Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Menolak menikah


__ADS_3

Saat Okan duduk santai dengan Harvis.


“Apa kamu menyukai adikku?” Tanya Okan


Wajah Harves langsung memerah.


“Kamu salah sangka Bro dia-"


“Jangan khawatir, aku tidak akan melarang," potong Okan.


“Adikmu sangat cantik, dia, mana mau pada polisi berpangkat rendah seperti aku,” ujar Harvis merendah.


“Kamu sudah meyerah sebelum berjuang Bro”


“Chelia seorang dokter, dia pasti punya kreteria tinggi untuk pasanganya, aku mundur alon-alon saja"


"Tapi tunggu ... kamu melirik Naira terus, kamu tidak  mungkin suka sama dia kan, dia bukan seleramu aku tahu itu …,” ujar Harves menatap Okan.


“Memangnya seleraku seperti apa?” Okan balik bertanya.


“Selera wanitamu berkelas Kan, cantik, pintar, kaya, pastinya,” ujar  Harvis.


Okan hanya tertawa kecil.


“Aku punya hutang minta maaf padanya di masa lalu dan aku ingin melakukannya, aku berpiki akan melakukannya malam ini, apa kamu bisa membantuku?”


“Ok”


Di tempat lain Chelia mengobrol serius dengan Naira.



“Apa kamu masih marah sama Okan Nai?”


“Tidak lagi”


“Bagaimana kalau dia  mengajakmu makan apa kamu mau?”


“Dalam rangka apa?”


“Dia ingin meminta maaf padamu”


“Tidak usa Ce, katakan padanya aku sudah melupakan semua masa lalu,” ujar Naira dengan wajah sedih, ia melirik ponselnya dengan gelisah.


“Ada apa Nai? Dari tadi melirik ponsel kamu “


“Kamu tahu gak … ibu panti ingin menjodohkan aku dengan anak temannya , tapi lihat ini.” Ia menunjukkan ponselnya pada Chelia.


“Oh ganteng bangat ….! Kenapa tidak mau?” tanya Chelia


“Aku tidak suka lelaki yang perfeksionis ”


“Ha …? Setiap wanita ingin lelaki  yang ganteng lalu kenapa kamu tidak?” tanya Chelia.


Merekka berdua sudah berteman lama jadi sering curhat satu sama lain.


“Coba kamu pikirkan …. apa dia mau  padaku?”


“Pasti mau Nai”


“Lelaki yang tampan pasti akan mencari pasangan yang sepadan juga,” ujar Naira.


“Jadi kamu menolaknya?” Chelia kaget.


“Aku ingin lelaki yang sederhana Ce  yang mau menerimaku dengan  latar belakangku yang seperti ini, aku tidak ingin jadi Cinderella”


“Oh … kamu wanita yang lur biasa, aku ingin jadi wanita kuat seperti kamu,” ujar Chelia memeluk Naira.



“Kamu juga wanita yang kuat sayangku, aku yakin kamu bisa melupakan di keparat Danis,” ucapnya membalas pelukan.


Saling curhat dan berbagi masalah membuat hubungan mereka berdua selalu akrap, saat sedang duduk mengobrol santai di pinggir kolam . Tiba-tiba Okan datang.


“Ce, mau ikut ga?” Tanya Okan matanya  melirik Naira, tetapi Naira bersikap cuek.

__ADS_1


“Nongki”


“Mau, tapi sudah bilang ayah belum?”


“Sudah, ayo!”


Dari belakang muncul juga Harves, ia mengajak Naira.


“Ayo Nai!”


“Maaf, aku tidak bisa, aku harus pulang, tadi aku izin hanya sebentar sama ibu panti”


Okan melirik Harvis memberi kode untuk lebih membujuknya lagi.


“Biar aku telepon ibu, untuk minta izin,” bujuk havis.


“Aku minta maaf … aku masih ada urusan sebentar”


“Apa kamu ingin menemuinya?” Tanya Chelia.


“Ibu memaksaku, dia marah karena aku tidak menemuinya”


“Menemui siapa?” Harvis menatap mereka berdua .


“Dia dijodohkan dengan anak teman ibu panti,” ujar Chelia.


“Apa perlu kami temanin?”


“Tidak usah, aku jalan dulu ya, takut kelamaan.” Naira meninggalkan mereka.


Okan ingin menawarkan diri untuk menggantar Naira, tetapi lagi-lagi egonya tinggi.


Ia  pergi meninggalkan Chelia dan Harvis, rencana untuk nongkorong di cafe gagal begitu saja, karena niatnya  mengajak Chelia ke cafe hanya ingin memaanfaatkannya agar Naira ikut dan ia bisa  bicara berdua.


“Lah … katanya mau pergi, gak jadi?”


“Tidak.” Okan melonggos pergi.


“Ada apa dengannya dia yang bilang mau pergi dia juga yang mengagalkannya tanpa alasan aneh”


“Apa mereka sebelumnya sudah saling kenal?”


