Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Pilihan yang sulit


__ADS_3

Jovita  sebenarnya tidak ingin meninggalkan Leon, ia juga  menginginkan sebuah keluarga seperti keluarganya yang di penuhi banyak  cinta. Ia ingin lelaki seperti ayahnya Lelaki yang  begitu mencintai istrinya dan begitu sayang padanya.


Bagi seorang Jovita ia belum menemukan  kekuatan cinta  seperti yang diberikan ayahnya kepadanya dan untuk ibunya.


Maka sebelum ia memutuskan pergi,  ia masih berharap Leon dapat menerima mereka berdua dengan bayi dalam kandungannya,  bukan hanya diri sendiri.


Ia memberanikan diri menelepon Leon dari kamarnya  ia mendapatkan nomor Leon dari Hendra  anak buah Leon yang berjaga di bagian gudang di villa  itu.


Nomor Leon sudah aktif karena ia sudah tiba di kota Penang Malaysia.


“Halo Pak Leon”


“Hara, ada apa? Kalau kamu ingin  memohon untuk Piter, aku berharap jangan lakukan itu. Rikko tadi sudah  menghubungiku. Hara, apa yang aku lakukan saat ini,  semua untukmu, kita akan bicara di rumah saja. Tunggu aku pulang Ok!”


“Baiklah.  Pak Leon …. aku minta maaf”


“Untuk apa?”


“Un-”


“Hara. Aku minta maaf nanti kita lanjutkan  ngobrolnya iya. Kebetulan orang yang aku temui sudah datang.” Leon menutup teleponnya.


“Maaf Pak Leon , Kali ini aku harus melakukannya’  Jovita membatin.


                                     *


“Baiklah, aku  memutuskan pergi saja, karena Leon juga menolaknya. Pergi hal yang terbaik dari sini, aku tidak ingi mereka dalam bahaya karena aku.  Kak Rikko sangat kecewa  Aku bahkan  bukan istri Leon tetapi mereka semua harus mengorbankan nyawa demi aku. Aku harus  menjauh dari mereka, karena  yang diinginkan Bokoy hanya aku. Baiklah …. Kak Rikko benar,  mereka layak merasakan hidup tenang”


                                    *


Leon berangkat ke Malaysia untuk menemui seorang mantan Jaksa yang saat ini tinggal di Kota Penang Malaysia. Lelaki itu pernah menangani kasus kejahatan Bokoy  . Namum pada akhirnya ia di jebak dan dipecat.


 Leon ingin membuka kasus lama itu dan melawan  Bokoy dengan hukum. Leon yakin tidak akan mudah menjatuhkan lelaki tua itu. Namun, ia akan mencoba untuk melawannya kembali. Melawan dengan senjata  siapapun tidak akan mampu.


Saat Leon  bekerja keras ingin mengalahkan Bokoy ingin melawan dengan hukum,  Jovita bekerja keras ingin menyelamatkan Piter. Ia yakin Piter masih  hidup selagi berkas rahasia milik Bokoy di tangannya Piter.


Jovita meminta tas ransel miliknya dan kopernya miliknya di bawa ke Villa . Namun di tolak Rikko atas perintah Leon.


Tidak ada cara Lain, Jovita  terpaksa mencari cara meninggalkan Villa, siang itu Rikko akan terbang ke Jakarta mengambil barang, mendengar hal itu Jovita diam-dian masuk ke dalam helikopter dan  bersembunyi jok belakang.


 Jovita yang sudah mempelajari bangunan rumah Leon mengetahui selak beluknya. Ia bisa  masuk ke dalam helikopter dan keluar dari Villa. Tidak ada yang menyadarinya  kalau Jovita telah meninggalkan Villa karena kamar terkunci dari dalam.


Setelah beberapa lama terbang helikopter.


Saat tiba di lantai atap dan Rikko keluar ia juga keluar dan turun mengendap -endap. Turun melalui pintu darurat.


Lalu dengan diam-diam ia masuk ke dalam kamar yang ia pernah tinggalkan, benar saja  tas ransel miliknya ada di sana. Setelah mendapatkan tas ransel miliknya, ia tahu kalau Leon akan melihat  apa yang ia lakukan dan mungkin akan sangat kecewa padanya.


Jadi  Jovita menulis surat singkat untuk Leon dan meletakkannya di kamar itu.


TO: Pak Leon.


Saat bapak menemukan surat singkat ini, saya sudah pergi jauh.

__ADS_1


Pak leon Terimakasih atas segala kebaikan Bapak  yang telah peduli pada saya. Mungkin  bapak berpikir kalau saya orang yang tidak tahu diri dan tidak takut mati. Sesungguhnya saya takut Pak Leon , tetapi saya tidak bisa membiarkan Om Piter mati sia-sia,  aku akan meneruskan apa yang sudah kami mulai.


Aku tidak marah sama bapak  karena tidak menolong  Piter, Tapi saya ingin menolongnya degan caraku. Tolong maafkan saya Pak,  saya akan menolongnya, dia bukan hanya sekedar bodyguard untuk saya,  tetapi dia om dan keluarga yang saya miliki satu-satunya saat ini. Tolong mengerti Pak.. Oh karena kamu menolak kehadirannya, saya akan membereskan saya tidak akan menuntut apa-apa. Jangan khawatir denganku. Saat ini  aku sudah menjadi wanita yang kuat.


Terimakasih.


                               Jovita Hara


 Setelah menulis surat untuk Leon, ia meletakkannya di meja kamar yang pernah  ia tempati. Rumah Leon di Jakarta  terlihat sangat sepi,  karena anak buah Leon  ada di Villa semua untuk menjaganya.


