
Senam pagi yang di lakukan Jovita pagi ini hampir membuatnya kehilangan nyawa.
“Kamu akan tetap di sini maka itu, persiapkan dirimu,” ucap Leon, Lelaki itu marah karena membiarkan tubuh cantiknya jadi tontonan semua anak buahnya pagi itu.
“Bodoh,” jawab Jovita ia masuk ke kamarnya, lalu ia keluar lagi tentunya telah menggunakan pakaian yang layak dan merapikan peralatan senam yang ia pakai.
Leon masih berdiri di tepi kolam mengawasinya membereskan matras senam yang ia gunakan.
“Uda cepat bereskan tidak usah lirik kanan, lirik kiri. Mereka semua sudah saya pindahkan ke halaman belakang,” ujar Leon sinis, ia berpikir Jovita mencari anak buahnya yang sedari tadi menonton gerakan senam yang ia tunjukkan.
“Aiiis dasar …. Ular naga, saudaranya Lucifer, kulkas dua pintu, manusia kutub utara. Kenapa sih dia tidak pernah bersikap lembut padaku, giliran sama wanita-wanita lain dia bisa bersikap manis dan mau tersenyum. Giliran samaku aja mulutnya tajam, dia bilang jangan saling perduli, giliran diacuhkan dia marah -marah …
Oh Tuhan hidupku berat,” ujar Jovita mendumal dan merepet sepanjang ia membereskan peralatan senam itu.
Matahari sudah mulai sangat terik membakar kulit, saat ia berdiri, tiba-tiba pandangannya gelap dan kepalanya sangat pusing. Tubuhnya berdiri di membelakangi kolam, tiba-tiba jatuh ke kolam renang.
Leon berpikir kalau Jovita hanya ingin berenang.
“Sudah ngapain lagi berenang? Ini sudah jam berapa teriak Leon dari ujung kolam renang.
Ia tidak sadar, kalau Jovita ingin mati karena panik, ia memukul-mukul air kolam renang karena tidak bisa berenang, Leon malah menganggapnya bercanda.
Untung Toni menoleh kebelakang saat mereka berbaris di samping rumah.
“Jovita …! Dia tidak bisa berenang.” Toni berlari dan melompat ke dalam kolam renang. Apa yang di lakukan Toni mengalihkan perhatian semua anak buah Leon, mereka menonton Toni yang mengangkat tubuh Jovita yang sudah lemas. Sementara si Ular Naga berdiri dengan tatapan bingung, ia lupa kalau Jovita tidak bisa berenang dan punya trauma dengan kolam renang.
Toni mengangkat tubuh Jovita ke sisi kolam renang, dan memberinya pertolongan pertama memompa dadanya dengan kedua telapak tangannya. Tidak ada reaksi pada akhirnya tanpa sadar Toni memberinya napas buatan.
“WoooW …..” Mata anak buah Leon mengarah pada sang bos yang hanya berdiri mematung. Tetapi kali ini ia tidak marah, karena itu kesalahannya juga.
Bi Atin berlari mendekati tubuh Jovita.
Membantu Toni, akhirnya ia terbatuk-batuk air dan memuntahkan semua air yang ia minum.
“Apa yang terjadi Non?” Leon juga mendekat.
“Kepalaku tiba-tiba sangat pusing Bi dan pandanganku sangat gelap”
“Itu karena kamu terlalu memforsir tenaga mu tadi saat melakukan senam, terik begini. Harusnya karena kamu sudah lama tidak olah raga , gerakan santai dulu, agar tubuh tidak kaget,” ujar Toni.
“Iya, Kak Toni benar aku melakukannya terlalu lama tadi, aku masih merasa pusing.” Toni dan Bi Atin membantunya ke kamar
Sementara Leon diam merasa bodoh karena tidak menyadari kalau Jovita dalam bahaya tadi.
__ADS_1
“Terimakasih Kak Toni,” ucap Jovita memegang telapak tangan Toni.
“Baiklah istirahatlah.” Toni keluar dengan tubuh basah kuyup.
Setelah berganti pakaian.
Jovita istirahat di kamar, tidak berapa lama ia berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah, olah raga pagi itu membuatnya hampir mati, kalau saja Toni tidak datang dengan cepat mungkin Jovita sudah menyusul keluarganya ke alam baka.
Leon datang juga setelah Toni dan Bi Atin keluar, ia menghampirinya ke kamar mandi.
“Kamu tidak apa-apa?” Leon mendekat.
“Tidak apa-apa hanya pusing, Bapak keluar saja dari sini.” Jovita memegangi kepalanya, Leon dengan cepat mengambil obat gosok menggosok ke leher bagian belakangnya.
“Bapak keluar saja biar saya yang mengolesi” Ia tidak ingin melihat si ular Naga .
Leon tidak menghiraukan usiran Jovita padanya, ia mengusap-usap pundak Jovita dan membatunya kembali ke ranjang.
