
Pagi itu di rumah Leon.
Setelah mengantar kedua buah hatinya ke sekolah, supir membawa Leon dan Hara ke kantor salam perjalanan mereka berdua, sama-sama memilih diam, berkantor di hotel miliknya sudah sejak lama. Lelaki bertampang tegas itu, lebih senang menempati lantai paling atas dari dulu kini saat itu.
Sepanjang perjalanan Hara dan Leon hanya diam, jelas sekali Leon merasa ketakutan kalau Hara marah, bahkan membuka mulutnya saja ia tidak berani, ia takit Hara marah dan meninggalkannya seperti yang di lakukan Clara dan Kikan.
Ketakutan terbesar Leon, ia takut rumah tangganya ada masalah , maka itu ia selalu berusaha menjadi ayah yang sangat baik untuk kedua anaknya dan menjadi suami yang baik untuk Hara. Tetapi, satu penyakit yang tidak bisa ia hilangkan dari dulu sampai saat itu, ya itu ; Sikap cemburu.
Merasakan keheningan, supir hanya terlihat diam, tidak melakukan apa-apa, jika ada keheningan seperti saat itu, artinya ada masalah besar yang telah terjadi pada kedua majikannya.
Setelah setengah perjalanan ke kantor, barulah Leon buka mulut.
“Sayang, apa kita mau serapan dulu sebelum berangkat ke kantor? Soalnya tadi kamu tidak serapan di rumah,” ujar Leon ia menutup laptop miliknya dan menoleh istrinya.
“Iya, boleh aku juga sebenarnya lapar karena marah tadi jadi tidak selera makan.”
“Karena aku, Okan menerima kemarahanmu,” ujar Leon dengan suara pelan.
“Bukan karena itu, aku marah pada Okan ia bersikap dingin dan sikap acuh, aku membenci sikap sepert itu. Aku ingin Okan tumbuh jadi anak yang hangat tidak kaku, aku tidak ingin dia seperti Zidan”
“Kok jadi bahas Zidan, sepertinya kamu dendam bangat sama Zidan belakangan ini,” lirih Leon.
“Aku sangat geram padanya, tidak bisakah dia bicara pada Clara terus terang … apa yang boleh dan mana yang tidak boleh, jangan besikap dingin dan tidak perduli seperti itu, kasihan Clara, bayangkan bertahun-tahun di sentuh suami, itu sangat menyakitkan Leon,” ujar Hara.
“Kita jangan membahas masalah yang lain yang ada nanti kita jadi berantam,” ujar Leon.
“Ya, karena itu aku tidak mau Okan Putra Wardana punya sikap dingin seperti itu,” ketus Hara kesal.
“Bagaimana mau mengubahnya, itu sudah bawaan pabrik,” ujar Leon.
“ Karena itulah, aku terkadang tidak suka melihat pemilik pabriknya,” ujar Hara menatap sinis pada Leon.
“Loh … kok kamu ikut marah padaku,” ujar Leon jadi serba salah di depan Hara.
Tiba di hotel.
Sebelum naik ke ke lantai di mana kantor Leon berada, mereka berdua mampir ke restaurant milik Leon tepatnya di samping hotel, Hara memesan roti panggang dan dan segelas jus strobery untuk mengawali pagi itu.
Leon duduk di depan Hara hanya menemani istrinya serapan, tetapi matanya tidak berkdip saat Hara menyantap roti bakar, serapanya.
__ADS_1
“Ada apa? Kenapa kamu melihatku seperti itu, rotinya jadi susah ditelan kalau kamu melihatku seperti itu,” ujar Hara.
Leon hanya tersenyum kecil saat Hara memutar bola matanya.
“Apa kamu lapar?”
“Tidak lapar hanya saja aku harus banyak makan untuk mendapatkan tenaga yang banyak agar bisa kerja dengan baik.”
“Ok, baiklah, tapi apa kamu yakin dengan keputusanmu, apa kamu melakukannya karena kemarahan?” Leon menatap Hara.
“Sudahlah jangan membahas itu lagi, aku hanya ingin bekerja dan melakukan apa yang bisa aku kerjakan, tidak ingin membahas kenapa dan mengapa, tetapi aku mau bilang, aku ingin bekerja.” Hara menarik selembar tissu.
“Ok, Baiklah.”
Hara berjalan berdampingan dengan Leon, berjalan dengan Leon sebagai rekan kerja.
Hari ini suasana di hotel berbeda manager pelatihan mengumpulkan semua pejabat hotel untu rapat.
