
Dalam kamar itu, Jovita kembali menatap dirinya di depan pantulan kaca, pengakuan Leon telah mengusik hati dan Pikirannya, ia merencanakan sesuatu. Ia yakin Leon tidak akan mengawasinya lagi setelah lelaki itu marah besar padanya dan memintanya jangan lagi ke kamarnya dan memintanya jangan muncul di hadapan Leon.
“Sayang sekali kalung indah dari Pak Bos ini, kalau aku bawa kerja di proyek. Anting berlian dan Kalung ini, tidak pantas di bawah ke proyek, tinggalin saja di sini di simpan di tempat aman agar tidak hilang,” ucap Jovita dengan suara keras seolah-olah ia memberitahukan pada seseorang.
Karena ia tahu di kalung itulah Leon memasang kamera pengawas tersembunyi, jika anak buahnya di beri tato dengan nomor seri, maka untuknya di dalam kalung itu.
Jovita membungkus kalung berlian pemberian Leon dengan beberapa kain belapis-lapis lalu menyimpannya di paling bawah lemari.
Jovita berangkat kerja, sementara Leon masih tertidur akibat minum obat tidur.
Ia akhirnya terbangun setelah si Pincu membangunkannya, anjing berwarna hitam itu membuat terbangun.
Ia terbangun dari mimpi buruk, Leon mengalami siksaan akibat mimpi buruk yang ia alami setiap kali Jimat tidak ada di sampingnya.
Ia bangun setelah jam sepuluh pagi, seluruh tubuhnya terasa sakit dan ia merasa kerongkongannya kering, karena ia merasa teriak-teriak dalam mimpinya, tetapi anehnya ia tidak mengeluarkan suara, ia merasa tubuhnya seperti ditiban beban yang sangat berat.
Leon duduk mengumpulkan potogan -potongan ingatannya lagi, ia baru ingat kenapa ia mengalami mimpi buruk … karena Jovita tidak ada di sampingnya dan ingatan lain muncul lagi, di mana Jovita menatap dengan jijik dan menyebut dirinya diperalat jadi boneka tidur.
Ia masuk ke kamar mandi dan berendam di badthub yang di taburi rempah-rempah dan menyalahkan penguapan rempah-rempah dalam kamar, Leon merebahkan tubuh dan menutup mata, tatapan jijik yang di tujukan Jovita membuatnya menggosok tubuhnya beberapa kali.
“Kamu hanya gadis kecil yang sok suci dan belum menikmati kenikmatan dunia ini. Jika kamu sudah merasakannya …. saya yakin kamu tidak akan menatapku seperti itu anak kecil,” desis Leon kesal.
Ia ingin melupakan Jovita karena tatapan jijik dari wanita cantik itu padanya membuat wajahnya semakin mengeras.
“Kamu hanya gadis kecil, tidak ada apa-apanya untuk saya , saya bisa mengatasi pikiran ini … Saya tidak akan perduli lagi padamu,” ujar Leon.
Keluar dari kamar mandi dan berpakaian, menuju dapur, semua dian dan hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, dengan sikap diam Leon.
Ia tidak bertanya kemana Jovita, ia mengalihkan pikirannya dari nona cantik itu,
“Nanti jemput bibi dari Jakarta, bawa Salsa sama Lana juga dari Jakarta,” pintahnya pada Iwan.
Dayang- dayang Leon.
“Tetapi Sabrina minta pulang ke Jakarta Bos,” Ujar Iwan.
__ADS_1
“Tidak usah, nanti malam akan ada pesta di kolam renang, kalian semua bisa ikut, bilang sama anak-anak yang Lain, bilangin Zidan untuk bawa lagi wanita-wanita bar ke sini”
Iwan langsung bersemangat, mendengar pesta kolam renang sudah tentu dengan wanita-wanita seksi , kebebasan, minuman dan tentunya yang enak-enak.
“Baik Bos,” ujarnya bersemangat.
Ia memberitahukan Rikko dan Toni.
“Ada dengan Bos?” Tanya Rikko, ia berpikir tidak ada sesuatu keberhasilan. yang besar yang mereka patuh rayakan, tetapi kenapa tiba-tiba ada akan ada pesta perayaan.
“Tidak tahu pokoknya nanti malam siapkan stamina mu dan pilih wanita yang kamu inginkan,” ujar Iwan bersemangat.
Leon seolah-olah ingin menunjukkan pada Jovita kalau ia tidak perduli pada gadis cantik itu, karena saat mereka bertengkar pagi itu, ia sudah meminta wanita itu, agar tidak muncul di hadapannya, ia ingin melarikan semua pikirannya pada wanita lain nanti malam.
