
PART 27
Butuh Teman Curhat
Mendengar Leon marah dan memintanya pergi ke Beni membuatnya diam , ia berharap tidak ingin bertemu lelaki brengsek itu lagi.
Ia mengusap matanya dengan punggung tangannya dengan kasar, menghentikan kesedihannya, membawa pakaian itu ke kamar mandi, ia melihat ke atas ke arah plafon, berpikir akan kabur lagi dari Leon seperti yang ia lakukan di rumahnya tadi.
Ia lari berapa kali dari Leon tetap saja ia bisa di temukan. mendekati kaca ia menduga pria si Kulkas dua pintu itu meletakkan semacam penyadap di tubuhnya.
Ia mengarahkan tubuhnya ke arah pantulan kaca, memeriksa setiap sudut dari tubuhnya, tetapi tidak ada benda asing yang menyangkut di tubuhnya.
“Tidak ada celah di kamar mandi untuk kamu melarikan diri, cepatlah keluar,” suara datar lelaki itu membuatnya kaget, lagi-lagi Leon tahu apa yang ia pikirkan, Hara buru-buru keluar dari kamar Mandi
‘Apa dia penyihir atau dukun? Kenapa bisa tau apa yang aku pikirkan’ gumam Jovita
Keluar dari kamar mandi, Leon sudah menyiapkan makan malam, jovita menatap wajah dingin itu, tidak ada ekspresi di wajahnya, siapapun tidak ada yang bisa membaca apa yang ia pikirkan dan apa yang ia rasakan.
Hara duduk dengan hati-hati, matanya masih menatap Leon meneliti wajah tegas itu, kulit wajah leon bersih, bibir bawah tebal, alisnya tebal, hidungnya tidak terlalu mancung tapi bergaris tegas.
Saat dia meneliti wajah lelaki dingin itu, Tiba-tiba mata Leon menatapnya dengan tajam, mata mereka berdua saling bertemu.
“Berhentilah menatapku seperti itu,” ucap Leon, matanya kembali terfokus pada piring-piring dan masih sibuk membuka penutup makanan yang ia pesan.
Jovita kaget, matanya membulat, dengan cepat mengalihkan pandangannya dari wajah Leon.
“ini.” Leon memberikan satu piring untuknya.
“Terimakasih,” hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Jovita.
akan dalam diam, ia sedikit mengerti kebiasaan Leon, ia tidak suka kalau di tinggal duluan saat makan, ia suka makan dengan suasana yang tenang, tidak suka makan yang pedas, berbalik dengan Jovita yang suka makan pedas bahkan sangat pedas.
Rasa lapar dicampur rasa marah pada Beni, membuat porsi makannya meningkat, bahkan memakan banyak.
‘Awas saja kamu Beny, aku akan memotong burung mu, lalu aku goreng ku kasih ke anjing’ ucap Hara dalam hati, tetapi ia tidak sadar kalau ia memincingkan bibirnya beberapa kali, dan menatap penuh dendam pada mantan kekasih yang menjualnya.
Hara mengambil satu paha ayam melampiaskan kemarahan pada paha ayam.
Leon hanya melihat tanpa berkata apa-apa, porsi makan Jovita bertambah kali ini, seperti tidak makan satu minggu .
‘Awas kamu suatu saat nanti akan aku balas kamu’ Ia membatin lagi matanya melotot bibirnya mengeras seperti banteng lagi marah.
Ia batuk saat menggigit tulang ayam, Leon menatapnya dengan wajah datar.
Ia tau wanita bertubuh mungil ini lagi kesal pada seseorang.
‘Apa ia pikir aku rakus? Itu karena aku marah, aku patah hati, apa kamu tau arti patah hati’ ucap Jovita dalam hati melirik sinis pada Leon.
Masih dalam gaya kesalnya, ia memakan paha ayam makan hingga mulutnya penuh.
Ia terbatuk lagi, Leon tersenyum kecil melihat ulahnya, ini satu pencapaian yang luar biasa, karena bisa membuat lelaki dingin itu tersenyum, dan ini pertama baginya, ia tidak pernah tertawa selama mereka bersama.
Leon menyodorkan gelas minum padanya, saat ia terbatuk- batuk
__ADS_1
“Apa Bos tertawa?”
“Saya sudah bilang jangan panggil Bos”
“Terus aku harus panggilan apa?”
“Panggil saja aku bajingan,” ujar Leon mengalihkan tatapan matanya ke arah lain.
“Terserah,” ujar jovita menyudahi makannya.
Ia membereskan piring-piring bekas makan mereka, Leon menyibukkan dirinya di depan Laptop.
Ia tidak bicara apapun dan tidak bilang apapun pada Jovita, dan tidak mengungkit waktu ia melarikan diri.
Membuat jovita seperti cacing kepanasan, ia penasaran pada lelaki si kulkas dua pintu .
