Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Dia tidak bisa marah


__ADS_3

 Setelah  duduk  menenangkan diri Leon Keluar dari kamar.


“Kita akan menjemput Hara, kabarin Bram dan Ken.”


“Baik Bos.”


Mobil sport berwarna hitam tersebut meninggalkan rumah, setelah beberapa lama akhirnya tiba  di sebuah studio pemotretan di daerah Mampang Jakarta Selatan.


Sementara Mobil Ken.


“Kok kita berhenti di sini?” Tanya Hara saat Ken  berhenti agak jauh dari lokasi studio.


“Bos meminta menunggu di sini Non,” ujar Ken wajahnya benar-benar takut saat Zidan mengabari kalau Leon marah besar.


“Apa aku membuat masalah?”


“Bos marah besar Non.”


Hara diam,  melihat Ken ketakutan seperti itu ia merasa kasihan.


“Aku tidak bermaksud Kak Ken dan Mas Bram dapat masalah, aku minta maaf jika pada akhirnya kalian berdua kena marah sama Leon.”


“Kami tidak apa-apa Non, aku hanya takut Bos marah pada Non Hara,” ujar Ken.


“Tidak apa-apa Kak, aku akan menjelaskan padanya nanti.”


Tidak  lama kemudian, Mobil yang Leon tiba di studio pemotretan, ia berjalan masuk ke sebuah ruangan, suasana dalam studio juga sudah sepi, menemui  Mustapa seorang fotografer profesional .


“Berikan padaku  semua Foto-fotonya.” Leon berdiri di depan meja sang fotografer.


“Pak Leon, ada apa?”


“Berikan  gambar Hara padaku.”


“Tapi saya hanya bagian ambil gambar Pak tidak tahu menahu tentang  model pakaiannya, itu hak dan milik perancang busananya.”


Zidan  tidak ingin repot-repot berdebat, ia  menggunakan cara lama,  gaya ala mafia menyisihkan jaket kulit dan menunjukkan gagang pistol yang terselip di pinggangnya.


“Iya ampun, mimpi apa aku tadi malam?” ujar Mustafa memberikan cameranya.


Leon mengambil semua memori dalam camera.


“Aku akan membayar cameramu lima kali lipat”


“Pak saya akan  menghapus foto Jovita Hara kalau  hanya wanita yang kamu inginkan,  tetapi, tolong masih ada model yang lain di sana.”


“Harusnya kamu mengatakan itu bodoh! Saat aku  menelepon tadi.”


“Saya meminta maaf.”


“Kamu Bilang hanya wanita itu …! Kamu tahu siapa dia?”


“Saya meminta maaf Pak Leon, saya hanya mengerjakan apa yang diminta klien saya.”


“Aku tanya apa kamu tahu siapa wanita itu?”


Lelaki berewokan itu menggeleng takut.


“Dia istriku. Apa kamu paham?”


“Baik saya minta maaf, tapi tolong  berikan   memorinya Pak.”


“Apa kamu membentaknya tadi?” Tanya Leon menatapnya dengan tegas. “Apa kamu bermaksud melecehkannya istriku ?”


“Bukan, bukan Pak Leon, saya hanya mengarahkannya tadi diah kurang fokus, saya bersikap profesional”

__ADS_1


“Jangan cari masalah dengan  istri mafia Bung, sebelum kepalamu dibolongi,” ujar Leon.


“Saya tidak bermaksud  berkata seperti itu tadi, saya minta maaf,” ujarnya lagi.


“Saya punya  mata di mana-mana. ”


“Saya minta maaf.”


Leon meninggalkan ruangan itu membawa cameranya dan memorinya keluar.


Ia mematahkan memori dan memecahkan camera tersebut lalu membuangnya ke tempat sampah.


Leon  berjalan menghampiri mobil  Ken, wajahnya sangat dingin, Bram sampai pucat karena ketakutan.


“Kalian pindah ke mobil belakang."