“Selamat siang semua, saya Jovita Hara Wardana,kalian mungkin sebagian dari kalian sudah mengenal. Saya ingin bekerja di hotel ini sebagai sekretaris baru Pak Leon, saya harap kerjanya samanya, terimakasih.” Hara menyudahi perkenalan singkatnya tetapi sukses membuat semua para pegawai berbisik.
“Kenapa Pak Leon menjadikan istrinya jadi sekretarisnya, memangnya tidak ada wanita lain apa dia ingin memata-matai semua pegawai?” ujar seorang pegawai wanita yang berbisik.
Hara tidak menghiraukan atas semua bisik-bisik pegawainya, ia tahu kalau ia akan mengalami hal seperti itu karena ia sendiri mantan pegawai hotel sebelumnya, menjadi istri dari Leon.
“Kamu tidak apa-apa, Sayang?” tanya Leon saat ia dan Hara kembali ke ruangannya.
“Tidak apa-apa, aku sudah menyiapkan diri dan mental untuk menghadapi semua omongan dari semua orang.”
“Terus ….?” Leon menatapnya dengan kedua punggung tangannya saling menyatu kedua sikunya jadi penyangga di letakkan di atas meja dan menopang dagunya.
“Terus, aku tetap bekerja Pak Leon dan aku ingin meja kerjaku di dalam juga di sana.” Hara menunjuk satu tempat di ruangan Leon.
“OK, terserah IBu atur saja,” ujar leon santai.
“Kalau biasanya sektretaris mu di luar aku ingin di dalam, tetapi aku ingin seseorang juga ada di sana.”
*
Begini jadinya kalau seorang lulusan arsitek jadi sekretaris.
__ADS_1
Setelah beberapa hari bekerja Hara menunjukkan kemampuannya.
Hara merombak semua termasuk posisi meja sekretaris, jika biasanya sekretarisnya selalu menempati meja di luar ruangan, maka kali ini, Hara duduk di ruangan yang sama dengan bosnya.
Ia juga memperkerjakan seorang asisten sekretaris.
“Sayang apa kamu mau makan siang di sini apa di makan di luar?” tanya Leon melirik Hara yang sibuk berkutat dengan laptop di mejanya.
Hara menutup benda pipi miliknya dan ia menghampiri Leon.”Kita makan di bawah saja, kita makan di dapur hotel, aku merasa ada rasa menu makanannya yang rasanya tidak tepat, siapa yang mau menginap di hotel kita kalau makanannya tidak enak? Makanan salah satu alasan kenapa orang memilih satu hotel selain kenyamanan yang di berikan hotel makanan salah satu faktornya.”
“Jangan kawatir Hara koki hotel orang-orang yang sudah berpengalaman mereka koki yang belajar di luar negeri dan … bayaran mereka juga mahal,” ujar Leon dengan yakin.
“Aku tahu … terkadang begini loh … orang pintar juga bisa melakukan kesalahan, tetapi dia tidak menyadari kesalahan itu karena dia merasa nyaman, makanannya enak lidahnya tetapi belum tentu enak di lidah orang lain. Contohnya yang ini, salah satu masakan daerah yang sudah di modifikasi sehingga menghilangkan rasa aslinya . Aku tahu rasa asli dari menu ini Leon, ini menu asli dari daerah timur Indonesia. Om Piter sering dulu memasak di rumah saat ayah masih hidup , rasa aslinya bukan seperti itu,” ujar Hara.
Leon menatap Hara dengan tatapan serius, Leon selalu kagum dengan pola pikir dan kepintaran istrinya.
“Baik Nyonya Bos, mari kita turun dan periksa semuanya,” ujar Leon memberikan akses buat istrinya untuk mengambil alih semua tanggung jawabnya. Ini namanya sekretaris rasa bos besar.
“Ok kita turun, tapi pak Leon, dengarkan aku baik-baik … di kantor aku adalah sekretaris mu, di luar pekerjaan aku adalah istrimu, jadi panggil aku Ibu Hara.”
“Haaa?” Leon mengangkat kedua alisnya tanda protes. “Aku rasa tidak perlu seperti itu ,sayang aku, kan, bos dan pemilik hotel ini.”
“Harus! Dalam pekerjaan kita harus professional, dan memberi contoh yang benar untuk karyawan,” ujar Hara dengan wajah yang terlihat tegas. Baru bekerja beberapa hari ia sudah melakukan perubahan.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Terimakasi untuk tips ya
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (tamat)