
Hilangnya si cantik Jovita, seakan-akan menggoyang kerajaan bisnis Leon.
Jangan main-main pada seorang Wanita. Karena wanita itu, punya kekuatan besar dan pengaruh besar, bahkan bisa menghancurkan sebuah kerajaan sekalipun, hal itu, seperti benar ....
Apa yang mereka takutkan benar terjadi. Leon sangat marah, saat mendengar Jovita melarikan diri.
Melihat berita di Televisi itu, Leon seakan-akan ingin meledak, semua anak buahnya begitu ketakutan, terlebih Iwan, Toni dan Rikko.
“Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba ia bisa lepas dari sini. Siapa pelakunya?” Leon menatap tajam, mereka bergantian.
“ Bos sepertinya ia sudah lama merencanakannya,” ujar Iwan.
“Saya tahu dia sudah lama ingin kabur. Tetapi yang saya tanya …. Kenapa dia bisa lolos dari tanda peringatan, dari kalung yang aku berikan, kalau ia memang benar melarikan diri. Kenapa! Ia tidak bisa lolos kalau tidak ada membantunya.” Leon mengebrak dinding lemari.
“Ia ikut degan mobil Zidan Bos”
“Zidan? Panggil Zidan ke sini!” Teriak dengan volume suara keras.
Kini wajah mereka semua panik dan kepala menunduk.
“Kenapa ....?” Leon menatap mereka bergantian.
“Zidan tidak ada Bos, dia menghilang dari sejak malam itu”
“Apa kalian mau bilang, kalau Zidan bekerja sama?”
“Tidak sepertinya Bos, Jovita masuk diam-diam ke dalam mobil Zidan.
“Cari Zidan sampai ketemu!” Anak buah Leon kocar - kacir.
Leon duduk di dalam kamarnya ia mencengkram kepalanya
“Apa yang telah saya lakukan? Apa saya telah mengubah jadi seorang pembunuh? Apa kamu tidak tahu bahaya di luar sana yang mengincar mu, gadis bodoh,” ujar Leon ia sangat khawatir.
Tentunya ia sangat menyesal telah mengungkapkan kalau dia bukan pembunuh keluarganya.
“Siaaal .… Harusnya aku biarkan saja dia berpikir kalau saya yang membunuh keluarganya. Harusnya saya membiarkannya membenciku. Oh sial” Leon merasa sangat depresi, karena ia tahu nyawa wanita itu dalam bahaya besar.
Leon tahu ada dalang besar di balik pembunuhan keluarga Jovita. Leon yakin, Beny dan rekan-rekanya hanya di di peralat, tetapi otak sesungguhnya bukan orang sembarangan.
Karena sampai saat ini pembunuhan satu keluarga itu, belum terungkap.
Bahkan polisi seakan-akan buntu. Tidak menemukan siapa pembunuh sebenarnya, padahal sudah berbulan- bulan lamanya.
Leon yakin, polisi akan mencari kambing hitam sebagai tersangka, karena desakan. Namum pembunuh yang sesungguhnya masih bebas.
“Saya akan menemukan pembunuh yang sebenarnya dengan begitulah Jovita bisa tenang.
Lelaki bertato ….?” Leon juga melihat kedua pembunuh itu saat, ia membekap mulut Jovita malam itu, ia yakin Jovita juga mengenal tanda kedua pembunuh itu. Itulah yang ditakutkan Leon. Ia tahu Jovita dalam bahaya.
Saat sedang duduk Sam dan Niki mengetuk kamar .
“Masuk!” sahut Leon dari dalam kamar.
Mereka berdua masuk dengan wajah takut-takut
“Ada apa Sam?”
“Bos kami meminta maaf,” ujar Nik dan Sam datang ke keruangan Leon.
“Ada apa?”Wajah Leon seketika menegang.
__ADS_1
“Kemarin kami mengajarinya menembak, kami yang mengajarinya menggunakan senjata”
“Apa maksudnya?”
“Non Hara meminta kami mengajarinya bagaimana cara menggunakan senjata . Dia bilang bos ingin dia bisa menembak”
“Lalu ….?” Leon melotot tajam pada keduanya
“Kami mengajarinya sampai bisa, karena dia bilang bos yang menginginkannya”
Leon terduduk di sisi ranjang ia kembali memegang lehernya.
“Saya tidak benar-benar menginginkan jadi seperti itu Sam, apa yang saya lakukan saat itu sebuah kemarahan”
“Bos … saya tidak tahu ini penting atau tidak, seorang pekerja proyek melihat Jovita di ruangan Pak Banas dan-”
“Apa yang dia lakukan?”
Mereka berdua saling melihat.
“Ini Bos.” Sam memberikan ponselnya Foto Jovita menggunakan pakaian minim dan merayu Pak Banas.
Gambar Jovita dalam ponsel Niki
“Dasar lelaki bangkotan kurang ajar. Hantarkan saya ke proyek!”
“Ba-ba-baik Bos!”
