
Di ruangan Hara.
“Duduklah Pak Banu, saya Hara mungkin bapak masih mengingat saya,” ujar Hara bicara sopan, walau yang diajak bicara bawahannya, tetapi ia tetap menjaga tutur kata dan kesopanan pada lelaki yang sudah memasuki usia berkepala empat tersebut.
“Iya saya ingat Bu, ibu tetap cantik seperti dulu tidak berubah tubuh ibu mak-“
“Pak Banu, bapak ke sini saya panggil bukan untuk membahas tubuh saya, saya ingin membahas tentang pekerjaan,” ujar memotong kalimat penjilat dari Banu, Hara menekan suaranya.
“Untung saja si bos tidak mendengar kamu memuji istrinya seperti itu kalau saja dia mendengar itu, bisa- bisa pulang tidak ada lidah, dia akan memotong lidah dan tanganmu brengsek ….”Bimo berbisik pelan ke kuping Banu, saat Hara berdiri menerima telepon, ia merasa kesal, matanya menatap Banu dengan sinis.
Hara kembali duduk.
"Bagaimana Pak Banu?"
“Oh, oh, iya Bu, benar,” ucap Banu dengan sikap penjilat.
“Saya mendengar laporan kalau bapak suka memalak orang-orang bawahan Bapak, kata mereka. Pak Banu juga memotong berapa persen untuk biaya keamanan, apa benar begitu Pak Banu? Keamanan apa?” tanya Hara memainkan pulpen di tangannya.
“Oh, tidak benar Bu , mereka semua berbohong.” Lelaki itu selalu mengelak.
“Pak Banu hotel ini sudah memberi gaji standar upah minimum yang dibuat pemerintah, kita tidak pernah mempekerjakan seorang karyawan yang di bawah umur, tetapi saya dengar hal itu ada. Apa benar begitu, Pak?” Hara semakin menyelidikinya.
Mulai merasa di selidiki sampai ke akar-akar, Banu mulai banyak diam, ia tidak lagi banyak mengeluarkan pujian-pujian pada Hara, apalagi saat Hara memperlihatkan cctv di mana Banu meminta uang para bawahannya.
“Semua ini tidak benar Bu, mereka yang menjanjikan itu awalnya pada saya, jika aku bisa membawa mereka bekerja setiap bulan, akan mendapat upah dari mereka,” ujar Banu mulai mengatakan hal sebenarnya.
“Tetapi bukankah hotel kita mempekerjakan orang yang punya kemampuan kenapa yang tamatan SMP bahkan yang di bawah umur bisa lolos?” tanya Hara memperlihatkan CV seorang pegawai yang di rekrut Banu.
“Mbak Santi yang menerima mereka.” Banu menjelaskan semuanya pada Hara setelah ia bertanya dengan pelan-pelan. Banu, tidak akan menceritakan semua itu kalau saja Leon yang bertanya, lelaki itu tipe lelaki yang keras, semakin ia di keras
ia akan semakin diam.
Hara mengerti, untuk mengahadapi orang-orang seperti itu harus sabar dan lembut, makanya ia bisa membuka semua rahasia itu dari Banu, tentang siapa-siapa yang bersembunyi di balik peraturan yang aneh itu, Itulah alasan Hara menggantikan Leon sebagai direktur saat itu agar ia punya wewenang untuk bicara pada semua pegawai.
“Baiklah Pak Banu, saya mengerti sekarang, tolong perbaiki kenerjanya lagi,” ujar Hara memintanya keluar.
__ADS_1
Hara dapat membongkar semua kebusukan, bawahan Leon selama ini, orang-orang yang tidak punya hati nurani yang memperkerjakan orang-orang yang tidak punya keahlian, mempekerjakan anak di bawah umur.
Semua itu luput dari pengawasan Leon, mungkin, untuk sebagian orang, itu hanya hal biasa dan hal kecil. Tetapi bagi Leon, itu hal kejam, karena ia pernah merasakan hal sulit sama seperti yang dirasakan Burhan.
“Urus semuanya, Pak Bimo, beritahukan pada Pak Leon kalau kita sudah menemukan siapa-siapa para tikus berdasi di hotel ini,"ujar Hara.
