
Leon membawa Hara lagi ke kamar dan menidurkannya di atas ranjang, ia mengelus pipi Hara degan punggung tangannya.
“Kamu harus kuat Hara untuk menghadapi banyak rintangan, jangan hiraukan omongan orang lain,” ujar Leon mengecup kening istrinya dan meletakkan telapak tangan Hara di pipinya.
Ia juga mengerti ketakutan yang di rasakan istrinya , bahkan Leon sampai menemui wanita yang bertemu Hara saat di mall saat jalan-jalan bersama Bu Atin dan Bu Ina, ia menegur suami wanita itu dengan tegas . Leon bahkan memutuskan kerja sama bisnis dari suami wanita tersebut.
“Aku akan melakukan apapun yang bisa membuatmu bahagia,” ujar Leon , ia menarik selimut menyelimuti tubuh Hara.
Ia mandi untuk untuk berangkat ke kantor.
“Bu, nanti tidak usah beritahu kegilaan yang dia lakukan bisa-bisa ia malu nanti.”
“Baiklah, hati- hati. Ibu mau berdoa dulu,” ujar Bu Atin memegang dupa di tangannya.
Leon melirik jam di tangannya.
“Ayo, aku juga ikut Bu,” ujar Leon.
Sebelum berangkat ke kantor, Leon menyempatkan diri untuk berdoa di kuil di samping rumahnya.
Ia tampak khusuk dalam doanya, matanya berkaca-kaca saat mengingat Hara menunjukkan bekas suntikan di perut.
'Aku meminta ampun atas penolakan di masa lalu, aku bersalah' ujar Leon bersujud, ia menangis minta ampun.
Dalam agama keyakinannya, Leon dikatakan akan susah mendapat keturunan, bahkan, bisa tidak dapat keturunan. Karena dosa masa lalunya, karena di masa lalu, Leon pernah membunuh wanita yang mengandung anaknya dan wanita yang mengandung anak Damian.
"Kamu harus menyucikan diri Nak, untuk membuang kutuk di masa lalu," ujar Bu Atin.
Leon hanya mengangguk pasrah.
Setelah berdoa untuk istrinya, barulah Leon berangkat ke kantor, dalam mobil ia hanya diam, ia menatap dalam luka bekas gigitan Hara di tangannya, tidak terasa sakit, tetapi ia merasa sangat sedih saat Hara mengungkapkan semua apa yang dalam hatinya tadi.
“Bos, apa luka di tangan perlu pengobatan?”Ken menatap Leon.
“Tidak usah Ken, biarkan saja.” ujar Leon mengalihkan pandangannya keluar.
“Bos, kita mau ke hotel dulu, apa langsung ke restauran yang baru?”
“Zidan dan Vincent ke restauran yang baru dan Ken sama Bram ke hotel, gantikan saya , biar saya dengan supir.”
Mereka saling melihat.
“Apa Bos ingin melakukan sesuatu?” Zidan tidak pernah melupakan tugasnya sebagai pengawal.
“Jangan khawatir Dan, aku hanya ingin ziarah ke makam keluarga Hara di Bogor.”
“Oh baiklah Bos.”
Apa yang di lakukan Hara pagi ini ternyata mengusik hati Leon, juga . Hara belum bisa hamil, Leon merasa itu karena kesalahannya di masa lalu, kutukan atas dosa-dosanya di masa lalu.
*
__ADS_1
Tiba di makam keluarga Hara, Leon meletakkan bunga di makam ibu mertuanya.
“Aku datang lagi Bu, pagi ini Hara membuatku sangat sedih, aku merasakan apa yang dia rasakan putrimu. Tolong maafkan saya Bu... atas kesalahanku pada putrimu di masa lalu, juga” ujar Leon membersihkan rumput-rumput di makam ibu mertuanya, supir Leon hanya duduk di mobil melihat majikannya membersihkan mencabut rumput-rumput di makam ibu mertuanya dan kedua makan adik iparnya dan ayah mertuanya.
Setelah membersihkan dan mencurahkan isi hatinya, Leon duduk di sisi makam, pikirannya kembali melintas ke masa lalu di mana Hara pernah hamil lalu kehilangan anak.
‘Dia pasti bisa hamil lagi aku yakin ‘ ucap Leon dalam hati.
Setelah siang ia kembali ke hotel untuk bekerja.
*
Di sisi lain setelah siang Hara baru bangun.
“Aduh kepalaku pusing kebanyakan tidur,” ucapnya ia belum menyadari kekacauan yang ia lakukan pagi ini.
Ia bangun dan menuju dapur, beruntung bangat ia mendapatkan ibu mertua yang baik bangat seperti ibu Atin, wanita itu sangat sayang padanya.
