Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Liburan Bersama Anak- anak.


__ADS_3

‘Cinta itu bukan perihal siapa di depan, siapa di belakang, bukan pula siapa pemimpin siapa yang dipimpin. Cinta itu ialah ketika bisa berjalan bersama tepat disampingnya, terutama dalam pasangan hidup.


Begitu juga dengan Hara, ia sempat kesal pada Leon, karena suaminya sudah berjanji padanya berapa kali akan menceritakan apa saja padanya dan anak-anaknya, tetapi belakangan ini Leon  mengingkarinya lagi, ia kembali tertutup dan jarang bicara.


Ia memilih berkorban perasaan dari pada bicara jujur pada Hara terlebih malam itu, saat Hara minta izin ingin pergi ke Jerman, ia tahu kalau Leon tidak ingin ia pergi, tetapi Leon mengijinkannya pergi.


Hara tadinya ingin membiarkan  bagaimana repot nya menjadi seorang ibu. Namun, ia berpikir lagi anak-anaknya yang jadi korban jika ia diam, lagi-lagi wanita cantik itu mengalah demi kebaikan rumah tangganya.


Setelah  duduk dalam kamar   dan memikir satu hal ia membuang keegoisan dalam dirinya.


‘Ini bukan tentang aku lagi, ini tentang anak-anakku,  semua akan tentang mereka’ Ujar Hara dalam hati.


Tadinya ia ingin membiarkan Leon mengurus anak-anaknya saat liburan itu, ia bilang ia bisa, tetapi Hara tidak melakukanya,  jika ia pergi,  sama halnya ia akan menyakiti anak-anaknya dan membuat  mereka  mengalami trauma  lagi.


“Baiklah Hara, ini untuk anak-anakmu.”


Ia kembali turun dari kamar hotel dan ikut duduk di tikar yang tadi dipesan Leon.


“Lah, katanya capek, sayang?”


“Rasa capek, marah, kecewa akan terus ada selagi kita masih hidup, tetapi aku akan mencoba  terus  berjalan demi anak-anak. Baiklah aku akan menerima  semuanya,” ucap Hara.


“Kamu masih marah?”


“Menurut kamu?” Hara menatap Leon dengan tatapan yang paling tajam yang dimilikinya, walau akhirnya bukanya garang Leon malah melihatnya dengan senyuman.


“Kok, kamu tertawa?” Hara mengangkat bibir atasnya dengan  raut kesal.


“Hara, kalau kamu marah bukannya orang takut,  tapi malah bikin orang gemas.” Leon  menyebut mirip salah satu anime Jepang yang filmnya pernah ia nonton dulu. ”Kamu mirip Hiruka dalam  film Mimoci, dia seorang gadis cantik,  tapi setiap kali ia marah bukanya galak malah terlihat lucu,” ucap Leon.


“Itu pujian apa pemberitahuan?’ Tanya Hara.


“Pujian.”


“Kalau pujian harusnya kasih senyuman  sedikit sebagai bumbunya jangan kaku seperti kenabo seperti itu Leon ....! Jika kamu kaku seperti itu lihat Okan dia mirip bangat seperti sifatmu, cuek, "ujar Hara.


“Itu sudah bawaan lahir Hara, susah mengubahnya,” keluh Leon.


“Aku tidak meminta kamu mengubah semuanya Leon, aku hanya meminta kamu cerita pengalaman hidupmu untuk anak-anak untukku dengan begitu anak-anakmu  tahu pengalaman hidup ayah mereka.”


“Sayang …. masa laluku suram.”


“Jangan ceritakan yang membahayakan otak mereka untuk saat ini, ceritakan yang ringan-ringan saja.”


Leon menggeleng.

__ADS_1


“Hadeh …. baiklah”Hara menghela napas panjang.


 Hara berpikir kalau ia menghukum suaminya  ia yakin Leon akan semakin kehilangan kepercayaan dirinya.


'Kenapa Leon kembali pada Leon yang dulu lagi kaku, okelah jangan paksa dia Hara beri dia waktu' Hara membatin.


“Apa kamu suka menonton film kartun sama anime?” Tanya Hara mengalihkan tofik.


“Iya, dulu sangat suka,  saat aku masih duduk di bangku SD.”


“Lalu sekarang?”


“Sekarang , sukanya sama kamu dan anak-anak,” ujar Leon, tetapi lagi-lagi wajahnya  datar tanpa senyuman.


‘Begini ternyata perubahan sikap seorang laki-laki kalau dia merasa malu pada pasangannya, aku tidak akan membiarkan dia kehilangan rasa percaya diri padaku’ Hara membatin lagi.


Saat lagi duduk santai di tepi pantai tiba-tiba.


“Ayah, sini lihat Abang menangkap cacing besar.”


