
Leon berangkat ke kantor, tadinya ia tidak ingin meninggalkan Hara, tetapi hari ini pertemuan penting untuk menandatangani surat kerja sama bisnis kapal pesiar yang Leon beli bekerja sama dengan rekan bisnisnya. Leon dan dua rekannya dari Indonesia yang ikut membeli sebuah kapal pesiar yang seharga triliunan. Leon ingin mencoba memperluas kerajaan bisnisnya di bidang tranportasi, ia juga berencana membuka sebuah restoran asia di kapal pesiar tersebut.
Dalam perjalanan ke lokasi pertemuan, Leon bagai raga tak punya jiwa, ia hanya diam bagai mayat hidup , pikiranya hanya tertuju pada Jovita Hara.
‘Harusnya aku mendengar kataa ibu tadi malam, harusnya aku langsung tidur saja malam itu. Aku tidak ingin melihat, tatapan matanya yang menatapku seperti orang asing membuat hatiku sakit’ ujar Leon dalam hatinya.
Ia bahkan tidak serapan dari rumah, penampilannya pagi ini tidak rapi seperti biasa. Biasanya Hara yang selalu merapikan penampilannya dan memilihkan pakaian yang dipakai. Tetapi tadi pagi, Hara hanya tidur, bahkan ia tidak melihat Leon saat berangkat kerja.
Melihat sang Bos seperti mayat hidup, Ken, membuka kulkas, untungnya Santi asisten rumah tangga Leon, selalu mengecek persedian cemilan dan minuman dalam mobil kerja Leon, pagi ini karena Leon tidak serapan dari rumah Bu Atin memintanya memasukkan stok roti dalam kulkas mini mobil Leon.
“Bos, mau saya sedu kopi?”Ranya Ken.
Leon menoleh.
“Boleh”
Wajah Ken lansung bersemangat, ia menyalahkan teko pemanas air dan menyeduh kopi dan meletakkan di samping Leon, ia juga membuka kulkas mengeluarkan sepotong roti.
“Bosm silahkan serapan dulu, karena kita tidak punya banyak waktu untuk pertemuan”
Leon mengangguk ia tidak membantah, meneguk kopi buatan Ken, betapa beruntungnya seorang Leon memiliki orang-orang yang sangat setia padanya.
Dalam mobil mereka semua hanya diam, tidak lama kemudian tiba di sebuah hotel, di daerah Kepala Gading Jakarta Utara.
“Bos, boleh saya rapikan dasinya?” Tanya Zidan.
Leon hanya mengangguk, sebelum masuk ke dalam pertemuan Zidan tidak ingin bosnya terlihat berantakan, jadi ia merapikan dasi Leon. Ken dan Zidan sudah bagian dari hidup Leon, mereka berdua sudah tahu tidak perlu harus bicara.
Leon masuk bersama Zidan dan Ken menandatangangani kesepakatan, jika yang lain datang dengan sekretarisnya yang cantik-cantik , tetapi kalau Leon datang dengan dua lelaki tampan sekretarisnya Kaila, hanya jadi pajangan saja di kantor. Bram dan Vincint membagi tugas satu ke hotel satu lagi restaurant yang baru dibuka.
*
Sementara di rumah. Hara mengurung diri di dalam kamar, ia semakin malu atas kejadian tadi pagi.
Ia menatap tangannya yang di balut dengan kain kasa, ia hanya duduk dalam diam di tempat tidur.
Tidak lama kemudian Bu Atin datang, ia membawa serapan ke kamar Hara, karena ia tidak turun-turun. Ketukan pintu membangun Hara dari lamunan.
“Boleh ibu masuk, Nak?”
“Iya, Bu.”
Bu Atin meletakkan nampan di atas nakas, Hara hanya menunduk merasa tidak enak.
“Apa ibu melakukan kesalahan?”
Hara mendongak lagi-lagi air matanya tumpah, ia mengeleng.
“Aku malu, Bu”
“Malu sama siapa Bu”
“Sama semua orang di rumah ini, aku berprilaku seperti wanita yang tidak berpendidikan, karena mabuk-mabukkan”
“Tidak ada yang berpikir seperti itu Nak, itu hanya kamu yang merasa seperti itu. Ibu sayang sama kamu, semua orang di rumah ini sayang sama kamu”
“Justru itu Bu, semua orang sayang padaku, tetapi aku tidak bisa menjaga sikap”
“Hara apa yang kamu lakukan itu masih batas wajar, kamu mabuk pagi itu karena kamu kebablasan, udah itu saja, tentang kamu yang mengoceh da ribut-ribu mereka maklum, karena kamu mabuk”
__ADS_1
“Tetap saja Bu, pasti dalam pikiran meraka aku wanita yang suka minum, maafkan aku Bu”
“Sudah tidak apa-apa jangan dibahas lagi mari lupakan itu, itu hanya pohon, kamu serapan iya.” Hara mengangguk.
