
Terbang beberapa lama akhirnya Leon tiba di panti, helikopter berwana putih tersebut mendarat di lapangan di samping pantai. Leon turun dan tidak mampir ke panti, ia berlari menuju mobil yang ada di sana. Nana dan beberapa anak buahnya sudah menunggu Leon di sana.
“Bagaimana?” Tanya Leon wajahnya sangat tegang.
“Maaf kami tidak melihat Nona Hara di bandara, Bos,” ujar salah seorang dari mereka.
“Sial!” Leon meninju kepalan tangannya ke udara, wajahnya semakin tegang karena ia membayangkan Hara ditangkap anak buah Bunox.
“Nana, serahkan semua orang-orangmu, saya butuh lebih banyak orang , sisir semua tempat. Berikan aku tiga anak buahmu asli kampung sini, saya ingin memberi tugas rahasia mereka”
“Saya punya anak buah asli daerah sini, dia punya nama di sini, bahkan mereka ….” Hara memberi kode kalau anak buah yang di miliki masih suku asli pedalaman, bahkan punya ilmu yang mereka yakini punya kekuatan supranatural.
“Ok, berikan padaku, beri tawaran yang menarik,” siap Bos. Nana masih setia pada Leon, wanita yang berprofesi sebagai germo itu sangat bersemangat saat Leon meminta bantuannya.
Kini Leon akan kembali memegang senjata, selam dua tahun ia vakum dari benda berbahaya tersebut, tadinya niatnya ingin berubah dan tidak ingin terlibat dengan dua kejahatan sepertinya hal itu lagi. Tetapi kali ini semua janji yang pernah ia ucapkan dulu akan ia akan ingkari lagi saat Hara dalam bahaya.
Disisi Lain, Hara menunggu Maxell, ponselnya memang mati, ia juga tidak membawa cargeran karena ia datang ke Kalimantan tanpa di rencanakan, saat ia membaca buku sembari menunggu, akhirnya Maxell datang, sebelumnya Hara meminjam ponsel orang untuk mengabari Maxell untuk mereka bertemu.
“Hai aku di sini,” ujar Hara melambai tangan.
Dokter tampan itu akhirnya datang juga.
“Sudah lama menunggu?” Tanya Maxell wajahnya terlihat sangat pucat.
“Tidak terlalu. Ada apa?”
“Aku kehilangan semua barang-barangku di pesawat”
“Kok bisa?”
“Entahlah, aku berpikir lelaki berkaca mata di sampingku”
“Apa saja yang hilang?” Wajah Hara panik.
“Itu dia aku bingung, dia hanya mengambil ponsel dan kartu identitasku, aku merasa seseorang mengikutiku sejak berangkat dari hotel tadi”
“Mungkin itu anak buah Leon. Lelaki itu memang nekat.” Hara berpikir itu anak buah Leon, ia sangat marah.
“Lupakan saja, kita mau kemana?” Maxell dan Hara tidak sadar kalau ada bahaya yang mengintai keduanya.
“Sudah makan?” Tanya Hara, Maxell menggeleng, “penerbangan kita masih lama bagaimana kalau kita makan dulu,” ujar Hara lagi
“Baiklah,” wajah Maxell masih terlihat shock saat kehilangan barang- barangnya.
“Hara, apa kamu berpikir ini ulah Pak Wardana?” Tanya Maxell saat mereka duduk di salah satu restauran di bandara.
“Mungkin, Pak Leon orang yang nekat. Apa kita ganti penerbangan kita, maksudku kita beli tiket baru, aku juga merasa diawasi seseorang,” ujar Hara.
Saat mereka berdiri, ternyata dua orang yang duduk di sebelah mereka adalah dua orang penjahat.
Saat Maxell dan Hara berdiri salah seorang dari mereka ikut berdiri dan pura -pura merangkul pundak maxell.
__ADS_1
“Duduklah Kawan, kalau kamu tidak mau kehilangan nyawa,” bisiknya lagi.
“Kalian siapa?” Tanya Hara panik.
“Kalau kamu jadi anak penurut semua akan baik-baik saja”
‘Aku tidak takut bajingan’ Hara membatin
Saat Hara ingin bertindak, asap rokok elektrik yang ia hirup tiba-tiba membuatnya tubuhnya pusing.
