
“A-apa aku yang melakukannya?”
“Hara …. tidak apa-apa kemarilah.” Leon memegang lengan Hara.
Tetapi tiba-tiba Hara merasa sangat buruk, ia menutup wajahnya saat ia mengingat hal yang memalukan itu, memaksa Leon menggendongnya keluar, lalu mempermalukan diri sendiri di depan anak buah Leon, ia bahkan ingin melepaskan pakaiannya di taman tadi pagi, ia berteriak memaki Zidan dengan sebutan pengecut dan menyebut Vincen perjaka tua.
“Oh. Tuhan, apa yang sudah aku lakukan?” Hara bersimpuh di lantai dan menyentuh kaki Leon. “Leon … maafkan aku, maafkan aku karena mempermalukan mu tadi pagi, kamu pasti malu punya istri sepertiku."
“Hara apa yang kamu lakukan.” Leon menarik tubuh Hara yang berlutut di kakinya.”Sayang bangunlah, jangan seperti itu."
“Iya ampun, aku wanita yang memalukan, mabuk pagi-pagi Ibuku pasti menangis di Surga melihat kelakuanku.” Hara memukul wajahnya, ia merasa sangat bersalah dan merasa sangat buruk saat mengingat semuanya ulahnya tadi pagi.
Leon menangkap tangan Hara yang mencoba menyakiti dirinya dan memeluk tubuh sang istri, Hara merasa terguncang atas hal yang memalukan ia lakukan tadi pagi.
“Maaf sayang aku tidak bermaksud membuatmu merasa buruk,” ujar Leon memeluk Hara dengan erat. Leon membantunya tidur dan tidak melepaskan pelukannya.
Tetapi saat Leon tertidur Hara yang merasa bersalah atas apa yang sudah ia perbuat, ia tidak bisa tidur, saat jam tiga pagi, ia bangun dan pergi ke taman.
Ia mengangkat pot bonsai milik Bu Atin dan melepaskan kawat yang ia pasang, Zidan yang saat itu sedang berjaga terkejut melihat Hara ada. di taman saat saat
"Apa yang Non Hara lakukan di situ?"
Ia membangunkan Ken.
“Apa yang terjadi? " Ken ikut berdiri.
Mereka berdua melihat Hara mengajak tanaman itu bicara.
“Maafkan aku … maaf, aku telah menyakitimu, bagaimana aku mendapatkan seorang anak jika aku menyakiti seorang anak sepertimu. Kamu anak Ibu Atin kan? Ibumu pasti membenciku karena aku menyakitimu.” ujar Hara, melepaskan lilitan kawat dari pohon unik tersebut.
Ia tidak peduli lagi, kalau kawat-kawat itu melukai telapak tangannya, bukan hanya satu tusukan bahkan beberapa tusukan. Karena seharusnya di lepaskan pakai tang, ia melepaskan dengan tangannya sendiri, darah segar menetes dari tangan Hara, menetes di lantai.
Tepat jam empat pagi.
Leon terbangun saat Zidan menelepon, lalu ia berlari turun kebawa, melihat Hara melepaskan kawat itu.
“Apa yang kamu lakukan?” Leon berdiri di belakang Hara.
“Aku melepaskan kawat ini, anak ini pasti kesakitan maafkan saya, maafkan saya,” ujar Hara menundukkan kepalanya ke arah Pot.
Zidan dan Ken mendekat dan berdiri di dekat Hara, mereka tidak paham apa yang terjadi.
“Non, tanganmu terluka!”
Leon menarik tangan Hara, dengan buru-buru.
__ADS_1
“Aiiis ... sial! Ambilkan kotak obat.” Zidan berlari.
Bu Atin juga terbangun, ia kaget melihat tangan Hara berlumuran darah bahkan menetes di lantas di samping pot.
“Tuhan .... Nak darahnya banyak bangat! Kamu tidak apa-apa?”
Hara melepaskan tangan Leon, ia berdiri dengan wajah yang pucat di depan Bu Atin.
“Ibu, aku minta maat karena merusak pohon ibu, aku bersalah.” Hara menundukkan kepala di hadapan ibu mertuanya dan tumbang.
“Hara!” teriak Bu Atin.
Leon mengangkat tubuh Hara ke kamar rawat, tangannya benar-benar terluka, bahkan satu kukunya nyaris terlepas saat ia membuka paksa kawat-kawat itu dari pohon bonsai tersebut.
“Oh Tuhan kukunya terbuka, itu pasti sangat sakit . Bagaimana kamu menahan rasa sakit itu tadi, aduh Hara …” Bu Atin ngeri melihat luka di tangan Hara.
“Zidan tolong ambilkan kapas dan alkohol.”
Ken dan Zidan ikut membantu Leon, ia membuka kotak obat dan mengeluarkan kapas. Saat di bersihkan darahnya, luka di tangannya lumayan parah.
