
Jovita sebenarnya tidak ingin meninggalkan Leon, ia juga menginginkan sebuah keluarga seperti keluarganya yang di penuhi banyak cinta. Ia ingin lelaki seperti ayahnya Lelaki yang begitu mencintai istrinya dan begitu sayang padanya.
Bagi seorang Jovita ia belum menemukan kekuatan cinta seperti yang diberikan ayahnya kepadanya dan untuk ibunya.
Maka sebelum ia memutuskan pergi, ia masih berharap Leon dapat menerima mereka berdua dengan bayi dalam kandungannya, bukan hanya diri sendiri.
Ia memberanikan diri menelepon Leon dari kamarnya ia mendapatkan nomor Leon dari Hendra anak buah Leon yang berjaga di bagian gudang di villa itu.
Nomor Leon sudah aktif karena ia sudah tiba di kota Penang Malaysia.
“Halo Pak Leon”
“Hara, ada apa? Kalau kamu ingin memohon untuk Piter, aku berharap jangan lakukan itu. Rikko tadi sudah menghubungiku. Hara, apa yang aku lakukan saat ini, semua untukmu, kita akan bicara di rumah saja. Tunggu aku pulang Ok!”
“Baiklah. Pak Leon …. aku minta maaf”
“Untuk apa?”
“Un-”
“Hara. Aku minta maaf nanti kita lanjutkan ngobrolnya iya. Kebetulan orang yang aku temui sudah datang.” Leon menutup teleponnya.
“Maaf Pak Leon , Kali ini aku harus melakukannya’ Jovita membatin.
*
“Baiklah, aku memutuskan pergi saja, karena Leon juga menolaknya. Pergi hal yang terbaik dari sini, aku tidak ingi mereka dalam bahaya karena aku. Kak Rikko sangat kecewa Aku bahkan bukan istri Leon tetapi mereka semua harus mengorbankan nyawa demi aku. Aku harus menjauh dari mereka, karena yang diinginkan Bokoy hanya aku. Baiklah …. Kak Rikko benar, mereka layak merasakan hidup tenang”
*
Leon berangkat ke Malaysia untuk menemui seorang mantan Jaksa yang saat ini tinggal di Kota Penang Malaysia. Lelaki itu pernah menangani kasus kejahatan Bokoy . Namum pada akhirnya ia di jebak dan dipecat.
Leon ingin membuka kasus lama itu dan melawan Bokoy dengan hukum. Leon yakin tidak akan mudah menjatuhkan lelaki tua itu. Namun, ia akan mencoba untuk melawannya kembali. Melawan dengan senjata siapapun tidak akan mampu.
Saat Leon bekerja keras ingin mengalahkan Bokoy ingin melawan dengan hukum, Jovita bekerja keras ingin menyelamatkan Piter. Ia yakin Piter masih hidup selagi berkas rahasia milik Bokoy di tangannya Piter.
Jovita meminta tas ransel miliknya dan kopernya miliknya di bawa ke Villa . Namun di tolak Rikko atas perintah Leon.
Tidak ada cara Lain, Jovita terpaksa mencari cara meninggalkan Villa, siang itu Rikko akan terbang ke Jakarta mengambil barang, mendengar hal itu Jovita diam-dian masuk ke dalam helikopter dan bersembunyi jok belakang.
Jovita yang sudah mempelajari bangunan rumah Leon mengetahui selak beluknya. Ia bisa masuk ke dalam helikopter dan keluar dari Villa. Tidak ada yang menyadarinya kalau Jovita telah meninggalkan Villa karena kamar terkunci dari dalam.
Setelah beberapa lama terbang helikopter.
Saat tiba di lantai atap dan Rikko keluar ia juga keluar dan turun mengendap -endap. Turun melalui pintu darurat.
Lalu dengan diam-diam ia masuk ke dalam kamar yang ia pernah tinggalkan, benar saja tas ransel miliknya ada di sana. Setelah mendapatkan tas ransel miliknya, ia tahu kalau Leon akan melihat apa yang ia lakukan dan mungkin akan sangat kecewa padanya.
Jadi Jovita menulis surat singkat untuk Leon dan meletakkannya di kamar itu.
TO: Pak Leon.
Saat bapak menemukan surat singkat ini, saya sudah pergi jauh.
__ADS_1
Pak leon Terimakasih atas segala kebaikan Bapak yang telah peduli pada saya. Mungkin bapak berpikir kalau saya orang yang tidak tahu diri dan tidak takut mati. Sesungguhnya saya takut Pak Leon , tetapi saya tidak bisa membiarkan Om Piter mati sia-sia, aku akan meneruskan apa yang sudah kami mulai.
Aku tidak marah sama bapak karena tidak menolong Piter, Tapi saya ingin menolongnya degan caraku. Tolong maafkan saya Pak, saya akan menolongnya, dia bukan hanya sekedar bodyguard untuk saya, tetapi dia om dan keluarga yang saya miliki satu-satunya saat ini. Tolong mengerti Pak.. Oh karena kamu menolak kehadirannya, saya akan membereskan saya tidak akan menuntut apa-apa. Jangan khawatir denganku. Saat ini aku sudah menjadi wanita yang kuat.
Terimakasih.
Jovita Hara
Setelah menulis surat untuk Leon, ia meletakkannya di meja kamar yang pernah ia tempati. Rumah Leon di Jakarta terlihat sangat sepi, karena anak buah Leon ada di Villa semua untuk menjaganya.