Toni begitu tidak bersemangat, karena ia tahu apa yang terjadi pagi itu,
karena ia mendengar pertengkaran Jovita dan Leon . Tetapi ia memilih diam.
**
Di sisi lain Jovita merasakan sesuatu hal yang berbeda pagi itu, setelah ia tahu kalau Leon bukan orang -orang suruhan Leon yang menghabisi kelurganya, kini hatinya tidak akan tenang kalau ia belum tahu siapa yanga melakukan pembunuhan keluarganya.
Tiba di dalam proyek ia masuk ke kantor proyek dan masuk ke dalam kamar mandi , Jovita menganti pakaian yang ia bawa dari rumah, sebuah dress mini yang dipadukan dengan jaket hitam dan membuka bagian atasnya, memperlihatkan belahan bagian dadanya dan paha mulusnya yang sangat cantik, kulitnya yang putih mulus membuat siapa saja yang melihatnya tergoda.
“Maafkan aku ibu. Jika aku bersikap murahan kali ini …. semua aku lakukan demi mengungkap kebenaran, aku tidak punya siapa-siapa untuk minta tolong” ujar Jovita menarik napas panjang dan keluar dari kamar mandi.
Ia menemui mandor proyek di ruangannya.
Tok … Tok …
“Masuk!”
“Selamat pagi Pak Banas”
“Selamat pagi Non … Hara” Kedua alis mata lelaki berkulit gelap itu, menyengit melihat sesuatu yang berbeda dari Jovita pagi ini.
“Begini Loh Pak Anas, saya ingin menjelaskan perubahan sedikit gambar ini.” Jovita berdiri depannya dengan badan membungkuk memperlihatkan bagian paling indah dari tubuhnya.
__ADS_1
‘Tidak ada kucing yang akan menolak ikan, sekalipun dia sudah kenyang’Ungkapan itu sepertinya cocok dengan lelaki paruh baya ini.
Walau hatinya sangat takut karena ia tahu wanita cantik di depannya adalah milik bos Naga, bos yang paling menakutkan di mata mereka. Namun, ia tidak bisa menutupi keinginan tubuhnya, apa lagi saat Jovita menyentuh tangannya .
“Pak Banas, saya minta tolong sama Bapak pinjamkan saya laptop Bapak dan ponsel untuk saya sebentar, ponsel saya tidak ada, Jovita semakin melebarkan bagian belahan dadanya.
Benar kata Leon, rasa dendam dan sakit hati , mampu merubah siapa saja, tidak terkecuali dengan Jovita Hara. Gadi polos baik, tetapi saat ini demi mendapatkan jaringan internet dan telepon, ia harus merayu kepala mandor dengan tubuhnya.
“Bo-bo-boleh Non Hara, silahkan,” ujar lelaki itu menelan savilanya dengan susah payah.
“Terimakasih Pak Banas, tapi Pak kalau mereka bertanya jangan katakan saya pinjam laptop Bapak. Saya ingin melihat-lihat pakaian lingerie seksi yang aku pakai nanti nanti di pesta kolam renang di rumah Bos. Apa Pak Banas mau ikut ?”
“O-oh iya Non”
“Iya sudah saya pinjam pak Banas. Tapi ingat jangan bilang sama siapa pun, iya Pak,” ujar Jovita bertindak nekat bahkan melampaui pikirannya sendiri.
“Baik Non,” ujar Lelaki itu melonggarkan kancing kemejanya.
“Baik Pak Anas, ini gambar saya dan minta tolong bilang pada kedua pengawal ku kalau saya sibuk menggambar dan membuat perhitungan dengan team"
“Baiklah No Hara”
Pak Anas keluar dan melakukan semua yang di minta Jovita, ia tidak menimbulkan kecurigaan. Ia tahu camera pengawas yang ada di tubuhnya Leon simpan di kalung dan anting yang di berikan Leon hadiah ulang tahunya, makannya ia sengaja menyimpan kalung dan antingnya di kamar. Saat ini, ia yakin tidak ada camera di tubuhnya. Sementara kedua pengawal itu melihat Jovita ada di dalam kantor dengan pekerja yang lainnya mereka berdua tidak curiga. Padahal mereka tidak tahu kalau Jovita sudah menjelajahi semua berita tentang kematian kedua orang tuanya dan ia sibuk menelepon ke sana kemari, bahkan menelepon kantor polisi yang menangani kasus kematian orang tuanya dan menelepon pengacara keluarganya.
Jovita hanya polos dalam dunia percintaan, tetapi kalau tentang mencari data dan meretas data mantan para pegawai ayahnya, ia bisa, karena Beny juga mantan tunangannya dan Lestari adalah temannya.
Apakah Leon akan mengetahui apa yang di lakukan Jovita?
Bersambung ..
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)