
Bertemu Mantan
Setelah melarikan diri dari Leon dan kabur ke rumah orang tuanya
Jovita masih bersembunyi dalam boxs plastik besar yang ada di pojok kamar jovita.
Leon masih berdiri di kamarnya, meminta orang-orangnya untuk membersihkan kamar Jovita.
“Terutama kamar ini, aku ingin tidur di kamar ini nanti, jadi kamar ini milik saya, saya sudah membayar mahal untuk rumah ini, maka lakukan perbaikan yang seperti yang aku minta,” pinta Leon dengan nada tegas
Leon tahu kalau Jovita masuk dalam Boxs , ia sengaja menduduki boxs yang di masukin Jovita, lebih parahnya lagi jari-jari tangannya terjepit.
‘Uuuuh ... dasar tanganku terjepit’ Jovita menahan suaranya agar tidak menjerit.
Badan melingkar, tangan terjepit, asupan udara semakin menipis, lengkap sudah penderitaan wanita cantik itu.
Leon berharap, saat ia duduki Boks, ia ingin Jovita berteriak dan menyerah, tetapi Leon duduk hampir lima menit, wanita itu menahan rasa sakit dari tangannya.
Jovita diam, ia tidak bergerak sedikitpun, walau rasanya sangat menyakitkan, ia hampir mati karena kehabisan oksigen.
‘Kamu memang wanita yang keras kepala, tidak gampang menyerah’ ucap Leon dalam hati, ia berdiri, tidak ingin membuat wanita itu mati kehabisan napas.
Ia membiarkan Jovita mengambil nafas dan beristirahat , ia ingin tau apa yang akan di lakukan wanita itu selanjutnya,
“Kita melihat-lihat bagian bawah, saya ingin dapur di rumah ini ada mini Bar juga, itu akan membuat saya nyaman"
Sengaja ia menegaskan suara langkah kaki, agar Jovita tahu, kalau ia sudah keluar dari kamar dan ia bisa keluar dari boxs.
Benar saja, saat Leon pura-pura meninggalkan kamar Jovita keluar dari boxs, badannya basah karena keringat rambutnya lepek, kerena keringat juga, ia meringis memegangi jari-jari tangannya yang terjepit.
Belum juga ia memulihkan jantungnya.Tetapi jantung itu hampir saja melompat lagi dari dalam dada, Leon berdiri di depan pintu kamar dengan gayanya yang biasa.
Melipat tangan di dada, menyadarkan tubuhnya di sisi pintu kamar Jovita, lalu menatapnya dengan tatapan dingin.
Saat ia ingin berdiri,
“Ah …! Setan” Jovita terkaget karena Leon sudah berdiri di tiang pintu.
Ia terdiam, matanya was-was melihat Leon, seperti rusa yang terjebak dalam sergapan seekor singa, matanya mengawasi sekeliling, ia ingin kabur, tetapi tidak ada tempat di depan yang jadi pelarian.
Matanya melihat kamar mandi, hanya itu yang ia tahu. Ia berlari kesana , mengunci pintu dari dalam.
__ADS_1
“Jangan buang-buang waktu, kamu tidak akan bisa kabur kemana-mana,” pinta Leon berucap datar, ia yakin kalau Jovita tidak akan pernah jauh darinya.
Tadi malam ia uring-uringan, ia tidak bisa memejamkan matanya, kaburnya Jovita dari Leon alasan pertama penyebab ia tidak bisa tidur, ia sudah berusaha untuk menutup matanya agar ia bisa tidur, segala cara ia lakukan, membaca buku, menghitung domba, bahkan meminum minuman yang membuatnya mabuk, tidak mampu juga membuatnya tertidur, Jovita sudah seperti boneka yang mampu membuatnya tidur.
“Tidak, aku tidak boleh tertangkap, aku tidak mau melihat lelaki kejam itu lagi, aku harus berusaha kabur.”