Melihat sikap Hara yang bersikap sungkan padanya, Bu Atin memilih, memberi Hara waktunya. Ia keluar dari kamar menantunya.
Setelah selesai makan Hara membuka bok medis, di dalamnya da banyak jarum suntik dan Vitamin, ia memasukkannya ke dalam kantong plastik, lalu membuangnya. Ia berpikir jika ia melihat hatinya semakin berharap.
‘Aku tidak akan berharap banyak lagi dengan obat-obatan ini, jika di beri aku akan sangat bersyukur jika belum iya sudah aku akan dia,’
Ponsel Hara berdering, saat ia menolah Leon menelepon panggilan video call dari Leon, Hara diam.
Tidak ingin mengecewakan suami lagi , Hara menekan tombol hijau.
“ belum bangun, tadi?” Tanya Leon di ujung telepon.
“Sudah tadi, lagi beres- beres kamar”
“Sudah makan?”
“Sudah …. Leon aku ingin keluar sebentar, aku ingin cari angin”
Leon diam, ia sangat khawatir kalau Hara keluar dalam keadaan seperti itu. Tetapi, kalau ia melarang ia takut Hara berpikir ia menekannya.
“Baiklah, tunggu aku iya, kita akan keluar”
“Tidak usah, aku hanya ingin jalan sebentar hanya ingin beli barang”
“Baiklah, apa aku perlu transfer untuk kamu belanja?”
“Tidak usah, aku masih ada tabungan”
Hara menggeleng, “Aku ingin menikmati waktu sendiri saja Leon”
“Tapi tanganmu masih sakit Hara, bagaimana kamu menyetir?”
Hara menunjukkan telapak tangannnya yang sudah di buka.
“Hanya luka kecil tidak apa-apa”
‘Aku bukan gadis manja Leon, aku gadis kuat, aku akan berusaha seperti yang kamu inginkan’ ucap Hara dalam hati.
Leon tidak tahu harus berkata apa lalu diam.” Baiklah hati-hati”
Hara menutup teleponya, ia menelepon Bram meminta untuk mengikuti Hara dari belakang.
“Aku tidak ingin kamu berubah Hara, baiklah mungkin kamu hanya marah hari ini , tapi jangan lama-lama,” ujar Leon.
Hara berganti pakaian dan turun ke bawah.
“Bu Aku keluarg sebentar, iya”
“Hara, mau kemana Nak? Nanti kalau suami menelepon ibu bilang Apa?”
“Aku sudah kabari dia ,Bu”
“Aku hanya cari angin segar Bu”
“Diantar Pak Maman, Iya?”
__ADS_1
“Tidak usah Bu, aku bawa mobil sendiri saja”
“Tapi tanganmu terluka Nak”
“Tidak apa-apa Bu Hanya luka kecil saja”
Hara mengeluarkan mobil dan menyetir ke semua tokoh tanaman ia membeli tanaman hias yang ia rusak dan meminta lima orang kuli untuk membongkar tanaman yang di depan rumahnya yang ia kerjakan kemarin.
JovitaHara mengembalikannya seperti semula. Bu Atin hanya diam ai tidak berani mengatakan apa-apa, semua asisten rumah tangga juga hanya diam. Saat berdiri tiba-tiba Hara ingin tumbang ia tiba-tiba merasa pusing.
“Hara, kamu tidak apa-apa Nak?”
“Hanya pusing sedikit Bu. Ibu taman rumah Leo aku balikkin seperti semula iya Bu”
“Rumah Leon, rumah Juga Nak kamu istrinya,”ucap Bu Atin.
“Iya Bu”
Bu Atin menelepon Leon memvideokan semua pekerja yang membonkar tanaman itu.
“Apa yang dia lakukan, Bu?”
“Di mengembalikan tanaman itu seperti semula.”
“Baiklah Bu, sebentar lagi aku akan pulang”
“Nak, jangan katakan apapun padanya, Ibu sedih melihat tatapan matanya ke Ibu, dia mengangap dirinya hanya menumpang di rumah ini, ibu sedih melihatnya”
“Jangan khawatir Bu, nanti juga dia akan pulih lagi,” ujar Leon, lalu ia menutup teleponya.
Sementara Hara, ia menyewa satu mobil box lalu membawa semua tanaman itu ke Bogor meletakkan di makam keluarganya.
“Ibu Maaf membuatmu malu, aku ingin sperti ibu, wanita yang anggun dan istri yang baik” ujar Hara duduk. Ia baru menyadaria kalau di makam ibunya ada bunga yang baru di letakkan.
‘Siapa yang datang ke sini? Apa Leon?
Bram mengikuti Hara sampai ke pemakaman, mengambil gambar lalu mengirimnya ke Leon.
Leon menelepon Bram agar mengawasi Hara terus.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)