Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Baby Blues


__ADS_3

Jika istri hamil dibutuhkan peran penting sang suami, karena wanita yang sedang hamil  terkadang memiliki sikap yang sangat labil, apa lagi istri menjelang persalinan.


Hal itulah yang dialami tiga pria tampan Leon, Zidan, Piter.


Tetapi dari kedua wanita itu kondisi Hara yang menghawatirkan, ia di sebutkan dokter mengalami baby blues atau kecemasan saat hamil.



Suara ayam bekokok beberapa kali menandakan, malam sudah berganti pagi. Leon  mengerakkan badannya dengan berat, tetapi enggan untuk diajak bangun dari ranjang,  padahal tadi malam,  ia hanya minum sedikit bersama Zidan dan Piter, karena ia takut penyakitnya lambungnya kambuh  lagi.


Tetapi ia tetap memaksa tubuhnya untuk bangun cepat pagi itu,  walau rasanya sangat sulit,  tetapi Leon tetap bangun untuk melakukan olah raga pagi, seperti kebiasannya,  bagi Leon biasa mendisiplinkan diri adalah kunci kesuksesan.


Tidur terpisah dengan Hara tadi malam membuatnya penasaran, ia ingin melihat sang istri.


Keluar dari kamar itu dan  masuk ke kamar mereka, Hara masih tidur dengan nyenyak, ia tahu Hara pasti tidur saat menjelang pagi,  dengan perut semakin  membesar Hara sudah mulai merasa kurang nyaman untuk tidur, kehamilan Hara sangat berbeda dengan kehamilannya yang pertama,  karena kali ini isinya dua  tentu bebannya lebih berat. Leon memaklumi sikap Hara yang kadang suka bersikap labil.


Saat ia meminta pendapat dokter Billy, dokter tampan itu menyarankan agar Leon jangan membantahnya,  bisa jadi ia mengalami babyblues saat hamil yang terkadang mengalami  perasaan sedih, mudah tersinggung, khawatir, saat Leon mendengar itu, ia  jadi paham mungkin Hara mengalami apa yang dokter sebutkan.


Melihat Hara tidur pulas Leon menyelimutinya  mengecilkan pendingin ruangan itu,   Leon duduk di samping ranjang menyentuh pipi Hara.


“Aku berharap, kamu tidak apa-apa Hara, kamu harus kuat, jangan khawatir, aku akan selalu bersamamu.”


Lalu Leon keluar melakukan olahraga pagi, ruangan fitnesnya ada di lantai tiga,  kali ini  melakukanya bersama Bimo dan Ken trio botak gundul,  mereka bertiga terlihat lucu karena sama-sama botak dan memiliki badan kekar melakukan olahraga  bersama tetapi memiliki sifat dan kesukaan berbeda, Bimo senang melakukan angkat barbell, Ken boxing.  Leon melakukan semuanya untuk kebugaran tubuhnya bukan sekedar untuk membentuk otot seperti yang di lakukan kedua orang itu.


Leon baru turun saat matahari di ufuk timur mengintip dengan malu-malu memancarkan sinar berwarna  oranye.


Leon turun untuk mandi dan akan berangkat ke kantor, Bimo masih tinggal di ruangan itu membereskan alat-lat yang  mereka gunakan tadi.


Saat Leon turun dan masuk ke dalam kamar,  ia terkejut karena Hara sudah bangun dan sudah berpakaian rapih, Leon menyengitkan kedua alisnya melihat Hara yang sudah rapi sepagi ini.


‘Oh, mudah-mudahan Hara tidak meminta dan bertingkah yang aneh-aneh lagi kali ini’ ucap leon dalam benaknya.


“Selamat pagi sayang,” sapa Hara  terlihat ceria.


“Pagi,” sahut Leon menahan nafas, ia merasa kalau ada sesuatu yang akan Hara lakukan.


Leon tahu kebiasaan Hara,  kalau ingin sesuatu yang ia inginkan, ia akan bersikap baik dan ramah, bahkan bersikap manja padanya, tidak ada kemarahan lagi di wajahnya saat ini,  bahkan ia melupakan kemarahannya pada Leon tadi malam , melupakan kepala botaknya yang jadi biang masalah.


“Kamu aku buatkan kopi atau teh Jahe?” tanya Hara mulai melakukan aksinya.

__ADS_1



“Ada apa Hara …. kamu meminta apa?” tanya Leon langsung ke intinya, ia  menjatuhkan panggulnya di sofa.


“Oh, kok kamu langsung tahu aku mau minta sih,” ujar Hara dengan pipi merah merona.


“Iya aku tahu kebiasaan kamu, kamu pasti menginginkan sesuatu’ kan?”


