Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Bahaya besar mengintai l


__ADS_3

Leon dan anak buahnya, dibuat sibuk atas hilangnya Jovita. Tidak tanggung-tanggung, Leon mengerahkan semua anak buahnya  yang di Jakarta, mencari ke setiap sudut kota di ibu kota, terlebih di daerah komplek perumahan elite di daerah Jakarta Selatan,   bekas rumah Jovita.


Mendengar penuturan Sam dan Niki, yang mengajarkan cara menggunakan senjata, Leon yakin Jovita melakukan hal nekat, karena di daftar riwayat panggilan telepon di seluler Pak Banas, ia menelepon kantor Firmansyah, untuk menyelidiki lelaki yang dulunya sahabat ayahnya.


Leon menempatkan orang-orangnya di bekas rumah Jovita, rumah yang diambil alih Leon sendiri, rumah yang dulunya ditempati keluarga Jovita  atau lebih tepatnya, rumah  di mana keluarganya di bantai atau dihabisi.



Leon yakin wanita cantik ini.


Akan  kembali ke rumahnya,  kalau ia  masih berada  di Jakarta.


*


Sementara Jovita, semua rencananya berubah, karena  yang di rencanakan dalam otaknya hanya ingin memberi Beny  dan Lestari pelajaran, Ternyata  ia tidak bisa  terbang  ke Jakarta karena tidak punya identitas diri.


Ia  malah terdampar ke Surabaya, karena   faktor keberuntungan  dan sekaligus memuluskan pelarian dari Leon.


Andai saja wanita itu tidak pingsan di depan pintu kamar mandi yang ia gunakan, sudah pasti anak buah Leon sudah  menangkapnya.


‘Tenang Jovita, mungkin kamu terbang ke sini ada tujuan lain’ ujar Jovita saat ia turun di Bandara Juanda.



Maka saat turun di bandara di Surabaya ini.


Ia langsung naik taxi,  dalam  otaknya hanya ada satu hotel tempat tujuannya, selain  harganya terjangkau.  Jovita juga punya kenangan bersama ibunya di sana.


Ibu Jovita seorang instruktur senam dan  sering sekali di panggil ke Surabaya untuk mengajar senam untuk istri-istri para pejabat di gedung kesenian di Surabaya.



Hotel Majapahit Surabaya


Di  sinilah Jovita  istirahat,  saat  sampai  di  Surabaya


Jovita  tiba di hotel saat sudah sore, karena harus memantau sekeliling dan membeli sebuah ponsel  baru juga, untuk ia gunakan menelepon Piter nantinya dan membeli perlengkapan lainnya menggunakan uang Zidan.


Duduk dalam kamar yang sama, yang pernah ia tempati bersama sang ibu membuatnya merasa rindu pada orang-orang yang sudah tiada lagi di dunia ini dan itu sangat menyakitkan.



**


Maka saat pagi tiba, ia  menyalakan televisi dan tidak sengaja melihat berita pagi itu.


Pembunuhan pada Firman dan dua orang mantan karyawan ayahnya.


Matanya menatap layar  telivisi tanpa berkedip,  orang terbunuh itu ada dalam daftar yang akan ia lenyap kan dengan tangannya  sendiri, ternyata saat ini sudah di lenyap kan seseorang, seolah-olah ia tidak ingin Jovita mengotori tangannya untuk membalaskan kematian keluarganya.


"Siapa?"Tanya Jovita melotot.


“Om Piter!” Hara melemparkan handuk yang ia pegang dan menyambar tas miliknya  dengan tangan gemetar,  ia menyalahkan ponselnya.


Menekan nomor Piter .


“Angkat Om …. Angkat please,” ujar Jovita sangat gugup.


“Halo”

__ADS_1



“OM Piter…. !? Hiks …. Hiks." Jovita langsung  meyambut dengan isak kan tangis.


“HARA ....!?”


“Ya, ini aku Om”


“Hara. Hara .... Dengar kamu di mana?”


“Di hotel di Surabaya a-a-aku’_


“ Hara. Apa kamu  melarikan diri dari Leon?”


“Kok Om tahu Leon?”


“Hara. Hara … Tenang, tenangkan dirimu,  jangan panik.-”


“Apa Om yang melakukannya?”


“Iya. Om sudah membaca pesan yang kamu kirim dan aku  marah pada mereka semua.


Dengar Hara …. Om ingin bertanya. Apa benar kamu bilang pada Beny kalau kamu melihat pembunuh keluargamu?"


"Iya Om, aku memang melihat mereka, walau memakai masker dan topi, tapi salah seorang dari mereka memiliki tato kepala harimau di otot lengan"


"Karena itulah hidup dalam bahaya Hara. Dengar ... Jangan lakukan apapun, aku tidak akan membiarkan kamu mengotori tanganmu dengan  darah manusia-manusia keparat itu. Serahkan semua sama om.


