
Bimo keluar dari ruangan Hilda, permintaanya tidak berhasil, ia berjalan dengan wajah kusut bagai kain lap yang tidak dicuci selama berbulan-bulan, sekali-sekali tangannya menggaruk kepalanya.
...Duduk kembali di meja kerja sekretaris ia menghembuskan nafas panjang dari hidungnya , raut wajahnya makin kusam saat di meja itu seaka-akan meneriakinya....
“Halo” jawab Bimo dengan suara khas yang besar tidak ada kelembutan.
Tidak ada suara di ujung telepon, peneleponnya bingung kalau biasanya yang menjawab bersuara lembut, sekarang pemilik suara seperti memakai toa.
“Apa ada pak Leon?”
“Dari mana?”
“Dari Hotel Bintang Bandung, bu, eh… pak” sahut seorang wanita di ujung telepon.
“Tunggu, saya lihat dulu…
“Eh ta-“
Tut… tut…
Bimo menutup teleponnya, benar saja, ia tidak bisa melakukannya baru beberapa menit lalu di tunjuk jadi sekretaris Leon, ia sudah melakukan empat kesalahan.
“Pak Bimo, kenapa teleponnya di tutup? Kalau ada panggilan seperti itu untuk pak Leon tinggal extension ke ruangan pak Leon, tidak perlu melihat bolak balik ke sana, dan jangan menutup teleponnya” ucap Idan yang duduk tidak jauh darinya. “Hadeh ini tidak bisa, yang ada pak Leon akan makin pusing kalau Pak Bimo yang duduk di sini” timpalnya lagi.
“Iya kamu benar.” Bimo menyeka keringat yang bercucuran dari dahinya.
Leon seolah - olah sedang mengujinya.
*
Setelah bergelut dengan pekerjaan yang melelahkan di kantor, saat matahari meninggalkan warna jingga di langit, Leon bergegas pulang, dalam perjalanan pulang, karena terlalu lelah, ia beberapa kali memijat belakang lehernya.
Bimo hanya diam, ia tahu Leon pasti sangat lelah hari ini karena ia tidak membantu sama sekali sebagai seorang sekretaris.
“Kita berhenti di pijat refleksi sebentar” pinta leon masih menggerakkan lehernya ke kanan-kiri.
“Baik Boss” jawab Bimo.
Ia mengarahkan mobil ke sebuah ruko tempat pijat refleksi langganan Leon.
Ia masuk hanya sekitar tiga puluh menit berada di dalam dan Leon keluar lagi, tangannya tidak lagi memijit bagian lehernya.
Tetapi sebagai gantinya, saat perjalanan pulang ia tertidur pulas hanya menyadarkan kepalanya di jok mobil.
__ADS_1
Ia tidak membahas tentang kedatangan Bimo yang datang keruangan Hilda memohon agar ia diganti. Leon diam tidak mengungkit tentang kinerja Bimo yang berantakan hari ini, hal itu membuat Bimo semakin tertekan, ia merasa bersalah karena tidak bisa membantu pekerjaan Bosnya. Tetapi leon tidak menyalahkan Bimo , karena ia sadar pekerjaan itu bukan keahliannya.
Saat mobil Leon tiba di halaman rumah, ia juga belum bangun, mereka berdua saling melihat tidak ada yang berani membangunkan.
Zidan mengisyaratkan matanya menyuruh Bimo membangunkan Leon, dengan wajah sungkan Leon memberanikan diri membangunkan Leon.
“Boss, kita sudah sampai.” Ujar Bimo.
“Hmm.”
Leon memijit pangkal hidungnya, mata itu terbuka perlahan, hingga benar-benar terbuka sempurna, ia ,merapikan penampilannya sebelum turun.
Saat melangkah masuk mata semua pengawal yang berjaga di rumah menatapnya dengan tatapan yang aneh, wajah mereka terlihat sangat lelah.
‘Ada apa dengan mereka semua?’ ucap Leon dalam benaknya dan ia mulai masuk kedalam rumah.
Saat ia masuk kini wajah ibunya terlihat aneh, Wanita paru baya itu hanya menggeleng-geleng, terukir senyuman kecil di wajahnya.
“Ibu kenapa?” tanya Leon menghentikan langkahnya di depan ibunya.
“Istrimu.”
“Ha? Kenapa dengan Hara?” tanya Leon melihat sekeliling ada yang berubah dalam rumahnya.
Sofa yang di ruang tamu ganti, saat ia melihat dengan jelas sekelilingnya.
“Maaf” ucap bu Atin merasa bersalah, ia berpikir Leon akan marah besar saat barang-barang di rumah itu diubah. Karena ia tahu dari dulu Leon paling tidak suka barang-brang miliknya di kotak- katik.
