Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Indahnya Jadi Pengantin Baru


__ADS_3

Kini Hara menempati kamar yang didesain sesuai selera Hara, setelah selesai melakukan upacara ritual Hara dan Leon kembali ke kamar. ia mandi dan keramas.


Saat keluar dari kamar mandi Hara  mengambil pengering rambut dan mengeringkan rambut panjang yang basah, ia memilih diam karena ia melihat Leon memasang wajah tegang saat menelepon Zidan dan Ken.


“Awasi dia terus!! bila perlu bantu polisi untuk menangkapnya," ujar


“Baik Bos,” ujar ZIdan di ujung telepon.


“Zidan …”


“Iya Bos”


" Hati - hati...,"


Leon masih belum tenang karena Bunox  masih dalam buronan nan, ia takut mantan anak buah Bokoy  itu datang dan membalaskan kematian ayahnya. Leo menutup telepon, ia melihat Hara mengeringkan rambut.


“Sini berikan padaku.”


Leon membantunya mengeringkan rambut  Hara, ia tidak mau mau wanita itu pingsan seperti saat ia kehujanan.


“Hara,  kepalamu belum bisa terkena air dingin, nanti yang ada kamu  pingsan lagi,” ucap Leon sebelah tangannya  memegang alat pengering rambut  atau hairdryer dan tangan kirinya,  ia gunakan untuk menyisir rambut Hara dengan jari-jarinya.


Hara hanya tersenyum, melihat sikap Leon yang  tiba-tiba berubah  seperti oppa-oppa  Korea yang selalu terlihat perhatian dan romantis di drama yang ia tonton.


Leon, jadi perhatian pada Hara, sikapnya sangat hangat,  lembut,  tidak terlihat seperti balok es lagi.


“Aku merasa sangat beruntung malam ini,  karena itu ….” Ucap Hara membalikkan tubuhnya,  memeluk pinggang Leon dengan erat.


“Karena apa?” tanya Leon menggoda .


“Karena saya tidak takut lagi ke kolam renang”


“Jangan pakai saya lagi Nyonya Hara,  bukan kamu memakai bahasa formal padaku”


“Oh aku lupa, aku belum terbiasa”


“Panggil aku sayang, panggil  papi juga boleh,” ucap Leon masih sibuk mengeringkan rambut Hara.


Tapi tiba-tiba ia berdiri dengan sikap spontan menempelkan bibirnya di bibir Leon.


"Baik sayang,"ujar Hara spontan

__ADS_1


 Leon hanya tersenyum manis, tangannya mengacak-ngacak rambut Hara dengan gemas,ia menarik tubuh mungil itu  ke dalam dadanya dan menempelkan bibirnya di kening Hara.


“Sebenarnya, aku ingin melahapmu lagi saat ini, tapi aku tidak mau kamu kelelahan ,  maka itu,  aku menahan diri, tapi jangan memancingnya untuk bangun  lagi,” ucap Leon meletakkan  hairdryer di atas meja rias.


Mengendong Hara di atas meja,  membelai rambut panjangnya memperlakukannya bak boneka besar, Leon menyisir rambut panjang milik Hara, sesekali ia menghirup wangi dari rambut panjang sang isteri.


Kini  jari-jarinya mengusap bibir merah ranum itu lagi,  menempelkan bibirnya dan saling bermain memberi dan menerima, mereka berdua seperti sepasang pengantin baru yang sedang dimabuk asmara.


Hara meraih  leher Leon dan melingkarkan tangannya dengan gerakkan manja, dengan bibir menjelajahi  leher dan pundak lelaki bertato itu.


“Hara, jika kamu meneruskan,  dia akan bangun nanti aku pastikan akan susah untuk  menidurkannya kembali kalau ia sudah bangun bisa-bisa tidak akan membiarkanmu tidur sampai pagi. Jadi?  apa kamu mau meneruskan atau berhenti di sini?” tanya Leon dengan kedipapan mata merayu,


“Kita tidur saja, tiba-tiba merasa sangat mengantuk,” ucap Hara  ia melompat turun dari meja, wajahnya tersipu malu.


“Ckkk!  kenapa sih aku jadi rakus, memalukan,"ucap Hara menahan malu.


Leon  tersenyum kecil , ia merasa lucu melihat kelakuan Hara.  Hara duduk dengan dengan diam diatas ranjang,


Akan tetapi, Leon  baru mengingat pesan dari Piter  dua hari yang lalu yang


berkunjung .


