
Menghabiskan perjalanan yang sangat panjang, puluhan jam akhirnya burung besi itu tiba juga di tanah air, di bandara Vincent dan Zidan sudah menunggu.
Saat tiba di bandara Hara tertidur, barang-barang mereka sudah di turunkan dari bagasi diangkat ke mobil.
“Bos mari.”
"Tunggu sepuluh menit lagi. Hara baru tidur."
“Baik Bos.” Ken dan Bram turun duluan menyapa rekannya.
“Bagaimana perjalanannya?"Tanya Vincen.
“Keren bangat, banyak wanita - wanita cantik,” ujar Ken.
“Aku sangat senang karena Nona Hara baik bangat,” ujar Bram.
“Iya, betul,” Ken ikut menimpali.
Saat mereka mengobrol Zidan hanya duduk di dalam mobil, matanya menatap ponselnya dengan cemas.
“Ada apa dengannya?” Tanya Ken.
“Biasa, patah hati.” ujar Vincent.
“Kenapa ?” Ken langsung Kepo.
“Clara katanya pulang ke Bandung?”
“Memang kenapa, berantem?”
“Tidak tahu, dr. Billy mengirim perawat baru mengantikan Clara.”
“Oh ….! Cantik tidak?"Bram dan Ken saling menatap, karena ada mangsa baru.
Tidak lama kemudian Leon keluar dari pesawat, ia tidak tega membangunkan istrinya yang terlelap tidur karena lelah, ia mengendong ke dalam mobil.
“Kita jalan.”
“Selamat datang di Jakarta kembali Bos,” ujar Vincen.
“Terimakasih. Bagaimana aman?”
“Aman Bos .” Vincen menggeser pintu mobil dan Leon masuk.
Leon masuk ke dalam limosin menidurkan tubuh Hara di sofa.
“Kalian mobil belakang.”
“Baik Bos.” Ken dan Bram berlari ke mobil di belakang. Leon tidak ingin istrinya terganggu saat tidur, karena itu ia meminta kedua lelaki itu untuk duduk di belakang walau sempit karena harus mengangkut koper.
Dalam mobil Hara masih tertidur terlelap perjalanan panjang membuatnya terlihat sangat lelah, melihat meja kerja Leon langsung membuka iPad di atas.
Saat tengah perjalanan Hara membuka mata, ia melihat Leon sudah mulai berkutat dengan pekerjaan.
“Oh … liburan sudah usai waktunya bekerja iya Bos.”
“Iya Tuan putri. Tidurlah,” jawab Leon menoleh istrinya sekilas laku ia berkutat dengan iPad di tangannya.
“Tidak bisa kamu besok mulai bekerja?”
“Apa aku menganggu?” Tanya Leon meletakkan iPad di tangannya.
__ADS_1
“Sini temani aku tidur.” Leon menyengitkan alisnya , tidak biasanya Hara bersikap seperti itu.
“Baiklah.” Leon merebahkan tubuhnya di samping Hara tubuhnya ia miringkan dan menatap wajah Hara.
“Apa kamu sedih karena liburannya sudah habis?”
“Besok kamu pasti sibuk lagi kan?”
“Iya.”
“Baiklah.” Hara menutup matanya kembali .
‘Kenapa dia jadi sedih seperti itu?’
Leon merasa napas Hara sangat hangat menyapu wajahnya saat ia menyentuh keningnya teryata tubuhnya sangat panas.
“Badanmu panas.”
“Iya kepalaku pusing.”
“Kamu tumbang juga.”
Leon membuka kotak obat dan memberikan obat penurun panas.
“Tidak ingin Hara bertambah parah, ia meminta Zidan membawa ke rumah sakit.
“Zidan beri tahu dr. Blly kita ke rumah sakit iya.”
“Kenapa Bos?” Vince kaget.
“Hara badannya panas bangat.”
“Baik Bos.”
“Ken dan Bram , pulang duluan ke rumah membawa barang-barang, nanti tanya bilang saja hanya flu biasa,”ujar Leon lewat telepon.
“Tidak apa-apa, jangan khawatir Pak Leon itu hal biasa tubuhnya hanya ingin beradaptasi dari cuaca dingin tiba-tiba di Jakarta cuaca tropis.”
“Tapi bukan karena kecapean kan?”
“ Itu juga satu penyebabnya Pak Leon, jangan khawatir tidak ada yang menghawatirkan.”
