
Hara sudah pulang ke rumah.
“Hara kamu seorang model dan artis, kenapa harus mau kerja jadi pegawai hotel,” ujar Vicky lagi.
“Entahlah Om, bekerja di sana awalnya untuk masalah kontrak kerja, tetapi berapa lama aku merasa ada sesuatu di sana yang membuatku sangat nyaman,” ujar Hara.
"Apa ingatannya mulai pulih saat bersama Pak Leon?" Tanya BI Ina.
"Bisa jadi Bi .... Leon si brengsek itu sudah menorehkan banyak kenangan di hatinya, aku hanya takut dia terluka lagi jika dekat sama Leon. Karena perempuan yang bernama Bianca itu, masih mengejar - ejar Leon walaupun sudah ditolak Leon. Bahkan Hilda bilang. Leon sudah bicara baik-baik sama orang tuanya, tapi wanita itu tidak mau menyerah. Aku tidak ingin Hara terlibat diantara mereka." Piter tahu semuanya.
Hara membujuk Piter untuk menyelesaikan pekerjaannya di hotel, ia tidak ingin ada masalah kontrak lagi ke depannya, karena Hilda tidak mau menerima uang sebagai ganti pembatalan kontrak. Jadi Hara memutuskan untuk masuk kerja pagi itu, tubuhnya sudah pulih, tetapi sebenarnya ia ingin bertemu Leon
"Baiklah aku tidak ingin terlalu memaksa Hara." Piter mengalah.
Hara tidak mau sang bos khawatir padanya, karena Leon ingin menghadiahinya banyak bunga langka, ternyata hal itu membuat Hara memikirkan Leon selama ia di rumah sakit.
Hara tidak tahu pemilik hotel itu orang pernah dekat dengannya, orang yang pernah mengukir cinta dan luka di hatinya. Hara selalu menganggap Leon orang yang baik saat itu.
Saat Leon turun dari ruangannya, tiba-tiba Hara datang.
“Hara!? Dia masuk kerja?” Leon meminta, Ken, Zidan Bram meminta menjauh dan melakukan pekerjaannya tanpa dirinya pagi itu, karena ia akan jadi bos baik untuk Hara, dengan begitu ia bisa dekat dan setidaknya ia ingin melakukan kebaikan yang tidak sempat ia berikan pada Hara selama mereka bersama dulu. Saat Hara naik kelantai atas Leon sengaja menunggunya di koridor Hotel.
“Bapak, masih menginap di Hotel ini, Pak tidak pulang ke rumah ?” Tanya Hara tulus.
“Iya, apa kamu ada waktu Hara? Aku ingin bicara sebentar di taman atas,” ucap Leon.
“Tapi saya masih bekerja Pak,” Hara menolak, karena ia tipe wanita yang bertanggung jawab pada pekerjaan
“Aku sudah meminta izin pada Hilda”
“Oh baiklah, tapi apa hubungan Bapak dengan bu Hilda sampai-sampai kemarin bapak ikut berdiri di sana sana?”
“Iya hanya hubungan antara atasan dan bawahan,” ucap Leon.
Leon naik keatas, bunga-bunga yang akan ia hadiahkan untuk Hara sudah dipacking dengan rapi siap diantar.
Saat tiba diatas taman, Leon memintanya duduk
“Hara ini hadiahnya sudah rapi berikan alamat rumahmu, aku akan mengrimkan tanaman itu ke rumah”
Hara berdiri diam, hal yang tidak boleh ia lakukan tidak bisa memberikan alamat rumah mereka pada siapapun juga, karena itulah yang di amanatkan kedua lelaki itu padanya demi keselamatan mereka semua.
“ Saya susah dalam hal mengingat Pak, saya tidak tahu alamat tempat kami, bahkan paman yang menjagaku melarangku mengingatnya dan melarangku menghafalnya, biarkan saja di sini, nanti biar saya yang meminta om yang membawanya, nanti diantar kebawah saja biar mudah di bawa Om Piter.” Ucap Hara tidak mau memberikan alamatnya.
Leon tahu ia berbohong, terlihat ada ketakutan, saat ia minta alamatnya, sekarang ia paham Piter benar-benar menjaganya dengan sangat ketat, bahkan alamat rumahnya tidak di berikan.
“Baiklah aku akan menyuruh orang mengantarnya ke bawah, boleh aku bertanya hal yang lebih pribadi Hara?” Leon menatapnya dengan tatapan serius
“Kenapa tadi malam kamu lari dari kamarku, padahal aku tidak melakukan apa-apa”
Hara malu, saat Leon menyingung tentang malam itu.
__ADS_1
“Pak, maafkan aku malam itu, kalau aku tidak sopan tertidur karena minum obat sakit kepala , tentang pakaianku, lupakan, maksudku lupakan tentang malam itu, itu semua tidak sengaja”
Hara tidak ingin masalah itu di bahas lagi ia melemparkan pertanyaan yang lain dan obrolan yang lain saat Leon bertanya tentang hal yang pribadi termasuk tentang Piter dan pamannya Vikky. Hara tidak suka. Akhirnya Leon menahan diri tidak bertanya lagi tentang mereka.
“Ini untuk kamu” Leon memberinya Tote bag.
“Apa ini?”
“Bukankah kemarin kamu bilang ingin membeli gaun yang sama dengan teman-temanmu” ucap Leon memberikan bag berwarna hitam, dengan logo merek terkenal, Leon tidak perlu mengukur badan Hara untuk membeli sebuah gaun, ia bisa tahu dengan persis ukuran badan Hara.
