
Mentari pagi sudah mengintip dari balik jendela kamar Bi Atin, Jovita masih tertidur lelap, selimut tebal membungkus tubuhnya, tidur meringkuk seperti kebiasaannya.
“Non belum bangun, ini minum dulu bagaimana hasilnya, diurut tadi malam?” Tanya Bi Ati meletakkan segelas teh jahe hangat di atas nakas.
“Badanku masih sangat sangat sakit Bi, ingin diurut lagi, Bi Ina tenaganya kurang pas untukku aku geli.” Jovita jadi mau diurut sejak Leon memanggil terapis, saat itu.
“Iya sudah tidur lagi saja, aku buatkan soup hangat untukmu,"ujar Bi Atin,ia berharap Leon dan Jovita berbaikan lagi.
Bi Atin tidak tahu kalau wanita berwajah cantik itu, telah memberinya obat tidur malam itu dan ia tidak tahu kalau Jovita menyusup keluar dari Istana Leon.
Bi Atin tidak tahu .... Bi Ina wanita yang mengurut Jovita malam itu, mantan asisten rumah tangga Jovita. Piter mengatur semuanya hingga Bi Ina dan suaminya bekerja di rumah Leon.
Sebagai asisten rumah tangga dan tukang kebun. Wanita paruh baya itu taunya Jovita tidur bersamanya malam itu.
Jovita sadar ia dan orang- orangnya akan dilenyapkan, jika terbukti berkhianat , ia tidak punya pilihan, ia hanya ingin membuktikan kalau kedua orang tuanya tidak bersalah, ia bahkan rela kehilangan nyawanya.
“Iya Bi, biarkan aku tidur sebentar lagi." Jovita menarik selimut dan tidur lagi.
Di kamar Leon.
Lelaki itu terbangun karena ada telepon masuk.
"Halo Pak Ketua?"
"Naga, apa terjadi? Kalau kamu tidak mampu mengerjakan hotel saya, biar saya saja"
Otak Leon belum konek, karena ia baru bangun.
"Ada Pak Ketua?"
Kamu nyalakan televisi;
Breaking News.
[Telah ditemukan seorang wanita cantik, tewas tergantung di pintu kamar apartemennya. Di ketahui bernama Siska Pratiwi, polisi juga menemukan sebuah kertas perjanjian kerjasama di tangannya dan. Kerja sama Pembangunan sebuah hotel mewah milik seorang pengusaha kaya Bokoy Dimako. Penyebab kematian, masih dalam penanganan polisi]
"Bereskan masalahnya!"
"Baik Ketua"
Wajah Leon menegang, ia bagai disambar petir disiang bolong. Hal yang paling tidak sukai oleh para mafia. Salah satunya, berurusan dengan polisi, menurut mereka hanya buang- buang waktu.
*
Tidak lama kemudian, ia berpakaian dan berjalan dengan wajah tegas, ia menuju kamar Bu Atin setelah ia tahu Jovita ada di sana.
Dikamar Bu Atin.
Saat Jovita lagi tidur, tiba-tiba ada tangan kasar menarik selimutnya, Leon berdiri dengan rahang mengeras.
Bi Atin yang datang membawa soup hangat terlihat sangat kaget dengan kemarahan Leon.
“Apa ini juga ulah mu?” tanya Leon melemparkan lipatan Koran ke depan Jovita.
[Seorang wanita cantik di temukan tewas menggantung di pintu apartemen.]
__ADS_1
“Bapak bicara apa?"
“Tidak usah pura-pura Jovita Hara. Saya tahu kamu yang melakukannya tadi malam!"
“Dia tidur bersamaku semalaman. Non Hara kurang enak badan maka itu Bibi suruh diurut di sini,”kata Bi Atin.
“Bibi mungkin salah," ujar Leon sangat marah.
"Tapi benar Nak" Bibi Atin ketakutan.
“Kamu bangun, kamu ikut saya.”
Ia menarik lengan Jovita dan berjalan dengan langkah panjang membawanya ke ruangannya
“Sekarang .... jelaskan padaku bagaimana kamu keluar masuk dari rumah ini, kamu sudah tahu. Kalau saya sudah marah Nona Hara. Kalau sudah marah tidak perduli degan semuanya, jangan paksa saya melakukanya, ceritakan semuanya jangan sampai saya mencari tahu sendiri dan tidak memberi ampun padamu," ujar Leon mengeluarkan pistol dari balik pinggangnya dan mengarahkannya ke kening Jovita.
“Katakan juga sejak kapan kamu menyadap ponselku dan mengawasi ruang kerjaku?”
Wajah Leon sangat marah. Leon menjatuhkan tubuh Jovita di ranjang dan menekan lehernya dengan kuat, wajah Leon menghitam seperti kesetanan menyadari ponselnya di sadap ia murka.
