Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Merayu dengan tubuhnya


__ADS_3

 Dalam kamar itu,  Jovita kembali menatap dirinya di  depan pantulan kaca, pengakuan Leon telah  mengusik hati dan Pikirannya, ia  merencanakan  sesuatu. Ia yakin Leon  tidak akan mengawasinya lagi setelah lelaki itu marah  besar padanya dan memintanya jangan lagi ke kamarnya dan memintanya jangan muncul di hadapan Leon.


“Sayang sekali kalung indah dari Pak Bos ini, kalau  aku bawa kerja di proyek.  Anting   berlian  dan Kalung  ini,  tidak pantas  di bawah ke proyek,  tinggalin saja di sini di simpan di tempat aman agar tidak hilang,” ucap Jovita dengan suara  keras  seolah-olah ia  memberitahukan pada seseorang.


Karena ia tahu di kalung itulah Leon memasang kamera pengawas tersembunyi, jika anak buahnya di beri tato dengan nomor seri, maka untuknya di dalam kalung itu.


Jovita membungkus  kalung berlian pemberian Leon dengan beberapa kain belapis-lapis  lalu menyimpannya di paling bawah lemari.


Jovita berangkat kerja,  sementara Leon masih tertidur  akibat  minum obat tidur.



Ia akhirnya terbangun setelah si Pincu membangunkannya, anjing berwarna hitam itu membuat terbangun.


Ia terbangun dari mimpi buruk, Leon mengalami siksaan akibat mimpi buruk yang ia alami setiap kali Jimat tidak ada di sampingnya.


Ia bangun setelah jam sepuluh pagi, seluruh tubuhnya terasa sakit  dan  ia merasa  kerongkongannya kering, karena ia merasa teriak-teriak dalam mimpinya, tetapi anehnya ia tidak mengeluarkan suara,  ia merasa tubuhnya seperti ditiban beban yang sangat berat.


Leon duduk  mengumpulkan potogan -potongan ingatannya lagi, ia baru ingat kenapa ia mengalami mimpi buruk …  karena Jovita tidak ada di sampingnya dan ingatan lain muncul lagi,  di mana Jovita menatap dengan jijik dan  menyebut dirinya diperalat  jadi boneka tidur.



Ia  masuk ke kamar mandi dan berendam di badthub yang di taburi rempah-rempah dan menyalahkan penguapan rempah-rempah dalam kamar,  Leon merebahkan tubuh dan menutup mata, tatapan jijik yang di tujukan Jovita membuatnya menggosok tubuhnya beberapa kali.


“Kamu hanya gadis kecil yang sok suci dan belum  menikmati kenikmatan dunia ini. Jika kamu sudah merasakannya ….  saya yakin kamu tidak akan menatapku seperti itu anak kecil,” desis Leon  kesal.


Ia ingin  melupakan Jovita karena tatapan  jijik  dari wanita cantik  itu  padanya membuat wajahnya semakin  mengeras.


“Kamu hanya gadis kecil, tidak ada apa-apanya untuk saya , saya bisa mengatasi  pikiran ini … Saya tidak akan perduli lagi padamu,” ujar Leon.


Keluar dari kamar mandi  dan berpakaian,  menuju dapur, semua dian dan hanya bisa  bertanya-tanya dalam hati,  dengan sikap diam Leon.


Ia tidak bertanya kemana Jovita,   ia mengalihkan pikirannya dari nona cantik itu,


“Nanti  jemput bibi dari Jakarta, bawa Salsa sama Lana juga dari Jakarta,” pintahnya pada Iwan.



Dayang- dayang Leon.


“Tetapi Sabrina  minta pulang ke Jakarta Bos,” Ujar  Iwan.

__ADS_1


“Tidak usah, nanti  malam  akan ada  pesta  di kolam renang, kalian semua bisa ikut, bilang sama anak-anak yang Lain, bilangin Zidan untuk bawa lagi wanita-wanita bar ke sini”


Iwan langsung bersemangat, mendengar pesta kolam renang  sudah tentu dengan wanita-wanita seksi , kebebasan,  minuman dan tentunya yang enak-enak.


“Baik Bos,” ujarnya bersemangat.


Ia memberitahukan Rikko dan Toni.


“Ada dengan Bos?” Tanya Rikko, ia  berpikir tidak ada sesuatu  keberhasilan. yang besar yang mereka patuh rayakan, tetapi kenapa tiba-tiba ada akan  ada pesta perayaan.


“Tidak tahu pokoknya nanti malam siapkan stamina mu dan pilih wanita yang  kamu inginkan,” ujar Iwan  bersemangat.


Leon  seolah-olah ingin menunjukkan pada Jovita kalau ia tidak  perduli pada gadis cantik itu, karena saat mereka bertengkar pagi itu,  ia sudah meminta wanita itu,  agar tidak muncul di hadapannya, ia ingin melarikan semua pikirannya pada wanita lain  nanti malam.