“Sam kesusahan menelan ludahnya, saat Leon menyelipkan pistol ke pinggangnya”
‘Oh Tuhan, jangan Pak Banas … Dia tidak salah, wanita itu yang salah’ Sam membatin.
Dalam mobil Leon terlihat sangat marah saat melihat foto-foto seksi Jovita saat merayu Pak Banas.
Praaang …!
Leon melemparkan ponsel Niki ke kaca jendela mobil, untung kaca mobil mahal itu kuat, tetapi ponsel Nikki hancur.
Mereka berdua diam dalam ketakutan, Sam menginjak pedal gasnya dan membawa Leon ke lokasi proyek.
Saat tiba di sana Leon meminta Banas di bawa jauh dari proyek.
“Pak Leon?”
“Buaaak!
Satu tinju mengarah perut lelaki umue lima tahunan itu, ia panik dan langsung berlutut di kaki Leon.
“Saya tidak tahu letak kesalahan saya Bos, tapi tolong maafkan saya,” ujarnya ketakutan.
“Harusnya kamu tidak menyentuh wanita ku jika kamu takut”
“Saya minta maaf Pak Leon, saya tidak menyentuhnya Non Hara datang ke ruangan ku, ia ingin memberi gambar desainnya. Tetapi hari itu dia berbeda. Ia berpakaian seperti itu, saya minta maaf jika saya, sa-sa-saya tergoda melihatnya. Hanya melihatnya saja Bos, tidak menyentuhnya sedikitpun”
“Kamu menyentuh tangan wanitaku Banas!” Teriak Leon ia menjadikan lelaki paru baya itu, jadi pelampiasan kemarahannya.
“Pak Leon …. Sa-sa-saya tidak menyentuh tangannya, No-non Hara yang memegang tangan saya duluan . Tolong maafkan saya Pak Leon”
“Apa yang kamu janjikan padanya sampai dia merayu mu dengan tubuhnya”
Ia terdiam sejenak, Banas sudah berjanji tidak memberitahukan siapapun.
__ADS_1
“Katakan padaku!” Leon menarik pistol dari pinggangnya dan mengarahkan ke kepala Banas.
“Ampun, ampun Pak Leon dia hanya meminjam ponselku dan meminjam laptop, saya tidak tahu apa yang ia cari dari sana. Dia bilang hanya ingin melihat model-model pakaian dalam”
“Ambil kan laptopnya dan ponselnya”
“Baik Bos Niki berlari ke kantor mengambil laptop dan ponsel milik Banas.
Setelah di bawa ke depan Leon.
“Sam coba kamu cek”
“Baik Bos”
Sam mengutak-atik semuanya, tetapi tidak mendapatkan apa-apa di riwayat pencarian karena Jovita sudah tahu Leon akan mengetahuinya.
“Bos, saya tidak menemukan apa-apa, hanya pencarian model-model pakaian”
“Dia bukan orang bodoh Sam. Jovita itu seorang sarjana. Dia pasti sudah menghapusnya kalau tidak ... ia pasti membiarkan virus masuk ke laptop, untuk mengacaukan pencarian. Berikan pasa Kinan”
“Pak Leon saya meminta maaf, salahku hanya melihat. Namun tidak menyentuhnya, walau ada keinginan kuat dari tubuh ini, hal yang wajar Pak Leon .… Karena saya lelaki normal dan dia wanita cantik,” ujar Pak Banas memberikan pembelaan diri.
Bukannya dimaafkan Leon semakin Murka.
“Apa kamu pikir hanya melihatnya tidak mengkhianati saya. Harusnya kamu memberitahukan saya Pak Banas apa yang dia lakukan!”
“Pak Leon, saya tadi malam datang ke pesta Bapak, tetapi orang-orang bapak mengusir saya”
Leon diam.
“Baiklah, kali ini saya tidak melenyapkan mu, tetapi lain kali, beda lagi urusannya,” ujar leon meninggalkan Banas. Ia tidak menghabisi Banas karena ia tahu ia salah.
Pesta Bikini yang di lakukan tadi malam, menghancurkan segalanya, karena pesta enak-enak itulah, Jovita berhasil melarikan diri.
Leon membawa laptop dan ponsel Banas pada Kinan, semua sudah pasti terungkap olehnya.
*
“Bos dia menyelidiki tentang mantan tunangannya bernama Beny dan beberapa mantan karyawan ayahnya dulu,” ujar Kinan.
“Saya sudah menduga dia akan melakukan itu,” Ujar Leon panik.
Ia mengeluarkan ponselnya.
“Rikko, perintahkan orang-orang mu berjaga di apartemen Beny dan di rumah mantan pengacara keluarga Jovita.
“Baik Bos”
“Oh kamu kembali ke mansion sekarang. Biarkan Sam dan Niki yang mencari Zidan . Kita kembali ke Jakarta. Saya yakin, malam ini dia akan mengincar Beny dan istrinya”
“Baik Bos”
Leon memutuskan akan kembali Ke Jakarta.
Bersambung ..
Ok...ok.. Jangan lupa
BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA Kakak.
AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP 3 Bab TIAP HARI
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing