Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Kelakuan Para Bumil


__ADS_3

Mohon dukungan bjuga kakak yang baik untuk karya terbaru ya... 👇



Bantu Vote like dan komen iya.



Setelah Hara mendapatkan jatah pagi  itu Hara merasa keinginan tubuhnya tercapai.


Hidup di istana megah yang  terkunci yang di penuhi puluhan penjaga dan dayang-dayang rumah tangga yang selalu mengikutinya kemanapun ia pergi.


Jenuh, bosan, bete, itu sudah pasti. Tetapi semua itu Leon lakukan demi keselamatan Hara dan calon buah hatinya.


Selepas Leon berangkat ke kantor Hara mendudukkan tubuhnya di sofa menatap tanaman  bunga yang  bermekaran di taman, ia tersenyum manis, ternyata Leon  menambah koleksi tanaman hias untuk Hara, tetapi ia tidak bilang pada Hara. Ia turun  menatap takjub tanaman langkah yang Leon berikan.  Bu Atin  datang  menghampiri Hara.


“Leon kemarin yang meminta bawahannya  membawanya.”


“Bagus bangat Bu, ini tanaman langka,” ujar Hara menghirup kuncup bunga.


“Dia tahu kamu suka bunga dia membelinya banyak.”


“Lalu  tembok kenapa di bobol?” Tanya Hara..


“Kapling di sebelah di beli suamimu, ingin di buat taman bunga yang ada bangunan mirip kastil katanya, dia ingin membangun taman bunga mirip istana untukmu."


Hara tersenyum, ia sangat senang saat Leon akan membangun taman bunga indah untuknya.


Jovita Hara bagai tuan putri yang hidup di istana Leon


 Ada banyak orang yang selalu sibuk di rumah Leon.  Setiap dua jam para penjaga akan melakukan pengecekan ke setiap sudut ruangan. Setiap beberapa jam juga seorang asisten rumah tangga, akan memantau Hara.


“Non, waktunya minum jus,” suara asisten rumah tangga yang ditugaskan Leon untuk bertanggungjawab menjaga asupan makanan sehat untuk Hara.


“Baiklah Mbak , sini" Hara minum jus buah segar sebagai awal serapan pagi.


“Buat Ibu mana?” Tanya Hara pada wanita yang bertugas  mengatur asupan makanan untuknya.


“Tidak usah tadi habis minum obat,  nanti Kikan yang akan mempersiapkan untuk, Ibu ,” ujar Bu Atin ia jongkok melihat tanaman hias tersebut.


“Nak jangan  ikut jongkok, kasih mereka berdua kejepit,” ujar Bu Atin . Jadi di rumah itu bukan hanya Leon yang menghawatirkan kehamilannya, tetapi ibu mertua yang super baik itu, ikut menjaganya . Bu Atin bukan seperti ibu mertua tetapi lebih tepatnya seperti ibu untuk  hara, karena wanita itu sangat baik pada Hara.


“Ibu bukan hanya  mereka yang kejepit tapi aku yang tidak bisa bangun Bu,” ujar Hara tertawa.


Wanita itu  sampai memangil dua orang  asisten rumah tangga untuk membantu Hara. Saat duduk santai dengan ibu mertua menikmati taman  di samping rumah , asisten rumah tangga itu datang mendekat dan bertanya pada Hara;


“Non,  campuran air mandinya mau campuran apa? susu apa taburan kelopak bunga.”


“Nanti saja iya mbak, bentar lagi, menikmati udara pagi ini dulu,” ujar Hara ramah. Ia selalu ramah dan suka bercanda sama semua pekerja di rumah Leon, baik itu para penjaga kemanan di rumahnya maupun asisten rumah tangga.


“Baik Non, nanti saya akan balik lagi.”

__ADS_1


“Kita ke dalam saja ayo kasihan mereka silau mentari pagi itu ini pati menyilaukan cucu oma,” ujar Bu Ina mencium perut Hara.


“Belum lahir saja sudah di sayang bangat sama omanya bagaimana kalau sudah lahir iya?” ujar Kikan, ia membawa potongan buah dan meletakkannya di atas meja.


“Mbak Kikan, kapan menikah dengan Toni?” Tanya Hara.


“Baru juga jadian kemarin Bu,” jawabnya jujur.



“Wah, Kak Toni hebat, tidak pakai lama  suka langsung tembak,” ujar Hara tertawa.


Wanita berparas cantik itu tersipu malu.


“Saya mau ke ruangan saya dulu iya Bu, mau menyiapkan vitamin untuk ibu,” ujarnya  lagi.


