
Saat mereka masih di hotel.
“Ayo kita culik nona Hara Bos, tadi saya sudah menunggu Bos melalukan itu, bahkan saya sudah meminta Pak Danu untuk menyiapkan penerbangan untuk kita,” ujar Zidan.
Mendengar rencana gila dari Zidan Ken Yang berdiri di dekat pintu mendekati Zidan.
“Gila lu Bro,” timpal Ken marah.
“Kenapa? Terkadang kita harus melakukan hal yang nekat untuk mempertahankan hal yang berharga, dari pada kehilangan selamanya dan menyesal seumur hidup, saya yakin setelah pulang dari sini Pak Piter akan mengatur pernikahan untuk Non Hara”
“Saya tidak setuju Bos, kita pasti punya cara lain untuk menunda pernikahan Non Hara dengan dokter itu, tanpa harus menambah musuh untuk bos nantinya, aku punya cara,” ujar Ken dengan semangat.
Mata mereka bertiga tertuju pada Ken, tidak biasanya ia begitu yakin saat memberikan pendapat.
“Apa?” Leon menatap Ken penasaran.
“Berikan laptopnya kesini Bos”
Ken membuka email miliknya.
“Ini Bos, Hilda pernah memintaku memberikan ini pada Bos, surat kontrak kerja Hara di hotel kita dan masih belum selesai. Apa bos tahu dia bisa kena pidana dan melakukan ganti rugi jika tidak menuntaskan perjanjian kerja ini?”
Wajah mereka semua seketika berubah.
“Iya kamu benar di sini di tulis masih tersisa satu tahun kontrak kerja yang di sepakati, kita bisa menuntut Non Hara dengan ini, aku yakin Piter akan menurut, karena ia tidak mau Hara dapat masalah dalam kariernya”
*
Di sisi lain.
Piter yang menerima surat somasi untuk Hara, ia merasa sangat kesal sementara Bu Ina merasa menyesal karena saat itu menyembunyikannya dari piter.
“Hara, begini om minta maaf harusnya om membereskan ini sebelum kamu memulai karier di sini”
“Tidak apa-apa Om aku yang salah saat itu, ayo kita kembali ke Jakarta dan aku akan menyelesaikan kontrak kerja itu sebelum ada masalah. Aku tidak ingin mendapat masalah apapun Om”
“Kamu yakin Hara?”
“Iya Om aku tidak apa-apa”
“Baiklah ayo kita kembali ke tanah air, mungkin ini jalan yang terbaik agar kita bisa berkumpul dengan Om Vikki juga,” ujar Piter.
Rencana Leon menjauhkan Hara dari Maxell akhirnya berhasil. Walau Maxell awalnya tidak setuju dan sangat menentang, tetapi setelah mereka menjelaskan surat kontrak kerja Hara dan surat somasi yang di kirim Hilda, akhirnya ia mengalah. Ia tidak bisa ikut karena ia masih melanjutkan studi S2 di kota Nagoya.
Akhirnya mereka sepakat untuk berpisah untuk sementara waktu.
__ADS_1
“Hara, aku tidak bisa berkata apa-apa, dan aku tidak bisa mengungkapkan kesedihanku, jangan lupa kabarin aku setiap saat,” ucap Maxell dengan mata berkaca-kaca.
“Aku berjanji Kak lanjutkan saja kuliahmu dan jemput aku jika kamu sudah selesai,” ucap Hara.
“Iya, boleh aku memelukmu untuk terakhir kalinya sebelum kamu pulang?”
Hara memeluk tubuh Maxell dengan erat, ia bisa merasakan kesedihan yang dirasakan lelaki tampan itu.
Di tinggal saat lagi sayang -sayangnya memang tidak enak, tetapi Hara tidak tahu kalau ini permainan seseorang yang menginginkan dirinya.
“Nak Hara, jika kamu ada libur datang lagi ke sini iya,” ucap Alice wajahnya sedih, bagi wanita cantik itu, Hara bukan hanya sekedar calon menantu yang baik, tetapi Hara sudah seperti seorang putri untuknya, Maxell hanya dua bersaudara dan dua-duanya lelaki tidak heran wanita itu sangat sayang pada Hara.
“Baiklah Tante, aku akan selalu memberi kabar”
Hara meninggalkan Jepang, Piter akhirnya membawanya pulang ke Indonesia, walau mereka kehilangan rumah , untuk pengobatan Jovita, tapi mereka bersyukur, karena kesembuhan Jovita jauh lebih berharga dari apapun. Mereka yakin jika karier Hara berhasil nanti di Jakarta seperti saat di Jepang, mungkin bisa membeli rumah, untuk sementara waktu Piter memperpanjang menyewa rumah yang dulu di daerah Jakarta selatan untuk mereka tempati sementara waktu.
