
Setelah menghabiskan sekotak rujak, Leon juga menghabiskan sekotak escream satu box. Hara dan ibunya hanya melihat tidak mengatakan apa-apa tentang perubahan sikap makan Leon.
“Aku curiga ada anak kucing dalam perutnya,” bisik Hara sama ibu mertua.
“Kalau dia tidak olah raga aku yakin perutnya akan buncit nanti,” ujar Bu Ain menahan tawa.
“Ini untuk kamu makan Hara, jangan hanya melihat,” ujar Leon menyodorkan satu kotak escream.
“Gak ah, baru juga kita makan buah sama ibu,” ujar Hara.
“Bagaimana kalau anak-anakku kurang gizi? kamu juga harus makan banyak Hara.”
“Tidak kurang Gizi Leon karena aku juga rutin makan, hanya tidak kayak kamu,” ujar Hara.
“Apa perutku kamu bisa menampung semua itu, Hara? Bukankah antara escream dan rujak itu saling berlawanan,” ucap Hara memincingkan matanya merasa ngilu melihat cara makan Leon.
“
“Oh. Perut itu elastis Nona, jadi apapun yang aku masukkan masih muat,” kilahnya dengan gaya santai.
“Aku berharap itu tidak bermasalah untuk kesehatanmu Bos …, karena menurutku antara rujak dan dan escream tidak nyambung.”
“Ckk… tidak akan, tenang saja, tubuhku ,” ucap Leon.
“ Oh bukankah kita ingin bicara tentang om Viky tadi?” Hara menggeser kursinya.
“Iya aku juga merasa tidak enak, apa karena ucapan ku pada pamanmu , mereka gagal menikah?”
Bu Atin berdiri ia menuju dapur, lalu ia datang lagi mendengar nama Kaila, ia menatap Leon dengan wajah serius, wanita tangguh itu tidak lagi menggunakan kursi roda, datang membawa potongan buah-buah segar lalu ia ikut duduk lagi.
“Ada apa?”
“Ini Bu, kemarin om Viky menemui ku bertanya tentang Kaila.”
“Terus?” Hara dan Bu Atin menatapnya dengan penasaran.
“Aku mengatakan apa yang aku tahu.”
“Misalnya?”
“Kaila … wanita yang masih labil, umurnya masih muda.”
__ADS_1
“Nak, umur mudah bukan jadi penghalang untuk menikah, Ibu juga menikah umur enam belas tahun yang penting ada komitmen dan kesepakatan,” ucap Bu Atin
“Masalahnya… Kaila-“
“Apa?” Hara menatap dengan tatapan memburu ia tidak sabar ingin mendengar alasan Leon.
“Nak, hal kecil bisa memicu perdebatan, tetapi kalau masih bisa dihilangkan kenapa harus dibesar-besarkan, ibu lihat Kaila anak yang ceria.”
“Apa ada yang tidak kami ketahui, ayolah jangan membuat kami penasaran, Om Viky tidak pulang ke rumah Bibi jadi khawatir,” ujar Hara.
“Begini Bu, Hara. Kaila…. Tidak cocok untuk om Viky, sebenarnya aku tidak mendukungnya,” ucap Leon lagi- lagi mulutnya tidak berhenti mengunyah potongan buah di depannya.
“Kenapa?”
“Kaila bukan wanita baik-baik Bu, dia suka tidur dengan banyak lelaki.”
Hara dan Bu Atin langsung terdiam menatap Leon kaget. Mereka saling melihat satu sama lain, karena Hara dan Bu Atin sudah mengenal Kaila selama bertahun-tahun, tetapi tidak pernah tahu kalau wanita berparas cantik itu seburuk itu.
“Maksud kamu masa lalu atau sekarang?”
Leon menghela nafas panjang, ia malas mengurus dan bicara hal-hal yang seperti itu karena kedua wanita itu menginterogasi terpaksa ia menjawab semua pertanyaan
“Bu, pada saat dia bersama dengan om Viky ia masih status kekasih orang, hanya mereka saat itu katanya lagi berantem.”
Hara emosi, inilah yang ditakutkan. Ada banyak orang yang akan marah kalau ia membeberkan semua kelakuan Kaila di sisi lain, ia juga merasa kasihan pada wanita berparas cantik itu.