“ Oh itu tadi saya lupa kalau kamu tidak bisa berenang .... Baiklah, saya keluar nanti bibi yang saya suruh ke sini.” Leon meninggalkan Jovita di kamarnya.
“Baiklah.”
Hanya itu yang ia ucapkan sebesar apapun kepanikannya yang Leon rasakan, tidak akan mengucapkan kata maaf.
*
“Harusnya aku berolah raga dari dulu, jadi kejadian seperti ini, tidak akan terjadi, aku pusing karena tidak pernah olahraga lagi, mungkin badanku kaget tiba-tiba melakukan olah raga berat,” ucap Jovita setelah Leon keluar dari kamarnya.
Ia hanya bisa berbaring di ranjang menutup wajahnya dengan punggung tangan, baru sebentar berbaring ia balik lagi ke kamar mandi memuntahkan semua isi perutnya bahkan cairan warna hijau pekat, ia keluarkan rasanya pahit dan langsung lemas.
Suara ketukan pintu terdengar
Tok … Tok …!
“Non ini bibi masuk iya” Bi Atin mendorong pintu, Jovita tidak ada “ Non,apa kamu di dalam kamar mandi?” Ia mendorong pintu kamar mandi melihat Jovita duduk di lantai dengan wajah pucat. Bi atin memapahnya lagi ke tempat tidur memberinya obat.
Baru sebentar minum obat, ia akhirnya tidur, wanita itu meninggalkan kamar Jovita setelah memberinya obat dan merapikan kamar itu. Ia ke kamar Leon memberi laporan, karena Leon yang meminta Bu Atin merawat Jovita.
“Apa penyakit Bi, apa penyakit kambuh lagi, Bi?” tanya Leon pura-pura bersikap acuh, matanya menatap buku yang di pegang.
“Hanya masuk angin Pak. jangan Khawatir, Bibi sudah memberinya obat dan ia sudah tidur,” Bi menatap dengan serius, ia ingin bilang agar Leon bisa menerima Jovita dan memperlakukannya dengan baik,
“Ada apa Bi?”
Bi Atin ingin mengatakan sesuatu, tetapi melihat wajah Leon yang terlihat lebih khawatir, ia urung menasehatinya , ia tidak mau di bilang terlalu ikut campur.
__ADS_1
“Tidak ada apa-apa.” Wanita paruh baya itu mengambil pakaian kotor Leon dan keluar dari kamar. Leon meletakkan buku dan menarik napas panjang di depan semua orang Leon bersikap acuh pada Jovita membuat orang yang melihatnya jadi ikut bingung.
Leon mengangkat gagang telepon di atas nakas.
“Rikko.Hubungi Nana minta di kirim Lana ke sini lagi ,” ujar Leon, mendengar itu itu wajah Rikko langsung berubah, ia beberapa kali menghela napas panjang dan menatap Toni.
“Baik Bos”
‘Kenapa memanggil wanita itu lagi? Apa karena Toni tadi memberi napas buatan pada Jovita membuat Bos marah?’ Rikko menimang-nimang dalam otaknya.
Leon turun ke ruangan pertemuan, satu ruangan yang ia perhususkan untuk mengadakan pertemuan penting untuk anak buahnya
“Pak Ketua ingin bertemu denganku malam ini, saya akan pergi dengan Iwan dan enam orang dari kalian, Lana akan mendampingiku. Kita akan berangkat malam ini, lelaki tua itu mengundang saya makan malam. Toni dan Rikko kalian tetap menjaga markas jangan lengang sedikitpun.
“Baik Bos,” jawab Toni dan Rikko bersamaan. Rikko paham tujuannya memanggil dayang-dayang itu lagi, Leon tidak ingin membawa Jovita ke dalam bahaya.
“Satu hal lagi yang paling penting. Pak ketua ingin saya membawa Jovita. Ia berpikir kalau Jovita calon istriku. Tetapi aku tidak mau membawanya menemui ketua. Jadi, kalian semua ingat. Lana adalah Jovita”
“Baik Bos”
“Bila dia bertanya tentang Jovita katakan saja Iya, Ketua belum pernah bertemu Lana” ujar Leon melirik Iwan.
Wajah Iwan menegang, menemui bos mafia nomor satu itu selalu membuat semua orang ketakutan dan was-was, karena salah sedikit bicara bisa-bisa pulang dari rumahnya tidak bernyawa lagi.
Wajah Leon terlihat tidak bersemangat, ia akan selalu merasa tidak tenang jika akan bertemu dengan pak Tua itu. Apa lagi ia membawa wanita yang salah. Ia tau kalau lelaki tua itu sudah mendengar tentang Jovita wanita yang ia lindungi.
Kalau pak ketua itu ingin Jovita lah yang ingin di bawa bukan Lana, entah apa jadinya nanti kalau ia tau kalau wanita itu wanita yang salah.
Bersambung ….
jANGAN LUPA!!! … VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR AUTOR SEMANGAT
, Makasih, kakak semua”
DAN
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1