“Sudah bangun Nak? Sini, makan sama Ibu dari tadi ibu nungguin kamu makan.”
“Kok ibu nunggu Hara, Kenapa tidak makan duluan Bu?”
“Tidak enak makan sendirian.”
Ia meminta asisten rumah tangga menyiapkan makan siang untuk mereka berdua, Hara juga ikut berdiri, ia ikut bergegas menyiapkan menu makan di meja.
Ibu Atin tidak menyinggung tentang pagi itu, asisten rumah tangga mereka juga tidak menyinggung apa-apa, jadi Hara belum sadar, sehabis makan ia bergegas ke ruangan kerjanya ternyata masih di kunci.
“Masih dikunci, Leon belum membiarkanku melakukannya. Lalu aku harus ngapain …. ?”
“Bu, Hara rapihin dia kembang-kembang ini semua, iya?”
“Sudah kamu istirahat saja Nak, biarkan saja Pak Maman yang merapikannya nanti,” ucap Bu Atin.
“Hara bosan bangat Bu … ruangan kerjaku masih di kunci sama Leon.”
“Memang kamu sudah kuat?”
“Sudah Bu.”
“Iya sudaha lakukan apa saja agar kamu tidak bosan,” ujar ibu mertuanya.
Hara masuk lagi ke dalam rumah mengganti pakaian, membawa segala peralatan gunting taman, tangga, lampu let, kawat dan tang. Bu Atin masuk ke dalam ramah.
“Bu, Nona mau ngapain ?” Tanya seorang asisten rumah tangga saat melihat Hara bekerja sangat fokus.
“Biarkan saja Mbak, dia pasti sangat bosan. Kamu sama Santi, temani saja. “
“Baik Bu.”
Hara memangkas semua tanaman di depan rumah, membentuknya menjadi taman berbentuk orang, kelinci dan banyak karakter lain.
__ADS_1
“Oh, bagus bangat Non.” Para asisten rumah tangga di rumah Leon sangat kagum.
“Bu, lihat deh keluar,” ujar seorang meminta Bu Atin melihat ke arah taman.
“Oh, astaga kembangku,” ujar Bu Atin kaget, kembang mahal miliknya tidak luput dari tangan Hara, semua di pangkas.
“Tapi bagus Bu, Nona Hara bisa bangat bentuk tanaman jadi banyak bentuk."
“Dia seorang sarjana arsitek, makanya bisa melakukan seperti itu, harusnya Leon membiarkan Hara melakukan kesibukannya. Aku tahu bagaimana perasaanya, dia pasti merasa sangat jenuh di dalam rumah.”
Apapun yang di lakukan Hara pada tanaman Bu Atin tidak marah sedikitpun, walau tanaman mahal itu akan rusak nantinya karena diikat dipasang ke kawat. Tetapi bagi wanita paru baya itu perasaan Hara jauh lebih berharga dari tanaman hias miliknya.
Setelah membentuk semua tanaman itu Hara memasang lampu led di seluruh taman. Jadi rumah Leon sudah mirip seperti taman kota yang dipinggir jalan .
Begitulah, cara Hara mencari kesibukan hari itu, dengan punya kesibukan, pikirannya teralihkan, belum lagi Leon sangat sibuk belakangan ini.
Hara mandi ia berdandan dengan cantik, ia ingin mengajak Leon makan malam di luar.
Hara mengirim pesan untuk suaminya.
[Sayang, kita makan diluar, iya]
Leon menatap lama pesan dari Hara, ia tidak tahu harus menjawab apa agar Hara tidak marah. Leon beberapa minggu ini selalu bersikap hati-hati menghadapi sikap Hara, setelah tetua adat mengingatkan semua kendala mereka susah mendapatkan keturunan
Ia keluar dari ruang rapat, mencari tempat untuk menelepon istrinya.
“Hai, lagi ngapain?” Leon menelepon melalui panggilan Video call.
“Lagi menunggu kamu pulang.”
“Oh, sayang … begini, kita makan malam di luar besok malam saja iya?” ujar Leon dengan wajah memelas.
“Tapi ini uda ketiga kalinya kamu berkata seperti itu, hari ini kenapa lagi?”
“Klien kami yang dari Kanada mengajak makan di luar dan saat ini, aku lagi di Puncak, malam baru pulang, "ujar Leon.
“Oh, baiklah,” ujar Hara tersenyum kecil walaupun terpaksa.
“Hara …!”
“Iya.”
“I love you.”
“I Love you juga ….”
Leon masuk lagi ke dalam ruang rapat tetapi kali pikirannya tidak fokus lagi. Separuh jiwanya memikirkan Hara.
Kini cinta mereka diuji ingin mendapatkan keturunan.
Bersambung....
__ADS_1
Bantu Vote like dan Komentar iya bantu share juga. Terimakasih.