Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Istriku sekretarisku


__ADS_3

Leon menasihati Hara agar jangan memikirkan  urusan rumah tangga   ketiga mantan anak buahnya karena hal itu bisa membuatnya pusing.


“Bu, biarkan mereka memutuskan sendiri yang penting  kita sudah memberikan masukan,” ujar  Leon.



“Baiklah, aku akan menjadi sekretaris yang bertanggung jawa,” ujar Hara.


Tiba di kantor dan mulai berkutat dalam pekerjaan.


Hara mengerjakan semuanya, bahkan harusnya bukan bagian sekretaris,  ia mengerjakannya.


  Melakukan  perubahan di jajaran pegawai hotel, selama ini Leon hanya fokus   mengerjakan proyek besar dan membangun jaringan bisnisnya semakin besar,  ia tidak tahu bagaimana keadaan pegawai rendahan.


 Leon tidak tahu bagaimana karyawan-karyawan paling bawah, mereka terkadang diperlakukan tidak adil dan semena-mena oleh para atasan Hara tahu hal itu, karena ia pernah kerja di hotel itu


Hara datang dan memulai semuanya dari bawah, saat ia berada di hotel ia memperhatikan bagian para pekerja  parkir, taman, penerima tamu di pintu dan  bagian kebersihan, mereka- mereka itu orang yang  berjasa dalam pekerjaan tetapi terkadang tidak dianggap keberadaannya hal itulah yang di perhatikan nyonya besar.


 Hari berikutnya  baru ia mengawasi bagian dapur, walau ada sedikit drama, karena koki bagian hotel merasa tersinggung,  karena Hara mengawasinya.


Tetapi setelah dijelaskan baik-baik akhirnya ia dapat menerima tujuan Hara, mengganti resep masakan  pada resep aslinya, walau  ada tambahan dalam bumbu harus ada catatan yang original atau campuran.


“Kita akan meninjau langsung ke tempatnya, jangan karena hanya melihat laporan pembukaan mereka menguntungkan kamu langsung percaya begitu saja,” ujar Hara saat Leon hanya terfokus pada laporan bagus yang ia terima.


“Aku hanya mengurus bagian  garis besarnya Bu, selagi  memberi keuntungan dan tidak merugikan perusahaan aku  tidak pernah menyelidiki pekerjaan mereka.”


“Karena itulah aku bilang Pak Leon … kamu tidak tahu bagaimana mereka para pegawai  rendahan terkadang diperlakukan tidak adil sama atasan mereka,” ujar Hara.


“Memang apa mereka diapain? Untuk orang pebisnis seperti aku, mendapat laporan dapat keuntungan yang meningkat setiap tahunya,  itu sudah hal yang luar  biasa  memangnya apa lagi?” tanya  Leon menghentikan  tangannya yang sibuk menandatangani berkas di atas meja.


“Pak Leon, sebagai seorang bos jangan banyak  duduk manis dan menerima keutungan saja, tidak tahu terkadang apa yang dialami para karyawan kelas bawah, terkadang mereka tidak menerima gaji hanya karena hal sepele, mungkin hanya terlambat  setengah jam,  tetapi sudah dipotong gaji sekian persen dan gaji mereka yang dipotong tadi.  Dijadikan untuk menutupi pendapatan laporan ke atasan, seperti yang kamu terima itu,” ujar Hara.


“Mana ada seperti itu?” tanya Leon,  menatap Hara serius.


“Dengar …. Pak Leon belum pernah seumur hidup jadi seorang pegawai atau seorang karyawan , kan?”


__ADS_1


Leon  menggeleng.


“Aku sudah, sebelum ayahku memasukkan aku bergabung di perusahaannya dulu, aku di suruh menyamar dari karyawan  kontrak selama beberapa tahun, bukan hanya di perusahaan kami, bahkan beliau memintaku bekerja di perusahaan lain sebagai studi banding untukku. Rasanya sangat berat karena di sana aku banyak belajar bagaimana kehidupan para karyawan kelas bawah.”


Leon masih diam, “Sayang, apa aku harus melakukan hal yang kamu lakukan, dulu?” tanya Leon dengan tangannya mengelus-elus dagu, sebelah alisnya terangkat, seolah-olah ia sedang berpikir.