" Baik Bos.” Ken dan Bram , buru-buru keluar dari mobil pindah ke mobil Zidan.


“Gila, jantungku masih ada tidak?” Ken memegang dadanya. “Oh … masih ada,” ujarnya lagi, membuang  napas panjang.


“Bos sangat menakutkan kalau marah,” ujar Bram.


“Apa kita sudah aman, apa  dihajar  lagi sampai di rumah?”


“Mungkin.” ujar Zidan


Saat berada dalam mobil lagi-lagi Hara menarik nafas panjang, ia  sadar kalau Leon sedang marah. Ia diam dengan tubuh menegang tatapan lurus ke  depan.


Leon memilih diam, ia menghela napas menghembuskan perlahan, tangannya menyalakan mesin mobilnya, mobil berwarna putih itu  meninggalkan area perkantoran.


Hara memilih diam,


Suasana dalam mobil hening, hanya suara mesin mobil yang terdengar menderu, Hara yang merasa tersiksa dalam keheningan, ia menghidupkan  musik dalam mobil.


Namun, dengan cepat tangan Leon mematikan lagi, wajahnya mengeras terlihat menatap dengan serius kearah depan.


Leon diam, ia fokus pada kemudi mobilnya, ia membiarkan pertanyaan Hara menguap begitu saja.


Melihat Hara diam, lagi-lagi Leon menghela napas berat.


“Apa kamu sadar yang kamu lakukan tadi?” tanya Leon meliriknya sekilas.


“Aku hanya bersikap profesional dalam bekerja.”


“Apa kamu tidak akan mengatakan apa-apa padaku?”


“Baiklah  Leon …. aku akan selalu akan  berkata jujur padamu sesuai janjiku. Begini . Tadi, Maxell menelepon dia minta bertemu denganku. Tetapi aku menolaknya.


Kedua bukannya aku tidak ingin mendengar perkataan mu. Tapi aku tidak ingin masalah  bertumpuk, belum ini selesai datang masalah ini, aku ingin meyelesaikan satu-satu," ujar Hara.


Leon meminggirkan mobilnya, wajah ke empat anak buahnya, langsung  menegang menatap kearah mobil.


“Apa yang akan terjadi?” Tanya Bram panik.


“Tidak mungkin,” ujar Ken , ia berpikir Leon akan menurunkan  Hara, seperti yang pernah ia lakukan pada Salsa.


“Tidak akan, tenang saja, dia sudah berubah,” ujar Zidan.


Leon menyandarkan kepalanya di jok mobil, ia  menutup mata lalu memijit hidungnya.


“Baiklah. Kamu sadar gak sih kalau kamu melukai harga diriku dengan berpakaian seperti itu ....!? kamu itu istriku Hara, istri dari seorang Leon Wardana, tubuhmu harga diriku, suami yang baik tidak akan membiarkan istrinya berpakaian seperti itu di depan pria lain, "ujar Leon.


‘Gila ini orang kalau lagi cemburu, aku pikir dia akan  berubah setelah menikah, malah lebih parah’ Hara membatin.


“Tentang pria itu, namanya saja aku tidak tahu Leon , aku disandingkan dengan dia aku bersikap  profesional, berpose seperti yang diarahkan  fotografer gila itu, "ujar Hara tangannya mulai memijat lehernya.

__ADS_1


" Aku capek Leon, lapar lagi, aku tidak fokus tadi saat pemotretan, aku takut kamu marah,  maka itu kurang fokus tetapi lelaki berewokan itu …ah menyebalkan bangat, masa aku dia bilanglah kaku seperti tiang listrik. Dia kurang ajar, terus aku dibilang  cocoknya  jadi simpanan Mafia tajir, kan brengsek, ingin rasanya aku membuka celananya ingin memastikan dia lelaki atau wanita. Aku rasa iya ... atas saja dia brewokan, kalau bawahnya apem,” mendengar cerita Hara, tanpa sadar Leon malah tertawa.


Karena apa yang dikatakan Hara semuanya  benar, karena itulah yang ia lihat dari rekaman yang dikirim anak buahnya.