“Hara, tenangkan dirimu Nak, kita belum tahu pasti alasan dia seperti itu.“
“Bu, Om Viky itu sudah pernah gagal membina rumah tangga, karena itulah dia berubah jadi rusak waktu dulu …. dan dia trauma karena hal itu seperti itu juga istrinya tidur dengan lelaki lain, masa iya dia akan dapat wanita yang lebih buruk lagi.”
“Ibu jangan melihatku seperti itu, aku tidak pernah asal menuduh orang bu, aku sudah meminta orang menyelidiki Kaila, aku ini tidak sembarangan memperkerjakan orang Bu, dia buruk dalam hal kehidupan pribadinya tetapi dia orang yang sangat bertanggung jawab dalam pekerjaan, itulah alasanku tetap mempertahankannya,” ujar Leon.
“Apa orang tuanya tidak tahu bagaimana kehidupannya?” tanya Bu Atin merasa kasihan kalau ada wanita yang kehidupannya rusak dimasa mudahnya.
“Orang tuanya sudah bercerai Bu, dia itu anak dari korban perceraian.”
“Oh… Pantas,” ucap Hara. “ Baiklah aku juga tidak suka dia tidak pantas untuk om Vikky. Padahal kata Bibi Om Vikky ingin kembali ke jalan yang benar jika bersama Kaila. Ternyata Kaila bukan orang baik. Lalu kapan mereka pacaran, aku penasaran, bukannya mereka berdua pacaran sama Bram?”
“Tetapi bukankah semua orang punya kesempatan kedua dan berhak untuk bahagia? Kenapa Paman kamu tidak memberinya kesempatan itu , kalau mereka saling mencintai, bukankah cinta saling menguatkan,” ucap Bu Atin.
“Masalahnya dia masih kekasih orang lain Bu, kalau saja ia sudah menyelesaikan masalahnya dan datang pada om Viky barang kali tidak ada masalah. Tetapi, ada lelaki lain yang meneror Viky yang mengaku masih kekasih Kaila dan baru-baru ini lelaki itu mengaku Kaila baru mengugurkan kandungannya, hal itulah yang membuat Viky, itu yang Vikky katakan padaku kemarin,” ujar Leon.
__ADS_1
Mendengar janin digugurkan tiba-tiba Hara merasa sangat sedih.
“Kasihan, kenapa dibuang … mereka salah apa, mereka berhak untuk hidup,” ujar Hara dengan mata berkaca-kaca.
“Eh! Kenapa malah menangis,” ucap Bu Atin menyodorkan tissue pada Hara.
“Aku sedih Bu, kasihan.”
“Tetapi aku juga akan merasa kasihan om Viky kalau saja menikah dan mengetahui semua ini, lebih baik dia mengetahui sekarang,” ucap Hara. “Pokoknya aku tidak setuju dia sama Om Viky, baguslah om mengetahuinya sekarang,” ucap Hara menarik tissue dan melap tangannya.
“Baguslah kamu menyelidiki kehidupan wanita itu. Tapi siapa kamu minta melakukannya?”
“Zidan.”
“Wah …. pantas saja Zidan tidak mau padanya,” ujar Hara.
“Zidan seleranya berkelas,” ujar Bu Atin.
Terlalu asik mengobrol ternyata Leon juga menghabiskan buah dalam piring itu sendirian, saat Hara ingin mencomot satu ternyata piringnya sudah kosong bersih tak bersisa.
“Eh. Habis?” Hara menatap Leon dengan kedua bola mata memutar kaget dengan kerakusan Leon.
“Habis,” ujar Leon santai.
Hara menatap Bu Atin dengan kepala geleng-geleng heran.
“Kamu doyan apa rakus, si Bos?”
“Yang hamil istrinya yang banyak suaminya,” ujar Bu Atin tertawa.
“Bapak gemuk anaknya kurang gizi,” ujar Hara tertawa.
Leon langsung bergegas ke dapur, meminta Santi memotong buah lagi , lalu membawanya kembali.
“Lalu bagaimana, apa kita biarkan saja mereka gagal menikah?” Tanya Leon menyodorkan garpu buah ke tangan Hara.
“Iya, aku tidak setuju Kaila sam Om Vikky, masa wanita yang begitu yang jadi bibiku. Aku menolak,” ujar Hara.
“Baiklah,” ujar Leon.
Ia senang karena sekretarisnya gagal lagi bibinya.
__ADS_1
Bersambung...