
Pagi itu ini pertama Leon masuk kerja, saat tiba di kantor Leon hanya melamun, melihat Leon seperti ayam sakit, Hilda yang mengerti Bosnya jika ada masalah degan Hara akan seperti itu, maka itu, ia mengambil alih, ia merespon dan menanggapi persentasi kali ini.
“Tolong teruskan dan ambil alih, saya kurang enak badan,” ucap Leon meninggal ruang rapat.
"Bos kenapa lagi? Perasaan kemaren - kemarin dia senang bangat," bidik Ken.
"Tidak di kasih jatah mungkin tadi malam sama Nyonya Bos," Balas Bram.
Melihat wajah Leon yang muram.
“Baik Pak,” jawab Hilda.
Leon naik ke ruangannya, ia akan selalu lemah seperti itu, jika itu ada hubungannya dengan Hara.
Leon semakin gelisah saat Piter dan keluarga Hara yang lain ingin menjenguk Hara besok, ia tidak bisa menolaknya. Namun, ia juga tidak ingin mempertemukan keluarga itu dulu saat ini, saat Hara sudah bersama keluarganya dan tinggal sementara di sana, ia yakin Hara tidak akan diperbolehkan untuk datang lagi ke rumah Leon. Itu yang ia pikirkan, maka dari kemarin Leon sudah pusing saat Piter menelepon ingin melihat Hara.
Ia merasakan kepalanya berdenyut terasa sakit, saat memikirkan Hara.
‘Apa dia ingin kembali pada Maxell?’ Leon memijit keningnya yang sakit.
"Zidan tetaplah berjaga, dia. pasti dendam setelah kematian ayahnya, aku tidak akan tenang sebelum Bunox di tangkap polisi," ujar Leon
"Baik Bos, kami akan berjaya lebih ketat lagi," Balas Ken Juga.
Leon memutuskan pulang kerumah, ia naik ke kamarnya, saat melihat ke kamar, Hara tidak lagi tidur di sana, ranjang itu sudah rapi.
‘Aku tahu, kamu pasti sudah pindah lagi ke kamar ibu’ batin Leon, ia berdiri menatap jendela menatap ke arah taman, terlihat Bu Atin sedang merawat tanamannya.
Ia menarik napas , ia semakin merasakan sedih saat melihat Bu Atin. Namun saat ia berdiri menatap keluar , tiba-tiba sepasang tangan memeluk pinggangnya, pelukan yang sangat erat bahkan bau harum sabun tiba-tiba menyerbu hidungnya.
Leon mematung memegang sepasang tangan, Leon mengusap kulit yang halus.
‘Hara? '
Saat ia ingin berbalik yang punya tangan masih menahannya, jadi ia ingin menunggu untuk beberapa saat, ia bukan orang yang sabar untuk disuruh menunggu, Leon membalikan badannya Hara memeluknya sebuah handuk kecil membungkus rambutnya yang basah, ternyata ia sedang mandi di kamar mandi, makanya tidak ada dalam ranjang. Tubuhnya hanya di balut batrobes handuk berbentuk pakaian.
__ADS_1
“Apa ini, apa aku sedang bermimpi?” Leon tidak bergerak, ia belum yakin kalau Hara sudah memaafkannya.
“Maaf, kamu masih marah padaku?” Hara memeluknya dari depan, tiba-tiba jantung Leon seakan ada memukulnya dari dalam, memaksanya untuk berdendang.
“Hara kamu tidak marah lagi? ”
“Maaf aku tidak tahu apa yang terjadi maa-“
“Jangan minta maaf lagi, jika ada orang yang mengatakan itu , itu harusnya aku,” ucap Leon menutup mulut Hara dengan bibirnya.
Karena luapan perasaan Leon, mendaratkan bibirnya di bibi Hara dengan lembut, tapi ada yang berbeda kali ini buliran dari matanya menetes mengenai pipi Hara, ia tidak menduga kalau Hara menerima dengan tulus.
Hara terkejut melihat Leon mengusap ujung matanya , kali ini ia tidak tahu kalau ia sedalam itu menyakiti hati Leon melihat Leon meneteskan air mata, Hara menutup matanya membalas bibir Leon.
Kini wanita cantik itu yang memulai duluan, ini ungkapan cinta dari Hara, bukan karena semata-mata sekedar hanya ingin melakukannya, akan tetapi, Hara merasa ingin mengucapkan kalau itu sebuah ungkapan cinta darinya untuk sang suami.
Hara menarik Leon ke sisi ranjang, Leon menyengitkan satu alisnya, melihat Hara melepaskan tali handuknya.
“Lakukan dengan pelan, agar aku tidak marah lagi,” ucap Hara.