Hara tersenyum kecil, menuangkan kopi susu yang sudah ia pesan pada pelayan tadi, ia tidak langsung menjawabnya, sepertinya ia menunggu waktu yang tepat untuk bicara pada Leon. Leon semakin merasa tegang melihat sikap Hara yang terlihat tenang, kalau ia mint uang atau mau belanja apapun, ia bisa berikan di luar itu, ia tidak yakin bisa mewujudkannya.


Menyodorkan gelas kopi yang terbuat dari keramik itu pada Leon, lalu ia ikut duduk di samping Leon, melihat perutnya yang semakin membesar itu kadang Leon berpikir Hara termasuk orang yang kuat, ia masih tetap terlihat lincah walau perutnya yang semakin membesar dengan tubuh mungil Hara membawa beban drumband sebesar itu,  kadang ia merasa khawatir.


“Ada apa Hara, kamu membuatku takut,” ucap Leon berkata apa adanya, memang ia merasa gugup saat Hara meminta sesuatu padanya, ia takut salah berucap membuat istrinya tersinggung dan menangis.


“Gugup apaan, emang aku mau apa, ayo di minum dulu air putihnya,” pinta Hara.


Leon menuruti, ia meneguk satu gelas besar air mineral, lalu meletakkannya kembali dan menatap Hara dengan tatapan tidak sabar mendengar permintaan sang istri.


“Baiklah … aku ingin kerja.”


Saat itu juga Leon merasa jantungnya ingin melompat dari dada,,  saat mendengar permintaan yang tidak masuk akal dari Hara, apa yang ditakutkan yang tadi,  ternyata terjadi, di sinilah ia diuji lagi.  Kalau ia menolak, Hara akan marah.


Hara dengan kondisi hamil besar seperti mau kerja apa?


‘Ini gila, apa yang aku lakukan?’ ucap Leon menelan savilanya deng susah payah, ia merasakan seakan-akan banyak pasir dalam tenggorokannya, membuat kesusahan mengeluarkan suara.


“Oh!”


Leon hanya mampu mengeluarkan satu kalimat itu dari bibirnya, ia bingung mau jawab apa, pagi-pagi seperti ini ia sudah mendapat serangan jantung, serangan panik, serangan ketakutan dan serangan kekhawatiran.


“Bagaimana?” tanya Hara bersemangat seakan-akan tidak memperdulikan banyak serangan yang menyerbu pikiran Leon.


“Oh … itu?”


Leon tidak tahu mau jawab apa, otaknya tiba-tiba buntu.


“Bagaimana pendapatmu?” tanya Hara lagi.


“Bagaimana iya?” Leon balik bertanya.

__ADS_1


“Iya, aku meminta pendapatmu?”


“Kalau aku.  Ingin kamu dan anak kita tetap sehat,” akhirnya Leon mampu mengeluarkan satu kalimat yang panjang.


“Itu sudah pasti, tetapi aku ingin ikut kerja dengan kamu.”


“Oh ingin ikut kerja denganku, tidak apa-apa, aku senang kalau kamu menemaniku kerja hari ini,  aku pasti semangat” Leon seakan-akan mendapat kekuatan yang turun dari langit,  karena akhirnya mampu memberikan jawaban.


“Benarkah? Aku senang, aku sudah menduga kalau kamu akan bilang seperti itu, aku akan menunggumu di bawah kamu siap-siap saja dan turun kebawah, kita akan serapan bersama sebelum berangkat ke kantor.”


Lalu Hara bangkit dan  meninggalkan Leon yang masi mematung itu, saat Hara menutup pintu kamar. Barulah Leon  bernafas, karena sejak Hara meminta ingin bekerja Leon merasa lupa untuk bernafas, karena merasa sangat tegang, ia sebenarnya sangat khawatir kalau Hara di bawa ke kantor ada banyak  bahaya yang mengincar mereka.


Tetapi ia menolak permintaan  Hara kali ini,  itu juga jadi satu Boomerang yang berbahaya nantinya.


“Oh, baiklah.”


Leon memerintahkan anak buahnya melakukan penjagaan yang sangat ketat  di hotel, ia bahkan meminta Bimo menambahkan anggotanya untuk berjaga di hotel tanpa di ketahui Hara.


Semakin bertambah usia kehamilan Hara bertambah juga rasa khawatir yang ia rasakan terkadang ia merasakan ketakutan yang luar biasa, terkadang ia menangis dan merasa sangat sedih bahkan belakangan ini ia takut tidur siang karena  ia sering mengalami mimpi buruk. Hara mengalami Baby blues.


Bersambung …


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2