Di tempat Lain Piter meminta bantuan temannya tentara dulu, ia diantar sampai ke Bandara, ia bisa masuk ke bandara berkat bantuan temannya , ia mencari Hara di dalam, tidak menemukan di dalam ia memeriksa cctv akhirnya belum lama Hara di bawa dua orang lelaki.
“Mereka tertangkap,” Wajah Piter panik.
Ia menelepon Leon.
“Ada apa?”
“Mereka menculik Hara di bandara, mereka belum jauh kamu di cegat di jalan Pinang saja”
Leon terdiam sejenak, lalu ia sadar lagi.
“Baik, baik katakan nomor mobil “
Piter membacakan plat mobil yang di kendarai ke dua penjahat.
Saat mobil yang membawa Hara dan Maxell mau memasuki pepohonan, sebuah pohon terbentang membuat mobil itu berhenti, melihat ada bahaya ia meminta bantuan.
Zidan sudah mengambil posisi dari atas pohon, ia membidik ban keempat ban mobil.
Mobil tidak bisa kemana-mana lagi karena ban sudah kempes, Zidan sengaja mengunakan peredam suara di senapan agar tidak mengundang perhatian musuh yang lainya.
Kedua penjahat keluar menjadikan tubuh Maxell jadi tawanan, sementara yang pingsan di bawa pengaruh obat bius di tinggalkan dalam mobil.
“Bos Non Hara ada dalam mobil, sepertinya ia pingsan”
“Bantu aku masuk ke dalam mobi.” Leon menenteng pistol.
“Bos biar saya saja tetaplah di tempat.”Mereka semua panik.
“Jangan khawatir.” Leon berhasil masuk.
Wajah Leon sempat panik dan pucat karena Hara telungkup di dalam jok mobil, ia berpikir Hara sudah di tembak maka itu mereka meninggalkannya.
“Hara …!” Leon mengangkat tubuhnya dengan panik memeriksa urat nadinya.
“OH, Oh syukurlah dia masih hidup "
Saat ia ingin mengangkat Hara keluar dari mobil sebuah tembakan nyaris mengenai kepala Leon , kalau saja ia tidak menunduk membangun Hara.
__ADS_1
Ia menjatuhkan tubuh Hara di lantai mobil dan menindihnya dari atas. Ia menjadikan tubuhnya melindungi Hara agar tidak terkena tembakan.
“Dor … Dor …
Tembakan itu menghancurkan kaca mobil. Leon membalas tembakan, suara saling menembak terdengar saling bersahutan.
“Bos keluar dari mobil! Ada tiga mobil musuh datang dari depan” Zidan memperingatkan Leon.
Leon menggendong Hara keluar dari mobil membawanya berlari
Saat mereka terkepung ternyata Toni dan Piter datang mengahalau mereka.
“Pak Leon bawa Hara jauh dari sini, biar aku dan Toni yang menghalangi mereka di sini,” ujar Piter di ujung telepon.
“Syukurlah terimakasih,” ujar Leon, ia bersembunyi di balik pohon besar, di bawah arahan senjata Zidan ia berlari.
Tidak lama kemudian Toni juga menelepon.
“Bos dua ratus meter di depanmu ada temanku menunggu dalam mobil, pergilah bawa Non Hara serahkan semuanya pada kami, kami akan menyelamatkan Maxell ” ujar Zidan.
Leon melakukan apa yang dikatakan Toni, ia membawa Hara ke dalam mobil yang terparkir didalam semak.
“Kita pergi dari sini”
Mobil melaju cepat melewati pohon-pohon Leon menatap kanan kiri dengan pistol siaga di satu tangan dan satu tangan memeluk tubuh Hara yang masih pingsan.
“Bawa ke panti asuhan ‘Pelita Harapan’
“Baik Bos”
Telapak tangan Leon terkena pecahan kaca, tetapi ia tidak menghiraukannya, ia hanya ingin Hara selamat, saat Hara berhasil di selamatkan Leon walau lengan Hara terluka terkena pecahan kaca, sementara Maxell masih di tangan para penjahat, Hanya Hara yang masih berhasil di selamatkan Leon.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1