Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Vikky Memilih bahagia dengan caranya


__ADS_3

Satu tahun kemudian, rumah Leon benar-benar ramai setelah kelahiran putranya.


Kedua  anak kembar Chelia dan Okan seakan-akan mendapat mainan baru.  Pulang dari sekolah mereka berdua lansung   ke kamar baby gembul itu, adek laki-lakinya yang berwajah gendut bak bakpao, wajah yang mengemaskan menyebabkan, kedua sudaranya, si kembar selalu berebut dan mengajak bermain dan membuatnya menangis.


Hara sudah terbiasa dengan suara tangisan didominasi dengan suara kekehan dari  kakak dan abangnya, ia selalu di buat jadi bahan bercadaan oleh kedua saudaranya. Kalau ditemui sedang tidur saat mereka pulang sekolah, hal itu tidak akan menjadikan mereka berhenti, diganguin sampai bangun. Dengan adanya adek lelakinya Okan berubah, ia tidak lagi, seorang lelaki yang pendiam kaku dan cuek, tetapi ia berubah jadi seorang Kakak tertua yang baik.


Kedua anak kembar itu, Seakan –akan punya hiburan . Leon dan Hara hanya tertawa saat mereka berlarian dan menjadikan adik kecil mereka jadi bahan candaan.


“Terima kasih sayang,” ucap Leo mengecup pundak Hara.



“Untuk apa?”


“Untuk kebahagian yang tak ternilai harganya, ini,” ucap Leon dengan ripleks mendaratkan bibirnya di pipi Hara Hara membalasnya dengan kecupan di punggung tangan Leon.


“Terimakasih juga,  karena selama aku hamil dia, Ayah menjagaku dengan baik”


“Oh … hampir lupa lagi,  kita punya tugas yang dikatakan Chelia”


“Baiklah, kita akan menemui Paman Viky nanti”


                 *


Hari itu Chelia dan Oka sudah lulus akan melanjut kuliah.


Hara ingin mengunjungi rumah Piter untuk melihat keadaan Vikky, karena ayah Hara berpesan melalui mimpi Chelia, ayah meminta mereka melihat keadaan Omnya, Hara yakin keluarga satu - satu-satunya dari ayahnya tersebut terjadi sesuatu.

__ADS_1


Mengajak ketiga buah hatinya ke rumah Piter Hara dan Leon turun di rumah besar berlantai dua tersebut, dua orang anak laki-laki yag sedang bermain bola di halaman berlari menyambut mereka. Anak laki-laki bertubuh  tinggi besar, seumuran dengan Okan mereka adalah anak-anak Hilda dan Piter.


Saat duduk dan anak-anak bermain di luar, Hara mengungkapkan tujuannya,  datang ke rumah Piter.


“Om, maaf bukanya Hara ingin sok menasehati Paman Vikky,  tapi aku ingin menyampaikan pesan Ayah yang ingin melihat  keadaan Paman Vikky,” ujar Hara pada Piter, pasangan suami istri itu, saling menatap ada beban di wajah mereka berdua.


“Om, ngerti Hara, tetapi Vikky sudah satu tahun ini, tidak tidak di sini lagi,  dia sudah pindah ke salah satu apartemen, lalu, dia … sudah salah jalan, maaf kalau om mengatakan ini,” ucap Piter terlihat ragu untuk mengucapkannya, ia menatap Hara dan Leon bergantian.


“Maksudnya Om?”


“Haaa … sebenarnya sulit om juga mau membicarakanya, karena aku menasehatinya, karena itu juga, dia  meninggalkan perusahaan”


“Paman juga  meninggalkan perusahaan?” Hara menatap dengan tatapan serius.


“Iya, Om sudah bicara pada Leon beberapa waktu lalu, tetapi kamu habis melahirkan tidak ingin banyak beban pikiran”


“Dia , mungkin sudah terlalu kecewa pada semua wanita, karena hampir semua wanita yang di kecani dan dia kenal semua menghianatinya dan membohonginya,  maka itu ia putus asa”


“Terus?” Hara menatap dengan tatapan tidak sabar.


“Dia menjalin hubungan yang salah dengan satu rekan kerja, seorang pria”


“Apaaa ….?”


Mata Hara terbelalak kaget, ia tidak menduga Pamanya melakukan kesalahan yang patal seperti itu lagi.