“Hara. Bagaimana kalau aku datang kerumahmu  besok menemui pamanmu”


Bi Ina sudah seperti  Ibu untuknya, menjaga Hara sejak dari kecil  dan sekarang,  saat ia kehilangan  keluarga ada orang-orang yang menjaganya ia merasa beruntung, sekaligus merasa bersalah,


“Kok, diam?” tanya Leon  duduk di sisi ranjang di sebelah Hara.


Hara menatap Leon dengan tatapan sedih.” Saya, takut”


“Takut kenapa, aku ada bersamamu, kita akan hadapi bersama percayalah  samaku, oh satu lagi bisa kamu jangan pakai bahasa Formal denganku lagi, itu sangat menganggu pendengaran, aku sudah bilang tadi, aku sekarang suamimu dengan


kamu menggunakan kata ‘Saya’ aku merasa kamu seperti karyawan ku”


Hara tersenyum.


“Ok baiklah, aku, aku,aku” ucap Hara tertawa.


*


“Besok kita akan ajak ibu kerumah keluarga kamu, kita adakan adat meminta izin, sebenarnya bukan minta izin lagi sih, karena aku sudah menikahimu dalam adat kami sebenarnya apa yang aku lakukan ini salah, Hara”

__ADS_1


“Bukan hanya di adat kamu, di adat manapun salah pak Leon,  membawa paksa anak perempuan untuk dinikahi,  itu satu kesalahan, mungkin kalau Ayah ibuku masih hidup saat ini, mereka tidak perduli kamu sudah menikahiku apa belum,  mungkin ayah sudah  datang membawaku pulang,  karena  kamu tidak meminta izin pada keluarga terlebih dulu”


“Tapi aku siap mengikuti dan siap menerima konsekuensinya Hara, aku siap di beri hukuman atas apa yang sudah aku lakukan, asal jangan di pisahkan dari kamu” ucap Leon dengan  tulus.


Hara melihat ada   banyak hal yang berubah dari  Leon  saat ini , dari tatapan matanya, caranya memperlakukan Hara, ia juga sudah mulai mau tersenyum walau hanya senyuman ringan, ia tidak seperti dulu Leo yang kaku, kasar, angkuh, kejam.


Namun saat ini Leon, Leon rela melakukan apapun agar Hara tetap bersamanya.,


“Baiklah, berikan ponselmu aku akan telepon Bibi”


“Ponsel kamu kemana? Bukannya aku sudah mengembalikannya tadi pagi ” tanya Leon dengan alis menyengit.


“Lagi di charger “


“Oh …” Leon memberikan ponselnya


Untung Hara mengingat telepon rumah, “Tapi ini sudah malam, Hara,  tidak enak menelepon jam segini?” leon mengingatkan Hara.


“Bibi itu  tidurnya selalu malam, apa lagi saat aku tidak berada di rumah, bisa-bisa ia tidak tidur semalaman” Hara menekan beberapa nomor.


Ia menempelkan benda pipih itu ke daun kupingnya.


“Halo” suara Bi Atin dari ujung telepon.


Tiba-tiba Hara ingin menangis mendengar suara wanita itu, Hara merasa bersalah karena telah  membuat wanita itu  khawatir,


Aku yakin ia belum tidur, pasti tadi masih duduk  di luar memikirkan ku Ucap Hara dalam hatinya.


“Siapa ini?”


“Bibi … ini aku Hara”


“Non Hara? Iya ampun Nak, kamu di mana bibi khawatir,” ucap Bi Ina dengan tangisan.


“Bi, aku baik-baik saja, Bi … dengarkan aku, apa paman Piter masih marah” tanya Hara menahan napas.


“Tentu Hara, tiba-tiba Leon memberi kabar kalau ia sudah menikahimu ia marah awalnya tetapi saat ini ia sudah mulai melunak , ada nak Hilda yang selalu menenangkannya,” ujar Bi Ina.


“Bi, besok  kami datang kerumah, aku datang bersama keluarga Leon, tapi aku takut Piter marah”


“Jangan takut sayang, datanglah,  segala sesuatu itu harus dihadapi dan dijalani agar kita tahu hasilnya”

__ADS_1


“Baik Bi”


Bersambung


__ADS_2