“Hara, kamu sudah sembuh matanya dan kembali bekerja di Hotel itu, akan banyak berubah apa tidak apa-apa?” Tanya Piter.
“Tidak apa-apa Om”
“Tapi dengar, kalau kamu bekerja lagi di sana jangan percaya pada siapapun, di dunia ini, kamu hanya boleh percaya tiga orang saja, Om, Om Vikky dan Bibi,” ujar Piter.
“Baik Om”
“Mau om, aku akan bekerja”
“Baiklah, om akan mengurusnya nanti,”
Sebelum Leon kembali dari Jepang Piter sudah terlebih dulu pulang dan meminta Hilda tidak memberitahukan tentang Hara sementara waktu , Piter ingin Hara mempersiapkan mental untuk suasana dan lingkungan kerja barunya dan tentunya ia merencanakan sesuatu.
*
“Baiklah Pak Piter, Hara boleh masuk mulai besok , saat ini aku sangat lelah aku sakit dan ingin istirahat. ” Hilda menyetujui apa yang dikatakan Piter tanpa membaca ulang isi kontrak yang dibuat baru lagi sama piter dan di tanda tangan olehnya, karena sebelumnya mereka sudah pernah bertemu ia percaya saja.
“Baik Bu, besok dia akan saya bawa,”
“Leon Wardana, baiklah kalau kamu ingin Hara bekerja di hotelmu ini lagi, kami akan menurutinya,
Kamu juga yang akan terluka karena dia tidak akan mengenalmu,” ujar Piter menyalakan sebatang rokok menatap bangunan hotel megah milik Leon.
Ia menghidupkan mesin mobilnya dan menyusuri jalanan ibu kota, rumahnya yang ia kontrak tidak begitu jauh dari Hotel Leon, hanya kira-kira sepulu menit kalau naik mobil.
Saat ia tiba, wanita cantik itu sudah berdiri didepan pintu.
“Aduh Hara kaget aku, ngapain berdiri belakang pintu?” Piter memegang dadanya
__ADS_1
“Menunggu Omlah, kenapa tadi langsung membawa aku kabur dari Hotel, padahal aku masih ingin melihat-lihat tempat itu, aku masih bisa membayangkannya walau tutup mata.”
“Om, harus izin dulu sama Manager hotel, mulai besok, kamu sudah bekerja lagi di sana,”
“Benarkah? Baiklah Om aku akan melakukan yang terbaik agar kita bisa mengumpulkan banyak uang aku tahu di sini aku akan memulai karier baru dan belum tentu berhasil,” ujar Hara.
Jovita Hara sudah ceria kembali, ia berpikir kalau Piter adalah Paman kandungnya sama seperti pamannya Vikky, ia akan selalu percaya pada kedua lelaki itu.
Hingga pagi tiba saat Piter dan Vikki baru turun, dengan wajah malas, Hara sudah berpakaian rapi siap untuk bekerja.
“Hara, ini baru jam enam pagi, kamu mau kemana sepagi ini?” Piter menggaruk-garuk kepala dengan malas, karena saat enak-enak tidur Hara meneriaki mereka untuk membangunkannya.
“Om, sebagai anak baru harus kasih contoh baik, iya harus datang lebih cepat”
“Jam segini belum buka kali kantornya, Nona Muda,” kata Vikky menyentuh ujung hidung Hara.
“Lebih baik menunggu dari pada di tunggu om, jadi aku pergi sendiri apa diantar?”
“Baik, baiklah, berikan Om waktu sepuluh menit, aku akan mengantar” Piter naik lagi ketas untuk berganti pakaian.
Bi Ina hanya senyum melihat semangat Jovita Hara, tapi terlihat ada rasa khawatir pada Jovita, ia takut bagaimana kalau ingatannya pulih.
“Jangan khawatir Bi, percaya saja pada Piter, ingatannya tidak akan pulih secepat itu butuh waktu aku berharap setelah dia menikah, biarkan dia hidup seperti saat ini” Kata Vikky saat melihat Jovita keluar, ia mengerti kekhawatiran Bu Ina
“Bibi sebenarnya sangat takut Mas, kenapa Non harus kesana lagi, masih banyak pekerjaan yang lain kalau ia ingin bekerja, bibi tidak tahu tentang surat kontrak yang mereka maksud,” ujar wanita paru baya itu dengan wajah cemas.
Piter mengantar Hara untuk bekerja lagi di Hotel milik Leon.
Bersambung.
KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing
__ADS_1