
Leon menasihati Hara agar jangan memikirkan urusan rumah tangga ketiga mantan anak buahnya karena hal itu bisa membuatnya pusing.
“Bu, biarkan mereka memutuskan sendiri yang penting kita sudah memberikan masukan,” ujar Leon.
“Baiklah, aku akan menjadi sekretaris yang bertanggung jawa,” ujar Hara.
Tiba di kantor dan mulai berkutat dalam pekerjaan.
Hara mengerjakan semuanya, bahkan harusnya bukan bagian sekretaris, ia mengerjakannya.
Melakukan perubahan di jajaran pegawai hotel, selama ini Leon hanya fokus mengerjakan proyek besar dan membangun jaringan bisnisnya semakin besar, ia tidak tahu bagaimana keadaan pegawai rendahan.
Leon tidak tahu bagaimana karyawan-karyawan paling bawah, mereka terkadang diperlakukan tidak adil dan semena-mena oleh para atasan Hara tahu hal itu, karena ia pernah kerja di hotel itu
Hara datang dan memulai semuanya dari bawah, saat ia berada di hotel ia memperhatikan bagian para pekerja parkir, taman, penerima tamu di pintu dan bagian kebersihan, mereka- mereka itu orang yang berjasa dalam pekerjaan tetapi terkadang tidak dianggap keberadaannya hal itulah yang di perhatikan nyonya besar.
Hari berikutnya baru ia mengawasi bagian dapur, walau ada sedikit drama, karena koki bagian hotel merasa tersinggung, karena Hara mengawasinya.
Tetapi setelah dijelaskan baik-baik akhirnya ia dapat menerima tujuan Hara, mengganti resep masakan pada resep aslinya, walau ada tambahan dalam bumbu harus ada catatan yang original atau campuran.
“Kita akan meninjau langsung ke tempatnya, jangan karena hanya melihat laporan pembukaan mereka menguntungkan kamu langsung percaya begitu saja,” ujar Hara saat Leon hanya terfokus pada laporan bagus yang ia terima.
“Aku hanya mengurus bagian garis besarnya Bu, selagi memberi keuntungan dan tidak merugikan perusahaan aku tidak pernah menyelidiki pekerjaan mereka.”
“Karena itulah aku bilang Pak Leon … kamu tidak tahu bagaimana mereka para pegawai rendahan terkadang diperlakukan tidak adil sama atasan mereka,” ujar Hara.
“Memang apa mereka diapain? Untuk orang pebisnis seperti aku, mendapat laporan dapat keuntungan yang meningkat setiap tahunya, itu sudah hal yang luar biasa memangnya apa lagi?” tanya Leon menghentikan tangannya yang sibuk menandatangani berkas di atas meja.
“Pak Leon, sebagai seorang bos jangan banyak duduk manis dan menerima keutungan saja, tidak tahu terkadang apa yang dialami para karyawan kelas bawah, terkadang mereka tidak menerima gaji hanya karena hal sepele, mungkin hanya terlambat setengah jam, tetapi sudah dipotong gaji sekian persen dan gaji mereka yang dipotong tadi. Dijadikan untuk menutupi pendapatan laporan ke atasan, seperti yang kamu terima itu,” ujar Hara.
“Mana ada seperti itu?” tanya Leon, menatap Hara serius.
“Dengar …. Pak Leon belum pernah seumur hidup jadi seorang pegawai atau seorang karyawan , kan?”
__ADS_1
Leon menggeleng.
“Aku sudah, sebelum ayahku memasukkan aku bergabung di perusahaannya dulu, aku di suruh menyamar dari karyawan kontrak selama beberapa tahun, bukan hanya di perusahaan kami, bahkan beliau memintaku bekerja di perusahaan lain sebagai studi banding untukku. Rasanya sangat berat karena di sana aku banyak belajar bagaimana kehidupan para karyawan kelas bawah.”
Leon masih diam, “Sayang, apa aku harus melakukan hal yang kamu lakukan, dulu?” tanya Leon dengan tangannya mengelus-elus dagu, sebelah alisnya terangkat, seolah-olah ia sedang berpikir.
