.


“Nenek …! lihat, anak kelincinya kembar kayak dede sama bang Okan.  Abang coklat  dan yang   warna susu aku,” ucapnya dengan  tubuh berjinjit kegirangan.


Mendengar  itu Bu Atin tertawa. “Bukan warna susu sayang tapi warna putih,” ujar  neneknya mengkoreksi.

__ADS_1


Mata Bu atin menoleh Hara yang duduk di  bangku kayu dengan Okan di pangkuannya.


“Apa abang masih sakit?” tanya Bu Atin menyisihkan rambut bergelombang itu, lalu menyimpilkan ke kuping Celia.


“Abang sudah sembuh tadi malam,  karena ibu sudah pulang, tetapi ia menangis terus dari tadi pagi, abang tidak bolehkan ibu  pergi kemana-mana.  Abang  takut ibu pergi jauh.”


Bu Atin menghela na panjang, ia juga tahu kalau Okan punya sikap yang  sangat berbeda dari anak- anak seusianya.


Lalu ia mendekati Hara, “Okan belum mandi?”


Okan bahkan tidak menoleh ia hanya menggeleng.


“Nenek! Sini deh, dede mau kasih nama ama mereka, namanya siapa?” teriak Chelia .


“Tidak apa-apa Bu, Biar  aku yang mengurus ini.”


Bu Atin bergabung dengan Chelia dan mengeluarkan kelinci, ia tertawa riang saat seorang dokter hewan meletakkan satu kelinci putih di ke lengannya setelah selesai di beri perawatan.


“Ayah! lihat dede berani,” ucap Chelia mendekati kursi kayu di mana Hara masih mengendong Okan yang  tidak mau bergerak. Ternyata Leon juga turun dari kamar saat mendengar tawa gembira dari Chelia,  ia  ikut duduk di bangku panjang,  di mana Hara duduk. “Ibu, dia cantik,” ujar Chelia mendekat bola matanya memutar menatap kedua orang tuanya , ia pamer saat ia sudah berani mengendong kelinci .


“Dede tidak takut lagi” Hara menatap dengan senang  Leon  menatap Chelia dengan gemas.


“Abang,  tidak mau seperti dede?”


Lagi-lagi ia hanya menggeleng dan semakin mempererat pelukannya. “Ibu, merasa gerah apa ibu tidak boleh mandi dulu?” tanya Hara merayu. Leon juga  menghela nafas melihat  kelakukan Okan. “Bagaimana kalau Ayah yang mengendong dan kita melihat kelinci?” Leon  mengulurkan tangannya.


“Iya Ayah dulu, iya, badan ibu lengket.”


Lagi-lagi iya menggeleng, Hara hanya menghela nafas panjang. “  Ayo Bu bawa dia mendekat melihat kelinci lucu.” Ujar  Leon mengajak Hara melihat demi dekat . Hara menurut ia berdiri  di samping kelinci.


Benar saja, Okan mulai mendongakkan kepalanya, ia mulai melihat kelinci itu, Hara sudah mulai merasa tangannya pegal karena mengendong Okan dari tadi.


Leon kasihan melihat Hara yang kecapean. “Abang ini pegang kelincinya,” Leon memberi seekor kelinci akhirnya ia mau turun dan ikut mengelus kelinci.


Hara menghela napas . “Mandilah biar aku yang jaga,” ucap Leon.


“Kamu yakin? Tanya Hara tidak yakin.


“Iya tidak apa-apa Hara, sana mandilah, kamu pasti lelah menggendongnya dari tadi,” ucap Bi Atin.


Hara langsung berlari ke kamar mandi, tetapi, karena hal itu kehebohan terjadi.  Baru saja Hara masuk ke kamar mandi.


Okan tersadar, ia menoleh ke belakang hanya ada ayah dan neneknya yang ada di sana. Tidak ada ibu, merasa di bohongin ia berdiri dengan wajah  menghitam menahan tangisan,  ia berpikir kalau Hara meninggalkannya lagi.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2