Leon datang dengan mata melotot yang di tangkap bukan cacing  melainkan seekor ular berbisa.


“HAAA …?  Okan buang!” Leon dengan cepat merampas dan melemparnya jauh.


“Kenapa?” Hara melotot panik.


“Itu, bukan cacing .... itu ular berbisa,” ucap Leon dengan suara tertahan,  memegang dadanya yang  menderu  kencang.


“Apa ular itu menggigit tadi atau mematuk?” Tanya Leon memeriksa  bagian tubuh jagoannya.


Wajah Leon sampai pucat  ia merasa lutut kaki bergetar, melihat setiap sudut tubuh Okan, ia merasa lega. Karena Okan tidak dipatok.


“Tidak” Okan menggeleng ikut bingung.


“Apa itu berbahaya?” Hara menatap suaminya dengan serius.


“Itu ular laut sejenis belcher,  ular yang sangat berbisa,  dari mana kamu mendapatkannya, biasanya dia ada di pedalaman laut?” Leon menatap Okan dan Chelia bergantian.


“Abang nangkap di dekat bebatuan,” ucap Chelia.


“Untung para arwah leluhur menjaga mu Nak, kalau saja tadi kamu dipatok, Ayah tidak tahu mau bilang apa lagi,” ujar Leon  menyeka keringat di dahinya.


“Separah apa?”


“Berbahaya Hara ... hitungan menit tubuhnya akan  kejang,  detik kemudian kaku dan mati.”

__ADS_1


“Apa berbahaya dari Kobra?” Hara panik.


 “Lebih ganas dari kopra, kalau kobra masih dikasih waktu untuk mengobati, tetapi kalau yang satu ini,  tidak ada kesempatan untuk menolong.”


“Eh, ngeri, sudah kita istirahat dulu.” Hara memeluk Okan.


Leon masih mematung, pernah dua kali mendapat gigitan ular dan hampir kehilangan nyawa membuatnya mengenang masa saat di hutan dulu.


“Ayah, kenapa masih  diam, ayoo!” Chelia menarik tangan Leon.


Tidak ingin anak-anaknya dalam bahaya, Leon  mengeluarkan laptop dari mobil dan menunjukkan gambar-gambar jenis ular dan apa bahaya mereka.


“Jadi ular yang abang pegang tadi yang ini.” Leon  menunjuk gambar ular bercorak  garis,  antara hitam dan putih, ular  yang sangat berbahaya.


Kedua Kakak-beradik itu serius mendengar penjelasan dari ayah mereka.


“Apa Ayah pernah di gigit?” Tanya Chelia penasaran,  mulutnya mengunyah roti yang disuapin Hara.


“Iya.”


“Ha, kok Ayah tidak mati?” Tanya Okan  dengan wajah serius.


“Ada teman ayah yang mengobati,  makannya Ayah selamat, kalau tidak  diobatinya  bisa mati.”


Ungkapan bijak berkata;  Pengalaman adalah guru yang paling baik, Hara tidak pernah menjelaskan  bahaya ular karena ia tidak pernah bertemu ular.


Setelah Hara melotot pada suaminya, Leon akhirnya menceritakan sebagian kisah hidupnya pada anak-anaknya. Bagaimana ia bisa bertahan hidup di hutan tanpa ada pasokan makanan.


“Ayah, dulu orang miskin?” Tanya Chelia dengan  mata bulatnya menatap ayahnya penasaran.


“Tentu, Ayah sangat miskin.”


Wajah mereka berdua tampak sedih mendengar kisah ayah mereka yang pernah miskin.


“Kasihan Ayah,” ucap Chelia dengan mata berkaca-kaca , tangan mungilnya mengusap tangan Leon .


Leon dan Hara saling menatap,  Leon tidak tahu dengan  membagi pengalaman hidupnya pada anak-anaknya  akan menyentuh  hati kedua anak kembar itu.


Benar kata Hara ; Ada kalanya anak-anaknya tahu pengalaman hidup orang tuanya di masa lalu,  karena itulah yang dulu dilakukan kedua orang tua Jovita Hara padanya.


"Berbagi pengalaman dengan orang lain dengan begitu kita sudah memberi mereka ilmu. Apa kamu tidak tahu pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup," ujar Hara.


Terkadang pola pikir keduanya bertolak belakang dalam mengurus anak, pola pikir mantan Mafia vs arsitektur, tetapi Hara bisa mengatasinya perbedaan itu, ia selalu menasihati Leon.


Bersambung ….

__ADS_1


ulah yang diinginkan Hara dari suaminya, berbagi cerita dan menceritakan pengalaman hidup untuk anak-anaknya dengan  cara seperti itu anak-anak mereka akan  menjalin hubungan


__ADS_2