“ Naira, satu kelasnya dulu saat di SMA,” ujar Chelia.


“Pantas saja”


“Ada apa?”


“Okan bilang dia punya hutang maaf di masa lalu  pada Naira, dia ingin melakukannya, makanya dia mengajak kita ke cafe”


“Oh”


“Chelia, apa kamu mau, aku ajak jalan?”


Wanita berparas cantik itu, diajak berkecan, agar bisa moveon dari Danis, ia juga harus membuka hati.


“Baiklah atur sajawaktunya,” ujar Chelia.


“Chelia mau?” wajah  Harvis sangat senang saat ia  berhasil mengajaknya berkencan.


Sementara Okan berdiri di samping Naira, menunggunya untuk bicara, setelah Naira pamit pada Leonn dan Hara ia keluar.


“Ayo kita bicara sebentar,” pungkas Okan.


“Bicara apa, saya buru-buru”


“Ini penting … ini tentang surat perjanjian yang kita tandatangani”


“Kan, Bapak bilang saya hanya mendampingi satu kali”


“Coba kamu baca isinya, begitu gak?”


“Maaf kertasnya ada di rumah, kalau bapak ingin membahasnya kita bicarakan besok”


“Ayo kita menikah!”

__ADS_1


“Haaa …!?” Naira menatap bigung.


“Aku punya syarat”


“OH … kamu mau bilang kita menikah kontrak seperti itu'kan? Seperti yang ada dalam flim-flim atau sering aku baca di novel.


Maaf aku hidup di dunia nyata bukan di dunia novel maupun di dalam drama, "ujar Naira tegas.


“Aku akan memberikan apapun yang kamu mau”


“Maaf cari saja wanita yang tepat, aku tidak mau,” ucap Naira masuk ke dalam mobilnya, tetapi siapa sangka Okan malah  ikut masuk.


“Apa yang bapak lakukan?”



“Bicara  serius dengan kamu dengan kamu Naira


Dari pada kamu dijodohkan dengan lelaki yang tidak kamu kenal, kenapa kamu tidak menerima tawaranku saja, ibu juga suka dengan kamu”


‘Tetapi aku tidak suka dengan kamu lelaki sombong’ Naira membatin.


“Ibu hanya kasihan padaku, karena aku yatim piatu seperti ibu saat muda, kamu tampan, kaya, terpandang. Aku yakin ada banyak wanita yang mau menerima tawaran kamu”


“Tapi ibu hanya ingin kamu, lagian hanya kamu yang tahu tentang kedatangan Giovani ke Jakarta”


“Saya tidak akan memberitahukan sama siapa Pak Okan,tenang saja. Maaf aku harus pergi, tolong turun”


Okan tidak ingin Naira  bertemu dengan pria yang di jodohkanIbu Pantai.


“Kenapa kamu tidak mau menikah denganku bukannya dulu pernah mengatakan cinta padaku?”


“Itu dulu Pak Okan, saya tidak ingin kembali ke masa lalu,” ujar Naira  matanya tiba-tiba berkaca-kaca.


Okan keceplosan mengungkit masa lalu yang memalukan itu, di mana saat mereka masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.


Saat Okan duduk di bangku  belakang sekolah sedang membaca buku, tiba-tiba seorang  anak perempuan berpenampilan culun dengan kaca mata tebal setebal  dudukan botol, ia mendekat dan memberikan kotak coklat dengannya, awalnya mereka berdua  baik-baik saja sama-sama duduk dalam diam, Okan sibuk dengan buku di tangannya dan gadis culun itu fokus dengan buku gambarnya. Tetapi entah kenapa hari itu sangat berbeda ia datang membawa setangkai bunga, lalu  memberikannya pada Okan lalu ia berkata;


“  Maukah kamu jadi pacarku?”


Okan kaget sekaligus malu ia mendorong Naira sampai jatuh, dari sejak itu ia sangat membenci Naira.


“Maaf …. maafkan aku saat itu,” ujar Okan merasa bersalah.


Tiba-tiba air mata Naira tumpah dan ia akhirnya menangis dan menjelaskan semuanya pada Okan.


“Sebenarnya saat itu ... bukan kemauanku. Anak-anak populer itu yang mengerjaiku, memaksaku mengatakan cinta padamu dan merekamnya”



Sementara di sisi Lain, Leon dan ketiga mantan anak buahnya dan polisi Beny, menyusun rencana untuk menangkap Danis, Juna, Thiani karena malam itu, mereka dapat kabar akan ada transaksi. Leon ingin melakukan pekerjaan itu, tanpa diketahui Chelia dan Okan.


Mampukah ke empat mantan geng Mafia itu melakukannya?


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Terimakasi untuk tips ya


Baca juga  karyaku yang lain


 -Aresya(TERBARU)


-Turun  Ranjang( on going)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


- Bintang kecil untuk Faila (tamat)


__ADS_2