Jovita menyalakan kran air dengan deras di kamar mandi. Lalu ia memanjat plafon kamar mandinya, suara berisik dari kakinya tidak di sadari Leon, lelaki Balok es itu terlalu larut melihat-lihat isi kamar jovita, hingga tiba-tiba sadar, dengan trik menyalakan kran air Ia mendobrak pintu kamar mandi, Jovita sudah kabur melalui gudang penyimpanan, melarikan diri
Melarikan dari kamar mandi, hal mudah baginya, karena permainan melarikan diri dan mengumpat seperti itu, sering mereka lakukan bersama kedua adik laki-laki kembarnya.
Ia berlari secepat mungkin keluar dari rumahnya, menghentikan ojek yang melintas di depan jalan, ia tidak menghiraukan telapak kaki yang terluka karena ia menginjak beling di belakang gudang rumahnya.
Melihat Jovita kabur Leon meminta anak buahnya untuk mengejar.
“Kejar dia !”Perintah Leon pada lelaki berbadan kekar itu.
“Dia harus segera ditemukan, ia dalam bahaya jika seseorang mengetahui kalau ia masih hidup”
“Baik Bos!”
Kedua lelaki yang itu mengejar Jovita.
Jovita juga tidak mau tertangkap, ia menyuruh tukang ojeknya agar lebih mempercepat laju motornya.
“Aduh Non, bahaya kalau ngebut-ngebut nanti ditangkap polisi, apa lagi ini masih pagi, banyak rajia,” ucap si bapak.
“Ok, baik, kalau begitu bawa lewat gang-gang kecil saja”
“Baik, kalau itu mah masih berani
Setelah naik motor lewat gang-gang kecil, untuk menghindari anak buah Leon yang mengejar pakai mobil. Setelah berhasil menjauh dan menghindar.
Jovita akhirnya tiba di kantor ayahnya atau perusaan keluarganya, sebuah perusahaan kontraktor besar milik keluarga Jovita.
Tujuannya hanya satu, ia ingin menemui tunangannya atau tepatnya mantan tunangannya, karena lelaki itu sudah menikahi sahabatnya lestari.
Orang-orang di kantor, melihat jovita datang, membuat mereka heran dan sangat terkejut, karena baru satu bulan kemarin mereka baru mengadakan upacara, untuk ketenangan arwah satu keluarga pemilik perusahaan.
Tetapi saat ini, wanita yang mereka percayai itu sudah meninggal ada di kantor. Bahkan ada yang baca ayat pengusir syetan padanya.
Suara-suara kecil seperti lebah mulai kedengaran , itu wajar, karena Jovita sudah di nyatakan polisi sudah meninggal.
__ADS_1
Tidak pakai menunggu, ia langsung menuju ruangan Beni
Took ... took
“Masuk,” Ben menyuruhnya si pengetuk pintu masuk, ia memang selalu datang lebih awal dari orang lain, apalagi saat ini, ia menjadi seorang direktur menggantikan ayahnya Jovita.
Saat matanya melihat siapa yang datang, ia terperanjat hampir terjatuh dari kursinya, ia terkejut wajahnya panik, ia seakan melihat sosok hantu.
“Aaaa … Jovita,” ucapnya terbata-bata, matanya masih melotot tajam tidak percaya.
“Iya ini aku, tidak usah takut aku bukan setan,” kata Jovita santai,
“Jovita ….” Beni memeluk Jovita, wanita yang sempat jadi tunangannya.
“Jangan dekat-dekat, nanti bini kamu melihat,” kata Jovita menghindar.
“Kamu sudah mengetahuinya, Jovi... saya ingin menjelaskannya.”
“Tidak perlu, itu bukan salahmu, aku hanya ingin meminta mobilku dan milikku kembali,” kata Jovita, ia meminta semua miliknya.
“Aku buru-buru, hidupku dalam bahaya”
“Hara, apa yang terjadi, kakimu terluka mari kita obati,” ucap Beni.
“Kakiku tidak apa-apa. Pinjamkan aku mobilmu saja”
Belum juga mendapat jawaban dengan kaki pincang ia menyambar kunci mobil Beni . Lalu ia kabur lagi.
“Hara …!”
“Nanti aku akan kembalikan!” Teriak Hara meninggalkan kantor sebelum anak buah Leon datang menangkap lagi.
Bersambung …
Bantu Vote iya kakak ikut lomba update. Tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-The Cursed King(ongoing)