“Baik Bu,” sahut Bimo .
“Besok pagi akan ada perubahan besar di hotel ini” ujar Hara berdiri, ia memikirkan tentang sahabatnya Tiara yang dipecat tanpa alasan yang jelas.
Akhirnya Leon berhasil melakukan semua tugas yang diberikan Hara padanya. Leon sadar apa yang dikatakan Hara semuanya benar, apa yang ia lihat selama ini hanya sampulnya saja yang cantik, bagus dan rapi. Tetapi di balik semua itu ada segelintir orang yang menangis pilu karena di perlakukan tidak adil, olah-oleh orang yang hanya ingin memperkaya diri sendiri.
Leon sudah mendapatkan nama-nama mereka semua dan akan memberi mereka peringatan tegas. Bahkan Leon berpikir akan ada orang yang diminta bayar ganti rugi atas perbuatan mereka.
Leon tidak hanya menyamar di hotel miliknya, ia juga melakukanya di restauran, tetapi Leon belum melakukan di mall di samping hotel milik.
'Mungkin di sana, biar Hara saja'Leon membatin
Leon dapat menyelesaikan seminggu penyamarannya di group Wardana dan menemukan hal-hal selama ini yang tidak ia ketahui.
“Kamu hebat karena bisa menyelesaikan tantangan yang aku berikan,” ucap Hara saat Leon menyelesaikan hari terakhirnya.
“Iya, kamu benar sayang, terkadang air yang terlihat tenang belum tentu baik, kita tidak tahu ada bahaya di kebobrokan di sana,” ujar Leon.
“Ya, baguslah kalau sudah menyadari semuanya, apa yang harus kita lakukan besok?” tanya Hara, menjatuhkan panggulnya di samping Leon, ia memberikan pijatan-pijatan kecil di pundak suaminya.
Ia tahu selama seminggu Leon melakukan pekerjaan-pekerjaan berat, untuk menyempurnakan penyamarannya sebagai pegawai kelas bawah.
“Sepertinya aku sedikit membuat drama dalam acara besok,” ujar Leon tersenyum kecil.” Sudah lama hidupku tidak merasakan drama,” kelanjutannya lagi.
“Menjadi bos besar menggantikan mu selama seminggu tidaklah hal mudah Pak Leon, mendapat tekanan dari sana-sini membuatku sempat lemah, tetapi saat aku memikirkan mu aku jadi semangat lagi,” ujar Hara ia berkata apa adanya, ia selalu terbuka dan cerita banyak hal pada Leon, itulah membuat hubungan mereka selalu harmonis.
Tangan Hara masih memijit-mijit punggung Leon dengan kedua tangannya, tetapi mata menatap kosong kearah lain, jiwanya seakan berkelana jauh melintasi tujuh samudra dan lima lautan.
Sampai-sampai, Leon memanggilnya, ia tidak menanggapinya, matanya masih menatap kosong.
__ADS_1
Leon mengarahkan wajahnya persis di depan Hara hanya jarak satu jengkal dari wajah istrinya yang masih melamun,
‘Apa yang kamu pikirkan Hara?’ tanya Leon, dalam hatinya, menatap dengan tatapan dalam, menyusuri wajah cantik istrinya, wajah yang selalu membuatnya tergila-gila dan terkadang ia tidak bisa mengontrol rasa cemburu di hatinya.
Dengan pelan Leon mendaratkan bibirnya ke bibir mungil milik Hara.
“Eee.” Hara terbangun dari lamunan pangjang
“Kamu melamun? Mikirin apa?” tanya Leon, mata bermanik gelap itu tertuju sepenuhnya ke wajah istrinya.
Hara masih kaget, saat Leon mendaratkan bibirnya.
“Aku hanya memikirkan bagaimana besok, bagaimana kita melakukanya,” ujar Hara beralasan. Padahal ia memikirkan nasip anak-anak Ken ,Zidan Toni mereka .
“Gampang, kita akan membuat mereka semua membayar kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat, mari tidur, kita harus tidur cepat, untuk mendapatkan energi dan tenaga yang banyak agar kita bisa kuat untuk acara hari besok,” ujar Leon.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-Turun Ranjang( on going)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
- Bintang kecil untuk Faila (tamat)