Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Para penegang saham menolak Hara


__ADS_3

Setelah melihat sendiri  apa yang di lakukan putranya di sekolah.


Hara berdiskusi dengan kepala sekolah dan wali kelas Okan. Para guru menyarankan memindahkan Okan  ke sekolah  yang bisa mendorongnya untuk bisa terbuka dan menyesuaikan diri dengan lingkungan, sekolah yang memiliki banyak kegiatan ,  agar ia bergerak dan otaknya tidak terpokus ke salah satu tujuan, iya itu buku.


Apa yang terjadi pada putranya sangat menganggu pikiran Leon, ia tidak bisa tidur, besok  harinya Leon meminta Hara untuk datang ke sekolah Okan dan Chelia lagi.


“Apa yang ayah ingin lakukan?”


“Tidak, aku hanya ingin memastikan lagi, aku serasa tidak percaya Okan bisa berubah seperti itu,” ujar Okan.


“Baiklah, tetapi jangan  emosi apapun yang dikatakan gurunya  Okan nanti.”Hara mengingatkan Leon.


“Baiklah”


Setelah supir mengantar kedua anak kembar itu ke sekolah, Leon datang menyusul dari belakang, Okan dan Chelia tidak tahu kalau kedua orang tuanya memata-matai Okan.


Mereka  berdua masuk  ke ruangan guru dan bertemu dengan beberapa guru yang mengajar di kelas Okan.


“Dulu dia  anak yang baik Bu, dia berubah sejak Danis dan Jordan tidak ada sini, biasanya mereka selalu bersama.”


“ Saya tahu Bu,” ujar Hara, ada rasa sedih saat memikirkan rumah tangga Zidan dan  Clara.


Karena sikap Zidan yang  selaku dingin dan diam, seolah-olah tidak perduli, Clara meninggalkan Zidan dan pergi bersama Danis keluar negeri.


Tidak mau anaknya terpengaruh buruk dari Danis dan Juna Hilda juga memindahkan  kedua putranya dari sekolah tersebut, merasa ditinggalkan sam semua teman-temanya di waktu yang hampir bersamaan membuat Okan merasa sendirian dan berubah jadi pendiam dan tidak mau bertememan sama siapapun dan ia juga lebih tertutup pada keluarganya.


Hal itulah yang menyebabkan Hara jadi sedih, di hari berikutnya, mereka konsultasi dengan kepala sekolah.


Saat ini sedang melihat Putranya  melakukan kegiatan belajar lagi melihat putri Chelia, Leon bangga, karena semua guru mengenalnya karena ia pintar cantik dan berani, tetapi untuk putranya cukup hanya pintar saja yang dapat nilai seratus, selainya nol, ia buruk dalam segala hal. Ternyata belakangan ini ia juga sombong pada gurunya, karena menurut pengakuan salah seorang  guru yang mengajar di kelas Okan.


“Okan anak yang pintar dia Juara kelas ... tadinya dia juga baik, tetapi  belakangan ini dia seolah tidak menganggap kita sebagai guru setiap kali diajak bicara, dia kadang mengacuhkan pertanyakan kita Bu dan seoah-olah menyepelekan guru,” ujar seorang guru. laki-laki.


“Apa seburuk itu Pak?” tanya Leon dengan wajah menegang, biar bagaimanapun mendengar anaknya di jelekkan itu membuatnya marah, sekalipun itu satu kebenaran.


“Maaf saya hanya mengatakan apa yang saya alami selama mengajar Okan di kelas.”


“Baik Pak, terimakasih” Hara mengangguk ramah.


**


Leon kembali ke kantor dengan Hara, bahkan dalam perjalalan ke kantor ia memilih  banyak diam, apa yang dilaporkan  para guru padanya sepertinya menganggu pikiranya.

__ADS_1


“Apa yang Ayah pikirkan?” tanya Hara saat mereka berdua tiba di kantor.


“Aku memikirkan apa yang dikatakan guru itu, apa mungkin seburuk itu, sampai gurupun dia sepelekan?”


“Iya, aku bisa melihat cara dia bicara tentang guru yang mengajarnya, setiap kali aku bertanya tentang kegiatan belajar di sekolah.”


“Apa yang kita harus lakukan pada anak itu Bu, tidak bagus dia punya sikap sombong seperti itu.”


“Kita akan mengubahkan sikap sombong yang di miliki Okan dari sekarang, lebih baik dia menngis sekarang, dari pada dia rusak, ayo kita pindahkan dia ke asrama.”


Leon kaget, ia pikir ucapan Hara yang tadi malam hanya gertakan ternyata Hara serius. Karena ia tahu Hara tidak pernah jau dari si kembar, Okan dan Celia juga belum pernah pisah.


“Apa Ibu yakin? Maksudku apa tidak apa-apa jika tidak melihat Okan?”


“Kalau kita hanya mengandalkan hati dan perasaan kita saat ini, itu saja membiarkanya rusak.”


Leon diam, apa yang terjadi pada Okan mempengaruhi moodnya hari ini, padahal hari ini akan menghadiri rapat.


“Apa ayah bisa memimpin rapat hari ini? Kalau tidak bisa jangan dipaksakan yang ada nanti semuanya  makin berantakan,” ucap Hara saat Leon memijit-mijit keningnya.