Hara terpaksa menginap satu malam di rumah sakit.
Saat zidan duduk di ruang tunggu tiba-tiba ia melihat Clara.
“Bukankah itu Clara Bro, tapi dia bilang dia ke Bandung?” Vincen duduk di samping Zidan.
“Dia tidak bilang kalau dia sudah di Jakarta.” Zidan diam.
“Clara!” Vincent memanggil wanita cantik tersebut.
Ia kaget melihat Zidan dan Vincen ada di rumah sakit, tetapi ia tidak bisa menghindar ia datang menghampiri mereka.
“ Zidan, Vincen …? Siapa yang sakit?”
“Nyonya bos.”
“Kapan balik ke Jakarta?” tanya Vincent
“Kemarin dan tadi pagi langsung bekerja.”
Zidan hanya diam, wajahnya terlihat kecewa.
“Aku balik kerja lagi iya,” ujar Clara wajahnya terlihat takut, ia takut tunangannya dr. Reza melihat dia bersama Zidan lagi. Ia buru-buru pergi.
__ADS_1
“Kamu diam aja Bro, tidak bertidak.”
“Apa yang aku lakukan, biarkan sajalah kalau itu pilihannya.”
“Ah … kamu payah. Setidaknya bertanya apa alasannya?”
Zidan berdiri ia menghampiri Clara.
“Clara ayo kita bicara sebentar.”
Wanita cantik itu melihat kanan-kiri, ia mau bicara dengan Zidan membawa pria tampan itu ke sebuah kantin rumah sakit.
“Kok kamu tidak bilang kalau kamu sudah tiba adi Jakarta?’
“Untuk apa Zidan?”
“Setidaknya kamu memberitahuku kalau kamu sudah tiba karena aku khawatir.”
“Sudah lupakan, aku tidak punya harapan lagi denganmu. Aku terlalu mengharap padamu ternyata sia-sia karena kamu tidak akan mau berjuang untukku.”
“Clara bukannya aku tidak mau berjuang, tetapi kamu sepertinya masih mencintai dr. Reza , aku merasa diriku tidak ada apa-apanya dibanding dokter itu, saat aku bertemu kakak perempuanmu dia membanding-bandingkan aku dan dokter itu dan aku tidak suka.”
“Zidan, kalau aku tidak suka denganmu, tidak mungkin hari itu aku mengajakmu menemui keluarga besar ku. Kamu menolak sudah kesempatanmu hilang, aku akan menikah dengan dokter itu dan keluargaku memaksa. Pergilah mari kita saling melupakan , saku berharap kamu menemukan wanita yang lebih baik.”
“Kamu menyerah?” Tanya Zidan.
“Bukan aku yang menyerah, tetapi kamu yang tidak mau berusaha sedikitpun, aku punya alasan yang kuat kenapa aku meninggalkan dr. Reza. Aku melihatnya dengan wanita lain. Tetapi keluargaku tidak percaya. Kami putus bukan karena kamu.”
“Kamu tidak bilang padaku?”
“Zidan kalau aku bilang seperti itu kamu pasti bilang kalau aku menjadikanmu pelarian. Padahal kamu tahu sendiri, jauh sebelum mengenal Reza aku sudah terlebih jatuh cinta denganmu tiga tahun lalu, tetapi kamu selalu menolakku, Kali inipun begitu, saat aku membutuhkan pundak mu untuk tempatku bersandar kamu menolaknya. Aku ingin bisa melepaskan diri dari Reza, tetapi kamu tidak mau membantu, kamu tidak mau berjuang sedikit denganku. Belakangan aku baru sadar kalau hubungan kita tanpa status kamu bahkan tidak pernah mengatakan cinta padaku dan kita juga tidak pernah pacaran, bagaimana mungkin aku memintamu untuk menemui ku keluargaku?”
“Aku tidak pintar bicara tentang cinta Clara.”
“Baiklah lupakan saja tidak ada lagi artinya, toh juga aku akan menikah dengan Reza. Selamat tinggal.”
Clara meninggalkan Zidan, beberapa hari lalu saat keluarganya memanggilnya pulang ke Bandung, ia mengajak Zidan untuk bicara ke pada keluarganya . Ternyata Zidan menolak karena ia juga belum mempersiapkan diri.
"Kamu akan menyerah?" tanya Vincen.
Zidan hanya diam, ia hanya jago urusan senjata tetapi tidak untuk urusan cinta.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)