Toni begitu tidak bersemangat,  karena ia tahu apa yang terjadi pagi itu,


 karena ia mendengar pertengkaran Jovita dan Leon . Tetapi ia memilih diam.


                     **


Di sisi lain  Jovita merasakan  sesuatu hal yang berbeda  pagi  itu,   setelah   ia  tahu kalau  Leon bukan orang -orang suruhan Leon yang menghabisi kelurganya,  kini hatinya tidak akan  tenang kalau  ia belum tahu  siapa yanga melakukan pembunuhan keluarganya.


Tiba di dalam proyek ia masuk ke kantor proyek   dan masuk ke dalam kamar mandi , Jovita menganti pakaian yang ia bawa dari rumah, sebuah dress mini yang dipadukan dengan jaket hitam dan membuka bagian atasnya, memperlihatkan belahan bagian dadanya dan paha mulusnya yang sangat cantik, kulitnya yang putih mulus membuat siapa saja yang melihatnya tergoda.


“Maafkan aku ibu. Jika aku bersikap murahan  kali ini …. semua aku lakukan demi mengungkap kebenaran, aku tidak punya siapa-siapa untuk minta tolong” ujar Jovita menarik napas panjang dan keluar dari kamar mandi.


Ia menemui  mandor proyek di ruangannya.


Tok … Tok …


“Masuk!”


“Selamat pagi Pak Banas”


“Selamat pagi Non … Hara” Kedua alis mata lelaki berkulit gelap itu, menyengit melihat sesuatu yang berbeda dari Jovita pagi ini.



“Begini Loh Pak Anas, saya  ingin menjelaskan  perubahan sedikit gambar  ini.” Jovita berdiri depannya dengan badan membungkuk memperlihatkan bagian  paling indah dari tubuhnya.

__ADS_1


‘Tidak ada kucing yang akan menolak ikan, sekalipun  dia sudah kenyang’Ungkapan itu sepertinya cocok dengan lelaki  paruh baya ini.


Walau hatinya sangat takut  karena ia tahu wanita cantik di depannya adalah milik bos Naga, bos yang paling menakutkan di mata mereka. Namun,  ia tidak bisa menutupi keinginan tubuhnya, apa lagi saat Jovita menyentuh tangannya .


“Pak Banas, saya minta tolong sama Bapak pinjamkan saya laptop Bapak  dan ponsel untuk saya sebentar, ponsel  saya  tidak  ada, Jovita semakin melebarkan  bagian belahan dadanya.


Benar kata Leon, rasa dendam dan sakit hati , mampu merubah siapa saja, tidak terkecuali dengan Jovita Hara. Gadi polos  baik, tetapi saat ini demi mendapatkan jaringan internet dan telepon, ia harus merayu kepala mandor dengan tubuhnya.


“Bo-bo-boleh Non Hara, silahkan,” ujar lelaki itu menelan savilanya dengan susah payah.


“Terimakasih Pak Banas, tapi Pak kalau mereka bertanya jangan katakan saya pinjam  laptop Bapak. Saya ingin melihat-lihat pakaian lingerie seksi yang aku pakai nanti  nanti di pesta kolam renang di rumah  Bos. Apa  Pak Banas mau ikut ?”


“O-oh iya Non”


“Iya sudah saya pinjam pak Banas. Tapi ingat jangan bilang sama siapa pun, iya Pak,” ujar Jovita bertindak nekat bahkan melampaui  pikirannya sendiri.


“Baik Non,” ujar Lelaki itu melonggarkan  kancing kemejanya.


“Baik Pak Anas,  ini gambar saya dan  minta tolong bilang pada kedua pengawal ku kalau saya sibuk menggambar dan  membuat perhitungan dengan team"


“Baiklah No Hara”


Pak Anas keluar dan melakukan semua yang di minta Jovita, ia tidak menimbulkan kecurigaan. Ia tahu  camera pengawas yang ada di tubuhnya Leon  simpan di kalung dan anting yang di berikan Leon hadiah ulang tahunya, makannya ia sengaja menyimpan  kalung dan antingnya di  kamar. Saat ini, ia yakin tidak ada  camera di tubuhnya. Sementara kedua pengawal itu melihat Jovita ada di dalam kantor dengan pekerja yang lainnya mereka berdua tidak curiga. Padahal mereka tidak tahu kalau Jovita sudah  menjelajahi semua berita tentang kematian kedua orang tuanya dan ia sibuk menelepon ke sana kemari, bahkan menelepon  kantor polisi yang menangani kasus kematian orang tuanya dan menelepon pengacara keluarganya.


Jovita  hanya polos dalam dunia percintaan, tetapi kalau tentang  mencari data dan meretas data mantan para pegawai  ayahnya, ia bisa, karena  Beny juga mantan tunangannya dan Lestari adalah temannya.


Apakah Leon akan mengetahui apa yang di lakukan Jovita?


Bersambung ..


KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI


DAN AUTHORNYA


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2