Maka itu. Jangan keluar dari kamar,  om akan  datang menemui kamu. Ingat. Jangan keluar dari hotel, pesan makan dari kamar saja," ujar Pinter di ujung telepon, ia panik


“Om, apa ada masalah?”


Sekarang .... Kamu harus hati-hati hati. Jangan keluar dari kamar saat ini, ada seseorang yang mengincar mu”


“Baik Om”


“Sekarang matikan ponselnya, jangan   menyalakannya”


“Baik Om”


Mendengar hal itu, tubuh Jovita  gemetar, ia menyesal mengaku melihat pembunuhnya pada Beny.


‘Ini namanya keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya.


Di sisi Lain, di mansion Leon,


Sebelum ia berangkat ke Jakarta, Zidan akhirnya bisa di temukan di  parkiran hotel arah bandara. Karena mabuk ia tidur  lama di dalam mobil, untung Jovita baik sebelum ia meninggalkan lelaki itu, ia membuka sedikit jendela mobil, maka saat siang hari  keadaan panas ia tidak mati   kepanasan dalam mobil.


Karena kedua sekuriti  yang  diminta Jovita  membangunkannya, lupa  membangun Zidan, lelaki itu tidur dengan waktu yang lama dalam mobilnya dan saat ini ia bawa paksa kehadapan Leon.


“Sekarang katakan apa yang terjadi Zidan!” Suara Leon tegas.


“Saya juga tidak tahu Bos”


“Jangan berbohong Zidan, camera dalam mobilmu menunjukkan Hara menyetir dan kamu duduk di depan”


“Hara siapa Bos?” Tanya Zidan bingung.


“Zidan, jangan biarkan saya menghajar mu juga. Katakan terus terang”

__ADS_1


Kinan memperlihatkan   gambar  mobil Zidan di kendarai Jovita dan Zidan duduk di depan dengan tenang.


“Dia siapa?” Tanya Zidan benar-benar bingung.


“Dia Non Hara, wanita Bos,” ucap Kinan mejelaskan dengan gamblang.


“Saya tidak kenal, melihatnya saja saya belum pernah,” ujar Zidan jujur.


“Apa tidak mengingat sesuatu?” Iwan ikut penasaran.


Zidan mencoba mengumpulkan potong-potongan ingatannya, di bantu rekaman  yang di berikan Kinan.


“Saya hanya mengingat saat  pulang  tadi malam kepalaku sangat pusing karena aku  mabuk, lalu saya turun untu buang air kecil lalu …. Iya! saya ingat seorang wanita cantik menggendongku ke mobil.” Alis Leon menyengit saat Zidan menyebut 'mengendong'.


Leon membayangkan tubuh mungil Jovita mengendong tubuh Zidan yang  tinggi besar seperti induk gajah


“Mengendong?’ Tanya Kinan mempertegas.


“Iya, samar-samar saya masih mengingat wajah cantiknya dan rambutnya panjangnya dan tubuhnya wangi,” ujar Zidan menutup mata  membayangkan  Jovita yang membopong tubuh  besarnya.



“OH, benar siapa wanita cantik ini? Wangi  dari tubuhnya, saya masih mengingatnya,” ujarnya berungkali, masih degan mata tertutup membuat  Leon semakin panas.


“Hentikan Bodoh! Saya tidak memintamu membayangkan bagaimana wangi tubuhnya  saya bertanya apa terjadi?” Teriak Leon marah, baginya Jovita miliknya seorang, tidak boleh ada yang menyentuh apalagi ingin memilikinya.


“Iya, hanya itu Bos, saya tidak ingat lagi dan saya kehilangan ponsel dan uang tunai lima juta”


“Pasti Jovita yang mengambil uangnya untuk ia gunakan selama pelarian. Sebaiknya  kamu mandi dan jernih kan otak udang mu!” Ujar Leon marah dan meninggalkan Zidan yang  masih  mencoba mengingat kejadian malam itu, tetapi samar- samar ia bisa mengingat  ucapan Jovita yang membantunya ke dalam mobil, lalu meminta tumpangan.


Zidan tersenyum kecil saat mengingat Jovita  kesusahan menggotong tubuhnya.


“Dia pasti wanita baik dan cantik,” ucapnya pelan.


“Gak usah,  menghayal  tentang gadis itu, dia milik Bos, lu gak tahu apa yang terjadi saat ini," ujar Kinan tidak mengalihkan  matanya dari computer.


“Kita akan kembali ke Jakarta," pinta Leon.


*


Saat tiba di Jakarta Leon tidak tanggung-tanggung, ia turun langsung untuk mencari Jovita, ia tahu Jovita dalam bahaya, Leon naik ke gedung atap sebuah hotel dan memantau apartemen Beny dari sana, ia yakin Jovita akan datang malam itu ke sana dan bisa menangkap untuk menyelamatkan nyawanya.



Bersambung ..


KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI


DAN AUTHORNYA


Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1



__ADS_2