"Tuduhan kamu tidak beralasan. Kamu banyak musuh dimana-mana kenapa harus saya,” ucap Jovita dengan suara kecil, wajahnya memerah karena Leon mencekiknya dengan kuat.
"Jovita Hara ....! Kamu tahu saya benci penghianat. Apa kamu memintaku membunuhmu!" Leon mengarahkan pistol ke wajah cantiknya juga.
Jovita tutup mata terlihat tenang dan pasrah, tidak menunjukkan sedikitpun rasa takut saat benda berbahaya itu di acungkan wajahnya.
"Lakukanlah, akhiri penderitaan ku ... kirim aku bersama orang- orang yang aku cintai, aku merindukan mereka," ucap Jovita dengan mata tertutup air matanya menetes deras.
"AAAAAA ....!"
Dor ....!
Dor ....!
Leon seperti kesetanan, ia berteriak dan menembakkan senjata ke lantai lalu berdiri dan menyimpan benda berbahaya itu ke balik pinggangnya. Meninggalkan Jovita yang masih terlentang di atas ranjang.
Leon meminta Bu Atin membantu.
"Non kamu tidak apa-apa?
"Tidak apa- apa Bi"
"Mari ikut Bibi, kamu masih sakit , aku tidak tahu apa masalahnya kenapa Pak Leon se marah padamu. Tetapi aku berharap kesalahpahaman antara kalian berdua cepat selesai. Bibi berharap siapapun yang mengadu domba kalian berdua dapat hukuman," ucap Bi Atin.
Membantu Jovita berdiri dan membawanya turun ke kamarnya.
“Kamu sangat berbeda belakangan ini, kamu sangat misterius Nak. Apa yang kamu rencanakan?"
"Tidak ada. Bi apakah kamu pernah memimpikan mereka ?”
“Siapa?”
“Mereka yang sudah tiada"
__ADS_1
"Bi Atin mendekat dan menatapnya dengan dalam, jangan membahayakan nyawamu, Nak"
“Kematian orang tuaku bukanlah hal yang sia-si, Bi"
“Itu artinya kamu mengakui tuduhan Leon padamu? kamu di balik semua ini ?”
“Dia tidak punya bukti, untuk membuktikan kalau aku yang melakukanya, Bi"
“Dengar Nak Jovita, kamu masih tinggal di rumah ini .... jangan lakukan yang berbahaya. Bibi sayang padamu, sayang pada Leon juga"
"Makasi Bi"
"Bibi mau belanja untuk dapur apa kamu mau titip sesuatu?" Bi Atin menyemprotkan parfum ke tubuhnya tiba- tiba .
“Uaaak ... uaaK” Jovita mual karena parfum Bu Atin seperti bau minyak kemenyan. Ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
“ Non .... kamu tidak apa-apa?” Wajah Bu Atin sangat panik.
“Hanya masuk angin, karena itu aku ingin diurut sama Bibi lagi," ucap Jovita membersihkan mulutnya dengan air.
“Bibi punya obat gosok badan lemas dan masuk angin langsung baikkan,”ucap Bi Atin menuangkan ke telapak tangan.
"Uaaak, bau bangat!"
Jovita berlari ke kamar mandi lagi dan muntah. Seketika wajah Bu Atin menegang.
"Apa kamu hamil?”
"Tidak akan terjadi Bi"
"Non Hara ayo kita periksa"
"Bibi. Itu tidak akan terjadi! Tidak akan aku biarkan benih lelaki jahat itu ada di rahimku! Aku tidak akan sudi!" Teriak Jovita marah.
"Nak jangan seperti itu mungkin ... jika kamu benar hamil, Leon akan berubah"
"Dia tidak akan berubah Bi, justru dia akan membunuhku jika aku benar hamil, di akan membunuhku seperti wanita- wanita yang pernah ia hamili!"
"Kamu wanita yang berbeda Nak, kalau begitu biarkan bibi membantumu"
"Itu tidak akan terjadi Bi, Jika itu terjadi ... aku akan mengambil pisau dan merobek perut ini dan mengeluarkannya dari sana," ucap Jovita rasa bencinya pada Leon membuat hatinya penuhi kegelapan ia sangat marah. Leon baru saja menodongkan senjata padanya.
'Lelaki itu menuduh ayahku penipu, aku tidak sudi mengandung anaknya.
"Jangan ucapkan kata -kata seperti itu sayang. Bibi sangat takut mendengarnya. Oh Dewa tolonglah mereka berdua"
Wanita itu menangis sangat sedih, ia seperti seorang ibu yang tidak mau melihat anak-anaknya terluka.
Jovita merasa bersalah karena membuat Bu Atin menangis.
"Bi .... Jangan menangis, aku tidak hamil, tidak akan terjadi apa -apa padaku," ucap Jovita memeluk Bu Atin.
Bersambung ....
Bersambung.
__ADS_1
Hai kakak terimaksih kerena masih mau mengikuti cerita ini, jangan lupa reviewnya, kasih saran dan masukkannya iya.