“Lalu kenapa kamu tidak menendang kaki saja?”pungkas Leon.


“Kamu tahu ...! Pas pulangnya, aku meremas bagian belakangnya.”


“Apa?”Leon menatap terkejut


“Cabul  kan aku …,” ujar Hara tertawa lebar. "Lagian,  masa dia bilang bagian belakangku tipis lalu aku diminta suntik ….apa namanya?” Tanya Hara, menatap Leon.


“Slikon,” jawab Leon tanpa sadar.


“Iya benar, tetapi kok kamu tahu? Dulu para para pacar modelmu pakai itu iya … atau kamu yang pakai? ” Hara mengarahkan tangannya  ke dudukan Leon.


“Ada-ada saja kamu, mana ada laki-laki memakai itu, yang ada pakai dompet sebagai ganjal,” ujar Leon, kemarahannya   berangsur-angsur hilang tanpa ia sadari. Itu semua terjadi, karena Hara bicara polos, dan apa yang Ia ceritakan apa adanya, tanpa dibuat-buat, karena terkadang kepolosan dan wajah tulus seseorang bisa memadamkan amarah orang lain.


“Aku lapar bangat sampai gemetar,” ujar Hara menatap sang suami.


“Baiklah, ayo ... tetapi jangan lakukan itu lagi, aku tidak suka kamu jadi model, nanti tentang Maxell kita akan hadapi nanti aku akan ke rumah orang tuanya "ujar Leon menghidupkan mesin mobil dan keluar dari tol.


“Baiklah aku janji, aku juga tidak suka jadi model, aku hanya ingin menyelesaikan kontraknya agar tidak ada masalah, nanti aku akan fokus jaga kesehatan agar cepat hamil"


Hati Leon langsung luluh mendengarnya.


Kini rasa marah itu berubah jadi rasa kasihan, karena jalanan menuju pulang tiba-tiba macet dan Hara kelaparan.


“Aduh aku lapar banget …  panggil abang-abang jualan opak donk, "ujar Hara memegang perut.


“Memang belum makan?"


“Iya, dari siang aku belum makan, tadi ajak Ken makan dulu tapi katanya kamu suruh menunggu di situ, ya udah kami menunggu di sana” Hara membuka  jendela mobil.


“Bang, beli satu donk opaknya  jual  minuman botol, Bang?”


“Aduh Neng, tidak ada.”


“Aduh... aku haus. ”


“Mau aku panggil teman aku?"Tanya si Bapak


“Boleh Bang.”


Leon hanya diam melihat wajah Hara yang terlihat sangat rendah hati dan sopan pada siapapun, ia merasa malu karena ia selalu bersikap dingin pada semu orang.


“Makasih  ya Bang, ini untuk abang ambil saja kembaliannya,” uang lembaran berwarna merah yang hara berikan.


"Makasih iya Neng, semoga rezekinya lancar,"ujar Bapak penjual opak dengan tulus.


" Amiin Sehat iya Pak," Balas Hara, ia menutup kembali kaca mobil.


Menikmati cemilan yang terbuat dari singkong tersebut.


" Mau? "Hara menawarkan ke sang suami.


" Tidak. "


Leon hanya diam, ini hal pertama untuknya, selama ini, ia tidak pernah melakukan hal seperti itu. Sikap ramah dari Hara dan perbuatan baik serta rendah diri, dari sang istri akan mengajarkan tentang kehidupan yang lebih baik untuk Leon.


Leon tidak marah lagi, ia malah yang jadi pendiam.


'Kenapa jadi aku yang bersikap kurang dewasa' Leon membatin.


"Apa yang terjadi? Bos tidak mengamuk sama Nona Hara, kan?" Tanya Bram

__ADS_1


"Tidak. Bos akan jinak .... Nona Hara kan jimatnya, tetapi beda ceritanya untuk kalian berdua nanti," ujar Zidan.


Bersambung...


__ADS_2