“Aku bisa membelinya Pak, apa bapak berpikir aku bekerja keras ….”
“Aku tahu kami seorang model dan artis, tetapi aku membelinya sebagai teman”
“ Ok baiklah, tapi apa Bapak tahu ukuran badan saya?”
“Hanya melihatnya saja aku bisa langsung tahu Hara” ucap Leon.
Leon berpikir walau Hara tidak mengingat siapa dirinya setidaknya ia berusaha, Leon berpikir dengan apa yang di lakukan saat ini, bisa mengurangi rasa bersalahnya pada wanita itu karena meninggalkannya saat ia terpuruk.
Saat ia ingin mengobrol banyak dengan Hara, sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
Maxell videocall
“Sebentar iya Pak, teman saya menelepon”
Wajah Leon langung menegang ia berdiri membelakangi Hara.
“Hai Kak Axell,” sapa Hara .
“Aku kerja”
“Wow Jakarta I love Jakarta. Kapan aku kembali ke kota macet itu lagi.” Hara tertawa dengan julukan kota macet, sangat berbeda saat mereka tinggal di Jepang, jarang mereka menemukan kemacetan semua di lakukan naik kereta cepat bahkan menempuh dengan berjalan kaki.
“Kapan saja boleh, sekarang juga bisa,” ujar Hara, kuping Leon makin kepanasan . Ingin rasanya ia mencium bibir Hara di depan Maxell, ia ingin menunjukkan kalau ia lebih berhak untuk Hara karena Hara masih memakai cincin lamaran darinya, itu juga yang ingin ia tanyakan tadi. Tetapi Hara engan membahas tentang keluarganya pada Leon.
“Hara ….” Maxell ragu mengatakannya.
“Iya Kak”
“Bulan depan aku libur, aku ingin datang ke Jakarta apa boleh?”
Hara tertawa kecil. “Tentu saja boleh Kak”
“Tapi apa kamu tidak senang, wajahmu tampak sangat kaku, apa kamu sedang sibuk?” Tanya Maxell ia menyadari beberapa hari belakangan Hara terlihat berbeda, Hara seolah-olah ingin menjauh darinya
“Aku sedang kerja Kak, nanti kita sambung di rumah iya”
“Ok. Ok, by”Hara menutup teleponnya.
Hara mendekati Leon.
__ADS_1
“Maaf Pak, aku harus turun hotel lagi ada acara, lagi tidak bisa di tinggalkan, tapi terimakasih untuk gaun yang indah unu, tapi ngomong-ngomong tidak ada yang marah, kan? Maksudku tidak ada wanita yang marah nanti saat Pak Naga memberikan ini untukku” tanya Hara matanya menunggu jawaban yang pasti.
“Tidak ada” jawab Leon tetapi dadanya sangat sakit, ia memilih diam.
‘Pak Leon baik’ ujar Hara turun.
Tapi rasa mengagumi kebaikan Leon sepertinya, akan ditata ulang lagi, saat Hara sedang mengatur anak-anak bawahannya, mengatur tata letak pot-pot bunga di lantai dasar, tiba-tiba dua orang wanita datang dari pintu utama, tak lain adalah ibu angkat Leon bu Atin dan Bianca.
“Non Hara …” Wanita paru baya itu terkejut karena melihat Hara, selama ini Leon tidak memberitahukan kalau Hara bekerja di hotel.
“Iya Bu ada yang bisa saya bantu?”
Tapi belum juga di jawab, tapi Leon sudah datang. Leon turun juga, ingin rapat di restauran di gedung sebelah Hotel
“Mas Leon,” panggil Bianca yang berdiri di samping Hara mereka bertiga menatap Leon bersamaan.
Dari situlah awal kekecewaan Hara padanya.
Leon tidak pernah menduga kalau Ibunya dan Bianca akan datang ke Hotel tanpa mengabarinya, biasanya ibunya selalu meminta izin padanya kalau ingin melakukan apa-apa.
“Ibu? Ada apa ibu ke sini?” Leon mendekat mendengar kata Ibu, Hara membatu kalau ia berada di dekat orang tua orang yang baru memberinya kejutan.
“Mas Leon sudah pulang dari China tidak mengabari aku dan Ibu” ucap Bianca bergelayut manja di lengan Leon.
Hara masih dalam kebingungan, tapi sebagai seorang pegawai ia siap melayani tamu yang datang ke Hotel, tidak perduli mereka siapa, tugasnya hanya membantu dan memberi kenyamanan pada tamu yang datang.
“Silahkan tunggu di kursi tamu Bu,” ucap Hara tenang.
Leon menatapnya dengan tatapan serba salah, ia baru saja tertangkap basah di depan Hara, padahal ia ingin membahagiakan wanita itu, ia ingin membuatnya senang dengan caranya.
'Bukannya , Ibu bilang tidak suka Bianca?Apa yang dilakukan wanita ini sama Ibu sampai mereka bisa dekat lagi?' Leon mengusap wajahnya dengan Kasar.
Tapi sepertinya, Leon akan bersiap kalau akan dijauhi Hara mulai detik itu. Karena Hara berpikir orang yang memberinya kejutan manis lelaki yang sudah memiliki istri.
' Sebenarnya tidak mengapa karena aku juga sudah punya Maxell' ujar Hara, hatinya kembali kecewa pada Leon.
Saat Leon menolak Bianca wanita itu tidak mau menyerah, ia menemui Bu Atin meminta maaf.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)