Hara yang lulusan arsitek memperlihatkan keahliannya yang terpendam selama ini, ia mengubah ruang tamu itu menjadi sesuatu yang berbeda.
“Tidak apa-apa, ini keren.”ucap Leon melihat ruangan itu dengan mata membulat dan bibir membentuk ‘wao’
“Benarkah kamu tidak marah Nak? syukurlah ibu sudah takut kamu akan marah, aku tidak tahu ada apa dengan istrimu hari ini, ia membuat semua orang bekerja keras hari ini.”
“Ohhh… pantas mereka semua terlihat lesu” ucap Leon melihat kea arah luar.
“Oh. Iyaaa. Hara hanya memerintah dan mengatur mereka semua, Ibu tidak tahu berapa kali sofa ini di pindahkan.”
“Tidak apa-apa Bu, biarkan saja, tapi hebat juga dia bisa mengubah semua ini hanya hitungan setengah hari.” Ucap Leon masih melihat-lihat hasil karya dari Hara, ruang tamu itu di renovasi menjadi lebih luas dan lebih elegan dan berkelas .
“Kami semua hanya diam dan menuruti semua yang diinginkan, sepertinya ia bosan dan melakukan semua ini.”
“Aku tahu Bu, tadi dia sudah meminta izin padaku, tetapi aku tidak menyangka kalau dia mengerjakan ini, ini bagus Bu. Hara menunjukkan kemampuannya sebagai seorang sarjana arsitek.”
__ADS_1
“Bukan hanya itu Nak, lihat itu”
“Wah… itu keren Bu, pantas Zidan terkejut mendengar nilai belanjaan Hara hari ini, ternyata dia membangun.”
Hara menyulap taman depan rumahnya, membangun sebuah air mancur yang berwarna-warni terlihat sangat indah saat dinyalakan di tengah air mancur sebuah patung, dalam agama Leon diyakini sebagai dewa pelindung. “Bu! dari mata Hara mendapatkan itu?” Tanya Leon menatap wanita itu dengan tatapan kagum, ia terkejut saat ukiran dewa itu ada di rumahnya. Hara menghormati keyakinan Leon.
“Hara bilang itu koleksi milik ayahnya.”
“Apa Hara yang mengambilnya sendiri?” tanya Leon kaget
“Bukan, kamu lihat wajah-wajah kelelahan orang-orang yang di luar, Hara membuat mereka bekerja keras bagai kuda. Mengambil patung itu dia yang mengambilnya ke rumah Bu Ina mereka semua d bekerja keras tanpa henti.”
Leon menahan tawa saat mendengar cerita bu Atin, saat Hara membuat para lelaki tangguh itu, disuruh mengocok semen dan memanggul pasir mengubah mereka jadi tukang dan jadi kuli bangunan hari itu.
“Hara kemana, Bu?”
“Dia baru naik. Sepertinya ia lagi berendam, aku tidak tahu kalau ia orang yang nekat dan punya keinginan yang gila seperti ini, biarkan jangan ganggu dulu dia,” ucap Bu Atin menghela napas panjang.
“Apa yang ibu lakukan tadi saat dia seperti itu?”
“Ibu hanya duduk diam menonton apa yang ia kerjakan dan melarangnya kalau ia banyak berdiri, tugas ibu menjaganya, Aduh Nak, kamu akan kaget nanti melihat tagihan kartu kreditmu.”
“Tidak apa-apa Bu, aku sudah tahu orang kantor juga sudah memberitahuku.”
“Bukan hanya itu Leon, jangan terkejut melihat kamar kalian nanti.”
“Ow, ada apa dengan kamar kami?” alis Leon menyengit mendengar kamarnya juga ikut dalam daftar list Hara.
‘Melihat ini saja aku sudah terkejut, mudah-mudahan bentuk kamar itu tidak membuatku terkena serangan jantung nanti’ ucap Leon dalam hatinya.
"Bumil cantik kalau marah nekat," ujar Kikan, ia datang saat melihat Toni datang.
"Aku pikir setelah kejadian taman itu, non tidak mau lagi mengerjakan lagi."
"Dia lulusan arsitek terbaik pastilah bakat tidak dipendam," ujar Bu Atin.
"Apa dia tidak capek Bu?"
"Tidak, dia hanya memerintah, bawahan mu yang capek."
"Dia pasti Bosan. Bagaimana kalau besok kita makan diluar, Dan ajak Clara dan Hilda, wanita hamil ketemu wanita hamil mungkin mereka lebih semangat"
"Baik Bos, Clara juga sekarang ini ngambek mulu," keluh Zidan.
__ADS_1
Jadi apapun yang dikerjakan Hara hari itu Leon tidak marah justru malam ia memijit kaki istrinya, sebenarnya Leon yang sangat lelah tetapi Hara yang mendapat pijitan.
Bersambung