Maka saat ia di rumah di Jakarta tidak ada yang menyadari kedatangannya, ia tahu jam sibuk para asisten rumah tangga di dapur. Setelah ia mengambil ponsel dan beberapa kertas penting dan identitas. Ia menemui Bu Atin yang saat itu lagi berbaring di kamarnya karena sedang sakit.
“Non Hara!” Wanita kaget dan duduk.
“Bibi”
“Bu-bukanya kamu lagi di Villa?”
“Bi, saya meminta maaf karena tidak terus terang padamu. Saya hamil”
“Saya sudah tahu sayang. Karena itulah aku meminta Pak Naga menahanmu”
“Tapi dia menolak kehadiran bayi ini Bi”
“A-a-apa …?” Bu Atin menutup mulutnya dengan kaget. “Apa dia masih mempertahankan prinsip itu?”
“Iya, dia hanya ingin aku, tidak ingin bayinya”
“La-la-lalu apa yang kamu rencanakan Nak?” Bu Atin sangat sedih.
Mendengar Kak Rikko mengeluh tentang aku. Aku memutuskan menjauh demi kebaikan semua. Hari ini aku sudah buat janji dengan seorang dokter”
“Oh Tuhan Pak Leon ….”
“Bi, saya butuh bantuan mu”
Wanita itu menangis sedih.
“Aku pikir Leon sudah mengubah pendiriannya, aku pikir dia akan mau memiliki anak jika kamu yang melahirkannya. Ternyata tidak”
“Bi, kita tidak bisa memaksanya, mungkin trauma masa lalu itu belum pulih sepenuhnya. Aku tidak terlalu menuntut banyak darinya, aku bukan istrinya bukan kekasihnya. Aku butuh bantuan Bibi”
“Katakan”
“Aku butuh tanda tangan persetujuan dari keluarga Bi, biar bisa diambil tindakan, sebenarnya beberapa minggu lalu aku sudah ingin melakukannya. Aku pikir tidak salah memberi tahu Leon. Ternyata dia juga menolak”
Jovita mengambil kertas dari tasnya dan meminta Bu Atin menandatanganinya. Wanita paru baya itu menangis dan menolak melakukannya.
“Aku masih ingin dia tetap hidup Hara”
“Bi, itu akan berat untukku tanpa dukungan Leon . Dokter sebenarnya memintaku bicara pada keluarga untuk mengambil keputusan.”
‘Ini tidak mungkin, Leon tidak mungkin menolak anaknya, pasti ada kesalahpahaman, aku harus melakukan sesuatu’ Bu Ati membatin.
__ADS_1
Lalu Bu Atin batuk-batuk hebat dan kejang-kejang.
“Tolong air hangat, air hangat”
Jovita bergegas ke ke dapur, dengan cepat wanita cerdik itu menyembunyikan tas ransel Jovita dan ponsel.
Lalu memanggil anak buah Leon untuk menahannya. Iwan yang saat itu sedang istirahat ikut berlari.
“Ada apa BI?”
“Sttt … Tahan Non Hara. Tahan. Dia melarikan dari Villa”
Mendengar langkah kaki Jovita datang Iwan dan dua orang bersembunyi di balik pintu.
“Bi, ini. Bibi tidak apa-apa?”
“Uhuk …Uhuk … Tidak apa -apa Non” Ia memberi kode tangan ke belakang meminta Iwan menangkap Jovita.
“Maaf Non Bos meminta kami membawamu”
“Kak Iwan! Kak Iwan tidak apa-apa?" Saat ia ingin di tangkap Jovita malah menghawatirkan kesehatan Iwan.
“Tidak apa-apa Non, Tapi Maaf kami akan menahan mu”
“Jangan Kak biarkan aku pergi”
“Eh … Pelan-pelan Non Hamil,” ujar Bu Atin.
“Haaa!” Kedua lelaki yang memegang Jovita langsung melepaskan tangan dengan hati-hati.
“Non Hara Hamil!?” Wajah Iwan Sumringah terlihat sangat ia senang.
“Apa Bos sudah Tahu?”
“Dia tidak mau”
“Tidak mungkin,” ucap Iwan masih sumringah “Bos pasti senang Non Hara”
Bu Atin memberi kode pada Iwan.
“Kalau begitu maaf iya Nona, kalian berdua saya kurung dalam kamar ini, sampai Bos kita datang,” ujar Iwan tertawa ngakak.
Bu Atin menahan tawa saat mereka berdua di kunci dalam kamar.
“Eeeh Kak Iwan … Kok jadi begini? Bibi tolong bilangin Kak Iwan”
“Uhuk … Uhuk … Uhuk ….” Bu Atin pura-pura batuk parah dan memilih pura-pura tidur. Ia yakin kalau Leon belum tahu tentang kehamilan Hara.
'Aku yakin Leon akan senang dengan kehamilan mu Nona. Iwan saja senang luar biasa, apa lagi Leon?' Ia melirik Jovita , ia juga merebahkan tubuhnya di samping Bu Atin lalu tidur.
Bersambung …
KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA IYA! SAYA IKUT CRAZI 3 BAB UPDATE SATU HARI., SELAMA TUJUH HARI. BANTU BERI KOMENTAR YANG BANYAK DI SETIAP BAB.
__ADS_1
LIKE DAN VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA, AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.
Baca juga cerita yang lain.