Tidak lama kemudian perawat yang bertugas di rumah Leon bangun, perawat baru yang mengantikan Clara namanya Kikan.
“Biar saya Pak,” ucapnya kemudian, ia mengambil alih.
“Kukunya hampir terpotek, bungkus saja sus, jarinya,” ujar Bu Atin.
Tidak terbayang, betapa sakitnya yang Hara rasakan saat kawat-kawat itu menghujami telapak tangannya, tetapi ia seolah-olah tidak merasakannya rasa sakit, karena rasa bersalah yang ia pikul.
Kikan terpaksa membungkus telapak tangannya dengan kain kasa, karena hampir semua bagian telapak tangan dua-duanya terluka dan dia juga masih belum sadarkan diri.
“Ibu mungkin pusing Pak, karena kurang istirahat dan terlalu banyak menangis makanya pingsan, saya akan memasang infus , mau di pasang di kamar apa di sini saja, Pak Leon ?”
“Pasang di kamar kami saja.”
Leon mengendong Hara dari kamar perawatan ke kamar mereka.
“Apa yang terjadi, Bu?” Tanya Ken setelah Leon naik.
“Aku sudah bilang sama Leon, agar tidak usah mengatakan apa-apa sama Hara. Tapi dia susah di kasih tahu,” ujar Bu Atin.
“Apa Bos marah sama Nona Hara, Bu?”
“Dia menegur Hara karena merusak pohon bonsai milik Ibu, sebenarnya, bukan merusak dia mengikatnya dengan kawat, Ibu juga sudah bilang tidak apa-apa.”
Zidan datang membawa tang melepaskan ikatan kawat yang mengikat dahan pohon bonsai tersebut, melihat tetesan darah, Ken juga mengambil kain pel membersihkan tetesan darah tangan Hara.
__ADS_1
Di dalam kamar Hara masih belum bangun, tidak lama kemudian , Bu Atin datang membawa minyak angin.
“Tidak apa-apa Bu, kata suster tadi dia hanya terlalu panik makanya pingsan. Ibu istirahat saja.”
“ Baiklah.”
Bu Atin tidak ingin Leon semakin merasa bersalah, makannya ia tidak menyingung soal nasihatnya malam itu.
“Ibu istirahat saja ini sudah pagi, "ujar Leon.
" Baiklah kalau begitu."
Bu Atin meninggalkan kamar Leon, Leon mengoleskan minyak angin ke hidung Hara. Tiba-tiba Hara mengigau minta maaf pada Leon.
“Aku minta maaf Leon ,aku tidak sengaja merusak tanaman Ibu, maafkan aku ….,” ujarnya lagi.
“Hara ... tidak apa-apa, bangunlah.”
Hara terbangun.
“Aku bermimpi merusak tanaman kesayangan Ibu dan bermimpi melakukan hal yang melakukan padamu,” ujar Hara ia membuka mata.
“Hara , aku tidak marah, aku hanya menasihatimu tadi, sayang jangan dipikirkan lagi.”
Hara melihat tangannya dan menyadari, kalau yang di lakukan bukan mimpi.
‘Oh, bukan mimpi sadarlah Hara, kamu mempermalukan suamimu di hadapan semua orang . Kamu mempermalukan dirimu sendiri’ setan-setan di dirinya mulai berbisik.
Ia mengalihkan wajahnya dari Leon, ia merasa bersalah, Hara jadi canggung pada Leon, bahkan tidak berani menatap wajah Leon lagi.
“Sayang, apa kamu ingin bubur, aku meminta ibu memasaknya,” ujar Leon wajahnya memelas, ia menyesal mengatakan itu tadi malam, ia juga setengah sadar menasehati Hara malam itu.
“Tidak usah Leon, aku istirahat saja,” ujarnya tatapan mata Hara. berubah.
'Aku malu pada Leon, pada ibu, pada semua anak buah Leon, Lain kali, aku akan menjaga sikapku'Hara membatin.
“Leon … aku minta maaf karena aku orang yang tidak tahu diri, kamu benar ..... Kamu sudah melakukan semua untukku, tapi aku malah membuatmu malu dan merusak tanaman kesayangan Ibu. Sungguh! Aku akan berubah ...." ujar Hara ber urai air mata.
“Sayang, tolong jangan membahasnya lagi. Aku yang salah,” ujar Leon memeluk tubuh Hara.
Hara tidur lagi, saat pagi tiba Leon ragu meninggalkan Hara karena mendadak bersikap asing pada Leon dan Bu Atin.
“Sayang, aku ingin kekantor apa aku boleh pergi?”
“Iya pergilah, tidak apa-apa apa,” ujar Hara tersenyum kaku.
__ADS_1
Bersambung
Bantu Like dan vote iya kakak semua.