Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Mengantikan Sementara Posisi sang Suami


__ADS_3

Di ruangan Hara.


“Duduklah Pak Banu, saya Hara mungkin bapak masih mengingat saya,” ujar Hara bicara sopan,  walau yang diajak bicara bawahannya,  tetapi ia tetap menjaga tutur kata dan kesopanan pada lelaki yang sudah memasuki usia berkepala empat tersebut.


“Iya saya ingat Bu, ibu tetap cantik seperti dulu tidak berubah tubuh ibu mak-“


“Pak Banu, bapak ke sini saya panggil bukan untuk membahas tubuh saya, saya ingin membahas tentang pekerjaan,” ujar memotong kalimat penjilat dari Banu,  Hara menekan suaranya.


“Untung saja si bos tidak mendengar kamu memuji istrinya seperti itu kalau saja dia mendengar itu, bisa- bisa pulang tidak ada lidah, dia akan memotong lidah dan tanganmu brengsek ….”Bimo berbisik pelan  ke kuping Banu, saat Hara berdiri menerima telepon, ia merasa kesal, matanya menatap Banu dengan sinis.


Hara kembali duduk.


"Bagaimana Pak Banu?"


“Oh, oh, iya Bu, benar,” ucap Banu dengan sikap penjilat.


“Saya mendengar laporan kalau bapak suka memalak orang-orang bawahan Bapak, kata mereka. Pak Banu juga memotong berapa persen  untuk biaya keamanan, apa benar begitu Pak Banu? Keamanan apa?” tanya Hara memainkan pulpen di tangannya.


“Oh, tidak benar Bu , mereka semua berbohong.” Lelaki itu selalu mengelak.


“Pak Banu hotel ini sudah memberi gaji standar upah minimum yang dibuat pemerintah, kita tidak pernah mempekerjakan seorang karyawan yang di bawah umur, tetapi saya dengar hal itu ada. Apa benar begitu, Pak?” Hara semakin menyelidikinya.


Mulai merasa di selidiki sampai ke akar-akar, Banu mulai banyak diam, ia tidak lagi banyak mengeluarkan pujian-pujian pada Hara, apalagi saat Hara memperlihatkan cctv di mana Banu meminta uang para bawahannya.


“Semua ini tidak benar Bu, mereka  yang menjanjikan itu awalnya pada saya, jika aku bisa membawa mereka bekerja setiap bulan, akan mendapat upah dari mereka,” ujar Banu mulai mengatakan hal sebenarnya.


“Tetapi bukankah hotel kita mempekerjakan orang yang punya kemampuan  kenapa yang tamatan SMP bahkan yang di bawah umur bisa lolos?” tanya Hara memperlihatkan CV seorang pegawai yang di rekrut Banu.


“Mbak Santi yang menerima mereka.” Banu menjelaskan semuanya pada Hara setelah ia bertanya dengan  pelan-pelan. Banu, tidak akan menceritakan semua itu kalau saja Leon yang  bertanya, lelaki itu tipe lelaki yang keras, semakin ia di keras


ia akan semakin diam.


Hara mengerti, untuk mengahadapi orang-orang seperti itu harus sabar  dan lembut,  makanya ia bisa membuka semua rahasia itu dari Banu, tentang siapa-siapa yang bersembunyi di balik peraturan yang aneh itu, Itulah alasan Hara  menggantikan Leon sebagai direktur saat itu agar ia punya wewenang untuk bicara pada semua  pegawai.


“Baiklah Pak Banu, saya mengerti sekarang, tolong perbaiki kenerjanya lagi,” ujar Hara memintanya keluar.

__ADS_1


Hara dapat membongkar semua kebusukan, bawahan Leon selama ini, orang-orang yang tidak punya hati nurani yang memperkerjakan orang-orang yang tidak punya keahlian, mempekerjakan anak di bawah umur.


Semua itu luput dari pengawasan Leon, mungkin, untuk  sebagian orang,  itu hanya hal biasa dan hal kecil.  Tetapi bagi Leon, itu hal kejam, karena ia pernah merasakan hal sulit sama seperti yang dirasakan  Burhan.


“Urus semuanya, Pak Bimo, beritahukan pada Pak Leon kalau kita sudah menemukan  siapa-siapa  para tikus berdasi di hotel ini,"ujar Hara.