‘Kenapa dia tidak memarahiku, kenapa ia tidak mengungkit soal kejadian yang aku melarikan diri’
“Isss .., kenapa sih ia bisa bersikap acuh seperti itu?” kata Jovita berucap sendiri.
Ia menyambar remote televisi menonton, ia sengaja membuat volume besar, agar Leon menegurnya dan memulai obrolan tentang kejadian tadi.
Tapi sayang, ia benar- benar tidak terusik, Leon masih menatap dengan serius layar laptop.
“Aku benar-benar bosan.”
Tetapi Leon tidak terusik dengan semua yang dilakukan Jovita, dan apa yang diucapkan, ia acuh dan masih terfokus pada layar laptop.
Merasa bosan di dalam kamar, Jovita menatap kearah jendela, tiba-tiba ia mengingat orang tuanya, melihat keindahan di luar sana membuat hatinya mengingat orang-orang yang ia cintai.
Saat Leon melihat jovita terlihat sedih ,ia tahu kalau yang di pikirkan adalah orang tuanya. Ia tidak suka dengan hal melankolis seperti itu.
“Aham!”
Leon menatap tajam kearahnya
“Ambilkan bukuku di balkon,” kata Leon membubarkan lamunannya.
“Cekk … tidak bisa kah dia menyuruh orang lain pakai kata tolong, apa aku anak buahnya,” kata Jovita mendumal, bibirnya komat kamit seperti mbah dukun baca mantra.
“Kamu dengar gak …?”
“Iya , orang menyuruh itu harus memakai kata tolong biar sopan, kata Jovita mengajari Leon.
Leon mengacuhkan omelannya
Saat ia melangkah ke balkon Jovita masih merepet-merepet kecil
“Baguslah … aku ingin kamu kembali ke sifat aslimu, ceria, cerewet, sok menasehati dan ngesalin anak kecil” kata leon berucap pelan.
“Wah … ada gitar.” Ia langsung memangku alat musik petik itu dan mulai memetiknya, menyanyikan lagu-lagu ceria.
Tujuan Leon menyuruhnya mengambil buku di balkon untuk menunjukkan gitar itu padanya,
__ADS_1
Jovita jago memainkan gitar dan lagu yang di lantunkan Jovita tentu lagu-lagu ceria.
Leon mendekat, ikut duduk di teras tapi bersikap pura-pura tidak peduli pada lagu-lagu Jovita, ia juga pura-pura mendengarkan musik dari headset di kupingnya..
Ia sudah mengenal Jovita dari kecil, ia tahu banyak tentang wanita itu, seperti makanan yang ia sukai.
Jovita masih melantunkan lagu-lagu ceria, Leon tanpa sadar menggoyang-goyangkan kakinya, Jovita juga berpikir kalau lagu yang di dengar Leon lagu- lagu ceria, terlihat dari gerakan kakinya yang ikut bersenandung.
Hingga akhirnya ia menguap beberapa kali, meletakkan gitar dan duduk di depan Leon, menatap lelaki itu dengan yakin.
“Ada apa?” tanya lelaki itu tanpa menoleh.
“Apa boleh aku bertanya?”
“Tanya apa?”
“Dari mana kamu tau kalau aku di sana tadi?,”
“Anak buahku mengikuti mu mendatangi kantor Ayahmu,”
“Terus, tadi pagi dari mana kamu tau, kalau aku di rumah kami?
Aku sudah lama ingin menanyakan ini, ini terdengar tidak masuk akal sih, apa kamu seorang dukun?”
Leon ingin tertawa mendengar pertanyaan konyol dari wanita itu. Leon menatapnya.
“Jangan menatapku seperti itu, aku hanya bertanya, aku ingin tau siapa yang mengambil barang-barang berharga milik keluargaku dari rumah.
Saat aku melihatnya semuanya sudah tidak ada lagi, kata Jovita matanya berkaca-kaca, “Mereka tega sekali mengambil barang-barang orang yang sudah tiada.
Aku berharap ibuku mendatangi orang-orang yang mengambil perhiasannya, apa kamu bisa menerawang siapa yang mengambilnya?” kata Jovita terdengar tulus, tapi terlihat konyol karena ia menganggap Leon seorang Dukun.
“Aku bukan dukun, aku tidak ingin mendengar curhatanmu, pergilah ke sana,” kata Leon
“Tapi aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk teman berbagi, tidak bisakah kamu temanku curhat sekali ini saja, dadaku sakit, aku ingin mengeluarkan semua yang ada dalam otakku.”
Kata Jovita berharap Leon tergugah dan mau mendengar curhatannya.
“Tidak, aku bukan tipe lelaki yang mau mendengar curhatan wanita, menyingkirlah dari hadapanku,” kata Leon nada suaranya datar tapi sangat menyakitkan.
Jovita menarik napas panjang, ia benar-benar butuh seseorang untuk teman untuk bertukar pikiran.
Bersambung ….
Bantu Vote like dan kasih hadiah juga, iya kakak, karena ikut lomba
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-The Cursed King(ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)