“Maaf Hara,  kalau Om tidak bisa menjaganya,” ujar Piter merasa bersalah.

__ADS_1


“Apa tidak ada jalan keluar lagi apa?  Masih banya wanita baik-baik di dunia ini, kenapa harus putus asa seperti itu, pantas ayah sampai tidak tenang di kuburanya, karena melihat adek satu-satunya mengambil jalan yang salah,” ujar Hara megeleng tidak percaya.


“Kami  beberapa bulan lalu, pergi menjemputnya ke apartemennya yang di Kelapa Gading, niat kami ingin membawanya pulang dan ingin mengenalkannya dengan seorang wanita, tetapi ia menolak mentah-mentah, ia bilang sudah nyaman dengan kedaannya yang sekarang, dan saat kami datang lagi, kata tetangganya sudah pindah ke Amerika  dan terahir dia …” Hilda menggantung kalimatnya ia menatap Hara dan suaminya bergantian seolah-olah sangat berat hati mengucapkannya.


“Apa Bi, ada apa?” Hara memburu dengan pertanyaan penasaran.


“Dia mengirim foto pernikahanya pada kami”


“Haaa?” Mata Hara melotot  dan mulut membelalak “ Iya ampun najis gilaaa, itu gila Bi, kenapa seperti itu,” rutuk Hara dengan sangat kesal seakan-akan tidak percaya dengan apa yang di dengar dari Piter.


“Ini Fotonya” Piter memperlihatkan foto pernikahan Viky, Hara terdiam ia merasa terpukul keluarga satu-satunya memilih jalan yang menurutnya sangat memalukan.


“Gila, apa paman tidak memikirkan perasaanki, apa dia tidak memikirkan bagaimana  nasip masa depannya, ayah pasti sangat sedih, pantas dia mengingatkan kami, ayah mengatakannya pada Chelia , karena aku habis melahirkan tidak ada kepikirkan sampai di situ,” ujar Hara mengusap buliran-buliran air yang membasahi pipinya.


“Sudah sayang, semua orang  menempuh kebahagian yang berbeda-beda,  walau hal itu salah, tetapi om sudah memilih jalannya sendiri,” ujar Leon mencoba  menenangkan Hara.


“Sebenarnya, aku dan Hilda sudah mencegahnya satu tahun lalu Hara, tetapi dia tetap kekeh memilih jalan itu, terus Om harus bagaimana, justru saat kami selalu mendatanginya dia jadi menghindar dan selalu berpindah-pinda, Om juga peduli padanya Hara, bagiku dia adek laki-lakiku, tetapi tidak semuanya bisa kita arahkan sesuai keinginan kita,” ujar Piter merasa ikut sedih.


Viky paman Hara memilih jalan kebahagiannya sendiri, walau di mata Tuhan dan di mata manusia yang ia pilih jalan salah, tetapi ia bilang kalau ia sudah bahagia menjalani hidupnya, saat Hara meneleponya ia meminta maaf,  karena membuat Hara malu atas keputusanya. Tetapi ia meminta Hara untuk menghargai apa yang jadi pilihan hidupnya. Terlalu banyak kekecewaan pada banyak wanita membuatnya memilih jalan yang membuatnya merasa dihargai dan dicintai. Viky memilih tinggal Amerika di mana orang seperti mereka di terima di sana.


‘Maaf Ayah, Hara tidak bisa menjalankan apa yang ayah inginkan, biarkan Paman Viky menjalankan hidupnya dengan caranya sendiri’ ucap  Hara dalam hatinya.


Keluarga Hara dan keluarga Piter berziarah ke makam orang tua Hara, Piter dan Hara meminta maaf pada ayahnya karena tidak bisa mengarahkan Viky.


“Tetapi Paman bilang, dia sudah bahagia bersama pilihannya Ayah, jangan pikirkan lagi, tidurlah dengan tenang,” ucap Hara membasuh wajahnya digundukan tanah milik keluarganya.


Hara sudah mendapatkan kebahagianya dengan memiliki rumah tangga yang harmonis dan  Piter juga dan terahir Toni memberi kabar kalau anaknya sudah lahir sepasang kembar laki-laki mereka semua mendapatkan kebahagian dengan jalan masing-masing

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2