Leon tersenyum, tiba-tiba merasa lucu mendengar ucapan Hara, “Jika aku melakukanya dengan baik hari ini, itu artinya kamu tidak marah lagi?” tanya Leon
“Hara kamu yakin tidak apa-apa, maksudku, ini masih siang, kata ibu kamu kurang sehat,"ucap Leon tidak ingin menyakitinya, walau sebagai lelaki ia sangat menginginkannya, namun tidak ingin menyakiti Hara.
“Perasaan Cinta tidak akan mengenal waktu dan tempat, aku milikmu saat ini,” ucap Hara benar-benar melepaskan handuk itu dari tubuhnya
Leon terdiam sejenak, baginya ini sebuah mimpi di siang bolong, karena ia tahu, Hara biasanya bukan tipe wanita yang meminta duluan.
"Kenapa?"Tanya Leon masih penasaran.
" Anggap saja sebagai ungkapan rasa bersalah, Tidak apa-apa. Kan, aku sudah jadi istrimu, "ujar Hara.
" Ok, kalau kamu menantang," Balas Leon.
" Ee .... bukan menantang, "Hara meralat kalimat Leon.
__ADS_1
" Sama sama kamu bikin seutuhnya,"Balas Leon, mengedip sebelah matanya.
Leon menarik tubuh menantang itu ke sisi ranjang, menyambar bibir Hara, mengercap bibir itu dengan lembut, ia ingin memberi sentuhan yang lembut untuk seperti keinginan Hara, tangannya satu membuka kancing kemejanya dan melemparkannya ke lantai dengan sembarangan, tangannya yang kokohnya mencengkram bagian lembut sang istri.
Satu suara pekikan lolos dari bibir Hara, setiap kali ia memainkan tangannya, Hara akan semakin bergerak dan bersuara.
Leon semakin bersemangat, apa yang di tolak Hara saat di hotel saat di Kalimantan, Leon ingin mencoba lagi.
Ia merebahkan tubuh Hara dengan perlahan melakukan serangan demi serangan dari atas, dari bibi turun leher lalu perut, lalu kecupan di antara celah kaki, Hara menyadari ia ingin menolak. Namun Leon ahli dalam urusan ranjang.
Saat tangan Hara mendorong kepala Leon dari sela kakinya, Ia mengalihkan perhatian Hara dengan aktivitas tangan di atas, mencengkram kuat pikiran Hara teralihkan dengan rasa di bagian dada kesempatan itu di gunakan Leon, Ia menaikkan tengkuk kaki Hara dan detik kemudian bibirnya sudah di bawah sana.
"Leon...!" Pekik Hara, ia kaget dengan rasa yang sangat berbeda di bawah sana. Mata Hara melotot niat ingin menolak ia lupakan.
Tangannya Hanya bisa Memegang kuat sisi ranjang untuk menahan rasa yang luar biasa yang berikan permainan lidah Leon di bawah sana. Tubuh Hara menegang bagai di sentrum setiap kali Leon menggerakkan lidahnya.
Ia membantah omongan sendiri yang menyebut gaya fantasi aneh-aneh, Hara menyebut itu dengan rasa berbeda.
Setelah memberi tahu Hara, beberapa gaya dan rasa berbeda, Leon tidak ingin membuat tubuh Hara kelelahan, jelas sekali Hara belum berpengalaman, Leon yang banyak mengambil kendali. Setelah bermandikan keringat Leon mengambil posisi berdiri di sisi ranjang.
“Aku memasukkan, iya sayang ,"bidik Leon
Hara hanya mengangguk, Leon melakukanya sangat hati –hati.
Satu dorongan menerjang masuk , satu suara keluar dari mulut Hara, tangannya meremas sisi ranjang dengan kuat, Leon menyentuh bibir itu lagi untuk membuat kombinasi rasa dari permainan yang panas.
“Tidak sakit lagi kan? "
“Hmm … iya” ucap Hara mencakar lengan Leon, Leon mengimbangi ritme dan tempo permainannya saat tubuhnya mendorong, kedua tangannya juga memegang buah ranum, itu hal itu menjadikan, tubuh Hara menggeliat, Leon ahli dalam membuat lawan jenisnya puas, bagai melayang ke langit ketujuh
Tidak ada lagi rasa sakit, yang ada rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, ia tidak memperdulikan suara ribut dalam kamar mereka
Hingga tongkat besar itu memuntahkan laharnya di gua milik Hara, lahar panas mengakhiri permainan mereka berdua, saat Leon terkulai lemas Hara juga merasakan hal yang sama, ia menarik tubuhnya dan berbaring di samping Hara.
Apa yang yang di lakukan Hara saat itu, sebagai tanda kalau Hara siap menjadi istri Leon.
__ADS_1
Bersambung...
Maaf iya akak bikin basah siang2, mumpung libur ajak paksu aja bobo ciang😁