“Baik Bu,” sahut Bimo .


“Besok pagi akan ada perubahan besar di hotel ini” ujar Hara berdiri,  ia memikirkan tentang sahabatnya Tiara yang dipecat tanpa alasan yang jelas.


Akhirnya Leon berhasil melakukan semua tugas yang diberikan Hara padanya. Leon sadar apa yang dikatakan Hara semuanya benar, apa yang ia lihat selama ini hanya sampulnya saja yang cantik, bagus dan rapi. Tetapi di balik semua itu ada segelintir orang yang menangis pilu karena di perlakukan tidak adil,  olah-oleh orang yang  hanya ingin memperkaya diri sendiri.


Leon sudah mendapatkan nama-nama mereka semua dan akan memberi mereka peringatan tegas. Bahkan  Leon berpikir akan ada orang yang diminta bayar ganti rugi atas perbuatan mereka.


Leon tidak hanya menyamar di hotel miliknya, ia juga melakukanya di restauran, tetapi Leon belum melakukan di mall di samping hotel milik.


'Mungkin di sana, biar Hara saja'Leon membatin


Leon dapat  menyelesaikan seminggu penyamarannya di group Wardana dan  menemukan hal-hal selama ini yang tidak ia ketahui.


“Kamu  hebat karena bisa menyelesaikan tantangan yang aku berikan,” ucap Hara saat Leon  menyelesaikan hari terakhirnya.


“Iya, kamu benar sayang, terkadang air yang terlihat tenang belum tentu baik, kita tidak tahu ada bahaya di kebobrokan di sana,” ujar Leon.


“Ya, baguslah kalau sudah menyadari semuanya, apa yang harus kita lakukan besok?” tanya Hara, menjatuhkan panggulnya di samping Leon, ia memberikan pijatan-pijatan kecil di pundak suaminya.


Ia tahu selama seminggu Leon melakukan pekerjaan-pekerjaan berat, untuk menyempurnakan penyamarannya sebagai pegawai kelas bawah.


“Sepertinya  aku sedikit membuat drama dalam acara besok,” ujar Leon tersenyum kecil.” Sudah lama hidupku tidak merasakan drama,” kelanjutannya lagi.


“Menjadi bos  besar menggantikan mu selama seminggu tidaklah hal mudah Pak Leon, mendapat tekanan dari sana-sini membuatku sempat lemah, tetapi saat aku memikirkan mu aku jadi semangat lagi,” ujar Hara ia berkata apa adanya, ia selalu terbuka dan cerita banyak hal pada Leon, itulah membuat hubungan mereka  selalu harmonis.


Tangan Hara masih memijit-mijit punggung Leon dengan kedua tangannya, tetapi mata menatap kosong kearah lain,  jiwanya seakan berkelana jauh melintasi tujuh samudra dan lima lautan.


Sampai-sampai, Leon memanggilnya, ia tidak menanggapinya, matanya masih menatap kosong.

__ADS_1


Leon mengarahkan wajahnya persis di depan Hara hanya jarak satu jengkal dari wajah istrinya yang masih melamun,


‘Apa yang kamu pikirkan Hara?’ tanya Leon, dalam hatinya, menatap dengan tatapan dalam, menyusuri wajah cantik istrinya, wajah yang selalu membuatnya tergila-gila dan  terkadang  ia tidak  bisa mengontrol  rasa cemburu di hatinya.


Dengan pelan Leon mendaratkan bibirnya ke bibir mungil milik Hara.


“Eee.” Hara terbangun dari lamunan pangjang


“Kamu melamun? Mikirin apa?” tanya Leon,  mata bermanik gelap itu tertuju sepenuhnya ke wajah istrinya.


Hara masih kaget, saat Leon mendaratkan bibirnya.


“Aku hanya memikirkan bagaimana besok,  bagaimana kita melakukanya,” ujar Hara beralasan. Padahal ia memikirkan nasip anak-anak Ken ,Zidan Toni mereka .


“Gampang, kita akan membuat mereka semua membayar kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat, mari tidur, kita harus tidur cepat,  untuk mendapatkan energi  dan tenaga yang banyak agar kita bisa kuat untuk acara hari besok,” ujar Leon.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


 -Aresya(TERBARU)


-Turun  Ranjang( on going)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


- Bintang kecil untuk Faila (tamat)


__ADS_2