“Tidak, aku tidak memintamu seperti itu.”
“Tetapi apa yang kamu bilang kadang aku pikirkan juga Hara, kamu tahu kan aku bukan orang yang mudah percaya pada orang lain, terkadang ada juga pikiran seperti itu dalam otakku saat mereka memberi laporan, padaku, tetapi pekerjaanku menumpuk dan terkadang lupa.”
“Sepertinya aku akan melakukan penyamaran seperti yang kamu lakukan dulu, mungkin barang seminggu atau dua minggu,” ujar Leon.
“Dengar Pak Leon Wardana, terkadang orang yang duduk di puncaknya dia akan malas turun ke bawah karena sudah terlalu nyaman di atas, itu sudah satu hal yang biasa, untuk ke banyakan untuk para bos,” ujar Hara.
“Tidak Bu … aku bukan orang yang seperti itu, kamu tahu sendiri , kan? aku juga pernah mengalami hidup susah bahkan menjadi anak-anak jalanan.”
“Tetapi itu sudah puluhan tahun, kan, aku pikir kamu tidak akan mampu bertahan walau hanya bareng satu hari,” ujar Hara meragukan keinginan suaminya yang ingin melakukan penyamaran.
“Jangan menyepelekan suamimu ini sayang, kamu belum tahu kemampuanku,” timpal Leon.
“Bukan, kamu seor-“
Hara berpikir dan menimang sejenak, ia memikirkan apa ia mampu mengantikan posisi suaminya selama ini yang di kenal lelaki kuat dan bekerja keras.
‘Baiklah mungkin aku bisa mencobanya dan memberikan Leon kesempatan’ Ujar Hara dalam hati.
“Baiklah, jika kamu ingin mencoba maka lakukanlah, aku akan memberimu kesempatan bagaimana seorang karyawan bawahan, tapi katakana padaku kalau kamu tidak kuat, tapi aku yakin Pak Leon kuat kok,” ujar Hara tersenyum kecil .
“Tenang saja, aku bukan orang kota yang gampang menyerah dan gampang putus asa,” ujar Leon, ujung matanya menatap Rara.
“Ok, buktikan bos, aku juga ingin lihat, apa bos sebesar sekelas Leon akan bisa hidup susah bareng sebentar?”
“Tentu bisa.” Leon menjawab dengan yakin.
“Lalu kalau kamu tidak bisa bertahan dalam kurun waktu yang di tentukan apa hukumannya?” Hara menantang suaminya dengan taruhan.
“Haaa! Pakai taruhan?” Kening Leon berkedut membentuk tiga kerutan.
__ADS_1
“Ya, kamu takut?” Hara balik bertanya, dengan tangan berdecak di pinggang alisnya di kedip-kedipkan, ia menggoda suaminya.
“Tidak, baik aku yang duluan.” Leon membalas dengan mengigit bibir bawahnya. “Aku ingin kamu punya anak lagi kalau aku berhasil,” ujar Leon, ia berdiri dari kursi kebesarannya dan duduk di sofa, mengangkat sebelah kaki saling bertumpu dan kedua tangan melipat di dada, ia menatap Hara dengan tatapan santai.
Hara melongo ia tidak kaget karena Leon masih menginginkan anak.
“Pak Leon … aku sudah tua,” ucap Hara setengah berbisik.
“Kata siapa tua, umur kamu tiga puluh lebih aku yang sudah tua,” ujar Leon.
“Lagian Okan dan Chelia sudah besar , mereka akan tertawa kalau aku punya anak lagi,” ujar Hara.
“Tidak, mereka berdua justru ingin punya dedek bayi lagi,” ujar leon berharap.
“Tidak, aku tidak mau,” ujar Hara, menyibukkan diri membereskan berkas-berkas di atas meja kerjanya.
“Bukankah kamu yang menantang duluan?”
“Iya, tetapi tidak ada hubungannya dengan itu,” ujar Hara ia tidak mau Leon membahas tentang punya anak.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Terimakasi untuk tips ya
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (tamat)