“Iya bisa, ayo.” Leon berdiri untuk menghadiri rapat pemegang saham.


“Tunggu! biar saya saja, kamu tidak dalam kedaan baik saat ini, yang ada nanti kamu terpancing emosinya di sana, ayah di sini saja serahkan padaku, biar masalah tidak semakin panjang.” Hara berdiri.


“Iya.”


“Baiklah Bu,  kepalaku terasa sakit,” ujar Leon mendudukkan panggulnya di kursi ke besaranya lagi.


Hara sudah tahu, kalau Leon memaksakan ikut rapat, ia yakin yang ada nanti ia akan emosi  menghadapi orang.


Sebelum itu terjadi, lebih baik ia memgambil alih, untuk memimpin rapat kali ini,  Hara membawa Bimo dan  mengajak seorang sekretaris wakilnya juga.  Leon hanya perlu melihatnya dari ponselnya.


**


“Selamat siang, terimakasih atas kedatangan  bapak dan ibu untuk rapat hari ini.”


Saat Hara berdiri memulai rapat, tiba-tiba seorang bapak bertubuh gemuk  mengangkat tangan.


“Maaf Bu, apa kepemimpinan Wardana Group sudah diambil alih istrinya sekarang? Karena setahu kami yang memimpin perusahaan ini Leon Wardana, kenapa jadi ibu sekarang yang memimpin, tanpa ada pemberitahuan pada kami.”


“Baik Pak Firman, begini Pak, pemimpin perusahaan ini atau suami saya sedang sakit, jadi saya yang menggantikan untuk memimpin rapat rutin kita kali ini.”

__ADS_1


“Kalau Bapak tidak bisa mengahdiri rapat kenapa tidak memberitahukan kami?”


Hara menarik napas panjang, ia sudah menduga semua akan meyerangnya, tetap ia sudah mempersiapkan diri dan hati untuk itu,  sebuah pancingan untuk menentangnya atau menolaknya.


“Begini Pak Firman, ini, kan,  hanya rapat rutin,  tidak ada yang berubah, beliau atau saya yang membacakanya laporanya sama saja isinya, karena saya menjabat sebagai wakil, sektretaris,sekaligus istri.  Jadi,  yang saya ucapkan di depan ini itu semua persetujuan  pak Leon kenapa bapak tidak duduk manis dan dengarkan saja laporanya, karena kalimat Pak Leonlah yang saya sampaikan di sini, beliau masih tetap pemimpin dari group Wardana, saya hanya mewakilinya hari ini, itu saja apa itu tidak boleh Pak Firman?”


Lelaki berbadan gemuk itu terlihat kelagapan saat Hara berani menatapnya dan menantangnya.


“Kenapa tidak wakil direktur yang datang Bu, dia kan laki-laki,” ujar salah seorang  lagi.


“Pak Alan lagi ke hotel cabang surabaya Pak”


“Terus, kenapa beliau tidak memberikan kabar kalau tidak bisa hadir?” salah seorang  bertanya lagi.


“Begini saja. Apa pemimpin selalu harus memberitahukan kabar dia sedang apa, dia mau apa,  dia adalah pemimpin perusahaan besar ini, bekerja dari pagi sampai sore agar perusahaan ini tetap bisa bertahan dan dia ingin istirahat apa tidak boleh?”


Semua diam,


“Kami tidak ingin Ibu Hara yang memimpin perusahaan ini,” ujar seorang bapak.


“Jadi itu yang bapak takut, kan? Begini Bapak ….  suami saya  bukan orang yang gampang ditekan maupun di atur-atur, kalau kalian pikir saya yang memimpin perusahaan ini kalian salah,  dia akan menghormati  bapak, bapak pemegang di sini, kalau dia ingin mengganti kepemimpinannya, tenang saja saya hanya mewakilkan hari ini, beliau masih tetap pimpinan perusahaan besar ini, jadi saya pikir cukup jelas,  kami akan membacakan laporan peningkatan pendapatan tahun ini, di bawah kepemimpinan Pak Leon perusahaan di bawah naungan Wardana Group mengalami peningkatan yang mencapai empat puluh persen, itu hal yang luar biasa yang perlu kita syukuri, itu semua kerja keras Pak Leon dan semua pegawai,” ujar Hara.


Hara membungkam mulut para pemegang saham dengan nilai pendapatan yang meningkat  tahun ini, padahal niat mereka tadi, ingin mempertanyakan peraturan-peraturan yang dibuat Hara. Tetapi saat mereka semua bicara Hara selalu menjawabnya dengan jawaban yang  bisa membungkam mulut mereka, menjawab segala pertanyaan mereka dengan jawaban yang tepat, hal yang tidak bisa dilakukan Leon.


Leon yang memantaunya lewat  ponsel ia tersenyum bangga pada istrinya karena bisa membuat para lelaki itu diam.


Bersambung …


Akak yang baik , jangan lupa tetap dukung karya ini kasih like vote dam komentar. Kalau bisa bantu share di facebook  kalian iya kakak agar  makin banyak lagi yang menonton. Jangan lupa baca juga karyaku yang lain.


Terimakasi  untuk semuanya


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat


__ADS_2