
Setelah berbagai masalah yang mereka lalui Leon mengajak keluarganya untuk liburan.
Selama liburan Hara di perlakukan bagai seorang ratu oleh Leon dan kedua anaknya, ia tidak boleh mengerjakan apapun, hanya duduk diam.
“Kita, akan naik ke kapal hari ini, ibu ikut apa di hotel saja?” Leon melirik Hara.
“Aku ikut,” ujar Hara berdiri.
“Tapi apa ibu nanti tidak mabuk lagi?” Okan meningangatkan Ibunya, karena tadi malam Hara merasa mabuk karena menghirup bau bulu ayam yang di bakar, kehamilan kali ini Hara merasakan hal yang sangat berbeda, kalau kehamilan pertama dan keduanya ia mengalami hamil baik-baik saja. Tetapi kali ini kondisi fisiknya lemah, wajah Hara terlihat pucat karena beberapa hari mengalami mual dan muntah-muntah.
Beruntung ada dua jagoan tampan dan anak gadis di rumahnya yang selalu memperhatikannya.
“Nanti, kalau Ibu mabuk laut, ibu langsung tidur. ditinggal sendirian di kamar, Ibu merasa kesepian,” ucap Hara menatap putra sulungnya.
“Baiklah, ibu boleh ikut, nanti biar aku yang menjaga ibu,” ujar Okan, ia sangat berbeda saat itu, lebih perhatian dan sayang sama ibunya.
Leon mengedipkan matanya pada Hara saat mendengar Okan yang akan menjaga Hara,
“Baiklah Abang, makasi karena kamu menjaga ibu,” ujar Hara mengecup pucuk kepala Okan dengan hangat.
“Apa ibu mau sesuatu biar aku bereskan.”
“Ya, ibu mau bawa jaket, bawa obat gosok, mau bawa obat masuk angin, air hangat, air putih, cemilan, itu semua yang ibu bawa apa abang Okan, mau membereskanya?” tanya Hara menatapnya , ia penasaran melihat ekpresi wajah Okan yang biasanya kalau ia di suruh apa-apa jawabannya nanti, iya, kalau tidak, Chelia saja jawaban itu yang selalu Okan berikan setiap kali di suruh melakukan pekerjaan.
Tetapi kali ini ia yang bertanya apa pekerjaan yang ia mau kerjakan.
“Baik Bu, aku akan membereskannya untuk Ibu,” ujarnya dengan santai dengan suara lembut nyaris tidak kedengaran. Walau Hara tidak begitu jelas mendengarnya tetapi ia tidak mau bertanya dua kali, ia takut putra malah marah, Hara masih berhati –hati karena mereka tahu Okan ingin berubah dari yang biasa dingin menjadi hangat bagai lilin kecil.
__ADS_1
“Terimakasi sayang, Ibu,” ujar Hara memuji.
Leon hanya terdiam melihat sikap Okan yang berubah, tetapi, ia juga sama dengan Hara ingin melakukannya dengan perlahan-lahan.
“Abang bantuain aku donk, cariin hearset dari tadi aku cariin tidak ketemu,” bujuk Chelia terduduk putus asa.
“Sebentar,” ujarnya dengan sabar, lalu ia membereskan semua yang di minta Hara memasukkanya dalam tas jinjing ibunya, meletakkannya di atas nakas. Lalu ia bergegas mencari milik Chelia, Hara dan Leon masih dengan diam melihat Okan.
“Apa apa dengannya,” bisik Hara.
“Dia berubah ... sejak dia tahu dia akan punya adik,” balas Leon.
“Apa ayah yakin dia karena aku hamil ?”
“Tentu,” jawab Leon masih dengan suara bisik-bisik.
“Apa bonekaku tinggal di pinggir pantai kemarin, iya Bang? Aku kemarin bawa ke sana,” ucap Chelia berdiri di depan jedela kaca hotel, matanya menatap fokus kearah bibir pantai di depan hotel mereka, di mana kamarin ia dan abangnya menghabiskan waktu bermain sampai puas.
“Ingat dulu dek, walau kamu meninggalkannya di tepi pantai, pasti sudah hilang, karena dari kemarin sampai tadi pagi banyak orang yang berlalu lalang di sana,” ucap Okan bersikap seperti seorang kakak yang bijak sana.
“Iya bang aku ingatnya bawa, tetapi aku lupa, aku bawa kembali ke hotel apa tidak, iya?” Anak gadis berwajah cantik berambut panjang itu, mencoba megingat-ingat, dengan satu jari ditempelkan di kening.