 Maka saat ia di rumah di Jakarta tidak ada yang menyadari kedatangannya, ia tahu jam sibuk para asisten rumah tangga di dapur. Setelah ia mengambil ponsel dan  beberapa kertas penting dan identitas. Ia menemui Bu Atin yang saat itu lagi  berbaring di kamarnya karena sedang sakit.


“Non Hara!” Wanita  kaget dan duduk.


“Bibi”


“Bu-bukanya kamu lagi di Villa?”


“Bi, saya meminta maaf karena tidak terus terang padamu. Saya hamil”


“Saya sudah tahu sayang. Karena itulah aku meminta Pak Naga menahanmu”


“Tapi dia menolak kehadiran bayi ini Bi”


“A-a-apa …?” Bu Atin menutup mulutnya dengan kaget. “Apa dia masih mempertahankan prinsip itu?”


“Iya, dia hanya ingin aku, tidak ingin bayinya”


“La-la-lalu apa yang kamu rencanakan Nak?” Bu Atin sangat sedih.


Mendengar Kak Rikko  mengeluh tentang aku. Aku memutuskan  menjauh demi kebaikan semua. Hari ini aku sudah buat janji dengan seorang dokter”


“Oh Tuhan Pak Leon ….”


“Bi, saya butuh bantuan mu”


Wanita itu menangis sedih.


“Aku pikir Leon sudah mengubah  pendiriannya, aku pikir dia akan mau  memiliki anak jika kamu yang melahirkannya. Ternyata  tidak”


“Bi, kita tidak bisa memaksanya, mungkin trauma masa lalu itu belum pulih sepenuhnya. Aku tidak terlalu menuntut  banyak darinya, aku bukan istrinya bukan kekasihnya. Aku butuh bantuan Bibi”


“Katakan”


“Aku butuh tanda tangan persetujuan dari keluarga Bi, biar bisa diambil tindakan, sebenarnya  beberapa minggu lalu aku sudah ingin melakukannya. Aku pikir  tidak salah memberi tahu Leon. Ternyata dia juga menolak”


Jovita mengambil kertas dari tasnya dan meminta Bu  Atin menandatanganinya. Wanita paru baya itu menangis dan  menolak melakukannya.


“Aku masih ingin dia tetap hidup Hara”


“Bi, itu akan berat untukku tanpa dukungan Leon . Dokter sebenarnya  memintaku bicara  pada keluarga  untuk mengambil keputusan.”


‘Ini tidak mungkin, Leon tidak mungkin menolak anaknya, pasti ada kesalahpahaman, aku harus melakukan sesuatu’ Bu Ati membatin.

__ADS_1


Lalu Bu Atin  batuk-batuk hebat dan kejang-kejang.


“Tolong air hangat, air hangat”


Jovita bergegas ke ke dapur, dengan cepat wanita cerdik itu menyembunyikan tas ransel Jovita dan ponsel.


Lalu memanggil  anak buah Leon untuk menahannya. Iwan yang saat itu sedang istirahat ikut berlari.


“Ada apa BI?”


“Sttt … Tahan Non Hara. Tahan. Dia melarikan dari Villa”


Mendengar langkah kaki Jovita datang Iwan dan dua orang bersembunyi di balik pintu.


“Bi, ini. Bibi tidak apa-apa?”


“Uhuk …Uhuk … Tidak apa -apa Non” Ia memberi kode tangan ke belakang meminta Iwan  menangkap Jovita.


“Maaf Non Bos meminta kami membawamu”


“Kak Iwan! Kak Iwan tidak apa-apa?" Saat ia ingin di tangkap Jovita malah menghawatirkan kesehatan Iwan.


“Tidak apa-apa Non, Tapi Maaf kami akan menahan mu”


“Jangan Kak biarkan aku pergi”


“Eh … Pelan-pelan Non Hamil,” ujar Bu Atin.


“Haaa!” Kedua lelaki yang memegang Jovita langsung melepaskan tangan dengan hati-hati.


“Non Hara Hamil!?” Wajah Iwan Sumringah terlihat sangat ia senang.


“Apa Bos sudah Tahu?”


“Dia tidak mau”


“Tidak mungkin,” ucap Iwan masih sumringah “Bos pasti senang Non Hara”


Bu Atin memberi kode pada Iwan.


“Kalau begitu maaf iya Nona, kalian berdua saya kurung dalam kamar ini,  sampai Bos kita datang,” ujar Iwan tertawa ngakak.


Bu Atin menahan tawa saat  mereka berdua di kunci dalam kamar.


“Eeeh Kak Iwan … Kok jadi begini? Bibi tolong bilangin Kak Iwan”


“Uhuk … Uhuk … Uhuk ….” Bu Atin pura-pura batuk parah dan memilih pura-pura tidur. Ia yakin kalau Leon belum tahu tentang kehamilan  Hara.


'Aku yakin Leon akan  senang dengan kehamilan mu  Nona.  Iwan saja senang luar biasa, apa lagi Leon?' Ia melirik Jovita ,  ia juga merebahkan tubuhnya di samping Bu  Atin lalu tidur.


Bersambung …


KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA IYA! SAYA IKUT CRAZI 3 BAB UPDATE SATU HARI.,  SELAMA TUJUH HARI. BANTU BERI KOMENTAR YANG BANYAK DI SETIAP BAB.

__ADS_1


LIKE DAN VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA,  AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.


Baca juga  cerita yang lain.


__ADS_2