“Mbak Kikan nanti kalau menikah  bilang-bilang dulu kita iya, soalnya Kak Toni itu sudah seperti kakak bagiku dan sudah seperti anak untuk ibu juga ,” ujar Hara.


“Iya, itu benar  suster, Ibu senang Toni kalau Toni menikahi wanita yang  biak, aku berharap kalian pasangan cocok,” ujar bu Atin lagi.


“Iya Bu,” jawab Kikan dengan sopan.


Kikan meninggalkan menantu dan mertua itu di ruang tamu, Hara menyalahkan televisi, menonton acara gosip artis yang tertangkap mengunakan narkoba.


“Ih, itulah manusia yang tidak tahu bersyukur, udah cantik suami ganteng, karier bagus, tetapi, tidak bersyukur masih saja memakai barang setan itu,” ucap Bu Atin memaki televisi. Tetapi tangannya menyodorkan mangkok salad buah untuk Hara satu untuk dia juga.


Pikiran Hara ter-alihkan dengan ocehan kemarahan Bu Atin. Memaki orang yang ada dalam televisi.


“Iya, Dia artis sinetron, dasar rasakan kamu,” ucap Bu Atin geram  melihat kearah televisi, sepasang suami istri tertangkap pakai narkoba.


Setelah menonton acara gosip artis Bu Atin menatap Hara.


“Hara pasti kamu merasa sangat jenuh terkurung di dalam rumah terus, kasihan, tetapi semua itu Leon lakukan demi keselamatanmu, Hara,” ucap Bu Atin.


“Aku tahu Bu,” ujar  Hara tersenyum.


Utuk mengisi  kegiatan hari ini ia mengajak  semua  orang membantu untu memasak  cake.


Jika ia diperlakukan bak seorang tuan  putri dan semua memperhatikan kesehatan Hara dan yang terpenting Leon sangat bahagia bersamanya.


*


Disisi Lain di rumah Piter  justru  hal yang berbeda.


Pagi itu, mengamuk sampai melemparkan barang-barang di kamar mereka.


“Mi, kalau kamu capek kamu di rumah saja,” ujar Piter  dengan wajah lelah.


“Aku tidak mau, kalau Papi tidak mau libur di rumah!”


“Di kantor kami ada rapat penting dengan klien,” ujar Piter memelas.

__ADS_1


“Aku tidak perduli, penting mana anakmu apa pekerjaan?”


“Terus kamu maunya apa sekarang?” Tanya Piter mulai terbawa emosi.


“Papi  harus libur kalau aku libur,” pungkas Hilda ia bersikap otoriter pada suaminya.


“Ada bibi di rumah Hilda, katakan saja pada Bibi apa yang kamu butuhkan ,” ujar Piter.


“Tidak, aku tidak mau, aku maunya Papi,” ujar Hilda manja , bahkan  manja berlebihan saat kehamilannya.


Hilda semua wanita juga akan hamil, tetapi tidak begini juga kali,” ujar Piter mulai merasa jengkel dengan sikap istrinya.


“Tapi ini sakit Papi, pinggangku sakit, kaki pegal, perutku begah.”


“Hara hamil juga tetapi dia gak manja Hilda, dia dibesarkan  seperti tuan putri di keluarganya , tetapi  setelah menikah  dia tidak pernah manja,” ujar Piter karena emosi, tanpa sadar membanding- bandingkan istri dengan Hara.


Hilda langsung  berteriak marah.



‘”Jangan banding-bandingkan aku dengan Hara, dia enak dari kecil sudah mendapat kasih sayang kedua orang tuanya. Aku tidak Piter …! Ibuku sudah meninggal sejak aku kecil dan ayahku  selalu sibuk bertugas jadi tentara, jadi aku kurang kasih sayang. Apa salahnya aku bersikap manja pada suamiku,” ujarnya terisak-isak. Tiba-tiba merasa perutnya keram.


“Ah … aduh perutku sakit,” ujarnya mengelus perut.


Mendengar itu piter lagi-lagi mengalah ia memeluk istrinya.


“Baik-baiklah, aku akan di rumah, aku akan melakukan apapun untukmu,” ujar Piter menemaninya rebahan.


Piter merasa sangat tertekan,  dengan sikap Hilda yang mudah meledak-ledak yang membuat Piter semakin tersiksa setiap kali ia meminta jatah. Hilda akan menolak dengan alasan tidak mau anak mereka  merasa sakit jika ditusuk, alhasil ulat keket milik Piter puasa selama Hilda hamil, bagaimana Piter  betah di rumah kalau tidak kasih jatah. Kasihan ular keket Piter jadi karatan karena tidak ganti oli selama berbulan-bulan.


Bersambung.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2