“Ayah sih lihatnya adek bawa ke sini, terus bawa ke kamar mandi,” ucap Leon .
“Kalau Ibu sih lihatnya saat Chelia mainan di pantai kemarin, Hara ikut-ikutan memberi komentar Hara.
“Oh, iya kamar mandi, Ayah benar,” ujar Chelia berlari kearah kamar mandi.
__ADS_1
“Sudah ketemu ayo kita pergi,” ujar Okan bersemangat, mendengar Hara hamil Okan sangat senang bahkan sangat perhatian sama ibunya.
Leon dan Hara masih diam, mereka berdua seolah-olah tidak percaya dengan p sikap Okan, sikap yang selama ini dirindukan Hara, perhatian dan mau bicara dengan mereka semua.
“Apa kamu yakin kuat Bu, angin lautnya kencang.” Leon mengingatkan Hara kembali, sebelum mereka naik kapal.
“Ayah kapalnya yang kecil apa yang ada tempat tidurnya?”
“Kapalnya sedang, ada dapur dan kamarnya juga, ibu bisa tidur dan bisa melakukan apapun di sana, tetapi suasana di kapal dan di daratkan berbeda di kapal hanya tiduran di tempat tidur saja terasa guncangannya, sebaiknya ibu pikirkan dulu mau ikut apa mau di kamar saja?” tanya Leon memastikan kembali.
Tetapi Hara memantapkan keinginannya, ia tetap ingin ikut naik kapal, walau sudah di jelaskan panjang lebar oleh Leon tentang bahaya naik kapal untuknya, tetapi Hara berpikir kalau ia tinggal di kamar sendirian, pikiranya akan melayang kembali nantinya pada kenangan pada ibu mertuanya dan ia akan teringat terus menerus, maka itu ia memutuskan ikut.
“Tidak, aku tetap ikut saja, ujar Hara bersemangat.
“Baiklah” Leon mengalah, walau ia berasa Hara lebih baik tinggal, tetapi bumil itu kekeh ingin ikut maka itu ia menurutinya,
Semua peralatan memancaing dan bekal selama naik kapal di masukkan ke kapal, Leon dan ketiga anak buahnya berencana akan memancing di laut dan membakarnya di atas kapal, Leon menyukai hal seperti itu menangkap ikan lansung membakarnya saat itu juga. Semua peralatan sudah di masukkan ke dalam kapal, kapal berlantai dua itu di lengkapi dengan kamar tidur, kamar mandi, dapur, ruang tamu dan ruang bersantai. Leon jika mengajak keluarganya liburan tidak pernah tangung-tangung, ia juga membawa beberapa anak buahnya serta asisten rumah tangga dan seorang perawat, Leon berencana berjalan-jalan mengunakan kapalnya beberapa hari dan akan hingga di pantai Seribu Jakarta Utara.
Hara belum melihat pemandangan pasir putih di sana, walau ia sudah lama tinggal di Jakarta tetapi ia belum pernah sekalipun pergi ke pantai yang memilik banyak pohon tembakau itu dan dengan pasirnya yang terlihat putih, tempatnya tidak jauh dari Pantai Ancol, hanya setengah jam menempuk perjalanan, tetapi tujuan Leon bukan untuk cepat tiba di sana , ia ingin menikmati perjalanan demi perjalanan menikmati hembusan angin laut dan menikmati pemandangan tepi pantai.
Leon hanya ingin menikmati liburan dan melupakan semua kejadian buruk yang menimpah keluarganya di mulai dari kejadian, ilmu hitam yang merasuki putranya, ia memikirkan bagaimana kalau saat itu ia tidak masuk ke kamar Okan dan menemukan buku itu entah bagaimana nasip putranya saat itu, tinggal hitungan jam saat itu mereka berencana mengantar Okan pagi itu ke salah satu asrama sekolah besar di Jawa Barat Bandung.
Jika Okan berubah baik, tetapi tidak untuk Juna, Danis, Thiani. Ketiga anak korban broken home itu menjalani hidup salah. Anak-anak mereka salah Jalan, bahkan belakangan di ketahui, Juna putra Toni ikut bergabung dengan satu organisasi gelap gangster jalanan di Manado. Apakah ketiga lelaki itu bisa menyelamatkan anak-anak mereka dari dunia gelap itu?
Bersambung ...
Bantu like dan subcribe iya kakak, agar update makin samangat tiapa hari terimakasih.
__ADS_1