“Tidak, aku tidak memintamu seperti itu.”


“Tetapi apa yang kamu bilang  kadang aku pikirkan juga Hara, kamu tahu kan aku bukan orang yang mudah percaya pada orang lain, terkadang ada juga pikiran seperti itu dalam otakku saat mereka memberi laporan, padaku, tetapi pekerjaanku  menumpuk dan terkadang lupa.”


“Sepertinya aku akan melakukan penyamaran seperti yang kamu lakukan dulu, mungkin barang seminggu atau  dua minggu,” ujar Leon.


“Dengar Pak Leon Wardana, terkadang orang yang duduk di puncaknya dia akan malas turun ke bawah  karena sudah terlalu nyaman di atas, itu sudah satu hal yang biasa, untuk ke banyakan untuk para bos,” ujar Hara.


“Tidak Bu …  aku bukan orang yang seperti itu, kamu tahu sendiri , kan? aku juga pernah mengalami hidup susah bahkan menjadi anak-anak jalanan.”


“Tetapi itu sudah puluhan tahun, kan,  aku pikir kamu tidak akan mampu bertahan walau hanya bareng satu hari,” ujar Hara meragukan keinginan suaminya yang ingin melakukan penyamaran.


“Jangan menyepelekan suamimu ini sayang, kamu belum tahu kemampuanku,” timpal Leon.


“Bukan, kamu seor-“


Hara berpikir dan menimang sejenak, ia memikirkan apa ia mampu mengantikan posisi suaminya selama ini yang di kenal lelaki kuat dan bekerja keras.


‘Baiklah mungkin aku bisa  mencobanya dan memberikan Leon kesempatan’ Ujar Hara dalam hati.


“Baiklah, jika kamu ingin mencoba maka lakukanlah, aku akan memberimu kesempatan bagaimana seorang karyawan bawahan, tapi katakana padaku kalau kamu tidak kuat, tapi aku yakin Pak Leon kuat kok,” ujar Hara tersenyum  kecil .


“Tenang saja, aku bukan orang kota yang gampang  menyerah dan  gampang putus asa,” ujar Leon, ujung matanya menatap Rara.


“Ok, buktikan bos, aku juga ingin lihat, apa bos sebesar sekelas Leon akan bisa  hidup susah bareng sebentar?”


“Tentu bisa.” Leon menjawab dengan yakin.


“Lalu kalau kamu tidak bisa bertahan dalam kurun waktu yang di tentukan apa hukumannya?” Hara menantang suaminya dengan taruhan.


“Haaa! Pakai taruhan?” Kening Leon berkedut membentuk tiga kerutan.

__ADS_1


“Ya, kamu takut?” Hara balik bertanya, dengan  tangan berdecak di pinggang alisnya di kedip-kedipkan, ia menggoda suaminya.


“Tidak, baik aku yang duluan.” Leon membalas dengan mengigit bibir bawahnya. “Aku ingin kamu punya anak lagi kalau aku berhasil,” ujar Leon,  ia berdiri dari kursi kebesarannya  dan duduk di sofa, mengangkat sebelah kaki saling bertumpu dan kedua tangan melipat di dada, ia menatap Hara dengan tatapan santai.


Hara melongo ia tidak kaget karena Leon masih menginginkan anak.


“Pak Leon … aku sudah tua,” ucap Hara setengah berbisik.


“Kata siapa tua, umur kamu tiga puluh lebih aku yang sudah tua,” ujar Leon.


“Lagian Okan dan Chelia sudah besar , mereka akan tertawa kalau aku punya anak lagi,” ujar Hara.


“Tidak, mereka berdua justru ingin punya dedek bayi lagi,” ujar leon berharap.


“Tidak, aku tidak mau,” ujar Hara, menyibukkan diri membereskan berkas-berkas di atas meja kerjanya.


“Bukankah kamu  yang menantang duluan?”


“Iya, tetapi tidak ada hubungannya dengan itu,” ujar Hara ia tidak mau Leon membahas tentang punya anak.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Terimakasi untuk tips ya


Baca juga  karyaku yang lain


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (tamat)


__ADS_2